
Caca memasuki markas yang sudah berantakan, kenapa bisa sampai seperti ini? Kenapa semua anggota bisa kecolongan dan mengakibatkan, barang-barang yang berada di markas rusak, "Siapa yang ngelakuin ini ga?" Tanya Caca.
“Gue gak tahu siapa yang ngelakuin ini. Tapi yang jelas, siapa lagi kalau bukan geng Libra, cuman mereka yang berani ngelakuin ini,” balas Raga.
Mata raga mengobarkan kobaran amarah, ia tak suka, ada yang berani menghancurkan atau mengusik semua hal tentang Average.
“Jangan menuduh hal yang gak pasti, belum tentu geng Libra yang ngelakuin itu,” jelas Alzam.
Lelaki itu tak suka, ketika Raga sang ketua sekaligus sahabatnya itu selalu saja menyimpulkan, tanpa mau mencari tahu.
“Terus siapa kalau bukan mereka?Cuman mereka musuh kita,” ujar Raga.
Alzam diam, percuma saja berbicara dengan manusia yang sedang dikuasai oleh emosi, setiap masukannya pasti tidak akan pernah didengar.
Caca mengusap-usap punggung Raga. ”Terus apa yang mau lo lakuin?” Tanya Caca.
“Siap-siap, kita balas semuanya,”jawab Raga.
Ratusan geng Alverage mengendarai motornya, untuk menyerang geng Libra. Motor mereka saling sahut-bersahutan di jalan.
Raga memimpin di depan dengan wajah sangarnya, terlihat sangat tampan dan berwibawa. Semua geng membawa alat-alat untuk merusakkan markas geng Libra. Ada yang membawa tongkat baseball, ada yang membawa kayu dan banyak barang yang pastinya sangat efektif untuk merusak sesuatu.
Setelah sampai di depan markas, mereka semua turun dan langsung merusak apapun yang bisa dirusak disana, semuanya tampak brutal, kecuali Caca.
Cewek itu dengan santainya masih menaiki Ducatinya, sembari menatap semua orang yang sedang merusak semua barang. Menstandarkan motornya, lalu mengambil satu permen karet dan mengunyahnya manis.
Caca turun dari motor, lalu berjalan dengan santainya melewati orang-orang yang sedang merusak fasilitas geng Alverage.
Ia meniup-niup permen karet itu, sembari membawa tongkat baseball di bahunya.
Plup!
Permen karet itu pecah, membuat hampir semua mukanya tertutup permen karet. Caca tersenyum miring, lalu..
Ctassssss!
Ia memundurkan beberapa langkahnya, ketika satu kaca besar berhasil dibuat pecah olehnya. Caca mengibas-ngibaskan rambutnya merasa keren, ia merasa menjadi gadis gadis Badas di novel-novel.
Tidak berlangsung lama, semua anggota Libra yang berada di dalam berhamburan keluar dan mulai menyerang, terjadilah pertempuran.
Caca melirik ke arah teman-temannya, terlalu fokus memperhatikan, sampai lupa, bahwa dirinya sendiri pun harus diperhatikan.
Dugh!
Caca meringis, ketika merasakan sakit di punggungnya, ia berbalik, lalu membalas dengan cara memukul orang dengan tingkat baseball di daerah kepalanya. Sedangkan Raga, ia masih bersitatap dengan Kevin yang sudah menahan emosinya, apa yang dilakukan Raga dan gengnya? Sampai sampai berani merusak markasnya.
“Apa maksud lo lakuin ini?” Tanya Kevin dengan tatapan tajamnya. Raga berdecih, lalu terkekeh.
“Apa maksud lo? Harusnya gue yang tanya, apa maksud lo rusakin markas gue duluan?”
Kevin tertawa, ”Gue rusakin markas lo? Buat apa? Gak ada untungnya bagi gue!”
Raga terdiam, terus siapa yang merusak markasnya, selain geng Libra? Ia merasa tidak mempunyai musuh lagi di luaran sana.
“Gue serius!”
Kevin kembali tertawa, ”Ngapain gue bohong, emang pernah?Selama kita berseteru, gue rusakin markas lo? Emang pernah, selama tiga tahun kebelakang gue rusakin markas lo semua? Enggak kan?”
“Satu lagi, gak ada untungnya bagi gue, buat rusakin markas lo!”
Mereka semua sudah berada di markas Alverage, Raga masih memikirkan, siapa yang merusak markasnya, jikalau bukan Kevin dan teman-temannya.
Alzam terkekeh, melihat Raga yang masih memikirkan, siapa yang merusak markas mereka.
“Udah gue bilang, jangan asal nuduh, malu sendiri kan lo?” Kekeh Alzam.
“Gak, gue gak malu!” Balas Raga.
“Skip, gengsian," kata Alzam, lalu kembali fokus ke layar ponselnya.
“Tahu tuh Ga, gak usah dipikirin. mendingan kita main truth or dare mau nggak?” ajak Bima, ikut menimpa.
“Ayok!” Seru Dodi dan Caca secara serentak.
“Lah? Lo berdua nggak mau ikutan?” Tanya Bima, pada Raga dan Alzam yang hanya fokus pada handphone.
“Gak!” Jawab mereka berdua.
“Ck, pada gak asik ah, mendingan kita bertiga aja,” lerai Dodi mengambil botol yang berisi air dan diputar diantara mereka bertiga.
Botol air berhenti didepan Caca. Berati cewek itulah yang kena, "Truth or dare,” tanya Bima.
“Dare lah, gue suka tantangan,” tantang Caca sambil bersedekap dada.
“Oke kalau gitu, tembak salah satu orang disini, buat lo jadiin pacar!” Cetus Bima membuat mata Caca melotot.
“Sudah bos, saya dan anak buah, berhasil merusak semua fasilitas geng Alverage.”
Orang yang disebut bos itu tertawa, ”Bagus.”
“Ada yang lebih bagus bos, mereka malah menyangka geng Libra lah yang menyebabkan semuanya,” beri tahu seseorang yang menjadi anak buah.
“Saya sudah menyangkanya, mereka semua itu bodoh!”
“Apa yang geng Alverage lakukan? Setelah mereka menyangka geng Libra lah yang merusak markas mereka,” tanya bos itu.
“Balas dendam dengan cara melakukan hal yang sama, bahkan bisa disebut lebih parah.”
“Bagus, adu domba terus mereka. Sampai salah satu diantara mereka menyadari, bahwa ini hanyalah sebuah awal dari permainan,” senyuman devil itu terbit dengan misteriusnya.
**
“What! Yang bener lo!” Kaget Caca tak habis pikir dengan dare yang diberikan oleh Bima.
“Bener lah, katanya suka tantangan,” tantang Bima sambil tersenyum mengejek Caca yang melihat senyuman itu mendelik seraya mendegus, Bima pikir, ia tak bisa menembak salah salah satu orang di geng ini? Ngeremehin banget nih bocah, pikir Caca dalam hati.
Karena posisi Caca sedang berada dibawah lantai, sedangkan orang yang akan ditembak nya berada di kursi di belakang dirinya, membuat dirinya harus berbalik dan menatap orang itu.
“Pak bos, lo mau jadi pacar gue gak?” Entengnya, membuat semua orang melotot kaget, termasuk Bima yang membuat dare itu. Pak bos yang dimaksud Caca adalah Raga.
Raga mengalihkan atensinya dari handphone pada gadis yang sedang menembaknya secara terang terangan.
”Gak!” Jawabnya ketus lalu kembali memainkan handphonenya.
Caca menghela nafas lalu cemberut, ”Kenapa gak mau?”Tanyanya Sambil terus menatap Raga.
Raga menyimpan handphonenya, lalu menatap balik cewek itu, ”Lo nembak gue gara-gara dare yang dikasih Bima apa lo suka sama gue?”
“Dua-duanya mungkin,” jawab Caca bingung, pasalnya ia suka semua anggota Alverage, bukan hanya pak bosnya saja.
Wajar saja Caca berpikiran seperti itu, toh gadis itu tak mengerti apa artinya cinta dan belum pernah merasakannya juga, jadi bisa dibilang, gadis itu sangat bodoh tentang percintaan.
“Kok pake mungkin?” Tanya Raga.
“Aishhh.. Bikin gue bingung aja, jadi pak bos mau terima gue gak?” Kesal Caca karena Raga terus saja bertele-tele.
“Nggak!” Jawabnya acuh lalu kembali bersandar di kursi dan memainkan handphonenya.
Mendengar jawaban yang berasal dari mulut Raga membuat gadis itu mendelik, ingin rasanya dia menjitak kepala Raga kalau Raga bukan ketua geng mereka.
Memang, tadi Raga sudah menolaknya, tapi kenapa nanya lagi.. Kalau ujung-ujungnya sama saja.
“Ptttttt.. Anjir ditolak untuk kedua kalinya dong hahaha.”
Suara siapa lagi kalau bukan suara Dodi dan Bima si manusia non akhlak.
“Bacot lo pada, mana sini botolnya! Biar sekarang bagian gue yang muterin!” Serunya kembali semangat.