
Caca tengah berbaring dikursi markas, sedangkan yang lainnya sedang sibuk dengan PS di depannya.
Tidak semua, hanya Dodi dan Alzam saja. Sedangkan Raga, ia sedang mengotak-atik hanponenya. Kalau Bima, lelaki itu tak datang ke markas, mungkin karena sedang menunggu istrinya yang sedang hamil.
Caca terbangun dan menghampiri Raga. Duduk disamping lelaki itu sambil menyenderkan kepalanya dibahu.
Raga menoleh, lalu kembali fokus pada handphonenya. Sudah biasa gadis disampingnya itu seperti ini.
"Ga. Lo lagi ngapain sih?" kesal Caca, merasa diabaikan, seolah-olah handphone lebih menarik dari dirinya.
Raga menyimpan handphonenya, lalu berbalik menatap Caca. "Kenapa?" Tanya Raga.
"Gue ngantuk," Caca menyenderkan kepalanya didada Raga, lalu memeluk pinggang lelaki itu.
Raga membalas pelukan itu, membuat Dodi yang sedang berbalik berdecak, "Kalau mau uwu-uwuan diluar aja! Gue uwufobia soalnya!" Ketus dodi kembali menatap layar di depannya.
"Dih, siapa yang uwu-uwuan, orang gue mau tidur," balas Caca.
"Ada kamar kan? Kenapa gak dikamar aja? Kenapa harus dipelukan Raga?" Dodi melemparkan stick PS nya, lalu menyenderkan punggungnya di sofa sembari melihat dua orang yang tengah berpelukan itu.
"Lah, serah gue lah. Cemburu lo!" ucap Caca masih menenggelamkan kepalanya didada Raga, mengdungsel-dungsel disana.
"Najis gue cemburu sama lo!"
"Yaudah, jangan ribut makanya!" kata Caca.
"Nyenye!" Cibir Dodi kesal, pasalnya ia tak pernah menang kalau berdebat dengan perempuan sinting di depannya ini.
Caca teringat sesuatu, ia melepaskan pelukannya, lalu kembali duduk menghadap Dodi dan Alzam.
"Kenapa? Udah gak ngantuk?" Tanya Raga sambil mengusap-usap rambut Caca.
Caca menggeleng, "Enggak, gara-gara si Dodi recokin terus!"
Raga menatap tajam Dodi. Dirinya sedang enak-enaknya diposisi tadi, tapi Dodi mengacaukan semuanya.
"Apa? Salah gue lagi?" Kesal Dodi sambil menutup wajahnya dengan bantal sofa, tampak sudah lelah.
"Ouiyah, gue keinget sesuatu. Kapan kita menyelidikin kasus kakak gue lagi?" Pancing Caca. Ia ingin melihat ekspresi mereka. Benar apa tidak, tuduhan yang menudut Anggota Alverage ini.
Semua anggota yang ada disana mendengarkan ucapan Caca. Karena menurut mereka, kasus pembunuhan Caca adalah salah satu kasus penting.
Dulu ia tak pernah pedulikan ekspresi mereka, karena dulu Caca percaya bukan mereka salah satu pembunuhnya. Tapi sekarang, kepercayaan Caca mulai menipis, tetapi Caca berusaha untuk selalu percaya mereka, karena mereka semua sahabat dirinya.
Dirinya pun merasa sedikit bersalah kepada teman-temannya, ia takut mereka marah kalau tahu dirinya menyelidiki kasus ini secara diam-diam apalagi kasus ini menjurus ke arah mereka.
Dodi membuka penutup bantal dimukanya, "Lo coba ikhlasin kakak lo Ca. Kita udah cari bukti kesana-kemari tapi gak nemu-nemu, kasian kakak lo. Kalau lo terlalu naif nyariin pembunuhnya, kakak lo gak bakal tenang disana," ucap Dodi.
Sebagian anggota Alverage ada yang mengangguk dan ada juga yang tak terima dengan ucapan Dodi. Termasuk Caca.
Caca merasa sedikit tidak terima dengan perkataan Dodi. "Naif kata lo? Yap, memang gue terlalu naif buat cari siapa pembunuh kakak gue sendiri. Kalau gue tahu siapa pembunuh itu, gue gak akan biarin dia hidup tenang. Atau perlu, gue akan bunuh dia, biar dia rasain apa yang dirasain kakak gue!"
"Satu lagi, dia lebih gak akan tenang kalau pembunuhnya belum ditemuin. Bukan kakak gue doang yang gak tenang, tapi gue juga. Wajar dong gue kek gini, kakak gue yang dia bunuh dan dia yang ngebunuh kakak gue, satu-satunya keluarga yang gue punya selain opah, terus gue biarin dia gitu aja? Coba lo jadi gue, apa lo akan biarin pembunuhan kakak lo gitu aja? Gak akan kan?" Tanya Caca dengan emosi yang tiba tiba saja berubah marah.
"Kalau kalian udah gak sanggup bantuin cari pembunuh kakak gue bilang, gue bisa cari sendiri dan gue jamin, sebulan ini gue akan temuin siapa pembunuh itu!"
"Atau mungkin ada diantara kalian?" Caca tersenyum miring, lalu berlalu dari sana.
Deg!
Dua orang yang ada disana saling lirik, seolah berbicara dengan matanya dan salah satu dari mereka ada yang mengatakan 'bagaimana ini?' hanya dengan gerakan bibir.
"Lo harusnya jangan gitu Dod. Kasian dia, dia cuman punya kita lagi, lo harus minta maaf," peringat Raga.
"Kagak, lo denger kan? Tadi diakhir kalimat dia seolah-olah nuduh diantara kita semua?”
"Itu karena spontan, dia kesel makanya dia bilang gitu. Udah ah, gue mau ngejar dia."
Raga berlari keluar, arah Caca. Ia melihat Caca yang baru keluar dari gerbang, membuat Raga cepat-cepat mengedarai motornya dan mengikuti gadis itu, khawatir.
Raga melihat Caca yang sedang berada di jembatan sambil bertumpu tangan, tidak lupa ada satu rokok yang tengah menyala diantara ampitan tangan kanan gadis tersebut.
Raga masih diam ditempat, memperhatikan gadis yang kini sedang menghisap rokoknya dan menghembuskannya ke atas dengan kepala mendongkak menatap langit.
Tanpa berlama-lama lagi, Raga menghampiri gadis itu,merebut rokoknya lalu menghisapnya. Caca terlihat terkejut, karena rokoknya ditarik paksa. Ia melirik ke arah Raga,m lalu menghadap lagi ke depan setelah tahu siapa pelakunya.
"Gak baik cewek banyak bersuara!” Bentak Raga akhirnya bersuara dengan pelan.
"Baru satu batang, itupun direbut sama lo, lagian ngerokok gak haram juga kan? Kenapa lo larang- larang gue sih?"
Caca menatap Raga tak suka. Ia kesal, moodnya sedang tidak baik, Raga malah semakin menghancurkannya.
"Emang gak haram, tapi gak pantes!" Ucap Raga.
"Pantes-pantes aja, lonya aja yang ribut!" Jawab Raga.
"Gak pantes Caca!"
"Pantes Ragaaa."
"Gak pantes, pokonya gak pantes, kalau lo masih lawan ucapan gue, gue dorong lo kebawah!" Ancam Raga sembari menunjuk bawah jembatan.
Caca melirik ngeri ke bawah, dibawah sana banyak sekali mobil yang berlalu lalang. Tak bisa dibayangkan, kalau dirinya didorong, sudah didorong dari atas jembatan, tiba-tiba ditabrak oleh mobil dan dilindasnya pulak. Double tusukan bukan?
Caca bergidik ngeri, lalu menutup rapat-rapat mulutnya, "Mana?" Raga menadah tangan, membuat Caca menyerit bingung.
"Apa?" Jawabnya tak santai.
"Santai kali jawabannya."
"Lagian lo, ngomong kok setengah-setengah, mana yang dimaksud lo itu apa?" Kesal Caca.
"Rokok," kata Raga.
Caca berdecak kesal, "Apaansi, ngomong yang jelas. Jangan sekata-kata, bingung gue!"
Raga menghela nafas lelah, "Mana rokok lo?" Tany Raga berusaha bersabar.
"Lah, itu dibibir lo rokok, punya siapa gue tanya?" Tanya Caca.
Raga yang kepalang gemas itupun, seperti memperagakan gerakan *******-***** di depan wajah Caca. "Mana bungkus rokok lo? Gak mungkin lo punya satu kan?"
"Gak ada, cuman ada sebatang-batangnya itu," jawab Caca.
"Gausah bohong! Mana cepetan!" Paksa Raga.
"Gak ada ish, maksa banget lo!"
Raga memegang bahu Caca. Seakan-akan lelaki itu akan mendorongnya, membuat Caca dengan segera merogoh sakunya cepat, mengambil tangan Raga dan memberikan satu bungkus berserta korek-koreknya kepada lelaki itu dengan was was.
"Good girl. Kapan-kapan, gak perlu diancem dulu ya," Raga mengusap-usap rambut Caca membuat gadis itu mendengus.
"Kalau mau rokok beli kenapa Ga? Jangan malakin gue terus, kenapa sih?"
Raga hanya terkekeh membalas ucapan gadis itu, "Ada yang ngejanjel pikiran lo? Sampai-sampai lo nuduh kita tadi?" Tanya Raga hati-hati, ia takut perkataannya menyinggung gadis didepannya.
Bukannya menjawab, gadis itu malah memberikan pertanyaan lain, lebih tepatnya mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa lo larang gue ngerokok Ga? Awas aja cuman jawab gak pantes, gue mau jawaban lain," tuntut Caca.
Raga kembali terkekeh gemas, ia mendekatkan wajahnya lalu berbisik lirih, "Masa iya, calon ibu dari anak-anak gue ngerokok sih?"
"Yaudah. Kalau gitu, kita nikah sekarang," jawab Caca sembari menatap Raga dengan mata berbinar.
"..."
Hening, sampai pada saat Raga menyentil dahi Caca keras, "Emang dasar kelakuan lo," geleng kepala Raga.