
Berpikir positif lah untuk mendapatkan apa yang kita mau. Karena jikalau kita berpikiran negatif, itu akan menghancurkan semuanya.
|••|
Bima, Dodi, dan Alzam sudah berada di rumah sakit, ketika mendapati telepon bahwa teman mereka adalah korban dari tabrakan.
Bima dan Dodi terus-menerus menelepon Caca. Memberi kabar bahwa Raga kecelakaan, tetapi tak ada sahutan di sana, bahkan telepon Caca masih tidak aktif dari seminggu yang lalu.
“Kemana sih tuh bocah? Mentang-mentang dia udah gak anggap kita temennya, dia kemana-mana gak bilang dulu!” Dodi menonjok dinding di depannya frustasi.
Sebenarnya lelaki itu khawatir, takut terjadi apa-apa terhadap Caca. Karena hampir seminggu ini Caca benar-benar tak bisa di hubungi. Bahkan, keberadaannya pun, entah berada dimana.
“Chat aja apa yang terjadi, karena sekeras apapun kalian telepon, kalo handphone Caca gak aktif gak akan bisa. Seenggaknya kalo di chat, dia bisa tau apa yang terjadi selama gak ada dirinya,” ucap Alzam memberi saran.
Bima mengangguk mengerti. Lelaki itu segera mengirimkan pesan kepada Caca, berharap secepat mungkin perempuan itu akan membalas pesannya.
“Kerahin semua anggota untuk turun cari Caca. Gue mau, setelah Raga siuman nanti, Caca udah ada di samping kita. Gue gak tega liat Raga terus-terusan sedih, apalagi ketika dia sadar, Caca gak ada disini. Itu bakalan berpengaruh sama kondisi kesehatannya nanti dan ngebuat Raga gak sembuh-sembuh nantinya,” ucap Alzam, untuk pertama kalinya berbicara panjang kali lebar.
“Kalo misalnya, kita masih belum bisa temuin Caca, Raga pasti mikir kalo Caca udah gak peduli sama dia. Bahkan, ketika Raga kecelakaan pun, Caca masih gak bisa di hubungin, Raga pasti bakalan mikir gitu. Jadi gue mau, kalian berdua kerahin semua anggota!”
Di saat keadaan genting seperti ini, Alzam terlihat seperti pemimpin berwibawa, tidak seperti biasanya yang terlihat kaku seperti batu.
“Kita udah coba kan? Tapi sama sekali gak ada hasil,” lesu Bima.
“Gak boleh yang namanya nyerah, kita cari sampai pinggiran kota, atau bahkan keluar dari Jakarta. Pokoknya gue mau! Setelah Raga sadar nanti, Caca udah ada sama kita!”
“Kita harus gunain strategi, jangan asal nyari aja. Ketemu enggak, cape iya!”
Brak
Pintu di buka kencang oleh bunda Renita, wanita setengah baya itu langsung berlari ke arah brankar.
Menatap sendu sang anak, sambil mengusap-usap rambut Raga dengan lembut. Ingin menangis, tetapi tampaknya tak berguna, semuanya sudah terjadi, dan yang pastinya, ini adalah takdir dari tuhan.
Hatinya sedikit teriris, ketika melihat untuk pertama kalinya anak laki-lakinya ini tampak tak berdaya. Dulu, ketika kecil pun, Raga tak pernah menampilkan kesakitan nya, atau sakit dalam waktu berkepanjangan sampai di rawat di rumah sakit.
Renita membalikkan badannya, menatap sahabat anaknya. “Caca kemana?” tanya Renita.
Alzam mendekat, lalu merangkul bahu bunda Renita, bunda kedua setelah bundanya. Membawa perempuan setengah baya itu keluar dari ruangan.
“Caca udah tahu bun, kalo Raga adalah pembunuh Saka,” ucap Alzam, to the point.
Renita tampak kaget, “Terus?” Renita memang tahu jikalau Caca tak ada dari minggu yang lalu, karena itu juga, alasan anaknya sulit makan minggu-minggu ini. Tapi Renita tak tahu, kalo penyebab Caca pergi karena sudah mengetahui, kalo anaknya adalah pembunuh dari kakaknya sendiri.
“Semenjak seminggu yang lalu, kita gak pernah ketemu Caca. Bahkan, handphonenya pun gak aktif. Kita gak tahu Caca dimana.” Kata Alzam.
“Bunda, Alzam minta tolong sama bunda, buat suruh papah Wijaya cari Caca, biar pas Raga sadar, Caca ada disini,”
Renita mengangguk, lalu mengusap-usap bahu Alzam. Lelaki di depannya ini, adalah sahabat kecil dari anaknya. Wajar saja, jikalau Alzam, sedikit terlihat kacau dan banyak bicara hari ini.
|•••|
Alzam mengacak rambutnya frustasi, kenapa ini menjadi serumit ini? Raga sahabat yang sudah di anggap menjadi Kakaknya terbaring lemah di rumah sakit. Caca, perempuan yang kini menjadi temannya pun, hilang entah kemana.
Ini semua gara-gara dirinya, jikalau Alzam tidak menyembunyikan siapa pembunuh Saka, sampai selama ini. Ini tidak akan mungkin terjadi. Ini semua tidak akan mungkin terjadi, jikalau Alzam membuka rahasia itu dari lama.
Menutup matanya sejenak, menyalurkan emosi yang membeludak kepada dirinya sendiri. Kenapa ia seperti orang bodoh? Yang sampai dengan teganya menyembunyikan rahasia besar sebegitu lamanya? Dan menyebabkan kejadian itu terjadi?
Bima dan Dodi mendekat, duduk di pinggir Alzam, membuat Alzam duduk di tengah-tengah. Menepu pundak lelaki itu, menyalurkan semangat, bukan Alzam saja yang merasa gagal menjadi teman, mereka juga.
Meskipun mereka berdua, tidak tahu menahu persoalan siapa pembunuh Saka, kakaknya Caca. Tetapi kedua lelaki itu merasa gagal, karena tidak bisa mendengarkan apa yang Caca katakan dan malah menghakimi, membuat kejadian rumit ini terjadi.
“Ini gara-gara gue, Caca gak mungkin pergi, dan Raga gak mungkin terbaring lemah di rumah sakit. Kalo misalnya gue bongkar dari lama, siapa pembunuh Saka,” Alzam berkata lirih, lelaki itu membentur-benturkan kepalanya merasa menyesal.
“Gue merasa menjadi orang yang paling hina di dunia ini, karena dengan teganya bohongin teman gue sebegitu lamanya,”
“Bukan salah lo, ini semua udah takdir, Raga bakal baik-baik aja, dan Caca bakal ketemu secepatnya, pegang ucapan gue,” Kata Bima.
“Kalo misalnya Caca gak ketemu? Dan kondisi Raga makin memburuk gimana?” balas Alzam. Lelaki itu tampaknya tidak bisa berpikir positif sekarang.
Pletak
“Gak usah ngomong kayak gitu bego! Caca pasti ketemu dan Raga pasti sembuh! Positif thinking elah, jangan tambah beban pikiran lo sendiri!” tukas Dodi, sembari menjitak kepala Alzam.
Dodi tetaplah Dodi, lelaki yang tidak bisa berkata lembut meskipun sedang khawatir ataupun cemas. Pasti ada saja umpatan atau nada tinggi yang keluar dari bibir lelaki itu.
Dodi adalah king of ngeggas.
“Gimana mau positif thinking! Keadaan gak memungkinkan untuk ngelakuin itu!”
Dodi memutar bola matanya malas, kenapa Alzam terlihat bodoh di matanya sekarang? Baguslah, ia jadi terlihat lebih pintar dari lelaki itu.
“Gue juga sebenarnya cemas sama kondisi mereka Zam, tapi gue berusaha untuk biasa-biasa saja. Karena apa? Supaya otak gue selalu berpositif thinking, dan berpikir mereka bakalan baik-baik aja!”
Bima dan Alzam seketika langsung berbalik mendengar kata yang keluar dari Dodi, terlihat seperti manusia yang bijak.
“Apa liatin gue kayak gitu? Gue terlihat bijak kah? Gue sebenarnya bijak dari dulu, tapi gue pura-pura bodoh aja, supaya kalian terlihat lebih pintar dari gue!” sombong Dodi, sembari melipat kakinya.
Alzam terkekeh kecil, Dodi sedikit mengurangi kecemasannya. Benar kata lelaki itu, kita harus berpositif thinking, dan berpikir mereka berdua akan baik-baik saja. Toh, bernegatif thinking tidak ada fungsinya, itu akan menambah kecemasan di dalam diri kita.
Yang terpenting sekarang adalah, keberadaan Caca di temukan dan Raga baik-baik saja.
“Telepon semua anggota, buat datang ke markas sekarang!” perintah Alzam.
“Gue mau langsung atur strategi.”
Dodi tersenyum, lalu menepuk-nepuk bahu Alzam secara keras. Ini yang lelaki itu mau, semuanya semangat untuk mencari Caca.