RAGASA

RAGASA
Ep. 63. Potongan Mullet



Raga membolak-balikan badannya gelisah. Lelaki itu tak bisa tidur hanya karena memikirkan ucapan Caca yang membuatnya ketar-ketir. Meskipun hannyalah kata, tetapi entah mengapa, kata itu seperti sebuah peringatan atau sebuah kata yang memiliki kata tersirat. Entahlah, Raga merasa cemas tiba-tiba.


Lelaki itu kembali merebahkan tubuhnya, menutup semua tubuhnya itu dengan selimut, berharap ia bisa segera tertidur.


“Argggggghhhhh,” kembali membuka selimut yang menutup wajahnya, lalu mengacak-ngacak rambutnya frustrasi.


Tidak bisa dibiarkan, hatinya tidak tenang dan selalu cemas. Segera mengambil handphone di atas nakas, menghubungi orang yang membuatnya ketar-ketir seperti ini.


Satu panggilan tak di jawab, kedua pun tidak, membuat perasaan cemas semakin menjadi di diri lelaki itu. Raga menghela nafas, ia kembali menghubungi Caca, berharap cewek itu segera mengangkatnya.


Panggilan tersambung, membuat Raga menghela nafas lega.


“Kenapa baru angkat?!” Ucap Raga ngegas.


“Lo gak liat jam? Jam satu malam, berati ini waktunya manusia hibernasi,”


Raga menepuk jidatnya pelan, ia sampe melupakan jam karena terlalu cemas “tapi Lo gak papa kan?”


“Alhamdulillah, masih sehat wal’afiat,”


“Kenapa telepon? Jangan bilang Lo kangen gue, kita baru aja ketemu beberapa jam yang lalu Ga, udah kangen aja Lo!” Raga mendengar kekehan di sana


“Terlalu percaya diri! Udah ah, gue matiin!”


(◕દ◕)


Caca tersenyum ketika Raga selesai meneleponnya, sebenarnya ia berbohong kalo dirinya sudah tertidur, ia hanya saja sedang malas mengangkat telepon siapa pun, tetapi siapa sangka, telepon dari Raga membuat moodnya baik.


Caca menyimpan teleponnya, lalu menatap ke arah cermin yang menunjukkan dirinya sembari tersenyum kecut. Memang, dirinya belum tidur, wanita itu hanya memandangi dirinya lewat cermin sendari tadi setelah pulang jalan-jalan bersama Raga.


Caca memandangi gumpalan rambut di depannya, rambutnya mulai rontok, bukan hanya itu, pandangannya pun terkadang sudah berkabur.


“Apa gue botakin aja nih rambut?jangan dulu di botak deh, pakai gaya rambut cowok aja, daripada ketahuan rambut gue rontok parah gini kan, gak baik. Pokonya gue gak mau teman-teman gue tau penyakit gue, cukup gue aja,”


Caca menimang-nimang keputusannya ini, akhirnya ia mengangguk, ia akan memotong rambutnya besok. Semoga ia berbesar hati, untuk merelakan rambut panjang nan bergelombang nya.


(◕દ◕)


Caca sudah berada di babershop, wanita itu sedang memilih-milih gaya rambut mana yang akan ia pilih dan cocok dengan bentuk wajahnya. Caca menyerahkan foto di gambar, lalu memberikannya pada lelaki yang akan memotong rambutnya.


“Aduh kak, yakin ini teh mau di potong,” Tanya lelaki itu.


Caca berbalik “Lo gak mau potong? Ya udah, gue pindah tempat lain aja,” Caca hendak berdiri, tetapi bahunya kembali di tahan oleh lelaki itu.


“Aduh, di sini aja atuh kak potongnya. Saya mau potong kok,”


Caca tak menjawab perkataan itu, sebenarnya ia tipikal manusia yang ramah, tetapi mood nya sedang tidak baik, jadinya dia seperti itu.


“Harus sesuai gambar, kalo enggak, saya potong juga kepala kamu!” Ancam Caca, dengan mata tajam yang melirik lelaki itu menggunakan kaca di depannya.


“Tenang kak, hasil pasti memuaskan,” Ucap kang cukur, membuat Caca mengangguk saja dan memejamkan matanya, ia tidak mau melihat sebelum rambutnya selesai di potong.


Setelah menunggu beberapa menit, gerakan di kepala Caca terhenti, yang artinya tukang cukur itu selesai dengan tugasnya.


Caca tersenyum, ternyata hasilnya sesuai dengan apa yang dirinya banyangkan. Gaya rambut mullet, saya cocok untuk wajah Caca yang Terbilang imut.


Mengambil uang di dalam dompet, memberikan lima lembar seratus ribu, dan pergi dari sana setelah mengucapkan terimakasih.


“Aduh rezeki nomplok inimah,” Ucap Tukang cukur mengambil uang lima ratus ribu itu.


(◕દ◕)


Caca dengan bangganya berjalan di koridor sendirian, sembari mengangkat dagunya, merasa keren terhadap dirinya sendiri, apalagi menjadi pusat perhatian orang-orang yang menatapnya kaget sekaligus takjub.


“Anjir, itu si Caca yang anggota alverage itu kan?”


“Yah, sayang banget rambutnya di potong,”


“Mau di potong gimana juga, orang cantik mah tetep cantik,”


“Makin cantik aja ey,”


“Aduh,kerennn!”


Mendengar pujian-pujian yang terlontar kepadanya, membuat perempuan itu menyugar rambutnya ke belakang. Caca mengusap-usap kemejanya, sembari tersenyum tengil.


“Ngerasa keren banget gue, hihihi,”


Melihat segerombolan teman-temannya Caca berteriak sembari melambaikan tangannya, “Woy, tungguin!”


Segerombolan itu berhenti, lalu berbalik menatap Caca cengo. Mereka semua berpikir, apa itu Caca?


Melihat reaksi mereka yang terkejut, Caca berjalan ke arah Mereka layaknya model karpet merah, tidak lupa tangannya melambai ke sana-kemari, seolah-olah memang dirinya adalah model.


“Gue tau, gue makin cantik kalo rambut kayak gini,” Caca kembali menyugar rambutnya, tidak lupa memainkan kukunya angkuh.


Mendengar omongan terlampau percaya diri itu, mereka tersadar lalu berdecih “dih, Lo makin jelek, Udah jelek, Lo makin jelek!” Cibir Dodi.


“Cih, cantik-cantik! Muka kayak serpihan rengginang juga di bilang cantik,” Timpal Bima ikut mencibir juga.


“Sirik Lo pada! Tadi aja pada bengong liatin kecantikan gue, sekarang pada cibir-cibir gue kek gini, gengsi Amat Lo pada!”


“Gue bengong karena gue lagi perhatiin, itu Lo apa bukan? Bukan karena Lo cantik. Ge’er banget!” Kata dodi.


“Betul tuh!” Siapa lagi kalo bukan Bima, mereka berdua memang senang menistakan Caca.


Caca mendekat ke arah Raga dengan menabrak bahu Dodi dan Bima. Dua manusia super menyebalkan itu.


“Ga, gue cantik kan?” Tanya Caca senyum manisnya, berharap Raga mengatakan dirinya cantik.


“Hm,” Jawab raga hanya berdehem.


Caca memutar bola matanya malas, wanita itu mendekat ke arah Alzam “Zam gue cantik gak?” Tanya Caca dengan senyumannya.


“Gak!” Ucapnya ketus, membuat Caca mendengus kesal.


“AHAHAHAHAHAHAH!”


“AHAHAHAHAHAHAH!”


“Ahahahahahs!”


Dodi dan Bima tertawa terbahak-bahak, sambil memegangi perutnya. Mereka berdua tak kuasa menahan tawanya, bagaimana tidak? Dari sana pula Caca sudah berlanggak-lenggok sok cantik, tetapi pas minta pendapat hanya Raga saja yang bilang caca cantik, itu pula hanya sebuah deheman.


Memang, secantik-cantiknya orang atau seganteng-gantengnya orang akan terlihat biasa-biasa saja kalo di Mata teman-teman dekatnya.


Caca mencebikkan bibirnya, ia kesal karena mendengar tertawaan Dodi dan Bima belum selesai juga, kagak ada akhlak memang.


“Nyebelin Lo pada!” Kesal Caca, sambil mendekap dada.


“Ngakak bat anjir, dari ujung sana jalan kesini, lengak-lengok sok cantik, mana sok lambai-lambaiin tangan lagi. Biar apa sih! Hahahaa!” Ucap Dodi masih belum ada habisnya-habisnya.


Bima berjalan ke ujung sana, dan berjalan menirukan gaya Caca, tidak lupa tangan yang melambai-lambai lagaknya model. Tentu saja perlakuan itu membuat semua orang tertawa.


Caca menggeram marah pun mukanya memerah “AWAS LO BERDUA!” Ucap Caca kesal sambil menghentak-hentakan kakinya dan pergi dari sana.


(◕દ◕)


Caca memakan mie ayamnya dengan cepat, karena masih kesal degan perbuatan Bima dan Dodi. Wanita memesan semua makanan yang ada di kantin, membuat mejanya penuh dengan makanan dan minuman.


Caca melakukan ini, supaya moodnya lebih baik, tapi nyatanya tidak, wanita itu malah semakin kesal, ketika mengingat Bima dan Dodi tertawa terbahak-bahak menertawakan dirinya.


“Makan sendirian aja lo,” Ucap Dodi, hendak lelaki itu mencomot makanan yang ada di meja, tetapi mata tajam Caca menyorot tak suka pada Dodi.


“Lepasin tangan Lo dari makanan gue!” Ujar Caca, masih menyorot Dodi tajam.


“Elah Ca, masih marah aja Lo!”


“Nyenyeneye,”


“Gue mau yah, emang Lo bisa habisin semuanya?” Ucap Dodi melas, sembari menatap makanan yang ada di meja dengan berbinar.


“Kagak!”


“Gue bohong tadi bilang Lo jelek, Lo cantik banget sumpah, apalagi rambut Lo yang sekarang, Lo kelihatan makin badai,” Seru Dodi, memuji Caca.


Caca tersenyum, “Ambil aja apa yang Lo mau,”


“Lo semua juga boleh ambil apa aja yang kalian mau,” Lanjutnya.


“Nah gitu dong, ini baru temen gue!” Ucap Dodi sambil merangkul bahu Caca.


“Gue mau bayar dulu makanannya, Lo semua makan aja,” Caca beranjak dari tempat duduk, dan menghampiri ibu kantin. Setelah menghampiri ibu kantin, bukannya kembali ke tempat duduk, tetapi Caca malah pergi keluar daerah kantin.


Setelah hampir sepuluh menit, semua makanan yang ada di meja sudah habis. Tetapi Caca tak kunjung datang, membuat Dodi celangak-celinguk.


“Tuh bocah kemana? Udah bayar langsung aje pergi, makanannya jadi habis sama gue kan,” Dodi berucap sambil terkekeh.


Mereka semua hendak pergi keluar kantin, tetapi Bu kantin menghentikan mereka.


“Nak Dodi belom bayar, kok langsung pergi aja,”ucap Bu kantin itu.


Dahi Dodi mengerut, lelaki langsung terkekeh, “Gimana sih Bu, orang udah di bayarin sama Caca tadi, Caca kan tadi nyamperin ke ibu,”


“Iya, tadi Caca nyamperin ke ibu, dia bilang kalo semuanya makanan di bayar sama nak Dodi, katanya bagian nak Dodi yang traktir,”


Dodi melotot, pantas saja cewek itu langsung pergi, ternyata dia sedang mengerjai dirinya.


“Emang semua berapa Bu?” Ucap Dodi.


“Semuanya satu juta lima ratus, soalnya bayarin satu meja yang di pinggir kalian,”


“HAH,” Dodi tergelak, “AWAS LO CACA JELEK! DASAR SIALAN!”