
Pagi ini Raga sudah berada di pos satpam rumah Caca. lelaki itu tidak akan pernah menyerah, untuk mendapatkan kembali sikap Caca yang seperti dulu padanya.
Raga bermain catur bersama pak iman. lelaki itu tak sama sekali merasa bosan, meskipun Raga sudah datang dari pagi-pagi buta sekalipun.
"Tuh den, non Caca nya keluar," mendengar kata Caca, mata Raga seketika langsung berbinar dan berlari menghampiri perempuan yang di tunggu-tunggu nya itu.
"Pagi!" seru Raga, membuat Caca berjengkit kaget.
"Pagi," balas Caca datar. setelah mengucapkan itu, Caca segera menaiki motornya.
"Eitss, gue kan jemput lo. masa Lo paket motor sendiri sih?" Raga berprotes sambil merentangkan tangannya menghadang.
"Gue mau berangkat sendiri,"
Raga tersenyum lalu mengangguk saja menuruti. Raga pikir, jikalau dirinya terus memaksa Caca, Caca akan semakin marah kepadanya.
"Ya udah, gue ikutin lo di belakang kalo gitu," kata Raga, berlari menghampiri motornya.
Setelah mereka berdua berpamitan dengan pak Iman. mereka berdua memutuskan langsung berangkat ke sekolah.
Raga, Lelaki itu melajukan kecepatan motornya lebih tinggi dari Caca. supaya motornya bisa bersebelahan dengan motor milik Caca.
"Eh Ca, lo tau gak?" Raga bertanya, pada saat motor mereka bersebelahan.
"Ini di jalan Raga,"
Raga cemberut, "Ya udah deh, gue ceritanya pas sampai aja!"
Akhirnya, setelah berselang beberapa menit di perjalanan, mereka berdua sudah sampai di parkiran sekolah.
Raga cepat-cepat turun dari motornya, lalu merangkul bahu Caca.
Caca yang di perlakukan seperti itu hanya bisa menghela nafas. meskipun Caca berusaha habis-habisan untuk menjauhi Raga, tetapi nyatanya tak bisa. lelaki di sampingnya ini terlalu keras kepala.
"Yah, gue jadi lupa mau ngomong apa. lo sih, jadinya gue lupa kan?" lesu Raga sambil mencebikan bibir.
Sebenarnya, Raga memang tak ada pembahasan. tetapi lelaki itu melakukan cara ini, supaya mempunyai topik untuk membahas sesuatu dengan Caca. supaya hubungannya dengan Caca berangsur baik.
"Raga! Raga!" teriak seorang penggemar Raga. membuat Caca dan lelaki itu spontan berbalik.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," kata perempuan itu.
Caca yang melihat itu hanya mengedikan bahunya acuh, lalu kembali berjalan, tanpa menghiraukan perempuan yang sekarang berada di depannya ini.
Melihat Caca yang sudah berjalan beberapa langkah, membuat Raga menahan bahu perempuan itu, menahannya untuk tetap diam "Gue sibuk," setelah mengatakan itu, Raga mengandeng Caca menuju kelas mereka.
"Mau bolos?" tawar raga, ketika mereka sudah berada di depan kelas.
Tumben sekali bukan? seorang Raga mengajak seorang Caca untuk membolos. biasanya, Caca sendiri yang sering mengajak atau bahkan sampai memaksa Raga, supaya lelaki ikut membolos mengikuti keinginannya.
Caca menggeleng sebagai jawaban, "Ya udah, gue juga gak mau gitu. gue mau ikut belajar aja sama lo," kata Raga.
"Oh iya Ca, kemarin Lo gak
jadi ke rumah gue kan? sampai rumah gue di marahin sama bunda, katanya gini 'kenapa gak bawa caca?!' gitu katanya, sekarang Lo mau ikut ke rumah gue kan?" Raga berbicara me mengikuti gaya bicara Tante Renita.
Caca tak menjawab, membuat Raga kembali bersuara "Lo udah makan?" Caca hanya mengangguk saja sebagai jawaban.
"Bagus, lo harus makan yang banyak, biar Lo gendut."
"Kenapa Lo jadi bawel gini sih Ga?" kesal Caca. pasalnya, Raga sendari tadi tidak berhenti Berceloteh.
Bahkan, ketika Caca mencoba untuk mengistirahatkan otaknya yang akhir-akhir ini sering lelah. pun nampaknya tak bisa, karena Raga terus berceloteh ria.
"Karena sekarang lo jadi pendiem, biar gue aja yang bawel. masa iya sih? kita diem-dieman aja, kan gak seru tahu,"
"Ga..."
Marasa caca akan melarangnya, Raga kembali bersuara "Jangan suruh gue berhenti Caca, gue seneng kok lakuinnya, yang penting Lo balik lagi kayak dulu."
"Udah seharunya lo lakuin itu,"
Raga mengangguk membenarkan "iya, itu kan udah jadi kewajiban gue,"
"Gue juga udah ngeberaniin diri buat datang ke makam kakak lo dan minta maaf. semoga kakak lo bisa maafin gue ya Ca," beritahu Raga.
"Bukan Kakak lo doang, semoga lo juga maafin dan terima gue lagi. gue sayang sama lo, lo masih sayang sama gue?"
Caca tak menjawab, perempuan itu bingung harus bagaimana dan menjawab apa. munafik jika dirinya tidak menyayangi Raga, tetapi entah kenapa egonya tidak mau, mengungkapkan rasa itu, seperti dulu lagi.
"Ca jawab elah, sayang atau enggak?sudah amat kayaknya," lontarnya terlihat kesal.
"Gue gak tau,"
"Kok gak tau sih?! tau ah, gue marah!" Marah Raga, lalu menelungkup wajahnya di lipatan tangan.
Raga kembali mendongkrak, ketika merasa Caca bodoamat terhadap dirinya "gue marah tahu, lo dengar gak? gue marah!"
"Terus gue harus gimana?" tanya Caca seolah tak tahu. Sebenarnya Caca paham, tapi Caca mencoba untuk bodoamat terhadap lelaki di sampingnya ini.
Caca selalu berpikir seperti ini. emang gak jahat banget ya? kalo misalnya sayang atau suka sama orang yang udah bunuh kakak kita sendiri.
"Lo bujuk lah, biasanya juga lo sering begitu! kenapa lo tiba-tiba jadi amnesia sih?! kesel gue sama lo!" tutur Raga semakin marah.
"Jangan marah," Caca mengucapkan kata itu dengan nada datarnya.
"Tau ah, lo telat!"
Bangku yang di duduki mereka berdua akhirnya hening. Raga dengan wajah cemberutnya, Caca dengan wajah datarnya. tidak ada yang berniat bersuara lagi.
"Sekarang terserah lo, kesel gue sama lo Ca. lo nyebelin sumpah, pokonya lo nyebelin!" kesal Raga, kembali bersuara karena tidak bisa berdiam-diaman seperti ini.
"Mau lo sekarang marah sampai kapanpun terserah! gue ada itikad baik buat minta maaf, tapi sama sekali lo gak respon. ya udah, benar kata lo, kita emang cocoknya masing-masing aja!"
"Bagus, kalo lo udah mikir," Balas Caca.
Mendengar jawaban seperti itu membuat Raga semakin cemberut. niat hati berpura-pura marah dan ingin di bujuk supaya tetap baik-baik saja, tetapi niatnya ternyata salah. yang ada memperkeruh keadaan mereka berdua.
"Iya! emang kita bagusnya diam-diaman aja! lo jadi orang bisu, gue juga gitu!"
Raga memundurkan kursinya, lalu berdiri. lelaki itu dengan paksa membawa Caca ikut pergi juga.
Untuk pertama kalinya, Raga tidak mood untuk belajar.
"Katanya mau masing-masing?" Kata Caca mengingatkan.
"Gak jadi!"
"Gue lapar, temenin makan!" seru Raga lagi, tidak lupa tangannya yang terus menyeret Caca kemanapun lelaki itu mau.
"Woi lo berdua! Mau kemana?!" teriak Dodi.
Raga dan Caca tak menghiraukan teriakan menganggu itu, mereka berdua malah melanjutkan jalannya, tanpa sekalipun berbalik.
"Budek emang mereka berdua," maki Dodi, lalu kembali tersenyum menatap Awan. perempuan bak kulkas yang selama ini, lelaki itu incar.
Dodi menyenderkan tubuhnya di pintu menghadap ke Awan. lelaki itu mengusap rambutnya ke belakang sok ganteng, tidak lupa tampang sok cool yang lelaki itu tunjukkan.
Awan yang melihat Dodi dengan wajah sok cool itu berdecih. kenapa lelaki di depannya ini sok ganteng sekali, bukan kelihatan ganteng, Awan malah terlihat jijik dengan mimik wajah lelaki di sampingnya ini.
"Ekhm," Dodi berdehem "Gue mau lo jadi pacar gue, tanpa penolakan!" ucap Dodi.
Setelah mengatakan kata itu Dodi tersenyum yakin, jika Awan akan menerima cintanya. pasalnya, Dodi tahu, jikalau di novel-novel, kata itu tidak akan pernah di tolak oleh perempuan.
"Dih? stress lo?!" Awan bergidik ngeri, lalu pergi meninggalkan Dodi yang melongo di buatnya.