
“Kamu sakit ya? Kok kamu keliatan kurusan?” Tanya Bella.
|•••|
Caca tertegun mendengar pernyataan Bella, berbalik dan tersenyum hangat, perempuan itu menggeleng “kagak kok, ngadi-ngadi Lo!” Jawab Caca sambil terkekeh.
“Kamu bisa bohongin orang Ca, tapi gak sama aku. Meskipun aku baru kenal kamu, tapi aku cukup tahu kamu,”
“Kalo ada apa-apa, bisa cerita sama aku. Jangan sungkan-sungkan, insyaallah aku bisa jadi pendengar yang baik, “Kata Bella, cukup menenangkan.
Caca menghela nafas, lalu mematikan kompornya, “gue gak papa kok Bell, gue cuman cape aja, kenapa tuhan gak pernah kasih kebahagiaan buat gue,” Kata Caca sembari terkekeh.
Bella tersenyum, lalu mendekat ke arah caca. Wanita itu mengusap-usap bahu Caca dengan lembut “dulu, aku gak terima banget akan kehadiran bayi yang ada di perut aku. Karena bayi yang ada di perut aku, aku jadi di musuhin sama semua keluarga, mereka semua bilang kelihatan baik kok gitu, pokonya banyak banget deh, aku di caci maki, padahalkan mereka gak tau kebenarannya,”
“Di situ aku depresi, aku gak terima aku marah sama Tuhan, sama apa yang kamu rasain sekarang. Sampai-sampai aku lupa, takdir tuhan adalah jalan yang terbaik, meskipun kita sendiri gak berpikir seperti itu,”
“Tapi sekarang... aku bahagia Ca. Aku dapet Bima, aku punya bayi yang bikin hidup aku sempurna. Dan di sisi lain aku yakin, di setiap kesedihan pasti ada kebahagiaan. Jadi jangan pernah berpikir tuhan itu gak adil, tuhan adil, sangat-sangat adil. Aku yakin, tuhan kasih cobaan yang sebegitu banyaknya sama kamu, karena kamu kuat, karena kamu bisa laluin semuanya. Tunggu waktunya, kamu bakal dapat kebahagiaan yang lebih banyak, dari kesedihan yang kamu dapetin sekarang,”
|•••|
Setelah pulang dari apartemen Bima, Caca dan Raga tidak langsung pulang, mereka jalan-jalan terlebih dahulu, atas keinginan Caca.
Entah kenapa, hari ini Caca jadi teringat tentang penyakitnya yang memburuk akhir-akhir ini. Jadi, Caca hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersama cowok di depannya ini, berdua saja. Caca takut, wanita itu pesimis, ia jadi tidak yakin, akan lebih lama lagi di dunia ini, meskipun ia tidak tahu takdir tuhan kedepannya itu seperti apa.
Caca semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Raga dan menyenderkan kepalanya di punggung cowok itu. Memejamkan matanya, sembari menikmati angin sepoi-sepoi di malam hari.
Btw, mereka pake motor Alzam.
“Ca!” Teriak Raga supaya terdengar, karena biasanya perempuan akan menjadi budek tiba-tiba kalo di bonceng kendaraan roda dua ini.
“Ha?” Caca bergumam, lalu menyimpan kepalanya di bahu Raga.
“Mau makan dulu atau kemana dulu?!” Kata Raga, masih berteriak.
“Terserah,” Jawab Caca pelan.
“Ke mana dulu? Gak dengar gue bilang apa?!” Ngeggas Raga.
Caca mendengus lalu tertawa, siapa yang tidak mendengar coba? Orang Raga sendiri yang tidak mendengar, kok malah menyalakan dirinya.
“Dasar budek!” Ucap Caca teriak dan masih tertawa.
Raga yang mendengarnya melotot “Lo yang budek! Kok nyalahin gue?”
“Pokonya Lo budek!”
“Lo!” Kata Raga tak mau kalah.
“Dih, orang Lo yang budeg, gak mau ngaku lagi,” Caca berucap sembari menjulurkan lidahnya.
Tak sanggup dengan teriak-teriakan yang mereka lakukan, dan tatapan dari orang-orang, Raga lebih memilih menghentikan motornya di pinggir jalan.
“Ke mana dulu?” Ucap Raga dengan tatapan datarnya.
“Gitu aja marah Lo Ga, cepat tua mampus Lo!” Cibir Caca sembari menatap Raga dengan bersedekap dada.
Raga berdecak “mau ke mana dulu Ca, makan atau main dulu,” Raga tersenyum paksa, dan berusaha menggunakan intonasi selembut mungkin menghadapi sikap perempuan di depannya ini.
“Terserah,” Jawab Caca, sambil menyenderkan tubuhnya di motor.
Raga Menghela nafas lelah, kenapa perempuan sangat sulit sekali hanya sekedar menentukan tempat makan.
Caca tertawa melihat Raga yang sepertinya sudah depresi, wanita itu lalu menaiki kembali motornya, “makan dulu, kagak usah melas gitu mukanya,”
Raga tersenyum, “Nah gitu dong, jangan bikin darah gue naik. Kan kalo gak neko-neko Lo cantik,” Ucap Raga mengusap-usap kepala Caca yang terbalut oleh helm.
“Gue yang nyetir, please...” Mohon Caca.
“Kagak, masa iya cowok di bonceng cewek sih? Udah sana pindah!”
Caca menggeleng dengan wajah di buat se-imut mungkin, berharap Raga luluh dan menuruti permintaannya.
“Ga, please...” Caca memegang tangan Raga, dengan terus memohon.
“Ck, ya udah!” Raga pasrah, lelaki itu duduk di jok belakang.
Caca tersenyum kemenangan “Pegangan sayang, gue mau ngebut!”
“Sok iyah banget Lo!” Meskipun mencibir, Raga tetap menuruti perkataan perempuan itu untuk memeluknya.
Blush
Raga langsung menutup mata dan mengeratkan pelukan, ketika Caca membawa motor dengan kecepatan super tinggi. Bagaimana tidak, lelaki itu lupa, kalo Caca itu adalah joki yang sengaja Raga pendam bakatnya, karena lelaki tidak mau Caca kenapa-kenapa, ketika mengikuti balap liar.
“ANJING CA! WOY, BERHENTI GAK?!GILA LO! BANYAK MOTOR MOBIL!BUTA MATA LO!”
Raga berteriak, meskipun dirinya sering mengikuti balapan, tetapi ini baru pertama kali dirinya di bonceng dengan kecepatan seperti ini. Sebenarnya lelaki itu tidak takut, hanya saja takut. Jadinya seperti itu.
Ges lah, intimanah si Raga teh Sien, ngen Gengsi, Kituwe ti pusatmah☺️
Berbeda dengan Raga, Caca malah tertawa lepas, rasanya ia menyesal, kenapa tidak dari kemarin-kemarin ia seperti ini.
“CACA BERHENTI BANGSAT! ANJING LO!”
“Ya allah selamatin Raga dari cewek gila yang sayangnya Raga sayang banget ya Allah,” Batin Raga.
“CEWEK GILA!” Umpat Raga kesal.
Bukan nya melihat kaca spion, Caca malah berbalik menatap Raga “hah?gue keren? Gue tau itu,” Ucapnya degan bangga, masih dengan kepala yang menoleh menatap Raga.
Mata yang awalnya ingin memutar bola mata, malah melotot, ketika di depannya ada orang yang sedang menyeberang tanpa melirik kesana-kemari.
“CA AWAS! DI DEPAN ADA ORANG!” Raga panik, membuat Caca kelabakan dan kembali menatap ke depan.
Wanita itu ikut memelototkan matanya, benar kata Raga, di depan sana sedang ada orang yang menyeberang.
Ckitttttttt
Mengerem dengan mendadak dari kecepatan tinggi, membuat ban belakang motor yang mereka tumpangi terangkat.
Brug
Brak
Mereka berdua tumbang, ketika mengerem Caca langsung membelokkan stirnya. Padahal orang yang hendak di tabrakannya cukup jauh dari motor mereka.
Motto Caca : Gak kenapa-kenapa berati gak kuat ☺
Raga meringis, ketika kakinya terjepit. Sedangkan Caca, perempuan itu sudah kembali berdiri. Dan dengan Watadosnya perempuan itu seperti tersenyum bangga, mungkin karena tak jadi menabrak orang di depannya.
“Bego Lo! Bantuin gue, gak keliatan kaki gue kejepit!” Sentak Raga, membuat Caca nyengir dan mengangkat motornya dengan hati-hati. Cukup berat, ketika di angkat oleh perempuan.
“Aduh, kasian kan motornya jadi lecet-lecet kayak gini,” Caca berucap, sembari memegangi goresan yang baru saja terjadi pada motor kesayangan Alzam itu.
Sedangkan Raga, lelaki hanya memutar bola matanya malas dan mendengus” lebih kasian sama motor dari pada gue? Gue kejepit sama dia Loh tadi,” Raga menunjuk motornya degan tajam. Bahkan lelaki itu tak suka, ketika Caca lebih memperhatikan motor daripada dirinya.
Cemburu kepada apapun, meskipun itu benda mati sekalipun ☺