
Caca masuk ke dalam sebuah cafe, disana sudah terdapat Kevin dan Cakra, mereka berdua terlihat sedang mengobrol.
“Maaf gue telat,” Ucap caca, menarik kursinya lalu duduk.
“Oke gak papa,” Jawab Cakra.
“Langsung ke intinya aja, lo tau siapa pembunuhnya kan?” Tanya Caca kepada Kevin, karena Caca tahu, Cakra tidak mengetahuinya.
“Ya, seperti yang gue bilang waktu itu,” Balas Kevin, sembari meminum, minuman yang di pesannya.
“Apa pembunuh nya benar dia?” Caca celangak-celinguk, wanita itu tidak mau pembicaraan ini di dengar oleh siapapun, selain Cakra dan Kevin tentunya.
Caca mendekat untuk membisikan satu nama yang tertera di teka-teki itu, meskipun Kevin waktu itu menyebutnya juga, Caca hanya ingin memastikan.
Mata Cakra melotot kaget, Sedangkan Kevin, Lelaki itu tertawa menanggapinya “Udah percaya jadinya?””
“Jadi beneran dia pembunuhannya?” Ucap Caca kembali memastikan.
“Yap, seperti yang Lo tau,” Balas Kevin.
“Berati Lo tau? Siapa orang yang suka ngirim teka-teki ke rumah gue?”
Kevin dan Cakra mengerutkan keningnya, lalu saling lirik, “Teka-teki?” Mereka berdua berkata seolah sedang bingung.
“Iya, gue tau pembunuhnya pun lewat teka-teki ini, orang teka-teki itu selalu ngirim tentang teka-teki siapa pembunuh Kakak gue, tapi barusan tadi, bukan hanya teka-teki tetapi nama langsung orang yang emang bunuh Kakak gue,” Jelas Caca.
“Jadi kalian berdua gak tau siapa yang ngirim teka-teki itu?” Tambah Caca, membuat kedua lelaki itu spontan menggeleng.
Caca mengusap wajahnya kasar, wanita itu sedikit frustrasi, tentang siapa yang mengirim teka-teki ke rumahnya, jikalau kedua lelaki di depannya memang tidak tahu, siapa yang orang itu.
Jadi siapa orang yang mengirim teka-teki itu? Kenapa pembunuh yang di bicarakan Kevin dan manusia teka-teki itu sama? Apa benar dia pembunuhnya? Atau orang yang di depannya ini hanya memanipulasi dirinya, dan mungkin saja orang teka-teki dan Kevin itu bersekongkol.
Caca tak tau siapa yang benar dan siapa yang salah disini. Yang pastinya, wanita itu amat sangat percaya terhadap teman-temannya. Karena sangat tidak mungkin, teman-temannya itu melakukan itu padanya.
Ada dua kemungkinan disini, orang itu benar pembunuhnya, atau Kevin hanya mengadu domba dirinya supaya membenci alverage dan setelah itu, Kevin menggunakan dirinya untuk mencari kelemahan alverage, bisa jadi kan?
“Apa yang bakal Lo lakuin? Gak mungkin kan Lo diem? Setelah Lo tahu siapa pembunuh Kakak Lo?” Kevin bertanya, dengan seringai di wajahnya.
“Gue bakal lakuin sesuatu, tapi gak sekarang,”
Kevin tertawa lalu berdecih “Lo itu udah terjebak sama permainan mereka. Gue tau, hati Lo belom percaya sepenuhnya kan, kalo dia adalah pembunuh kakak Lo?”
“Gue butuh bukti lagi, gue butuh bukti lebih Kuat lagi ,supaya gue gampang mau ngelakuin apapun,” Ucap Caca.
“Bukti apa lagi sih Ca? Semuanya udah jelas, semuanya udah terbukti, dan Lo masih minta kejelasan lagi?” Kevin berbicara penuh penekanan.
“Lo temen Kakak gue kan? Kenapa Lo gak hajar dia aja dari dulu? Kenapa harus nunggu gue?”
“Ya karna Lo adiknya bangsat!”
Caca tertawa “Nah, Lo tau gue adiknya kan? Kenapa Lo yang naif banget buat bales perbuatan tuh orang, kan yang adiknya gue, bukan Lo?!”
“Karena Lo bertele-tele dalam ambil tindakan!” Sentak Kevin, sembari menekan meja.
“Gue bukan bertele-tele, dan gue bukan Lo, yang harus cepat-cepat serang orang tanpa bukti yang lebih kuat!”
Kevin tertawa “Lo emang bertele-tele, dan Lo berlindung dari kata tanpa bukti yang kuat, padahal yang jelas, sulit bagi Lo, untuk nyerang teman Lo sendiri,”
Kevin berdiri, “Tunggu waktu aja, lo bakal tau semuanya,” Setelah mengatakan itu, Kevin pergi dari sana meninggalkan Caca dan Cakra.
“Jadi...apa yang akan Lo lakuin? Susah buat cari bukti lagi,” Kata Cakra, setelah rasanya Caca kembali tenang.
“Kayaknya gue mau cari si pengirim teka-teki dulu deh Kak, siapa tau aja dia tau sesuatu kan? Orang dia aja udah tau siapa pembunuhnya,”
Cakra tersenyum bangga “Pintar,”
“Ya udah kalo gitu,gue mau balik dulu,” Caca hendak berdiri, tetapi tangannya di cekal oleh Cakra.
“Bareng, mumpung satu arah hehehe,” Cengir Cakra membuat Caca mereka mengangguk mengiyakan.
Setelah beberapa menit di perjalanan, mereka akhirnya sampai di depan gerbang mansion Caca.
“Mau mampir dulu kak?” Tawar Caca.
Cakra menggeleng “Kapan-kapan aja deh, udah malam,”
“Kalo butuh bantuan gue siap bantu,”
Caca mengangguk, lalu melambai-lambaikan tangannya, ketika Cakra sudah melanjutkan motornya.
Menghela nafas, Caca kira semua akan berakhir, tetapi dirinya harus mencari satu orang lagi, barulah dia tau, apakah dia pembunuhannya, atau Kevin yang mengadu domba.
Caca hendak masuk kedalam, tetapi perempuan itu urungkan ketiga mendengar suara Raga.
ʕっ•ᴥ•ʔっ
Raga pulang di rumahnya sekitar jam sebelas malam, caca menaiki tangga kamarnya dengan lesu, baru saja rumahnya ramai, sudah kembali sepi lagi. Itu cukup membuat perempuan itu kesepian.
Menghela nafas yang kesekian kalinya, perempuan itu
Menghempaskan tubuhnya ke ranjang, tetapi tak kunjung menutup matanya.
Nampaknya Caca mengalami insomnia akhir-akhir ini, itu karena Caca terlalu cemas tentang sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Di tambah lagi kepergian Opahnya, itu membuat kondisi Caca semakin memburuk.
Teringat akan suatu hal, Caca kembali mengecek CCTV rumahnya, memastikan kembali ciri-ciri orang yang mengirimkan teka-teki ke rumahnya itu seperti apa.
Memasuki ruang CCTV dan duduk di sana, wanita itu melihat CCTV tadi siang yang menampilkan orang yang menyimpan kotak teka-teki itu.
Pria itu memakai Hoodie hitam dan topi, tidak lupa masker yang tidak pernah di lewatkan orang itu. Seberusaha apapun Caca meneliti perawakan tubuh yang menyimpan kotak cctv itu, tetapi tetap saja, Caca sama sekali tak mengenalinya, banyak laki-laki dengan perawakan proporsional seperti itu.
Caca memejamkan matanya, untuk mengingat. Kapan orang itu mengirimkannya kotak teka-teki pertama dam kedua.
“Satu bulan yang lalu gak sih? Dia ngirim kotak yang kedua,” Mengecek cctv bulan lalu satu persatu dan ia menemukan orang itu menggunakan hoodie biru bergambar, tidak lagi memakai hoodie berwarna hitam.
“Hoddie itu? Perasaan gue pernah liat, tapi dimana?” Caca berusaha mengingat-ingat, ia seperti mengenali hoodie yang di pakai lelaki itu.
Caca mengetuk-ngetuk pelan kepalanya, “Dimana sih? Perasan gue pernah liat Hoodie biru bergambar itu,”
Hoddie yang di pakai lelaki itu branded. Itu yang artinya, tidak banyak orang yang memakainya, Caca bisa menebaknya lewat gambar di Hoodie itu.
Caca kembali ke layar di depannya. Mengzoom orang itu, melihat semua apa saja yang di pakai orangnya. Mulai dari sepatu, Hoodie, celana semuanya Caca perhatikan.
Mengambil handphonenya, lalu memotret orang itu.
“Kapan semuanya berakhir? Kenapa semuanya terlihat sangatlah rumit?kenapa sulit sekali menemukan pembunuh itu? Aku sudah menemukannya, tetapi aku tak percaya bahwa dia pembunuhannya, apa yang harus aku lakukan? Aku tak mau semuanya terlambat. Aku tak mau, sebelum kasus kakak ku selesai, aku sudah di panggil olehmu tuhan, berikan hambamu ini waktu...”
Caca mendongak untuk menghalau air mata yang akan lolos dari kelopak matanya “Sekali saja tuhan, berikan hambamu ini waktu, setelah semuanya selesai. Aku serahkan semuanya padamu,”