RAGASA

RAGASA
Ep. 34. Menjadi Ancaman



Raga melenguh, sembari memegang pinggangnya, kenapa badannya terasa sangat sakit sekali.


Matanya melotot, ketika Alex tengah memejamkan matanya, sembari memeluknya.


Bruk


“NGAPAIN LO PELUK GUE BANGSAT!” Teriaknya murka, sembari mendorong tubuh Alex.


Alex meringis, memegang pinggangnya yang terkena kursi, ulah Raga. Lelaki itu terbangun, lalu menatap tajam manusia yang menyebabkan ulah dari sakit pinggangnya.


“Lo apa-apaan sih?!” Kata Alex, menggunakan bahasa nonformal.


Raga berdecih, lalu menaruh satu tangannya di pinggang,”Apa-apaan Lo bilang! Lo peluk gue tadi, dan Lo bilang apa-apaan! Gila Lo!”


“Peluk? Ngapain gue peluk Lo, najis!” Bantah Alex.


Raga kembali berdecih, bisa-bisanya Alex tak mengaku dan malah membantah. Ia sudah seperti lelaki yang dilecehkan dan di tinggalkan begitu saja


“Udah jelas-jelas Lo peluk gue! Makanya gue dorong Lo!” Kata raga.


“Dih? mimpi Lo bisa peluk gue!” Balas Alex.


Raga hendak membalas perkataan Alex, tetapi ia lebih memilih mencari Caca saja, daripada harus berurusan bersama Alex terus menerus.


“Kenapa pagi-pagi udah cemberut sih?” Tanya Caca, yang sedang duduk di ruangan tengah.


“Gak usah bacot Lo! Kenapa gue tidur di lantai sama Alex?” Tanya Raga, duduk di sebelah Caca.


Caca mengedikan bahunya acuh, lalu menyenderkan kepalanya di bahu raga.


Tidak lama dari itu, Alex datang dan duduk di sisi caca. Jadi posisi Caca sekarang di himpit oleh dua lelaki.


“Ngapain Lo duduk disana? Masih banyak tempat disini?!” Sinis Raga.


“Memangnya kenapa? Kalo saya duduk disisi Caca?” Tanya Alex.


“Ya.... gue gak suka!”


“Ca, Lo pindah tempat duduk!” Suruh Raga.


Caca Menghela nafas lelah, daripada pagi-pagi begini terjadi pertempuran mulut. Caca lebih memilih mengangguk, dan berpindah tempat duduk.


“Udah pagi nih, Ngapain Lo masih disini? Caca sama gue mau sekolah!” Kata raga, menatap tajam Alex.


“Saya akan pulang, ketika caca berangkat sekolah,” Jawabnya.


Melihat situasi semakin tegang, karena tatapan tajam Raga, Caca lebih memilih mendekat ke arah televisi,”Gue kayaknya mau nonton tv deh,” Kata perempuan itu.


“Mandi, bukan nonton tv, gue mau berangkat pagi!” Ketus Raga.


“Bentar ga, masih pagi ini,” Jawab Caca 


Raga tak menjawab, nampaknya pagi ini mood Raga sudah tak baik,karena adanya Alex disini.


Caca mulai menyambungkan tv dengan handphonenya, ia akan menyaksikan sebuah Vidio, yang tampaknya akan menguntungkan dirinya.


Vidio yang Caca tampilkan sudah terputar. Mata Raga dan Alex semakin melotot kaget, di setiap meningkatkannya durasi Vidio yang di tayangkan.


Caca tertawa, ketika melihat ekspresi kaget dan cengo secara bersamaan itu. Perempuan itu hendak berlari, ketika vidionya hampir selesai. tetapi lelaki dengan tatapan tajam itu mencekal tangannya kuat, membuat Caca terpaksa berdiam diri di tempat, dengan cengiran khas nya.


“Hapus ga!” Tajamnya.


“Enggak,” Jawab Caca, dengan nada menjengkelkan.


“Hapus!” Katanya lagi.


Caca menggeleng,”Enggak mau,”


“Hapus Caca...” Kata Raga lembut, selembut sutra.


“Enggak mau Raga, mau disebarin dulu di grup alverage.” 


Raga mengusap-usap rambut Caca lembut, tetapi berbeda dengan matanya yang menyorot caca tajam. Matanya seolah mengisyaratkan, kalo Lo share Vidio itu, Lo mati.


“Hapus atau—”


“Atau apa sayang,” Ucap Caca, mengusap-usap Rahang Raga lembut.


Raga berdecak, bisa-bisanya Caca menggodanya di saat dirinya sedang marah seperti ini,”Lo mau apa?” Tanya Raga.


Caca tersenyum, pertanyaan inilah yang di nanti-nantikan dirinya,”Mau Lo turutin apa mau gue,” Kata Caca.


Raga menghela nafas panjang, tampaknya ia akan menderita hari ini, Caca pasti akan terlihat sangat-sangat menjengkelkan.


“Oke, asal Lo hapus vidio itu” 


“Okey!”


Alex memukul kepalanya pelan. Kenapa dirinya bisa se-memalukan ini, apalagi vidionya di tonton oleh Caca, yang menjabat menjadi bos sekaligus tanggung jawabnya sekarang.


Sangat-sangat memalukan.


“Alex, Lo baik-baik aja kan?” Tanya Caca, sembari mengibas-ngibaskan tangannya.


Alex mengerejap, lalu tersenyum kikuk sembari menggaruk tekuknya. Rasanya ia malu, bertemu dengan Caca sekarang.


“Lo baik-baik aja kan?” Tanya Caca lagi.


“Ya, saya baik-baik saja” Balasnya.


“Yaudah deh kalo gitu, gue mau mandi dulu. Lo berdua jangan ngelakuin yang aneh-aneh pas gue lagi mandi!” Ucap Caca, lalu berlari sembari terkikik geli.


Trowback


Caca bergidik ngeri melihat mereka Berdua. Matanya tiba-tiba melotot, ketika Raga akan mencium bibir Alex, dan Alex memejamkan matanya, sembari memanyunkan bibirnya.


Plak


Plak


“Gak waras Lo berdua!” Murka caca, sembari menggeplak mulut sialan kedua lelaki itu.


“Lo apaansih! Lo ngapain pisahin kita berdua!” Kata raga, sembari mendorong bahu Caca.


“Iya, kenapa anda memisahkan saya dengan dia,” Balas Alex, sembari menunjuk raga.


Caca melotot, sembari berkacak pinggang. ngantuknya tiba-tiba hilang, ketika mengurusi Manusia mabuk seperti ini.


“Oh....Gak mau di pisahin, hm?” Ucapnya, sambil memandang mereka berdua.


Caca maju, menjewer telinga Raga,lalu menjewer telinga Alex.


“Awsshh...Kamu apaan sih baby, kenapa kamu jewer telinga aku,” Raga berucap, sembari memegang pinggang Caca posesif. Tidak lupa, bibirnya, hendak menciumi Caca.


“Argghhh...Lo apaansih sialan!” Marahnya, kembali menggeplak bibir Raga.


“Nih cium nih!” Caca dengan sengaja mendekatkan kepala Raga dan Alex, supaya Mereka berciuman.


Setelah melakukan itu, wanita dengan wajah kesal itu keluar dari ruangan, dan membiarkan apapun yang akan terjadi dengan Mereka Berdua.


Sepeninggalnya Caca, mereka berdua berpelukan. Raga yang mengusap-usap pipi Alex, Alex yang mengusap-usap bibir Raga.


Mereka menidurkan dirinya saling berhadapan, tidak lupa masih dengan mengusap-usap satu sama lain.


•••


“Awas Lo sekali-kali lagi, Gue bilangin bunda!” Kata Caca.


Mereka sedang di perjalanan menuju kesekolah. Raga menggunakan mobil sekarang, karena Caca malas membawa motor, jadinya perempuan itu lebih memilih menumpang saja.


“Gue lagi gak sadar ca,” Balas Raga, berusaha untuk tidak tersulut emosi.


“Makanya, jangan sok-sokan mabok deh, kalo gak sadarnya kayak gitu. malu-maluin Lo!” Sentak caca.


“Siapa juga yang mau kayak gitu ca,”


Caca menutup mulutnya sok kaget”Oh...ini alasannya, Lo jarang mabok kalo lagi kumpul. Kalo gak sadarnya ngelantur. sebarin ke grup, Sabi kali ya,”


Raga merubah raut wajahnya menjadi datar. Lalu menambah kecepatan mobilnya,”Kalo Lo berani sebarin, gue patahin kaki Lo!” Tajamnya, semakin menambah kecepatan.


Caca tertawa”Enggak akan, selagi Lo nurutin kemauan gue,” 


Raga sudah menyangka, ia pasti akan di manfaatkan. Caca memang semenyebalkan itu, tetapi entah kenapa, ia sangat menyayangi perempuan menyebalkan ini.


“Gue bakal turutin apa mau Lo. Tapi Lo hapus vidionya!” Kata Raga. Mengingatkan


“Gue gak janji” Balas Caca.


“Yaudah, gue gak mau turuntin apa mau Lo!”


“Yaudah, gue juga mau nyebarin Vidio ini ke grup,” Caca menaik-naikan alisnya, memberi pilihan.


“Lo emang jagonya, dalam ancam-mengancam,” 


Caca tertawa, lalu duduk berbalik ke arah Raga”Ga, gue mau manfaatin Alex nih, manfaatin apa ya menurut Lo?” 


Raga nampak berpikir, asik juga sepertinya jika memanfaatkan manusia seperti Alex. nampaknya akan menyenangkan.


“Suruh dia selidiki siapa yang pasang foto bima sama Bella. Kalo dia berhasil, kita gak manfaatin dia, Tapi kalo dia gak berhasil, kita manfaatin, terus ancam-ancam, kayaknya seru. gimana, lo setuju?” Tawar Raga.


Caca mengangguk, lalu tersenyum”Tapi, kayaknya bakal berhasil deh. Kan  kerjaannya Alex emang gitu, dia selalu temuin apapun yang berani ngancam opah gue. apalagi soal ginian, ini bakalan jadi hal mudah”


“Gue tau, gue mau liat sehebat apa dia, secepat apa dia, menyelesain kasus ini. Songong banget mukanya, gue gak suka!”