RAGASA

RAGASA
Ep. 36. Mengadu



“untuk anda tuan x,saya tidak akan pernah menyerahkan se-peser pun harta opah saya,kepada pengecut seperti anda”  Lanjut dalam batin


•••


Setelah berbicara lewat batin itu, Caca kembali melihat ke arah teman-temannya yang juga sedang mengintip tulisan apa yang di tulis oleh tuan X itu.


“Lo gak liat siapa, atau bentuk tubuhnya gimana gitu Lex?” Penasaran Caca.


Alex menggeleng, pertanda tak tahu”saya tidak melihatnya, ketika saya sampai ke sini, semuanya sudah seperti ini,” Jawab Alex.


Caca menghentak kakinya satu hentakan, kenapa pengecut sekali tuan X itu, kenapa tidak langsung saja muncul di depan wajahnya, kenapa juga harus menggunakan kata-kata ancaman seperti ini, semuanya tidak akan mempan.


“Astagfirullah, pak iman mana? Dia baik-baik aja kan?” Kejut Caca, ketika tidak menemukan pak iman di pos satpam.


“Beliau baik-baik saja, saya sudah menyuruhnya untuk pulang” Balas Alex.


Caca mengangguk sembari bernafas lega, ia kira terjadi apa-apa dengan pak iman.


“Coba cari lagi, siapa tau ada kotak yang memang di tinggalin,” Alex mengangguk, lalu mengundurkan diri dari sana.


“Lo berempat balik deh, udah sore. Apalagi Lo Bim, jangan tinggalin Bella, dia pasti masih Shok akibat kejadian kemarin,”


Melihat mereka berempat akan protes, Caca kembali bersuara”Jangan maksa tetap disini. gak bakalan ada apa-apa, jadi Lo semua meningan balik aja deh, gue pasti kabarin kalo ada apa-apa,”


“Tapi—“


“Cepetan balik sana..... Udah sore, gak bakal ada apa-apa,” Caca mendorong punggung keempat lelaki itu, untuk menuju motornya.


“Ca, gue gak mau—“


“Lo juga balik ga,” Sela Caca, mendorong bahu Raga.


“Gue gak mau, Gue mau nemenin Lo disini,” Kata Raga.


“Balik Raga, gak ada bantahan. Kali ini Lo harus nurut, Lo ingat? Kalo Lo gak turutin gue,  akibatnya?” 


Raga menghela nafas lalu mengangguk dan menaiki motornya.”Tapi kalo apa-apa telpon,”


“Iya... cepetan pulang!”


Setelah melihat motor temannya menghilang di penglihatannya. caca cepat-cepat menaiki motornya.


“Urus semua kekacauan ini Lex, gue bakalan naikin gaji Lo, dua kali lipat bulan ini, jadi semangat!” Serunya, sembari menutup penutup helmnya.


“Eh, mau kemana nona?” Caca yang akan melanjukan motornya, kembali menatap Alex.


“Ke hati Lo kan gak mungkin. Jadi jangan banyak omong, selesai semua apa yang gue suruh!”


|•••|


Caca menaburkan bunga di makam opahnya. sebelumnya, ia sudah berkunjung ke seluruh makam keluarganya.


“Opah, apa yang harus aku lakuin sekarang? Bingung banget deh, katanya dia mau bunuh aku,”


“Emang dia gak tau yah, cucunya liberta yang satu ini Badas banget. Berani-beraninya mau bunuh aku,”


“Katanya gini, serahkan harta liberta, atau kamu mati. Sok kenal banget kan opah? Udah kayak tuhan aja, nentuin mahluk hidup atau mati,”


“Jujur opah, dia manusia ter pengecut yang pernah aku kenal. Masa iya, cuman lewat kata-kata aja,  berani nunjukin dirinya di depan aku, pengecut banget kan?”


“Sumpah kesel banget, ini kedua kalinya orang itu ngerusak rumah aku. Tapi sekarang ini yang lebih parah. Aku gak tau dia bakal rusak rumah aku lagi atau enggak. Yang pastinya itu bikin aku naik darah banget,”


“Kesel banget,opah!”


Caca mengusap-usap batu nisan itu. Rasanya ia sangat merindukan Opahnya, merindukan belaian di rambutnya, ketika ia bercerita secara langsung dan bertatap muka secara langsung dengan Opah tersayang nya itu.


“Ouiyah opah, aku mau cerita. Maaf, aku berani cerita sama opah, setelah opah gak ada,”


“Seorang Caca, akan selalu menjadi cewek kuat, tidak ada kamus lemah di kamus Caca cantik, cewek tercantik di dunia!”


Caca tertawa sumbang, menertawakan dirinya”Terkadang Caca cape Opah, konsumsi obat setiap hari. jujur, itu sangat-sangat merepotkan bagi manusia mager seperti aku,”


“Ngeluh pun rasanya percuma. ngeluh gak bakal ngerubah semuanya kan? Makanya, Caca berusaha bersyukur sama apa yang terjadi pada diri Caca, meskipun susah Opah,”


“Caca selalu berpositif thinking, mungkin dari adanya penyakit ini, itu bakalan ngemudahin Caca nyusul kalian,”


“Caca pernah hampir putus asa, ketika opah ninggalin Caca. Tapi semakin aku putus asa, semakin banyak juga masalah yang datang tiba-tiba dan Bertubi-tubi,”


“Kayaknya, tuhan gak ngizinin aku pulang dekat-dekat ini. Tapi tak apa, pulang pun tampaknya aku belum siap, karena amal ibadah aku belum cukup,”


“Opah baik-baik disana, aku baik-baik aja di sini, jadi jangan khawatirin aku,”


Caca mengusap-usap kembali nisan itu, lalu menciumnya cukup lama. Menuangkan, seberapa merindukannya ia dengan lelaki yang sudah di tanam ini.


Maaf offah:v


“Aku pulang dulu semuanya, bye-bye! Jangan kangen aku!” Setelah berpamitan dengan semua keluarganya, Caca pergi meninggalkan pemakaman itu.


Caca menepuk jidatnya, ia sampai lupa, harus menyuruh Alex untuk menyelesaikan kasus tentang Bima.


|•••|


“Emmm.... Kayaknya seru deh Lex, video ini gue sebarin ke karyawan Opah. gimana?Lo setuju gak?” Tanya Caca, kembali memutar Video di depan Alex.


“Ja—jangan nona, untuk bertemu anda saja sebenarnya malu, apalagi jika anda sebarkan? Apakah saya harus berhenti bekerja?” Melas Alex.


“Oke, Gue gak akan sebarin, kalo Lo bantu gue!”


“Bantu apa nona?” Tanya Alex.


“Bantu temuin siapa orang yang udah nyebar foto di Mading temen gue, kalo Lo emang bisa, Gue gak akan tontonin ini ke semua karyawan,” Kata Caca.


“itu perkara yang mudah bagi saya,” Ucap Alex.


“Bagus, semoga ucapan Lo sesuai kenyataan, Gue tunggu besok,” 


Alex mengangguk, ia akan pamit undur diri. Tetapi Caca menahannya, membuatnya terpaksa kembali duduk.


“Duduk sini, kayaknya nonton Video Lo sama raga lagi, seru deh,” 


“Jangan seperti itu nona, itu sangat-sangat memalukan,” Alex berucap, sembari tersenyum paksa.


“Ouiyah nona, kalo saya bisa menyelesaikan apa yang di suruh nona, Video itu di hapus kan?” Tanya lelaki itu.


“Tidak lah, itu akan menjadi konsumsi di galeri saya,” Balas Caca.


Alex mendengus,” Menyebalkan sekali,” 


Caca tertawa”Memang, saya memang menyebalkan,” Katanya.


Mata Alex mengeriling, melihat sekitar. Apakah perempuan ini tidak kesepian, tinggal di rumah yang begitu megah hanya sendirian? Bahkan, asisten rumah pun tak ada, hanya ada satpam aja. jika lihat-lihat, rumah ini sudah seperti tak berpenghuni, jika kita melihat ke arah luar yang berantakan.


Caca memang masih punya asisten rumah tangga, tetapi hari tertentu saja orang itu datang untuk membersihkan rumahnya. Sesekali menginap, kalo Caca ingin wanita paruh baya itu menginap di rumahnya.


“Anda tidak kesepian?” Tanya Alex, membuat Caca yang masih tertawa, mengalihkan antensinya.


Anda kesepian? Pertanyaan itu, memang seperti menyedihkan jika di tunjukkannya terhadap Caca. Kesepian? Tentu, ia selalu merasa kesepian, meskipun tengah berada di lautan manusia sekalipun.


Entah karena apa, Yang pasti, ia selalu merasa kesepian dan butuh teman mengobrol, ketika berada di rumahnya sendirian. Tetapi, ia juga terkadang, hanya ingin sendirian, tanpa adanya orang. 


Dia mempunyai banyak teman. Tetapi tetap saja, rasa kesepian itu tak pernah hilang dari benaknya.


Caca tersenyum sembari melihat ke arah Alex, perempuan itu menggeleng,”Tidak, sama sekali tidak pernah kesepian. Saya suka keadaan seperti ini,”