
"Bodoh semua pengikut Lo,"
|•••|
"Sebenarnya, gue pengen banget bunuh lo. tapi... gue gak pernah di ajarin jadi pembunuh,"
Setelah mengatakan kata itu, Caca berjalan menuju salah satu motor terbagus disana, lalu menaikinya.
"Sebenarnya juga, gue malas tukar Ducati gue sama motor murahan kalian. ducati gue milyaran kan? sedangkan motor Lo? seratus juga aja kayaknya gak dapet. tapi berhubung motor ban gue pecah, Gue dengan sukarela ngasih Ducati gue sama manusia rendahan kayak kalian. itung-itung buat pengobatan kalian lah," Sombongnya.
Hendak menyalakan motornya, punggungnya kembali di tembak dari belakang, mengharuskan dirinya berbalik “Berani banget Lo, di kasih hati minta jantung!"
Dor
Dor
Dor
Dor
Membalas dengan empat tembakan sekaligus, sebelum benar-benar pergi. Caca menembakkan peluru terakhirnya, tepat pada bahu lelaki pertama yang berbicara padanya.
"Salam perpisahan," Katanya, lalu melajukan motornya dengan cepat.
Hanya melawati beberapa kilometer saja, Caca sudah berhenti di pinggir jalan untuk meredakan rasa sakitnya. Dari tadi pun, ia sudah merasakan sakit, hanya saja di tahan, supaya terlihat kuat di mata mereka.
"Anjir, ngilu banget...rasanya pengen mati," lebaynya, lalu membaringkan tubuhnya di trotoar.
Rasanya, untuk kembali bangun pun tak bisa, badannya terasa sangat sakit. Wanita itu Menghubungi seseorang, untuk di mintai pertolongan.
"Halo Lex, jemput gue di jalan ****," Katanya, setelah berhasil menelepon Alex.
"Baik nona, saya segera kesana."
Hanya membutuhkan hampir setengah jam, Alex sampai di tempat yang Caca suruh.
"Lama banget, dandan dulu?" Cibirnya.
"Astaga nona, kenapa anda berlumuran darah seperti ini?" Kagetnya.
"Gausah bacot deh, cepet gendong gue ke mobil!"
Sudah tau kesakitan, tetapi malah di tanya dengan pertanyaan yang tidak berfaedah.
"Kenapa anda bisa seperti ini?" Tanya Alex, ketika berada di dalam mobil.
"Musibah," Balas Caca.
"Maksud saya, siapa yang melakukan ini?"
"Ya gak tau lah anjir! berisik ah, bacot Lo!" Ngegas caca.
"Sakit?" Pertanyaan tolol, di tembak di empat tempat yang berbeda, lelaki itu masih menanyakan sakit atau tidak.
"Kagak, buktinya gue marah-marah sama Lo!"
|•••|
Caca meringis pelan, akibat nyeri di punggung dan bahu belakangnya, karena mengharuskannya dirinya tertidur karena mengantuk.
Ia melirik ke arah pergelangan tangannya yang juga kena tembak oleh manusia bertopeng itu. Hanya beberapa jengkal dari denyut nadi, kalo saja orang itu pas menembakkan pelurunya, tepat pada denyut nadi, ia sudah nyakini,.kalo sekarang dia tidak akan ada sini.
Ceklek
Pintu di buka menampilkan Alex, yang nampaknya sudah berganti pakaian menggunakan pakaian santai.
"Baik-baik saja nona?" Tanyanya mendekat.
Basa basi yang memang sudah basi. Pertanyaan baik-baik saja, nampaknya kurang tepat di tunjukkan oleh orang yang beberapa kali terkena tembakan. tetapi, mari kita berpositif thinking, mungkin saja Alex tak ada bahan pembicaraan, yang mengharuskan dirinya bertanya dengan pertanyaan yang sudah jelas tau jawabannya.
Caca tersenyum paksa “Baik Alex, bahkan...sangat baik," Ucap Caca dengan intonasi super lembut.
"Baguslah kalo anda berasa baik. Apakah ada yang perlu saya bantu?" Tanya Alex.
"Saya ingin di belikan makanan yang membangkitkan mood," Jawab Caca.
"Makanan seperti apa?" Bingung Alex.
"Apapun, yang penting mood saya naik, tidak merepotkan kan?"
Alex mengangguk kaku, sebenarnya ia sedikit bingung, makanan pembangkit mood, makanan seperti apa itu?
Caca mengusap wajahnya kasar, “Kenapa panggil teman saya? mereka pasti akan membuat keributan disini," Lesunya.
Membuat rumah sakit ini menjadi bising itu pasti, tetapi yang paling ia tidak mau temannya kesini adalah, pasti akan banyak pertanyaan yang di lontarkan.
"Apakah saya harus menyuruh mereka lagi, untuk dia saja di rumah?"
"Tidak perlu sudah terlanjur. mendingan kamu berangkat sekarang, takut kemalaman." Alex mengangguk, lalu berjalan ke luar bangsal.
Benar saja apa yang di katakan Alex, belum lama dari Alex keluar bangsalnya, teman-temannya datang, Dengan mimik wajah berbeda-beda.
Caca cepat-cepat memejamkan matanya, dan menaiki selimutnya. Pura-pura tidur nampaknya bukan ide yang buruk.
"Awsss.....sakit banget gila," Batinnya. ketika punggung dan bahu belakangnya tergesek kursi.
"Gausah pura-pura tidur,.gue tau Lo gak tidur..lo pikir, kita gak liat Lo grasak-grusuk!" Kata Dodi, membuat Caca membuka matanya dan nyengir tak berdosa.
"Bagus Lo kayak gitu? kita tau kejadian ini dari orang lain, bukan dari Lo sendiri? bagus Lo mau nyembuyiin ini dari kita?" Tambah Raga, dengan tatapan datarnya.
Ini nih yang membuat dirinya malas memberi tahu, teman-temannya itu rempong. Ia sudah pasti akan di marahi.
"Gue gak ada niat nyembuyiin dari kalian, belum sempat aja kasih tau, eh keburu si Alex kasih tau kalian," ngeles nya.
"Lo pikir, kita semua gak tau akal bulus Lo?!" Kini, Bima lah yang berbicara.
"Jangan dulu di marahin bisa gak sih?sakit nih!" Protes Caca. hanya alzam lah yang mengerti keadaannya sekarang.
"Lo sih! kalo gak di mar—"
"Raga.... bantuin bangun, susah" Ucap Caca, mengalihkan pembicaraan.
Raga menghela nafas lalu mendekat. Membangunkan cewek itu pelan-pelan, supaya tidak kesa—
"Aw, sakit tahu. Jangan teken bahunya!"
"Eh, Gue gak tau," Raga memajukan tangannya ke daerah punggung, tetapi Caca juga menggaplok tangannya.
"Jangan punggung juga, sakit!" Kesal Caca.
"Lebay Lo! emang mana doang yang kena tembak? tangan doang kan? sampai-sampai semua badan Lo sakit kayaknya," Dodi memang seperti itu, awal menunjukkan perhatian, akhir-akhirnya tetap mencibir juga.
"Dua tembakan di bahu, satu tembakan di punggung, satu tembakan di pergelangan tangan. Gue yakin, kalo Lo yang kena, udah mati di tempat!"
"Anjir! banyak amat," kagetnya.
"Mana yang gak sakit?" Tanya Raga.
"Bahu yang kiri," Balas Caca.
Raga mengangguk, lalu mulai merubah posisi tidur Caca menjadi duduk.
"Kenapa sampai bisa kayak gini?" Raga menyenderkan Caca pada bantal yang sudah di tumpuknya.
"Musibah," Jawaban epic yang selalu keluar di mulut caca jika terkena masalah.
"Lo tau muka yang nembak Lo? anggota libra atau bukan?" Tanya Raga lagi.
Caca menggeleng "Bukan,dia pake topeng. mungkin, orang yang sama, sama orang yang udah pecahin kaca rumah gue dulu. soalnya, dia bahas soal harta opah gue,"
"Gak ada ciri-ciri spesifik gitu? biar kita gampang nyarinya," ucap raga
"Gak ada. Gue cuman dapat pistol dia," Balas Caca.
"Pistolnya mana?"
"Untuk masalah ini, biar gue aja yang nyelesaiin sendiri aja, ini gak ada urusannya sama alverage. lagian, ini cuman soal harta kok, jadi kalian semua gak usah khawatir," Ujar Caca.
"Gue gak mau ya, kalian rasain apa yang gue rasain sekarang. Lagian, gue liat-liat orangnya berbahaya, dia gak pernah main-main sama ucapannya. jadi, biar gue aja yang nyelesaiin!" Tegas Caca.
Jelas-jelas Mereka semua menolak. Mereka semua teman, ketika satu orang mempunyai masalah, berati itu masalah bersama, tidak ada yang namanya masalah masing-masing.
"Justru itu, lebih bahaya kalo Lo mau nyerang dia sendirian,"
"Eh Caca, Lo Kira gue apaan hah! Lo kira, Gue lebih lemah dari Lo, sampai-sampai Lo bilang berani lawan orang itu sendiri! udah jelas-jelas gue lebih jago dari Lo! cuman segitu doang nembaknnya gak bakal terjadi apa-apa sama gue!" Songong Dodi.
"Bukan gitu maksud gue, gue mau mandiri ngelesain masalah gue sendiri," Kata Caca.
"Iya mandiri. Mati sendiri, mau Lo?"
"Lah, ngapain mati rame-rame kek perang aje!"