
Gemercik hujan mulai membasahi bumi. Caca yang tidak membawa motor karena tak di izinkan bunda Renita lebih memilih menebeng ke raga, yang dengan senang hati menampung dirinya.
Caca tertawa, ketika semakin lama semakin deras juga hujan yang mengguyur. Pikirannya seolah luntur oleh air hujan yang membasahi tubuhnya.
Raga hendak meminggirkan motornya untuk meneduh, tetapi Caca menolaknya dengan berteriak.
"JANGAN NEDUH GA, UJAN-UJANAN AJA!" Teriaknya, agar suaranya tak teredam air hujan.
"Hah?"
"JANGAN NEDUH, UJAN-UJANAN AJA!"
"ENTAR LO SAKIT!" Kata Raga, tak kalah berteriak.
"GAK AKAN!"
"GAUSAH NGEYEL,TAR LO SAKIT!"
Setelah mengatakan itu, Raga menepikan motornya di tepi ruko yang sudah tutup. Mungkin karena hujan adanya hujan.
"Gue gak akan sakit, cuman karena air hujan doang raga!" Kesal Caca.
"Gausah bacot! Lo sakit, Semua orang yang repot!" Balas raga.
"Semua orang yang repot, apa Lo nya aja yang khawatir kalo gue sakit?" Tanya Caca, sedikit menggoda.
Raga menatap Caca datar, seolah-olah yang di katakan Caca salah. Tetapi dalam hatinya, mengatakan sebaliknya.
"Ayolah Ga, sekalian ke markas kan?" Bujuk caca.
"Gak! nunggu reda aja," Ucapnya.
"Please ga, gue pengen banget ujan-ujanan!" Keukeh cewek itu, terus membujuk
Caca mengepalkan kedua tangannya, lalu menyimpannya di bawah dagu. tidak lupa, jurus rahasianya untuk menggoda raga, yaitu mengeluarkan puppy eyes, supaya raga tidak bisa menolak permintaannya.
Raga berdecak"Gak usah sok imut Lo! cepetan naik, kalo sakit jangan ngadu sama gue!" Ketusnya.
Caca mengibaskan rambutnya bangga. Tidak lupa matanya menatap sok angkuh ke arah air hujan.
"Tidak akan pernah gagal hahahahahah" batinnya tertawa.
*'*
Mereka berdua sampai di markas dengan basah kuyup. Raga melepaskan jaketnya yang tampak sudah berat karena air hujan.
Raga berdecak tak suka, ketika Melihat baju Caca yang transparan dan menampilkan dalamnya. memerat jaket itu, lalu memasangkannya pada Caca.
"Transparan," Katanya, lalu masuk meninggalkan Caca.
Caca berdecih. di kala orang lain di kasih jaket sebelum hujan, supaya tidak terlalu basah, dan tidak kedinginan.
Raga malah memberikannya, pada saat bajunya sudah bajunya basah kuyup, dan tentunya semakin basah kuyup ketika di tambah jaket raga.
"Gak romantis, tapi makasih!" Monolog Cewek itu, lalu masuk menyusul raga.
Melihat Alzam yang sedang mengotak-atik layar di depannya, Caca berseru"Zam...tolong kirimin video cctv pas ada penyerangan markas, kirim pribadi ya," Kata Caca.
"Buat?" Tanya Bima, yang kebetulan ada disana.
"Lo tau jawabannya lah," Jawab Caca.
Buat apa lagi kan? selain menyelidiki.
"Udah gue kirim," Kata Alzam.
Caca mengangguk, lalu melihat isi vidio itu. merogoh sakunya, tetapi barang yang di maksud, ternyata tak di bawanya.
"Sial, gak kebawa lagi!" Ucap Caca.
"Ganti baju dulu gih," Titah raga, yang baru memasuki ruangan itu, dengan pakaian yang sudah berganti dengan pakaian santainya.
“Yah...kayaknya gue gak nyimpen lagi baju ganti deh," Kata Caca.
Raga menghela panjang"Makanya, jangan sok-sokan mau ujan-ujanan!"
"Pake Hoodie sama celana training gue ada di lemari!" Tambahnya.
Caca mengangguk, lalu mengganti pakaiannya. Setelah selesai, Caca mengerutkan keningnya merasa di sini ada yang kurang dan tidak berisik.
"Fatner Lo mana Bim? Dodi mana Dodi, tumben tuh bocah gak ada," Tanya caca, duduk di sebelah Bima.
Bima mengedikan bahunya acuh"Kagak tau gue, kagak ada kabar. setelah pulang dia bilang mau langsung pulang, udah gitu," Jawab Bima.
"Kagak beres nih," Caca merogoh sakunya, untuk menghubungi Dodi tentunya.
"Dimana Lo Dod?" Tanya Caca, setelah ke empat panggilannya baru saja di angkat.
"Rumah," Jawab Dodi.
"Lo kagak kenapa-napa? tumben kagak ke markas dulu,"
Terdengar helaan nafas pelan disana,"Mager gue!"
"Mager atau ada masalah? Kagak mau cerita?"
Tut.
"Dasar Dodi sialan! gue khawatir dia nya malah nyebelin," Ungkapnya kesal.
"Raga... sini," Ucap Caca, setelah beberapa menit terdiam.
"Kenapa?" Tanya Raga, lalu duduk di samping Caca.
Cewek itu menggeleng, lalu memeluk raga dari samping"Enggak, pengen peluk aja, dingin" ungkapnya.
Raga diam tak menjawab, tetapi tangan kirinya membalas pelukan cewek itu, sedangkan tangan kanannya fokus memainkan handphone.
Caca mendongkak, memperhatikan bentuk wajah sempurna milik Raga.
hidup mancung, alis tebal, rahang tegas, bibir tebal, menambah kesal wajah lelaki itu. secara fisik, Raga memang lah sempurna.
"Ga, kenapa Lo ganteng pake banget. Jadi gantengnya tuh gak cuman ganteng, tapi ganteng banget," Kata Caca, masih menelisik setiap inci Wajah Raga
"Spek nabi Yusuf," Balasnya, masih tetap fokus pada layar handphone di depannya.
Caca bangkit, menyimpan wajahnya pas di depan wajah Raga, lalu memerhatikan wajah itu dengan seksama.
"Lo—lo ngapain?" Tanya Raga, sedikit gugup.
Caca berpindah tempat menjadi di sisi kanan Raga, memerhatikan wajah itu kembali, tak lama kemudian berpindah tempat menjadi di sisi kiri Raga, memperhatikan kembali, setelah di rasa puas, cewek itu kembali memeluk Raga.
"Lo kenap—"
"Stttt...... diem!" Caca menyimpan jari telunjuknya di bibir Raga, menyuruh lelaki itu berhenti berbicara.
"Sial, kenapa Lo ganteng banget Raga! Lo tetap ganteng, meskipun gue liat dari semua sudut pandang mana pun, Lo tetap ganteng!" Tambahnya.
"Gak usah gombal!" Kata Raga, sembari mencubit pelan hidung Caca.
"Ishh...siapa yang gombal sih?!" Kesal Caca, sembari menyingkap tangan raga di hidungnya.
"Kalo misalnya gue nikah sama Lo, gak kebayang sih wajah anak kita kayak gimana? bapaknya spek nabi Yusuf, emaknya spek Siti Sarah, gak kebayang bisa secantik sama seganteng apa anak kita nanti," Ungkap Caca.
"Gausah halu!" Ucap raga.
"Emangnya Lo gak mau nikah sama gue?" Tanya Caca.
"Tergantung, Kalo gak ada lagi cewek di muka bumi ini, terpaksa gue harus nikah sama Lo" Jawabnya.
Caca mendengus"Nolak secara halus ya bund," Kata Caca, membuat raga terkekeh.
“Tapi waktu itu Lo bilang, Lo mau nikah sama gue!”
"Sayangggggggg!" Teriakan seseorang tiba-tiba menggelegar sampai penjuru markas.
"Ngapain Lo kesini?" Seru Alzam tajam.
"Ya nyamperin kamu lah, ngapain lagi. Tadi kata bunda kamu disini, makanya aku nyamperin,"
Siapa lagi kalau bukan Sasa, tunangannya si batu.
"Pulang sana! gue gak suka liat muka Lo disini," Alzam mengatakan itu, sembari menatap Sasa tajam.
Sedangkan yang di tatap hanya menampilkan cengiranya, lalu merangkul tangan Alzam manja.
"Gak mau, masih kangen..." Manja Sasa.
Melihat di sekelilingnya, Bima berdiri"Gue mau balik dulu ah, mau manja-manjaan sama istri gue juga," Sahut Bima.
"Hati-hati, titip salam sama Bella, titip salam juga sama ponakan gue yang masih anteng di perut istri Lo!" Ucap Caca.
"Iya-iya....pulang ini gue pasti langsung jengukin anak gue. bye-bye semua,Bima ganteng pulang dulu!" Setelah mengatakan itu, Bima berjalan keluar untuk pulang.
Caca cemberut, lalu memandang raga dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kenapa?" Tanya raga.
"Gak tau! Kesel pengen Cepet nikah sama Lo titik!" Balas Caca.
"Iya Zam, kita kan tunangannya udah. nikahnya cepetin aja, biar kayak Bima," Sahut Sasa.
"Gak!" Jawab Alzam ketus.
Sasa menghela nafas"Gak, gak terus! kesel deh, kapan maunya coba! nikahnya kita bisa bareng sama Caca sama Raga, kayaknya seru deh kalo nikahan kita barengan, bener gak ca?"
Caca mengangguk antusias"Bener, kayaknya seru. Raga... ayo kita nikah bareng sama alzam sama Sasa, ayo Raga!" Caca menggoyang-goyangkan tubuh raga kesana-kemari, membuat Raga memutar bola matanya malas.
"Emang menurut Lo berdua, nikah gampang?" Tanya raga.
"Gampang lah! orang tinggal ke KUA doang, itu aja susah!" Jawab Caca.
Raga mendekatkan wajahnya ke wajah Caca,"Iya, ngurusin si gampang ngejalaninnya yang susah!"
Krek
Menggigit cukup keras pipi Caca, lalu kembali lagi ke tempat semUla, sembari memainkan handphonenya, seolah tidak terjadi apa-apa.
"RAGA SAKIT BEGO!" Teriak Caca.