
Raga terbangun dengan nafas memburu, lelaki itu menghela nafas lega, ternyata apa yang dialaminya hannyalah mimpi, tetapi kenapa mimpi yang baru dialaminya itu terlihat sangat nyata baginya.
Renita yang mendengar teriakan putranya pun langsung berlari menaiki tangga, dan menghampiri putranya itu.
“Kenapa? Mimpi buruk?” Tanya Renita, sembari mengusap-ngusap bahu Raga menenangkan.
Tanpa aba-aba, Raga langsung memeluk wanita setengah baya itu dan menangis. Entahlah, ketua geng motor alverage itu, tampak cengeng sekarang.
“Iya Bunda, Raga mimpi buruk. Tapi anehnya, mimpinya itu terasa nyata banget bagi Raga, Raga takut bunda...”
“Emang mimpi apa sih? Cerita sama Bunda,” Ucap Renita, kepo. Mimpi apa sih? Sampai-sampai membuat anak tunggalnya ini menangis.
“Raga mimpi Caca ninggalin Raga selamanya, Raga mimpi Caca pergi dari dunia ini, dia ninggalin Raga bun. Raga takut, Raga takut kejadian itu beneran kejadian, Raga gak mau Caca tinggalin Raga, Raga sayang banget Caca,” Tangis Raga semakin pecah ketika mimpinya kembali terputar jelas di otaknya.
“Raga takut Bun, Raga takut Caca ninggalin Raga. Raga takut Bun, Raga takut mimpi tadi kejadian, Raga takut...” Raga berkata lirih, dan semakin mengeratkan pelukannya.
Renita menepuk-nepuk punggung putranya, terus menenangkan, “Itu cuman mimpi sayang, jangan di bawa serius. Udah yah, jangan kayak gini, mendingan telpon Caca nya langsung, tanya keadaannya gimana,”
Raga mengangguk, perlahan lelaki itu melepas pelukannya dan mengambil handphonenya. Mencari kontak Caca, lalu menghubunginya.
Setelah mencoba menghubungi, panggilan Raga sama sekali tak di angkat.
“Bunda, Caca gak angkat telponnya,” Raga berkata dengan intonasi sangat cemas, membuat bundanya kembali mengelus-elus bahu cowok itu.
“Telpon lagi, mungkin Caca lagi di air atau mandi,”
Raga kembali mengangguk, ia kembali menghubungi Caca, tetapi hasilnya sama, tak ada jawaban disana.
Keempat Kalinya, kelima, keenam, atau bahkan kesepuluh. Panggilannya masih tak di angkat, bahkan pada saat Raga kembali menelepon untuk kesebelas Kalinya, handphone Caca malah menjadi tak aktif.
Mengusap wajahnya frustrasi, lelaki itu menjadi ketar-ketir sendiri. Ia takut, kejadian yang ada di dalam mimpinya terjadi, Raga tak sanggup, tak sanggup bila kejadian di mimpinya itu benar-benar terjadi.
“Bunda, handphone Caca malah gak aktif. Raga mau samperin dulu ke rumahnya, takut Caca kenapa-kenapa,” Raga menyalimi bundanya, sembari mengambil kunci motor yang menggantung di belakang pintu.
“Hati-hati sayang, kalo ada apa-apa sama Caca, kabarin bunda,” Raga mengangguk, lalu berlari ke arah luar rumah.
|•••|
Raga melajukan motornya dengan cepat, lelaki itu tak memperdulikan dirinya sendiri, yang lelaki itu pedulikan adalah Caca, semoga perempuan itu baik-baik saja.
Raga hendak melajukan motornya ke dekat gerbang, tetapi melihat Caca dengan pria lain, membuat lelaki itu mengurungkan niatnya. Lelaki itu hanya ingin melihat apa yang di lakukan Caca, setelah pria itu pergi, barulah Raga menghampiri.
“Kemana aja Lo!” Ketus Raga.
Caca terkesiap kaget lalu berbalik badan, ketika mendengar suara ketus seseorang yang sangat-sangat ia kenal.
“Ada, gak kemana-mana kok,” Jawab Caca terlampau santai. Perempuan itu tak tau saja tadi, bahwa Raga kebut-kebutan hanya untuk melihat kondisi dirinya.
“Kenapa gak angkat telpon gue!” Sentak Raga.
Raga berdecak, kenapa Caca membalas ucapannya dengan santai? Sedangkan dirinya dari tadi sudah ketar-ketir, hanya untuk melihat kondisi perempuan menyebalkan ini.
“Ck, saking sibuknya pacaran, sampai telepon gue yang sebelas kali itu gak di angkat sama sekali,”
Caca mengerutkan alisnya bingung, “Siapa yang pacaran sih ga?”
“Tadi gue liat Lo ya, liat Lo Sama cowok bartender, yang waktu itu gue pergokin Lo lagi jalan juga!” Entah kenapa, Raga menjadi sangat kesal sekali, mungkin karena telponnya tidak di angkat dan mengakibatkan dirinya khawatir dan cemas, atau melihat Caca jalan dengan pria lain, mungkin dua penyebab itulah alasannya.
“Kita itu gak pacaran Raga, kita cuman ngobrol biasa aja,” Ucap Caca, berusaha memberikan penjelasan.
“Gak mungkin! Udah dua kali gue pergokin Lo jalan sama dia, gak mungkin Lo gak ada apa-apa! Itu tuh yang baru gue pergokin, gimana yang belum? Udah berapa kali Lo jalan tapi gak gue pergokin!”
“Mendingan masuk dulu yuk, gak enak marah-marah di luar,”
“Gak, gue mau pulang!” Cetus Raga, hendak pergi dari sana, tetapi tangannya sudah di cekal kencang oleh Caca.
“Masuk dulu, selesain dulu, baru Lo boleh pulang,” Caca terus-terusan saja berkata dengan intonasi lembut, sedangkan Raga berbicara dengan intonasi sebaliknya.
“Udah gue bilang, Gue gak mau!” Bentak Raga.
Caca memejamkan matanya, ia lupa bahwasannya dirinya sedang berbicara dengan manusia kerasa kepala, “masuk Raga, jangan marah-marah. Gue pusing, lo tiba-tiba datang dan marah, kenapa sih?”
Raga memalingkan wajahnya dan berdecih, “Gue kesini gara-gara gue khawatir sama lo! Dan dengan enaknya Lo bilang kenapa sih? Disini udah jelas, Lo gak jawab telpon gue, sebelas kali! Apa perlu gue perjelas? Lo gak angkat telepon gue sebelas kali! Gue bela-belain kesini buat siapa? Buat Lo, buat mastiin supaya Lo gak kenapa-napa! Susah banget buat Lo pahamin itu? Tapi apa? Pas gue Datang Lo malah enak-enakan ngobrol sama cowok lain, gimana gue gak marah coba?”
Raga terkekeh, kenapa ia selalu mencemaskan orang yang sama sekali tidak peduli padanya?
“Saking sibuknya lo sama cowok itu, sampai gak mampu Lo angkat satu telepon gue? Kenapa? Gak mau keganggu hah?! Gue kesini kebut-kebutan, sampai gue lupa pake jaket, saking gue khawatirnya sama Lo Ca! Harusnya Lo paham itu, gue khawatir sama Lo!”
Nafas Raga naik-turun, emosinya menjadi susah sangat di kontrol ketika sudah begini. Caca, perempuan itu, yang hanya bisa membuatnya seperti ini.
“Please, jangan selalu buat gue takut, akan kehilangan Lo.”
Caca menunduk, semakin mengeratkan cekalanya pada tangan Raga, ia menyesal tidak mengangkat telepon Raga hanya satu deringan.
“Maafin, gue gak sengaja gak ngangkat telepon Lo, bukan berati gue sibuk pacaran Raga, jangan bilang kayak gitu, maafin gue,” Caca menatap menatap Raga dengan mimik wajah menyesalnya.
Raga tak mempedulikan itu, lelaki itu hendak pergi kembali, tetapi tangannya masih terus saja di cekal oleh tangan hangat Caca.
“Lepasin tangan lo!” Sinis Raga, Lelaki itu hendak menghempaskan, tetapi cekalan Caca di tangannya sangat kuat.
“Gak mau, Lo nya masuk dulu, kelarin semuanya dulu, baru gue lepasin tangan Lo,” Mohon Caca, terus memaksa Raga masuk
“Gak! Gue gak mau!”
“Gue nangis nih!” Ancam Caca cemberut dan dengan mata berkaca-kaca.
Kini berganti, yang awalnya hanya mencekal tangan Raga, kini beralih memeluk lengan lelaki berotot itu, tak membiarkan Raga pergi, Sebelum masalah dengannya selesai.