RAGASA

RAGASA
Ep. 44. Mental Yupi



Alex menggaruk kepalanya, lelaki itu hampir frustasi karena tidak menemukan makanan pembangkit mood itu seperti apa.


Ia sudah berkeliling hampir beberapa kali. tetapi, ia tidak pernah menemukan tulisan, makanan pembangkit mood.


Alex menghela nafas, lalu mendekat ke arah salah satu pedagang. Menanyakan adalah pilihan terbaik sekarang.


“Permisi pak, makanan pembangkit mood itu seperti apa ya?” Tanyanya.


Penjual itu menoleh “Banyak macamnya. tergantung orangnya suka apa, ada yang pembangkit mood nya itu bakso, seblak, ice cream, coklat. Pokonya banyak lah,” Jawab pedagang itu.


“Pasti nyariin makanan buat pacarnya?” Tambah pedagang itu.


“Perempuan memang merepotkan, kenapa tidak langsung menyebutkan makanan yang dia inginkan? Kenapa harus muter-muter dulu, bikin ribet saja,” Cibir Alex, malah curhat ke si bapak☺


Pedagang itu terkekeh, melihat wajah tertekan Alex yang jelas kentara di wajahnya.


“Yasudah pak, saya beli satu porsi dagangan bapak. Jangan pedes, nanti saya kesini lagi, mau cari makanan yang lainnya dulu,”


“Semangat cari makanan buat pacarnya mas,”


“Iya pak,”


|•••|


Alex membuka pintu bangsal degan kakinya, karena kedua tangannya penuh hanya dengan makanan yang di pesan Caca.


Ceklek


Semua tatapan tertuju padanya, ia berjalan menuju nakas untuk menyimpan makanan itu, sisanya ia simpan dibawah.


“Maaf lama, saya bingung... makanan pembangkit mood itu seperti apa,” Ucap Alex, tertuju pada Caca.


“Gapapa, makasih Alex!” Serunya semangat.


Sedangkan di sisi lain, Raga menatap Alex tak suka, kenapa lelaki yang bernama Alex ini sangat caper?sampai membelikan banyak makanan untuk Caca.


“Wihh, mau satu dong!” Kata Bima dan Dodi, serempak.


“Kagak! Beli aja sono,” 


“Pelit!” Lagi-lagi, mereka menjawab Caca dengan berbarengan.


“Beli lagi aja sono, ambil duitnya di dompet gue,” Suruh Caca.


Bima dan Dodi saling lirik, lalu mengambil uang di dompet Caca sepuluh lembar, dengan nominal seratus ribu satunya.


“Dasar bandit!” Ucap Alzam. 


“Udah ah, Gue sama Dodi mau beli makanan dulu,”


“Bella? Lo tinggal di rumah sendirian?” Tanya Caca, cemas akan kondisi Bella.


“Kagak, dia kangen nyokapnya jadi nginep,”


Alzam mendekat ke arah Caca, ketika dua orang pengganggu itu pergi.


“Baju sekolah Lo dimana?” Tanya Alzam.


“Mau ngapain?” Tanya Caca, memasukkan sesuap seblak dan bakso secara bergantian ke mulutnya.


“Gue mau liat pistol itu,”


“Raga maaf tolongin ambil tas, di bawah brankar,” Pinta Caca.


Raga mengambilnya tanpa menjawab, lalu menyerahkan pada Caca.


Caca mengambil pistol tanpa mengeluarkan baju banyak darahnya, ia takut teman-temannya akan jijik jika melihat itu.


“Nih,” Sodor Caca.


Alzam melihat sebentar pistol itu, lalu memasukkan pistol itu ke dalam saku jaket dalamnya ”Gue bawa dulu,” Kata lelaki itu.


Caca mengangguk mengiyakan, lalu melirik Alex yang nampaknya sudah lelah berdiri, ”Lex,Lo pulang aja deh, kayaknya cape banget,”


“Tau Lo! Ngapain Lo masih disini? Ganggu pemandangan gue!” Caci Raga.


“Saya akan tetap disini nona,” Kata Alex.


“Dih, gak malu Lo? Udah di suruh pulang, tetap aja masih disini,” Cibir Raga


“Gak, boleh kayak gitu,” Peringat Caca.


“Lo belain dia?” Tanyanya tak suka.


“Bukan gitu... Ga, gue gak belain dia,”


Raga menaikkan alisnya ”Terus apa?”


Caca menghela nafas, kenapa jadi rumit seperti ini, ”Lo pulang aja ya Lex, disini masih banyak orang kok. Muka Lo kelihatan cape banget,”


“Baguslah kalo Lo nyadar,” Kata Raga.


“Saya permisi, kalo ada apa-apa telepon saya,” Alex berkata, sambil melangkah keluar.


“Hati-hati,” Kata Caca.


“Perhatian banget sama asisten sendiri,” cibir Raga, setelah Alex sepenuhnya tiada.


“Perhatian dimana nya si Ga?” Tanya Caca.


“Tadi Lo bilang hati-hati, terus belain dia ketimbang gue!” Katanya.


“Gue gak belain dia,”


Raga Terkekeh ”Terus apa?”


“Gue cuman gak suka gaya bahasa Lo  aja, gak belain dia,” 


“Cih, sama aja!” Ketusnya, lalu duduk di kursi.


“Ambekan banget Lo kayak perawan!” Maki Alzam, lalu ikut duduk di sisi Raga.


“ASSALAMU’ALAIKUM KAWAN-KAWAN KU TERCINTA!” Teriak Dodi dan Bima secara serentak. Mungkin, mereka janjian untuk berbicara seperti itu.


“Gak usah teriak-teriak bisa gak? Ini rumah sakit, bukan rumah Lo berdua!” 


“Banyak banget beli cemilan sampai satu kresek gede, Lo ngambil duit di dompet gue berapa?” Tanya Caca.


“Dikit kok, cuman satu juta.” Balas Dodi, dengan entengnya lelaki itu langsung duduk dan membuka cemilan yang di belinya sendiri.


Caca tersenyum paksa, Dodi memang perampok berkedok teman.


Dodi menepuk tangannya satu kali, ia akan bercerita sekarang “Eh eh eh, Lo semua tau gak? Gue ketemu saya cewek ketus pas gue tabrak di sekolah itu lho. Ternyata, dia kerja di supermarket jadi kasir. Gue kan bisa modus, tiap hari beli disana”  


“Punya duit?” Alzam bertanya.


“Kagak, kan ada Caca yang senantiasa menjadi ATM buat gue,” Jawab Dodi, tanpa dosa.


Caca berbalik ke arah kamera, lalu melambai-lambaikan tangannya, ia sudah menyerah.


“Lo temenan sama gue, cuman mau duitnya doang Dod?” Tanya Caca, sok sendu.


“Emang, itu salah satunya!” Balasnya.


Deg


Caca memegangi dadanya dramatis, ia mengusap-usap ujung matanya, yang seolah-olah mengeluarkan air mata.


“Sakit hati gue, denger ungkapan Lo kaya gini Dod. Bim? Lo juga sama kayak Dodi?” Dramatis Cewek itu, terus-terusan memegangi dadanya.


“Kagak, gue temenan sama Lo karena... gak tau karena apa, kok kita tiba-tiba temenan?” Tanya Bima, seolah-olah linglung, membuat ekspresi Caca semakin dramatis jikalau di lihat-lihat.


“Jahat Lo semua!” Masih dramatis, dan menunjuk mereka semua.


Memegang kepalanya, lalu geleng-geleng tak percaya. Cewek itu dengan cepat menidurkan dirinya.


“Awsshh.... Sakit anjir!” Ringisnya, ia lupa kalo punggung dan bahu belakangnya luka.


Raga berdecak, lalu membangunkan tubuh Caca secara pelan-pelan  ”Gak usah Dramatis bisa?” Tanyanya Tajam.


“Lagian mereka duluan,” Tunjuk Caca, menunjuk Dodi dan Bima.


“Raga, Lo temenan sama gue karena apa? Kalo Alzam sih jangan di tanya, mukanya udah buktiin banget kalo dia tertekan temenan sama gue, mungkin dia temenan sama gue, karena Lo temenan sama gue, kan Alzam temen Lo dari Sd,” Ungkap Caca.


“Kalo boleh gue jujur, awal dari kita temenan gue emang ada maksud, apalagi liat Lo jago beladiri. Tapi sekarang... kita temenan pyur temenan, gue sayang sama Lo, gak ada maksud apapun,” Jawab Raga.


“Lo sayang sama dia, karena Lo suka sama dia. Kan friendzone, bukan pyur temenan,” Sambar Dodi.


Raga menatap Dodi datar, mempunyai teman seperti Dodi memang tidak ada untungnya. Tetapi entah kenapa, hampir tiga tahun ia berteman dengan manusia setengah miring itu.


“Bibir Lo bisa diem gak? Mau gue jahit?!” 


“Jahit aja kalo berani,” Tantangnya.


Raga mendekat ke arah Dodi dengan pelan, tetapi sudah terlihat jelas dari mata Raga yang mengobarkan api kemarahan. Dodi memang pintar, dalam hal mancing-memancing.


Memegang kerah baju Dodi, lalu menyuruh berdiri paksa “Sebelum gue jahit bibir Lo, gue bonyokin dulu, kayaknya seru,”


Dodi menampilkan deretan giginya, lalu melepaskan cekalannya secara paksa, tidak lupa langsung merangkul bahu Raga. Gak asik kan? Kalo mukanya tiba-tiba bonyok, besok ia akan mulai mengejar manusia dingin, yang entah namanya siapa itu.


Dodi terkekeh, untuk menghilangkan sedikit ketakutannya ”Bercanda Ga... jangan di ambil hati, jangan main bonyok-bonyokkan ah, gak seru!” 


“Dasar mental yupi!” Cibir Bima, yang berada di sebelahnya.


Dodi melirik Bima tajam, ”Lo emang berani sama Raga?” Tanyanya.


Bima nyengir lalu menggeleng ”Kagak,”