RAGASA

RAGASA
Ep. 26. Cemburu Dan Gengsi



"Dih, lo kerasukan setan apa sih? Kok jadi jago gombal gini?" ngeri Caca.


Raga mengedikan bahunya acuh, ia pun bingung, kenapa dirinya menjadi seperti ini.


"Gak tahu, mungkin kerasukan jin lo. Soalnya, akhir-akhir ini otak gue, dihantui sama semua tentang lo," kata Raga kembali, membuat wajah Caca cengo.


Caca turun dari motor, lalu memegang jidat lelaki yang sudah dua kali, menggomballinya.


"Bukan gue yang sakit, ternyata lo yang sakit," ujar Caca.


Raga cemberut, "Lo mah gitu!" kesal Raga, lalu menaiki motornya.


Caca ikut menaiki motornya, lalu menyimpan kepalanya di bahu lelaki itu.


"Lagian lo, kayak bukan diri lo gitu."


"Lo gak suka? Gue kayak tadi," kata Raga, sedikit ketus.


"Bukan gak suka, jadi agak aneh aja," balas Caca.


"Iya, berati lo gak suka!" kesalnya, lalu melajukan motornya.


"Bukan gak suka Raga, salah paham aja lo," ucap Caca.


"Bodo! Lagian, pikiran gue udah gak dihantui lagi sama lo!"


"Ambekan banget," cibir Caca.


"Gak papa, pikiran lo gak dihantui lagi sama gue, yang penting semua pikiran gue isinya lo semua," sekali lagi tanpa sadar dia menggombal.


"Dih, gombalan lo gak mempan buat gue!" sinis Raga.


"Siapa yang gombal sih? Orang kenyataan."


"Serah lo lah surti!" sinis Raga.


"Itu panggilan sayang dari lo ya? Surti, Sur, suruhan tuhan, i nya intik mencintai Raga," kata Caca sembari menaik-turunkan alisnya.


"Intik, untuk goblok!" kata Raga menangis terharu.


"Adain aja elah, pelesetan dari untuk. Lagian, meskipun gak ada kata intik di dunia ini yang penting gue yang selalu ada buat lo."


Caca tertawa, kenapa dirinya sangat jago sekali dalam menggombal, apakah ada lomba gombal di dunia ini? Kalo ada Caca akan mengikutinya.


"Gak jelas lo!" cemooh Raga.


"Emang, yang jelas kan cuman perasaan gue ke lo aja," Caca tersenyum menyungging, bermaksud menggoda Raga.


"Sinting!" makinya lelaki itu pada Caca.


"Sinting juga panggilan sayang dari lo ya? Sin—"


"Berisik! Gue pusing denger semua gombalan dari lo!"


"Pusing atau baper?" kekeh Caca.


"Dih?"


Caca kembali tertawa, Raga memang mood boosternya, "Iya dah iya yang gak baper."


"Gak baper kok, pipi sampai telinganya merah?" lanjut Caca menahan tawanya sekali lagi.


Raga Kembali menghentikan motornya di pinggir, lalu menatap tajam Caca di kaca spion.


"Turun!" suruh Raga.


"Turun juga panggilan sayang dari lo ya?" Caca mengatupkan bibirnya, ingin tertawa, tetapi takut Raga semakin marah.


Melihat wajah Raga yang memerah padam, karena marah atau karena Caca tak tahu itu. Yang pasti hanya Raga dan tuhan lah yang tahu.


Caca memeluk Raga, lalu menyimpan kepalanya di punggung lelaki itu, "Bercanda Ga. Bercanda, emang lo tega turunin gue di tengah jalan kayak gini?"


"Makanya, jangan nyebelin lo!" kesal Raga.


"Nyebelin atau ngangenin?" ucap Caca masih saja terus menggoda.


"Jangan mulai, mau gue turunin?" ancam Raga.


Caca tak menghiraukan ucapan Raga, gadis itu semakin mengeratkan pelukannya, di tubuh lelaki pemarah itu.


"Sepiiiiii gow!" Caca menggunakan intonasi Raju, di serial upin-upin.


"…"


***


Caca menginap di rumah Raga, karena paksaan dari lelaki itu. Hendak membuka pakaiannya untuk mandi, sapu tangan yang dipinjami topan jatuh.


Ia mengambilnya, lalu tertegun sesaat, ketika merasa sapu tangan yang dimiliki topan, pernah dilihatnya di suatu tempat, tetapi entah dimana.


"Gue kek ngerasa pernah liat nih sapu tangan, tapi dimana?" tanyanya pada diri sendiri.


"Gue cuci dulu deh, siapa tahu pas udah dicuci jadi keinget," Caca berjalan ke arah toilet, ia akan mencucinya secara manual.


"Lagi ngapain lo?" tanya Raga yang datang tiba-tiba.


"Gue udah ketuk, lo nya aja yang budeg, kagak bisa denger!"


"iya dah iya," ucap Caca.


"Cepet kebawah, bunda udah nungguin," titah Raga.


"Iya-iya, gue mau nyuci sapu tangan dulu bentar. Lo duluan aja," suruh Caca.


Gadis itu sedang fokus mengucek-ngucek sapu tangannya dengan sabun setengah wadah. Dengan alasan, supaya tidak bau anyir.


"Sapu tangan? Lo punya sapu tangan, sejak kapan?" tanya Raga kepo.


"Bukan yang gue, yang si topan,"


Raga mengerutkan dahinya, siapa topan?


"Topan? Siapa topan?" tanya Raga.


"Ituloh, cowok yang hampir gue tabrak dulu yang pake kacamata itu, yang softboy," jelas Caca.


Raga manggut-manggut, "Oh si cupu?"


"Sembarangan kalau ngomong, meskipun tampilannya yang kayak lo sebutin tadi, kalau diliat-liat si topan tuh ganteng tahu."


"Dih, masih gantengan gue kemana-mana," angkuh lelaki itu.


"Iya, masih gantengan lo. Tapi percuma ganteng, kalau sukannya rendahin fisik orang!"


"Siapa yang rendahin fisik orang hah?" kesal Raga.


"Itu tadi, bilang topan cupu," kata Caca menyimpan sapu tangannya di wastafel, lalu bersidekap dada menatap Raga.


"Gue ngomong kenyataan, gak ngerendahin fisik dia!"


"Sama aja!" balas caca, kembali mengucek-ngucek sapu tangan topan.


"Serah lo lah, Surti!" kesal Raga lalu pergi meninggalkan Caca sendirian.


"CIE! YANG MANGGILNYA PAKE PANGGILAN SAYANG!" Teriak Caca.


Raga yang belum jauh dan bisa mendengar kata itu terkekeh sambil geleng-geleng, gadis menyebalkan.


"Stres, tapi gue sayang," katanya.


***


Setelah makan malam bersama keluarga Wijaya. Caca kembali ke kamarnya, karena semua orang rumah pun berniat untuk tidur.


Caca memegang sapu tangan milik topan yang sudah kering, ia berusaha mengingat-ngingat, kapan ia pernah melihat sapu tangan itu.


"Apa pas waktu gue hampir nabrak dia? Tapi kayaknya enggak deh, terus gue ngeliat di mana nih sarung tangan?" monolognya.


Caca duduk, menyimpan sapu tangan nya di paha. Ia akan meminum obat sekarang, karena dari awal kematian opahnya, ia belum satu kali pun meminum obat.


Menyimpan obat itu di lidah, lalu meminum air, supaya obatnya turun.


"Minum obat apa lo?"


Glek!


Kenapa Raga suka sekali datang tiba-tiba? Untung ia langsung menelan obatnya. Kalau tidak, bisa-bisa sprei di rumah Raga akan basah, karena ulahnya.


"Bisa gak sih lo, dateng ketuk pintu dulu!" kesal Caca.


"Serah gue lah, orang ini rumah gue," jawab Raga.


"Tapi kan ini kamar gue, bunda lo sendiri kan yang ngasih nih kamar sama gue. Jadi ini kawasan gue, lo gak boleh asal masuk gitu aja!"


"Iya dah iya, maaf," ucap lelaki itu sembari mendekat ke arah Caca.


"Makan obat apa tadi?" tanya Raga.


"Obat tidur, akhir-akhir ini gue gak bisa tidur kalau gak minum obat."


Raga mengangguk, meskipun sedikit tidak percaya, ia melirik Caca tajam, ketika sapu tangan si cupu ada di paha gadis itu.


"Kekepin aja terus, sapu tangan tuh si cupu. Tadi dicuci, sekarang dikekepin, suka lo sama dia?" sewot Raga.


"Dih, siapa yang kekepin sih?Nih, gue simpen di paha, kalau dikekepin kan dipeluk terus-terusan!" jawab Caca tak kalah sewot.


"Ya sama aja!"


"Cemburu bilang Ga. Gue kekepin nih sapu tangannya lo udah sewot, apalagi gue langsung kekepin si Topan nya!"


"Dih, cemburu? Ngapain gue cemburu sama semacam dia, masih kalah jauh sama gue!" sombong lelaki itu.


"Kalau masih kalah jauh, kenapa lo sewot? Tetap aja ga, lo merasa tersaingi sama dia!"


"Bodo, orang gue juga gak suka sama lo, bodo amat kalau lo mau sama dia!"


"Dih, siapa juga yang ngomong lo suka sama gue?" ucap Caca sembari bersidekap dada.


Raga menggeram marah, se