
Di sisi lain, seorang perempuan tengah berbaring di brankar rumah sakit. Bahkan, keadaannya bisa di bilang lebih buruk dan parah, dari apa yang sedang Raga rasakan sekarang.
Perempuan dengan perawakan yang bisa di bilang sangat kurus, kepala yang tidak lagi berambut, wajah yang sangat pucat, kantung mata yang sudah sangat jelas kentara warna hitamnya. Perempuan itu tampak seperti mayat hidup, kondisinya terlihat sangat mengenaskan.
Caca, perempuan itu lah yang baru saja di deskripsikan. Perempuan itu sangat tampak berbeda. Bahkan, wajah ceria yang di tampilkan seolah sirna jikalau sedang merasa sendirian. Perempuan itu selalu merasa, jikalau dirinya tidak memiliki dan tidak merasa pantas untuk hidup.
Perbincangannya dengan Raga dua minggu yang lalu, adalah perbincangan terakhir kalinya Caca berada di rumah. Perempuan itu langsung di larikan ke rumah sakit, ketika di temukan pingsan oleh asisten rumah tangganya.
Caca tersenyum, tersenyum miris lebih tepatnya. Ketika melihat kakinya yang tak bisa di gerakan, bahkan hanya satu gerakan. Kakinya sudah seperti mati rasa.
Penyakit kanker otak yang di derita perempuan itu tidak hanya membuat kepalanya terasa ingin pecah, tetapi berimbas pada anggota tubuh yang lainnya.
Caca tak lagi bisa berjalan sekarang, perempuan itu hanya berdiam diri di brankar tanpa melakukan pergerakan. Perempuan itu akan keluar, dan mengobrol ketika dokternya menyuruh perempuan itu makan dan membujuknya meminum obat. Selain itu, Caca tak berinteraksi lagi dengan siapa pun, hanya menatap langit-langit dengan tatapan kosongnya.
Tidak hanya kakinya saja yang tidak berfungsi, tatapannya pun tidak setajam dulu, tatapan perempuan itu sudah mulai mengabur, ketika melihat orang-orang di jarak kejauhan.
Tampak menyiksa, tapi Caca menikmatinya.
Helaan nafas kembali keluar dari mulut perempuan itu. Semenjak di sini, helaan nafas menjadi hobi yang sering Caca lakukan.
Bosan dan kesepian, kedua kata itu yang selalu menghantuinya. Setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Kedua kata itu seolah menjadi mimpi buruk bagi Caca sekarang.
Caca seolah-olah sudah mati, tetapi tetap masih merasakan pahitnya kehidupan.
Meskipun di rumah sakit, perempuan itu tak pernah mengikuti peraturan yang dokter berikan. Caca seolah menjadikan rumah sakit adalah sebuah penginapan.
Tak minum obat, menolak untuk melakukan kemoterapi, apa pun yang Dokter usulkan tak pernah Caca lakukan. Caca malas dan ingin istirahat, mengikuti jejak keluarganya.
Ceklek
Pintu terbuka oleh seseorang yang menggunakan setelah rumah sakit. Itu Dokter Bagas, dokter yang merawat Caca saat ini.
Baru saja Dokter Bagas sampai di pinggir Caca, Caca sudah menadahkan tangannya “Gue bosan, mana handphone, ini udah dua Minggu, dan Lo bilang mau kasih handphonenya hari ini,”
Dokter Bagas memutar bola matanya malas dan berdecap, pasien menyebalkan nya ini ternyata masih ingat “nih, sepuluh menit!”
“Bentar amat,” protes Caca.
“Mau atau tidak? Kalo tidak ya—“
“Iya, sepuluh menit!” kata Caca merebut handphonenya dari tangan Dokter Bagas.
Caca segera membuka handphonenya. Perempuan itu sudah penasaran, apa saja yang terjadi ketika dirinya tak membuka handphone selama dua Minggu ini.
Caca sempat terkaget, ketika mendapati banyaknya notif yang keluar dari handphonenya, setelah menyalakan koneksi data.
Caca bahkan sampai menyimpan dulu handphonenya di atas nakas, karena tak berhenti bergetar.
“Banyak banget yang nyariin kayak nya,” ucap pak bagas, dengan nada ejekan.
Caca menepuk dadanya bangga “Jelas!” sombongnya.
Caca membuka aplikasi WhatsApp, banyak notif masuk mencari untuk keberadaannya, apalagi anggota Alverage. Tapi Caca tak memedulikan itu, ada satu chat yang menjadi pusat perhatiannya dari awal membuka aplikasi itu. Chat dari Bima, karena cowok itu sampai meneleponnya ratusan kali.
Bima
|| Lo dimana ca?
|| Raga jadi hilang arah setelah lo pergi.
|| Gue yg gak pernah liat raga nangis, tetapi setelah kepergian lo, dia sampai berani nangis di hadapan gue, Dodi dan Alzam.
|| Raga kecelakaan dan koma, dia kecelakaan pas mau ke rumah lo.
|| Gue tau perasaan lo ca, gak mudah nerima orang yang udah ngebunuh darah daging kita, apalgi itu orang yang kita percaya. Tapi gue mohon, kesini sekedar liat raga, meskipun beberapa detik.
|| Gue tau lo gak sejahat itu ca.
|| Lo masih sayang Raga kan?
Caca sedikit tersentak ketika membaca chat yang Bima tuliskan. Raga kecelakaan pada saat ingin datang ke rumahnya? Berati Raga koma itu karenanya dan salahnya?
Tak lama setelah itu, Caca mendapat telepon dari Bima. Tanpa berlama-lama, Caca langsung mengangkatnya. Perempuan itu ingin tahu keadaan Raga. Apakah lelaki itu sudah baik-baik saja?
Meskipun Caca masih kecewa pada Raga, tetapi tak menutup kemungkinan bahwa perempuan itu masih peduli dengan Raga.
“Halo ca?”
“Raga udah siuman, dan dia terus nanyain lo. Lo mau jengukin dia kesini kan?” terdengar suara antusias Bima, membuat Caca tersenyum miris.
Caca kembali menatap kakinya sendu. Bahkan, untuk berjalan pun susah, bagaimana bisa menjenguk Raga.
“Gue gak bisa Bim,” jawab Caca pelan.
“Kenapa?” suara antusias Bima, tiba-tiba tergantikan, dengan suara lirih dan lesunya.
“Pokonya gue gak bisa. Sampein ke Raga, jangan terlalu pikirin gue, sampai-sampai dia kecelakaan karena cari gue. Gue gak tahu kembali atau enggak, gue gak yakin.” Caca berbicara dengan suara tegasnya, berbeda dengan mimik wajahnya yang terlihat sendu.
“Ca,” terdengar suara Raga di seberang telepon, suara yang terdengar sangat lemah di pendengaran Caca.
“Lo Masih marah ya sama gue? Gak papa kok, udah dengar suara lo aja udah bikin gue tenang. Lo dimana? Lo di sana baik-baik aja kan? Gue kangen sama lo, kapan Lo balik?”
Caca tersenyum, perempuan itu jadi merindukan Raga. Ia mencoba melupakan lelaki itu, tetapi ketika lelaki itu menghubunginya, Caca jadi merindukannya.
“Cepat ya pulangnya. Gue gak papa kok terus lo diemin, asal lo selalu ada disisi gue aja. Gue sayang sama lo, kangen juga, jangan tinggalin gue lagi ya?”
Terdengar isakan tiba-tiba dari mulut Raga, “Kangen,” isak lelaki itu.
Caca terkekeh kecil, mendengar isakkan seperti anak itu. Caca tampaknya semakin merindukan lelaki yang sedang menangis ini.
Terdengar Raga yang menarik ingusnya “Kok malah ketawa? Ada yang lucu ya?
Kali ini bukan hanya terkekeh, Caca tertawa ketika mendengar suara srot srot srot tarikan ingus yang Raga lakukan
“Gue dengar-dengar lo abis kecelakaan, sekarang gimana keadaannya? Baik-baik aja kan?”
“Lo—lo udah maafin gue?” Raga berbicara dengan sedikit terbata. Ketika tak percaya, Caca berbicara panjang lebar lagi kepadanya.
“Jawab dulu yang tadi, lo baik-baik aja?”
“Enggak! Gue gak baik-baik aja, makanya lo cepat kesini,”
“Gue gak bisa Ga, baik-baik ya disana? Jangan cari gue terus, gue ada, gak akan kemana-mana. Maaf, karena terakhir, gue gak izin dulu sama lo, yang nyebabin lo jadi kayak gini sekarang.”
“Hiks, hiks, hiks, bukan salah lo. Kenapa lo gak bisa kesini? Lo dimana? Biar gue yang kesana?”
“Gue sibuk Ga, pegang handphone aja gue dua minggu sekali. Makanya, gue susah buat di hubungin,”
“Sesibuk itu?”
“Iya, “
Terdengar helaan nafas di seberang telepon “Ya udah kalo gitu, tapi dua minggu kedepan, gue bakalan hubungin lo lagi,”
“Jangan tunggu gue, gue matiin ya teleponnya?”