
Sasa dan Alzam sudah berada di parkiran. Alzam berniat ingin mengantar Sasa ke rumah sakit.
“Nih,” Ucap Sasa, menyodorkan koper yang di beri Ari kepadanya.
“Apa?” Bingung Alzam.
“Uang, gue mau bayar hutang sama Lo,” Kata Caca.
“Gue gak mau!” Tolak Alzam, mentah-mentah.
“Tapi ini gue mau bayar hutang, masa Lo gak mau sih?”
“Ya gue gak mau!” Alzam masih menolak.
Alzam berpikir, buat apa menerima uang tak seberapa itu, tetapi sikap Sasa akan kembali berubah dan tak memperdulikannya. Sasa sok perhatian padanya sekarang, kan karena tak enak, bukan karena dirinya.
“Kila itu pacarnya Ari kan? Ini uang Ari, dan Ari bilang, dia yang harusnya tanggung jawab, bukan Lo,”
Alzam berbalik menatap Sasa tak suka, “Oh... jadi Lo lebih memilih bantuan dari Ari daripada dari gue?”
“Bukan gitu Alzam, pokonya harus terima!”
“Enggak gue gak mau!”
Sasa Menggeram, naik ke motor, lalu membuka ransel Alzam dan memasukkan koper itu, setelah masuk, Sasa cepat-cepat memeluk Alzam sebelum lelaki itu membuka Ranselnya.
“Lo apa-apaan sih?! Awas dulu!”
“Gak mau. Simpan uangnya buat tabungan Lo kelak, kalo tar nafkahi gue dan calon anak kita,”
|•••|
Markas hari ini tampak sepi. Hanya ada Raga, Caca dan Dodi Saja. Yang lainnya entah Kemana. Anggota lainnya pun ada, hanya saja tak banyak, mungkin karena... semuanya belum pulang sekolah.
“Masih gak mau makan?” Tanya Raga, sembari menatap Caca yang cemberut.
“Gak!”
“Elah ca, lama amat ngambek Lo. Kasian gue liat Raga yang bujuk Lo dari tadi,” Cibir Dodi.
“Berisik Lo!”
“Makan dulu ya?” Ucap Raga lembut. Lelaki itu tak henti-hentinya membujuk Caca untuk terus makan.
“Gak mau, maunya peluk,”
“Jijik gue!” Maki Dodi.
“Diam, atau gue penggal pala Lo!” Peringat Raga, membuat Dodi diam, tetapi tetap mencibir di dalam hati.
Raga mendekat untuk memeluk Caca, perempuan itu menjadi lebih manja setelah keluar dari rumah sakit.
“Peluk sama makan mau?” Tawar Raga lagi.
“Gak mau, gak lapar,”
Raga memilih mengangguk mengiyakan. Memaksa pun tampaknya tak akan mempan, Caca tipikal wanita keras kepala.
Alzam datang, lalu mendudukkan dirinya dekat Dodi. Meskipun masih menampilkan wajah datar, mereka tau, Alzam sedang senang hari ini.
“Kenapa lo? Senang banget kayaknya,” Kata Dodi.
“Gak, biasa aja,”
“Boh—“
Bruk
Pintu di buka dengan keras, menampilkan wajah panik Bima. Lelaki itu cepat-cepat berlari ke arah keempat orang, yang kaget akan kedatangannya yang grasak-grusuk.
“Kenapa Lo?” Tanya Raga.
“Bella Ga, di—dia di culik. Gue gak tahu harus berbuat apa, gue takut Bella kenapa-kenapa,” Kata Bima, lelaki itu menjelaskan, dengan raut wajah hampir menangis.
“Lo duduk dulu, kita cari Bella bareng-bareng. Tarik nafas, Bella gak akan kenapa-kenapa,” Ucap Raga menenangkan.
Bima menghela nafas, lalu menutup matanya. Ia harus berpikir jernih untuk menyelamatkan Bella, jangan sampai keterpanikannya, membuat Bella kenapa-kenapa.
“Gue tau dia dimana, orang itu nyimpan satu kertas berisi alamat,” Kata Bima berusaha tenang, tetapi berbeda dengan mimik wajahnya yang sangat menampilkan kecemasan.
Bima menyodorkan kertas itu ke arah Raga, membuat secara otomatis, ketiga orang di sana mendekat untuk melihat.
“Kita harus hati-hati. Gue yakin, orang yang culik Bella bukan sembarang orang, karena orang itu berani nyimpan alamat dimana orang itu nyekap Bella. Kita harus bawa beberapa senjata, untuk keamanan,” Ucap Alzam.
“Tapi Lo yakin, itu bukan tempat jebakan?” Tanya Caca.
“Bukan. Gue yakin, orang itu memang benar nyekap Bella di sana.”
|••••|
Sampai lah mereka di tempat yang di tunjukkan si penculik. Gedung tua tak berpenghuni, menjadi pilihan mereka untuk menyekap Bella.
Bima cepat-cepat berlari ke dalam, di susul Alzam dan Dodi atas perintah Raga.
“Gue udah gak kenapa-kenapa Raga, izinin gue masuk, buat ikut selamatkan Bella juga,” tolak Caca.
“Nurut sama gue, diam disini, awasin keadaan sini. Lo dapat tugas dari gue, buat awasin disini. Jadi... jangan coba-coba untuk masuk!”
Caca menghela nafas, lalu mengangguk “Lo juga jangan sampai kenapa-kenapa, atau gak gue marah sama Lo!”
Raga mengangguk, sambil tersenyum. Lelaki itu hendak menyusul ketiga lelaki lainnya, tetapi Caca menahan untuk terus menatap wanita itu.
Cup
“Hati-hati,” Kata Caca, setelah berhasil mencium pipi Raga.
Raga mengatupkan bibirnya, lelaki itu membungkuk, supaya tingginya sama rata dengan Caca.
“Ap—“
Melihat mulut Caca yang terbuka ingin mengatakan sesuatu, Raga mengambil tekuk perempuan itu, lalu ******* bibirnya dengan lembut.
“Jangan macam-macam makanya,” Ucap Raga, setelah tautan mereka terlepas. “Gue pergi dulu, Lo hati-hati disini, kalo ada apa-apa telepon,” Final Raga, lalu meninggalkan Caca yang masih membuka mulutnya kaget.
Bruk
Wanita itu terjatuh, kakinya tiba-tiba lemas, perutnya seperti di gelitiki kupu-kupu, semuanya tampak.....
“Sakit... badan gue sakit, “ Ringis Caca, mencoba untuk bangun kembali.
“Raga sialan, awas aja gue balas nanti, gue bilangin bunda, mampus Lo!”
|•••|
Sedangkan di sisi lain, Raga dan yang lainnya sedang melawan puluhan orang berbadan kekar.
Raga melirik ke arah Bima, yang membabi buta menyerang musuhnya, kobaran amarah dan khawatir jelas tercetak di mata lelaki itu.
Bug
Raga memegang bahunya, yang terkena pukul oleh balok kayu. Lelaki itu terlalu fokus ke arah bima, Sampai melupakan dirinya.
Bugh
Brak
Gubrak
Dug
Membalikan badan, lelaki itu memukul menendang dan memelintir, atau apapun yang bisa lelaki lakukan, supaya musuhnya tumbang.
Krek
Terdengar suara patahan tulang terdengar, karena Raga menginjak pergelangan tangan orang itu dengan sepatunya.
“Gak usah macam-macam sama gue!” Ucap Raga, menendang tubuh orang orang itu.
Di tempat yang sama, tetapi dengan keadaan yang berbeda, Dodi mengatur nafasnya. “Istirahat dulu bisa gak sih? Gue cape baku hantam terus,” Keluh Dodi, kepada musuhnya.
Terlihat musuhnya yang tertawa, dan akan melayangkan pukulan, Dodi menghindar, sembari menjulurkan lidahnya “Eitss, gak kena,”
“Gak kena,”
“Wle, gak kena,”
“Masih gak kena,”
“Gak kena lagi,”
Dodi terus saja menghindari pukulan, membuat lawannya cukup lelah, karena elakan itu.
Ctassssss
Dengan ancang-ancang, Dodi memukul area sensitif kehidupan lelaki itu dengan keras. Setelah melakukan itu, Dodi memegang kepunyaannya yang merasa ikut ngilu, setelah apa yang di lakukannya Ctasssss
“Pecah, pecah telur Lo,” Maki Dodi, melihat musuhnya terguling-guling tak karuan.
Dan di tempat yang sama juga, Alzam tengah melawan musuhnya dengan tenang, lelaki itu tak banyak mengeluarkan gerakan, tetapi akan Cepat menumbangkan musuhnya.
Alzam lebih berkerja menggunakan otak, supaya dengan cepat menumbangkan musuhnya.
Keempat lelaki itu masing-masing mendekat, ketika semua musuhnya berhasil di kalahkan. Mereka semua sedang di kelilingi orang tumbang sekarang.
“Berhubung gedung ini gede, kita mencar buat cari Bella. Kalo salah satu dari kalian temuin, langsung kasih tau, satu sama lain,” Perintah Raga membuat mereka semua mengangguk.
“Jangan gegabah, gue liat banyak orang yang jaga di sini,” Timpal Alzam.
Mereka semua kembali mengangguk mengiyakan.
Raga mendekat untuk menepuk bahu Dodi, “Bella gak akan kenapa-kenapa, percaya sama gue. Kontrol emosi Lo, supaya Lo bisa nyelamatin Bella tanpa gegabah, yang berakhir Lo yang kenapa-kenapa,”
Bima mengangguk “Gue pastiin gue gak akan kenapa-napa, sebelum gue nemuin Bella, istri gue!” Tegas Bima.