RAGASA

RAGASA
Ep. 103. Strategi Konyol



Hari pertama Raga di penjara, dan hari pertama juga, geng inti Alverage hanya berisikan tiga anggota.


Banyak semua orang yang kaget dan tidak percaya, ketika berita Raga tiba-tiba muncul dengan cepat ke permukaan media sosial.


Bima dan yang lainnya hanya bisa diam dan tak berkomentar ketika mendengar ucapan-ucapan pertanyaan yang keluar dari mulut murid-murid yang penasaran, dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Mereka semua seolah-olah sibuk dengan berita itu. Ada orang tetap membela, dan ada juga yang sebaliknya. Bukan hanya di sekolah SMAN Bhakti saja, hampir semua sekolah yang cukup dekat dari sana, juga ikut membicarakan kasus ini.


Nama SMAN Bhakti tiba-tiba menjadi sorotan, dan biang pembicaraan.


“Eh, eh, eh, itu beneran Raga yang bunuh kakak Caca? Gue gak percaya deh anjir,” kata salah seorang siswa.


“Iya lah, orang dianya di penjara kan sekarang,”


“Iya sih, tapi yang ngebuat gue gak percaya itu, Caca sama Raga kan deket? Kok bisa Raga lakuin itu, gue bingung maksudnya,”


“Ekhm, gak punya kerjaan ya? Ngomongin urusan orang, urusin diri lo dulu! Baru urusin hidup orang!” dehem Dodi, sambil bersender di tembok menatap kedua perempuan itu dengan satu alisnya yang di angkat.


“Emang kita gak punya kerjaan, wle!” balas orang itu, “Yu ah pergi!” katanya lagi, sambil mengandeng satu temannya.


“Sinting tuh cewek,” gumam Dodi bergidik ngeri.


“Lo yang sinting, bukan cewek itu!” kata Bima, sambil merangkul bahu Dodi.


“Gak seru ah, sekolah cuman tiga orang, mas— eh, seru deng, kan ada neng Awan,”


“Hai Awan,” Dodi menyugar rambutnya ke belakang, sambil mengedipkan matanya genit.


“Lo bisa, gak sok ganteng sehari ini aja?” tanya Awan, ngeri.


Dodi tersenyum seraya berdecap “Gimana sih neng Awan, kan gue udah ganteng dari lahir, bukan sok ganteng,”


“Serah lo dah,” balas Awan hendak pergi, tetapi Dodi mencekal tangan perempuan itu.


“Lo makin cantik setiap bergantinya hari,”


Awan terkekeh kecil “Iyalah, kan dari lahir cantik. Gak kayak lo, yang gantengnya gara-gara sok kegantengan,”


Jleb


Dodi tiba-tiba memegangi dadanya seraya melihat Awan yang juga pergi begitu saja.


Bima tertawa, “Makanya, gak usah sok ganteng! Kayak gue dong, yang ganteng dari lahir,”


“Dih? Ngaca goblok!”


Memang, mereka hanya berdua saja sekarang. Karena Alzam sedang berada di kantin dengan Sasa, entah dari kapan, tampaknya, Alzam mulai bucin dengan tunangannya itu.


“Apa gue harus coba lupain Awan ya? Biar cepet punya pasangan kayak lo berdua, gue cape jomblo terus,” keluh Dodi.


“Emang kenapa sih sama jomblo?” heran Bima. Pasalnya, dari awal pun, Dodi selalu ingin ngotot mempunyai pasangan.


“Emang kenapa? Lo bilang gitu karena lo punya istri. Coba deh jadi gue, setiap harinya tuh kayak lemah, letih, lesu, gara-gara gak punya ayang yang nyemangatin,”


“Lemah, letih, lesu? Gak salah lo? Lo gak bisa liat sikap lo kayak gimana?!”


Dodi menyimpan jari telunjuknya di bibir Bima “Syut, pokoknya gue mau punya ayang!”


“Dih, jijik banget! Tangan lo bau tai, lo udah berak gak cebok ya?”


Dodi menghirup tangannya sendiri, lalu nyengir menampilkan deretan giginya, “hehehe, gue lupa cuci tangan pakai sabun,”


“Bangsat lo! Pantesan Awan gak nyantol-nyantol! Tangan lo aja bau tai, gimana dia mau sama lo coba?”


“Baru pertama kali ini, gue lupa aja tadi,” ucap Dodi membela diri.


“Ngomongnya gak usah deket-deket! Mulut lo juga bau tai!”


|••|


“Berhubung Raga gak ada, berati kita bertiga aja yang lanjutin kasus opah Libertà,” Kata Alzam menginterupsi.


“Hal awal yang harus kita lakukan adalah, pertahanin rumah Caca, rumah Caca harus terus di tangan kita!”


“Gampang ituma, cuman singkirin Alex mah gampang!” ucap dodi, sambil meniup-niup kukunya.


“Gimana caranya?” tanya Dodi.


“Sini deketan,” suruh Dodi, sambil melambai-lambaikan tangannya.


“Lo udah cuci tangan pake sabun sama gosok gigi kan? Gue gak mau deket-deket sama lo, bau tai lo bikin gue trauma,”


Pletak


Menjitak kepala Bima dengan keras, Dodi mengambil leher Bima lalu membekapnya dengan tangan yang katanya bau tai itu.


“Gak usah bawa-bawa yang tadi anjir! Gue udah cuci tangan ini!” kesal Dodi.


“Susah yah buat lo berdua serius?” lontar Alzam. Lelaki itu tampak lelah, karena tak ada yang bisa di ajak serius di sini.


“Emang, gue gak bisa serius. Gue bisanya seriusin Awan,”


Alzam menghela nafas, lalu berdiri. Tampaknya, ia harus menyelediki ini sendirian, kalo menunggu mereka berdua, akan susah. Serius saja susah, apalagi nyelidikin kasus ini.


Alzam ingin semuanya selesai, ingin semuanya tuntas, ia tak ingin menunda-nunda kasus seperti ini. Banyak yang ingin cepat di selesaikan, bukan hanya kasus opah saja, tetapi kasus siapa orang yang sudah meneror rumah Caca, beberapa bulan yang lalu, Alzam ingin cepat menyelesaikan semuanya.


“Gue bisa nyelesaiin semua ini sendirian, kalo misalnya kalian gak serius soal kasus ini!”


Dodi dan Bima yang sedang berkelahi itu tiba-tiba menghentikan gerakan mereka, dan menatap Alzam yang sudah berdiri.


Otomatis kedua lelaki itu ikut berdiri, dan mencekal lengan Alzam dengan berbarengan “Kita berdua serius kok,” ucap mereka berbarengan lagi.


“Bisa gak usah sambil pegang tangan?” tanya Alzam, dengan tatapan dinginnya.


“Hehehehe, repleks tadi,” cengir Bima, lalu melepaskan tangan Alzam dan kembali duduk.


Alzam menatap Dodi yang masih memegang tangannya “Ngapain lo masih pegang tangan gue?!”


“Gak papa, nyaman aja,” balas Dodi, mengedipkan satu matanya.


“Stres lo!” maki Alzam, sambil menghempaskan tangan Dodi secara kasar.


Dodi tertawa, lalu kembali duduk. Lelaki itu sudah mempunyai rencana untuk menghabisi Alex. Dan bisa di pastikan, rumah Caca akan terus bersama mereka, jikalau jika menggunakan metode yang Dodi kasih.


“Apa strategi yang lo mau bilang tadi, supaya rumah Caca tetep sama kita?”


“Gampang ituma. Buat rumah Caca kayak rumah hantu, terus setiap Alex datang ke sana, kita takut-takutin dia, di jamin, dia takut dan gak mau datang lagi ke rumah Caca,” jelas Dodi dengan bangganya.


Alzam dan Bima yang mendengar itu hanya membuang nafasnya secara kasar. Strategi itu adalah strategi yang konyol yang pernah mereka dengar, membuat rumah Caca seperti rumah hantu supaya Alex ketakutan? Itu sangat-sangat tak masuk akal.


Sudah sangat jelas terlihat, bahwa Strategi itu sangat tak cocok untuk menakuti seorang Alex, yang memang usianya bisa di bilang sudah dewasa.


Memang orang dewasa takut hantu? Apalagi orang yang bentukannya seperti Alex. Jelas, itu sangat-sangat tidak mungkin di lakukan.


“Gila lo ngasih strategi kayak gini?” tanya Bima.


“Apanya yang gila sih? Jelas-jelas itu strategi yang bagus banget buat di lakuin!”


“Bagus lo bilang? Gue tanya, emangnya Alex takut hantu, kayak lo? Gak mungkin lah, mana ada orang yang bentukannya kayak Alex takut hantu!”


“Lo tahu di mana Alex gak takut hantu?” tanya Dodi.


“Lo juga tahu di mana? Kalo dia gak takut hantu?”


“Ya-ya pokoknya kita harus coba dulu strategi ini! Gue yakin, ini bakalan berhasil! Lo berdua harus percaya sama gue!”