
"Lah, kan sudah dicium, kenapa lo marah gue ajak kesini?" Tanya Caca bingung.
"Iya, tapi gue cuman ngebolehin lo main wahana, gak dengan gue ikut menaiki wahana ini," ucapnya tajam, tetapi berbeda dengan kakinya yang bergetar.
Caca tersenyum mengejek, ketika melihat kaki Raga bergetar, "Kenapa? Takut lo!" Ejek Caca.
"Gak, gue gak takut!" Teriaknya
"Ya, terus kenapa lo marah-marah kalau gak takut?"
"Ya kan—" Belum sempat Raga menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba.
Krek-krek …
Itu suara dari bianglala yang berhenti, membuat seketika mata Raga melotot kaget. Saking kagetnya, lelaki itu sampai tidak sadar bahwa dirinya langsung melompat ke tubuh Caca, membuat bianglala yang dinaiki mereka berdua bergoyang.
"Eh anjir, lo ngapain lompat bego, bianglalanya jadi goyang kan?" Caca masih berusaha tenang, sambil berpegangan pada ujung dan ujung tempat duduk bianglala.
Bukannya turun, Raga malah semakin mengeratkan pelukan pada Caca dan memejamkan matanya, ia takut sungguh takut, kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi sekarang.
Krek-krek …
Bianglala kembali bergerak, membuat Raga perlahan-lahan membuka matanya dan bernafas lega.
"Eh anjir, turun! Bianglalanya dah gerak,lebay banget sih lo!" Bentak Caca.
Raga beringsut kembali ke tempat duduknya dengan wajah datar, membuat Caca memutar bola matanya malas, "Gue gak lebay, cuman kaget aja," ucapnya santai.
Berbeda di dalam hatinya yang terus mengumpati dirinya sendiri, kenapa bisa sangat memalukan di depan Caca.
"Oh cuman kaget aja ya. Yaudah, kita naik satu putaran lagi!" Ucapnya antusias
"Gak, gue gak mau!" Jawab Raga ketus.
Beberapa saat kemudian, bianglala itu berhenti, menandakan bahwa wahana bianglala tersebut berhenti untuk dinaiki.
"Katanya gak takut, tapi diajak satu putaran lagi gak mau. Ketua geng kok takut naik bianglala sih?" Ejek Caca mencoba mensejajarkan langkah besar Raga.
Raga berhenti ketika sampai di parkiran, menatap Caca tajam, lalu menaiki motornya diikuti gadis itu. Belum sempat sepenuhnya Caca naik, motornya sudah duluan di gas oleh Raga, membuat Caca terjungkal ke belakang.
"RAGA ANJING, GUE BELUM NAIK BEGO!" Teriak Caca keras. Cewek itu mengusap-ngusap kepalanya yang menjadi korban aspal.
Merasa ada yang meneriaki namanya, Raga melihat ke arah spion dan memelototkan matanya, ketika mendapati Caca terduduk di atas aspal sambil memegang kepala.
"HAHAHAHA! KENAPA LO SAMPAI JATOH SIH HAHAHAHA!" Bukannya menolong, Raga malah menertawakan Caca, membuat gadis itu mendengus masih dengan mengusap kepala.
"Tai lo, lo gak ngerasa kalau gue jatoh gitu, mana kepala gue bedarah lagi, sakit tahu gak!" Kesal Caca menunjukan tangan yang penuh darah gara-gara mengusap-usap kepalanya.
Raga menghentikan tawanya, lalu membawa Caca ke pinggir dan mendudukkan gadis itu disana, "Kenapa sampai jatuh sih? Orang kalau cowoknya udah ngegas motor tiba-tiba, ceweknya langsung meluk, lah lo malah Jungkir ke belakang."
"Dasar edan, lo masih nyalahin gue. Motor lo moge motor gede yakan? Dengan naiknya aja gue susah, orang tiba-tiba meluk ya karena udah duduk di atas tuh jok, lah gue? Belum juga duduk lo udah gas tuh motor, gimana gue gak ngejungkel!" Omel Caca dengan nada kesal sambil terus mengusap kepalanya.
"Yaudah maaf, jangan dimainin, gue mau beli obat merah sama perban dulu di apotek, lo tunggu disini ya."
"Gak, gue gak mau, gue mau pulang!" Kata Caca.
"Bentar aja, lo tungguin disini ya, janji gak akan lama kok," Raga berkata lembut sambil mengusap-usap pundak Caca, membuat Caca mengehela nafas dan mengangguk.
Melihat anggukan Caca membuat Raga cepat-cepat beranjak dari sana menuju apotek, sedangkan Caca dia terus saja memegangi kepalanya, "Pusing banget gue ..." Gumamnya.
"Apa jangan-jangan gue geger otak gara-gara tadi jatoh," tanyanya, pada diri sendiri.
"Eh anjir, kok gue malah mikirin penyakit otak sih, mulai melantur nih otak."
**
Setelah diantar Raga kerumahnya, Caca terus memegang kepalanya, karena terus menerus merasakan sakit. Bukan kali ini saja Caca merasakan ini, sudah sendari lama. Bahkan sewaktu-waktu, ia bisa saja muntah atau mimisan.
"Argghh! Kenapa kepala gue sakit banget?" Ringis Caca sambil menjambak rambutnya untuk menyalurkan rasa sakit.
Ia mengesot keluar kamar, sambil menelpon supir pribadinya, ia akan memaksakan dirinya ke rumah sakit, karena tak bisa mentolerir rasa sakit dikepalanya.
"Pak, tolong kerumah!" Setelah mengatakan itu, Caca langsung mematikan sambungan teleponnya dan kembali mengesot untuk menuruni tangga.
Setelah beberapa menit, supir yang ditelpon Caca sudah sampai rumah, ia memelototkan matanya kaget, ketika melihat majikannya yang terkulai lemas dengan banyak darah di hidungnya. Mimisan rupanya.
"Eh non Caca kenapa?" Tanyanya panik, langsung berlari menghampiri gadis itu.
"Anterin saya ke rumah sakit pak," lirih Caca dan tanpa ba-bi-bu-be-bo, supir itu langsung menggendong Caca menuju mobilnya.
"Saya kasih tahu kakeknya non yah?" Ucap pak supir, ketika mereka berada di mobil untuk meminta izin.
"Jangan pak, entar opah saya khawatir, sekarang bapak jalan aja."
Supir itu mengangguk, lalu menjalankan mobilnya, di dalam perjalanan, Caca terus-terusan muntah-muntah dan terus menjambak rambutnya, membuat sang supir merasa sangat khawatir.
"SUS, BRANKAR CEPAT!" Teriak pak Yono-supirnya Caca.
Berbeda dengan kondisi Caca, Raga tengah senyam-senyum sendiri dikamarnya, sambil memegang pipinya. Yap, dia mengingat bagaimana tadi Caca menciumnya.
"Ah, gila gue lama-lama," desahnya, lalu mengambil handphone. Sekedar scroll Instagram untuk menghilangkan kegilaan.
**
Sudah memasuki jam istirahat, tetapi batang hidung Caca belum sama sekali kelihatan. Gadis itu memang sering membuat keempat lelaki itu khawatir dan ketar-ketir.
"Caca kemana ya? Gue takutnya kayak kejadian minggu lalu yang kejadian si Caca jatoh di motor itu lho," khawatir Bima.
Meskipun Bima adalah partner gelut Caca. Tetapi lelaki itu selalu khawatir terjadi apa-apa pada satu-satunya gadis di tongkrongan mereka.
"Lo gak ngeburu-buruin dia kayak kemaren kan Ga?" Timpal Dodi sambil melirik Raga yang tak henti-hentinya berkutat di handphone dengan wajah cemasnya.
Raga menoleh, lalu menatap tajam mereka, "Bisa diem gak? Gue lagi hubungi Caca tapi gak bisa-bisa!" Kesal Raga lalu kembali mengotak-atik handphonenya.
Melihat tatapan itu Dodi nyengir, lalu menggaruk tengkuknya, "Oh berati lo gak tahu ya Ga, Zam gimana? Lo tahu Caca dimana?" Dodi mengalihkan ucapannya pada Alzam, dari pada di amuk sang ketua, kan tidak lucu.
Terlalu sibuk dengan handphone, Raga sampai tak memperhatikan, bahwa Mona sudah berada disampingnya.
"Raga, ini aku bawakan kamu makanan, kamu makan ya?" Ucap Mona menyimpan makanan itu di meja.
"Ouiyah satu lagi, aku mau lomba cerdas cermat Ga, kamu nonton ya? Biar aku semangat ngerjain soalnya," ucap Mona kembali.
Raga nampak sangat-sangat tidak peduli dengan manusia pengganggu disampingnya, lelaki itu terus saja menelpon Caca, tanpa sama sekali melirik Mona.
setelah puluhan kali cowok itu menelpon Caca dan tak ada jawaban. Akhirnya, panggilannya pun diangkat sekarang.
"Lo dimana!" Bentak Raga, ketika panggilan tersambung.
"Gue di …"