RAGASA

RAGASA
Ep. 45. Takdir



Caca mengerucutkan bibirnya merasa bosan, dirinya di paksa tetap di rawat oleh Raga sampai badannya benar-benar sehat.


Padahal, dirinya dari kemarin pun sudah sehat, hanya aja sedikit ngilu jikalau tidur tidak hati-hati.


Ia melepaskan infusannya secara paksa, nampaknya ia akan pergi kesekolah saja daripada mati karena bosan.


Mengambil Buku dari dari tasnya, lalu menuliskan sesuatu.


Saya pulang dulu Bu dokter, maaf gak bilang. makasih, bye-bye!


Memang, dirinya masih tidak di perbolehkan, tapi apa boleh buat, dirinya sudah bosan level akhir.


Berjalan ke arah administrasi untuk membayar, lalu pergi dengan menaiki taksi online. 


Ia akan pulang Dulu berganti pakaian, setelah itu akan pergi kesekolah.


|•••|


Jam menunjukkan hampir jam 12 siang, cewek itu Baru saja sampai di depan gerbang, ia menyuruh pak satpam itu membuka pintu gerbangnya.


“Bu Shinta ada gak pak?” Tanya Caca.


“Gak ada neng, barusan aja keluar,”


Caca tersenyum lalu pamit untuk masuk kedalam, hari ini... ia tidak perlu takut-takut untuk di hukum, Bu Shinta tidak ada sekarang.


Fyi, Bu Shinta sekarang menjadi kepala sekolah, sekaligus guru BK, setelah kematian opahnya, Caca sendiri juga yang mengangkatnya.


Caca berjalan ke arah rooftoop, entah kenapa ia sangat menyukai tempat ini.  


Ia lebih memilih bosan di sini, dari pada bosan di rumah sakit, yang notabenenya sangat-sangat bau obat-obatan.


Ceklek


Pintu di buka, menampilkan Raga and the gang. Mata mereka melotot kaget, ketika melihat Caca yang sedang menutup matanya, menikmati semilir angin.


“Ngapain Lo disini?” Suara dingin Raga, jelas masuk di pendengaran Caca.


Cewek itu cepat membuka matanya, lalu menatap mereka semua. Di lihat lah Raga yang menatap dirinya tajam.


“Gue bosen di rumah sakit terus, makanya gue sekolah,” Jawab Caca.


“Lo kan belum di bolehin pulang bego!” Kesal Raga. 


“Udah terlanjur elah, lagian gue udah sembuh. Kagak perlu di manjain nih badan, tar suka ngelunjak kayak si Dodi,” Ucap Caca.


“Eh anjir, gue diem ya! Gak udah bawa-bawa gue!” Balas Dodi, ngegas.


“Dih, siapa yang bawa-bawa Lo? Gue bawa-bawa di Dodi Mayang, bukan Dodi Lo! Kok Lo ngerasa?” Tanya Caca, sembari menaikkan satu alisnya.


“Ngelunjak Lo kalo sembuh!” 


“Daripada Lo? Gak sakit aja ngelunjak kayak orang sakit!” 


“Anj—“


“Bisa gak ribut sehari aja gak?” Sela Raga.


“Tau Lo berdua, kagak bisa diem banget tuh mulut!” Samber Bima.


“Ada yang mau gue omongin, jadi jangan dulu Bercanda,” Ucap Alzam.


Seolah Alzam memiliki kekuatan sihir, ucapannya tadi berhasil membuat Caca dan Dodi diam.


“Gue mau kita cepet-cepet selidikin siapa yang udah nyuruh Sasa, gue gak tahan, liat Sasa di bully terus-terusan,” Ungkap Alzam.


“Lo udah mulai suka sama dia ya, ya Zam?” Tanya Bima.


Alzam menggeleng ”Kagak, gue cuman kasian, mau gimana pun, dia tetap tanggung jawab gue!” Jawab alzam.


Dodi mendekat ke arah Caca, lalu membisikan sesuatu “Itu mah cuman berlindung di kata tanggung jawab, aslinya suka, bener gak sih?” 


Caca memberikan jempolnya setuju, “Ya, gue juga setuju sama asumsi Lo, Alzam mah alasan doang!” Balas Caca, berbisik juga.


Mereka berdua fikir, Alzam atau yang lainnya tidak akan mendengar. Tetapi ternyata salah, ketiga lelaki itu sudah menatap mereka berdua dengan tatapan datar.


“Siapa yang gosip?” Tanya Caca.


“Tau anjir, siapa yang gosip? Berani-beraninya lagi serius kayak gini menggosip,” Timpal Dodi.


Ketiga lelaki itu menghela nafas, bisa-bisanya masih ngelak, padahal siapa lagi selain mereka berdua yang bergosip? Alzam kan gak mungkin.


“Oke serius. Gue mau, setelah pulang ini kita selidikin, pokonya besok atau lusa, kita harus dapat orangnya,” Ucap Alzam, membuat mereka mengangguk.


|•••|


Mereka berlima sudah mempunyai tersangka. Awalnya mereka merasa kaget, tetapi lebih memilih untuk menyelidiki, supaya tidak terjadi kesalahpahaman.


Alzam dan Bima berada di markas, sembari mengawasi pergerakan Caca yang mengikuti orang itu, dengan kamera di tasnya. 


Sedangkan Raga, mengawasi Caca dengan jarak yang cukup jauh, dari cewek itu.


Dodi? Cowok itu malah asik-asikan makan, ikut mengawasi Caca? Cih, lelaki itu malah mengawasi makanannya. Memang teman yang tak berguna.


Caca berjalan memasuki kafe, yang di masuki tersangkanya.


Ia duduk agak berjauhan dengan si tersangka. Supaya bisa mendengar apa yang di katakan dua orang yang sedang bertemu itu.


“Lo udah pastiin? Kita gak bakal ketahuan, kalo kita berdua yang suruh Sasa?” 


“Gue gak yakin sih bos, kemungkinannya seimbang. Bisa ketahuan, bisa enggak,” 


Caca yang mendengar itu tersenyum, berati memang benar, mereka berdua lah yang menyuruh Sasa.


Ia tidak habis pikir, ia sama sekali tidak menyangka, kedua orang itu melakukan ini. 


Caca bangkit dari duduknya, Ketika merasa pembicaraan mereka sudah tidak lagi ia butuhkan. Sudah jelas bukan? Mereka yang melakukan.


Caca berjalan berjalan keluar, baru saja ia sampai di pintu keluar. Seseorang berlari ke arah dirinya begitu saja, dan....


Cleb


Seseorang tiba-tiba menusukkan pisau ke arah perut Caca, cewek itu tidak menyadari lelaki itu akan melakukannya, itu alasan mengapa dirinya tak menghindar.


Semua orang yang ada disana berteriak histeris, lalu mendekati Caca.


“Awsss.... siapa yang berani ngelakuin ini?” Caca meringis kecil, lalu mencabut pisaunya. 


Tidak, ia tidak akan mengejar lelaki yang baru saja menusuknya. Itu sangat percuma, bisa saja ia akan di jebak nantinya, jika mengejar lelaki itu.


“Mbak baik-baik saja kan? Mau saya antar ke dokter?” Tawar salah satu orang disana.


Caca tersenyum lalu menggeleng ”Tidak apa, terimakasih atas tawarannya,” Caca mengangguk memberi hormat, lalu mulai pergi dari sana.


Raga dan Dodi berlari ke arahnya, lalu memeriksa keadaan cewek itu.


“Percuma Lo berdua ngawasin gue, mendingan gue sendiri aja tadi, tetap kena tusuk juga meskipun di awasin,” Cibir Caca, lalu berjalan menuju mobil terlebih dahulu.


“Gue ngawasinnya terlalu jauh, jadi gak bisa nolong Lo, kalo lo kena tusuk,” Kata Dodi, melakukan pembelaan.


“Lo berdua aja yang tolol, kalo ngawasinnya jauh-jauh amat, kenapa gak di markas aja, kayak Alzam sama Bima!” Tanya Caca.


Raga menyobek bajunya, lalu menyumpal darah Caca dari luar, supaya menahan darah yang keluar tidak terlalu banyak.


“Maafin gue, gue emang tolol tadi,” Raga menundukkan kepalanya menyesal, ia menyesal telah Lalay menjaga Caca.


“Pegang kainnya, biar darahnya gak banyak yang ngalir,” Raga Memegang tangan sebelah kiri Caca yang tak memegang kain, lalu mengusap-ngusapnya lembut seolah memberi kekuatan.


Caca memejamkan matanya, supaya bisa merasakan rasa sakit yang di rasakan nya ini, ”Jadi gini rasa yang di rasain kakak gue?”  Kata Caca, sambil terkekeh.


“Dia lemah hahahaha, baru di tusuk aja langsung mati. Kenapa gak gue aja yang ada di posisi ini waktu itu? Mungkin.... kakak gue masih ada sekarang, mungkin... gue juga gak akan jadi sebatang kara kayak gini,” 


Ucapan yang di iringi tawa itu, Terdengar sangat memilukan. Tawa yang berusaha menutupi semua rasa yang sudah lama ia tutup-tutupi. Tawa yang terlihat sumbang, tetapi ternyata curahan dari isi hati.


“Ca, jangan ngomong kayak gitu, itu udah takdir. Gak ada manusia yang bisa ngelawan takdir,” Raga berucap, sembari mengeratkan pegangannya pada tangan Caca.


“Iya, gue tau. Gak ada manusia yang bisa lawan takdir, tapi semua orang bisa ngerubah takdir,” Kata Caca.