
Hari kelulusan sudah tiba, semua orang tampak bahagia, tetapi berbeda dengan tiga orang lelaki yang sedang berdiam diri di Rooftoop.
Bagaimana tidak, dari awal mereka selalu berlima dan tiba-tiba di hari kelulusan hanya bertiga. Itu yang membuat mereka sedih sekarang.
“Huh, gak seru banget sih?! Masa cuman bertiga aja kita,” ucap Dodi.
“Kek gimana gitu rasanya, kek ada yang kurang. Jujur, gue gak pernah mikir ini bakalan terjadi, gue selalu berpikir, kita bakalan lulus bareng-bareng, lah ini? Kita cuman bertiga doang anjir!”
“Liat, kayaknya orang-orang bahagia banget ngerayain kelulusannya bareng-bareng temen-temen terdekatnya, lah kita? Cuman sisa segini doang!”
Bima menepuk-nepuk bahu Dodi “Takdir Dod, ketika sebagai manusia gak pernah bisa ngelawan takdir,”
“Gue tahu! Tapi gue kek gak nyangka aja kalo kita cuman bakalan lulus bertiga aja! Gak ada dalam otak gue, pikiran gue! Kalo kita bakalan lulus cuman bertiga aja!”
“Gue maunya berlima! Gue maunya lulus bareng-bareng! Gitu lho Bim! Bukannya gue gak nerima takdir! Ta-tapi, emang iya! Gue belum bisa! Rasanya ada yang kurang!”
“Gue tanya? Siapa yang mau lulus cuman bertiga doang? Enggak, gue gak mau ini terjadi, tapi gue coba buat terima takdir,”
Setelah perkataan yang baru saja Bima katakan, mereka bertiga akhirnya berdiam dengan pikirannya masing-masing.
Tidak ada yang mau seperti ini, dan tidak tahu juga akan menjadi seperti ini sekarang.
Mereka bertiga yang awalnya duduk di tempat biasa mereka duduk, tiba-tiba berjalan ke arah pinggir rooftoop dengan membawa sebuah baliho besar.
Ketiga lelaki itu tiba-tiba menjatuhkan baliho besarnya, yang ternyata di dalamnya terdapat foto Caca dan Raga yang sedang memakai seragam SMAN Bhakti.
Akibat perlakuan mereka bertiga itu, membuat hampir warga sekolah yang awalnya sibuk dengan kondisi masing-masing, kini teralihkan kepada ke tiga orang yang berada di atas.
Dodi menyalakan toa di tangannya, “Gue Dodi, dan udah pasti, kalian jelas tahu siapa gue. Gue di sini, mau ngucapin buat kalian semua, selamat hari kelulusan. Dan maaf juga, selama gue jadi murid di sini, gue selalu buat rusuh , dan mungkin bisa aja ganggu kalian.” Ucap Dodi, mereka yang di bawah sibuk menyimak.
“Gue liat, kasian seneng sekarang. Gue pun sebenarnya mau ikut senang, tapi tetep aja gak bisa. Awal gue di sekolah di sini, gue punya empat temen, dan harus lulus bersama dua temen gue, sebenarnya agak berat, tapi mau gimana lagi, ini takdir,”
“Dan dua orang yang ada di spanduk ini, kalian semua udah pasti tahu siapa mereka. Meskipun mereka gak ada di sini sekarang, gue mau mereka juga ikut ngerasain kemeriahan hari kelulusan ini,”
“Dan terakhir, gue mewakili Caca dan Raga, minta maaf kalo semisalnya kedua orang ini ada salah sama kalian semua. Mereka berdua manusia, yang jelas-jelas pasti bisa melakukan kesalahan. Jadi gue mohon, maafin mereka kalau mereka berdua ada salah sama kalian.”
“Dan teruntuk kalian yang merasa kecewa atas fakta yang baru kalian tahu, bahwa Raga lah yang bunuh kakak Caca. Stop di sini aja ya, gue lagi-lagi bilang, sesempurna apapun Raga, dia tetap manusia yang bisa melakukan kesalahan.”
“Huh, cape juga ya ngomong kayak gini?” kata Dodi, sedikit membuang nafasnya membuat orang-orang yang di bawah tertawa.
Dodi sedikit menjauhkan toa itu, lalu menatap Bima dan Alzam, “Gimana ini nutup pidatonya?” bisik Dodi.
“Lah? Kok nanya kita? Pikir sendiri lah!” jawab Bima, tak peduli.
Dodi memutar bola matanya malas, lalu kembali mendekatkan toa ke mulutnya “Segitu aja dulu kali ya, yang gue sampein. Jadi, bye!” setelah mengatakan itu, Dodi cepat-cepat berlari dari ujung rooftoop lalu duduk di kursi yang biasa mereka duduki.
“Deg-degan gue!” ucap Dodi, sembari memegang dadanya.
“Bisa deg-degan juga lo?” kata Bima.
“Iyalah, gue juga manusia kali!”
“Ke bawah yuk, ikutin acara, biar kita gak sedih-sedih amat,” ajak Bima.
Mereka berdua mengangguk, lalu mulai berjalan keluar. Baru saja membuka pintu Rooftoop, di sana sudah terdapat Sasa dengan gaunnya.
“Lo bilang apa tadi?” todong Alzam dengan suara dinginnya.
“Gak tahu gue lupa,” balas Dodi cepat.
“Kalo sampai-sampai lo bilang gitu lagi, gue potong leher lo!” bisik Alzam tajam.
“Ngapain lo dandan si Sa?” tanya Alzam tak suka.
“Lah? Ini kan hari kelulusan, semua orang juga dandan Zam, bukan gue doang,” balas Sasa.
“Tahu lo Zam, katro banget si lo!” sambar Dodi, yang kembali mendapat tatapan tajam dari Alzam.
“Canda Zam canda,”
“Ngapain ke sini?” tanya Alzam, kembali dengan intonasi lembut ketika berbicara dengan Sasa.
“Kalo bicara sama Sasa aja lembut, lah ke kita? Kayak macam yang mau cari mangsa,” bisik Dodi, kepada Bima.
“Gak usah cari gara-gara lo dod,” balas Bima tak kalah berbisik.
“Gue bukan cari gara-gara, tapi itu kenyataan!”
“Gue denger kalo kalian gak tahu!” lontar Alzam, lalu membawa Sasa pergi dari sana.
|•••|
Mereka bertiga, kini berada di makam Caca, dengan masing-masing membawa buket bunga kelulusan di tangannya.
Beberapa menit mereka hanya terdiam menatap makam tanpa melakukan gerakan apapun. Mereka bertiga seolah-olah berkata dalam hati, mengucapkan banyak-banyak kata selamat yang mereka lontarkan hanya dalam hati.
“Selamat hari kelulusan Ca,” ucap Bima, menyimpan buket itu di atas nisan.
“Selamat hari kelulusan juga Ca,” Ucap Alzam, ikut menyimpan buket bunganya.
“Selamat hari kelulusan Ca. Harusnya lo ada di sekolah sekarang, lo pasti antusias banget, karena keadaannya meriah banget sekarang,” kata Dodi.
“Sebenarnya gue mau nagih janji lo, yang katanya kalo di hari kelulusan nanti, lo bakalan joget di panggung sama gue, sambil nyanyiin lagu secawan madu. Tapi agak ngeri juga ya, kalau misalnya lo tepatin janji itu, bisa-bisa semua orang yang ada di sekolah lari liat lo,”
“Lo tahu gak Ca? Bu Shinta kayaknya sedih banget lo gak ada di hari kelulusan, kayaknya Bu Shinta ngerasa kehilangan banget lo,”
“Bukan bu Shinta doang, gue juga. Tapi gue gak mau ngomong secara gamblang aja, takut nya lo ge’er di sana,”
Dodi terus saja berucap seolah sedang bercerita. Lelaki itu tak berhenti menaburkan air dan bunga di daerah atas makam.
“Lo ketawa gak ya di sana? Pas gue ngomong gini?” tanya Dodi.
“Lo tahu gak Ca? Yang buat dia sedih-sedih amat tuh bukan lo doang. Tapi Awan, masa di hari kelulusan aja, Awan masih aja gak kecantol,” timpal Bima.
“Lo tahu gak Ca, mereka berdua itu bukan makin deket, tapi makin jauh. Karena kayaknya, Awan takut di deketin spesies kayak Dodi,”
“Lo tahu kenapa Awan takut? Tangannya Dodi bau tai, Dodi suka lupa cuci tangan kalau habis berak. Lo bisa bayangin kan? Dodi sering banget nyugar rambutnya, dengan keadaan tangan bahu tai, gimana gak tuh rambut bau tai juga. Terus juga, apa yang lebih parah, Dodi pernah mingkep mulut gue pake tangannya, gue hampir mati waktu itu,”
“Bangsat lo!” hanya kata umpatan itu saja yang Dodi keluarkan. Kerena mungkin, apa yang Bima ucapakan ada benarnya.