RAGASA

RAGASA
Ep. 73. Pacarnya Awan



Raga mengusap-usap rambut Caca, Lelaki itu cemas sekaligus khawatir dalam satu waktu. Bahkan, Raga sama sekali  tak pernah mengalihkan pandangannya dari Caca, karena takut terjadi apa-apa pada perempuan itu.


“Ca, kapan bangunnya sih?” Resah Raga, yang pastinya tidak akan terdengar sama sekali oleh Caca.


Caca tadi sudah di periksa oleh penjaga UKS. Penjaga UKS bilang bahwa Caca memang kecapean dan mungkin tidak sarapan.


“Lo semua ngerasa caca berubah gak sih? Maksudnya bukan perilakunya, tapi masalah kesehatannya. Setelah Opahnya meninggal, Caca gak se-semangat dulu, terus lebih keliatan lesunya juga. Bahkan, kita juga udah sering mergokin Caca mimisan, dia juga sering banget pegang kepalanya, tapi pas di tanya kenapa, dia bilang kecapean atau gak papa, dia ada cerita sesuatu sama Lo ga?” Celetuk Bima. Karena merasa ada banyak perubahan drastis di diri Caca, bahkan Caca terlihat lebih kurus dari sebelumnya.


“Enggak, dia gak cerita apa-apa sama gue,” Lirih raga, masih mengusap-usap rambut Caca.


“Apa perlu kita selidikin?” Timpal dodi, karena lelaki itu juga merasa sangat setuju atas apa yang Bima ucapkan.


“Jangan dulu, kita tanya dulu baik-baik, kalo dia gak mau ngaku juga, baru kita selidikin,” Saran Alzam, lelaki itu akhirnya ikut nimbrung juga sekarang.


Caca memegang kepalanya, ketika mendengar suara samar-samar di telinga, Wanita itu juga merasa kepalanya yang cukup pusing sekarang.


Caca menepuk pelan kepalanya, ketika mengingat kejadian apa yang telah terjadi pada dirinya, kenapa bisa dirinya sampai pingsan. Seumur hidup, Caca baru mengalami pingsan hari ini, entah harus senang atau sedih, ketika dirinya bisa merasakan rasanya pingsan itu seperti apa.


Caca mendudukkan dirinya dengan perlahan, merasa ada pergerakan di brankar, semua orang yang sedang ada di sana, menoleh ke arah sumber suara.


Melihat Caca yang sudah terbangun, Raga segera membantu Caca untuk duduk. Menumpuk bantal supaya tinggi dan membiarkan Caca menyender disana.


“Mana yang sakit? Kenapa Lo sampai kayak gini sih ca? Lo sakit apa? Bilang sama gue, jangan diem terus dong Ca, mana yang sakit, bilang ke gue, Lo kenapa?”


Ketiga lelaki yang melihatnya hanya memutar bola mata mereka malas, ketika mendengar pertanyaan beruntun Raga. Caca baru saja terbangun dari pingsan, tetapi Raga sudah memberi pertanyaan sebegitu beruntunnya. Mereka yang tidak pingsan saja merasa bingung, harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu, apalagi Caca.


“Satu-satu dulu kali, pusing gue dengernya!” Cibir Dodi.


“Gue bukan tanya sama Lo! Gue tanya sama Caca, jadi Lo diem aja!” Balas Raga, dengan sinisnya.


Dodi mencibir dalam hati ketika mendengar jawaban Raga seperti itu. Raga kalo sudah berurusan dengan Caca, semuanya tak akan bisa di ganggu gugat.


“Mana yang sakit?”  Raga bertanya kembali dengan intonasi lembut, ketika pertanyaan awalnya sama sekali tidak di gubris oleh caca.


Caca tersenyum sembari menggeleng “enggak ada, gue cuman lapar, hehehe,” Balas Caca, dengan cengiran khasnya.


Raga dengan cepat mengambil bubur di pinggir brankar. Setelah mendengar penjelasan penjaga UKS, bahwa kemungkinan Caca belum sarapan, lelaki itu langsung saja memesan bubur, supaya bisa langsung di makan ketika Caca sudah siuman.


Raga memang lelaki siaga.


Memberikan Caca minum, lalu mulai menyuapi Caca dengan pelan dan telaten, “gimana? Enak?”


Caca hanya mengangguk sambil terus menguyah bubur yang terus di suapkan Raga ke mulutnya.


“Lo sakit ya Ca? Kenapa sampai pingsan kayak gini? Kita juga sering mergokin Lo mimisan, apa Lo baik-baik aja?” Pertanyaan yang keluar dari mulut Raga, membuat Caca berhenti sejenak menguyah.


Caca sudah memprediksi, pasti akan ada pertanyaan seperti ini yang terlontar dari teman-temannya.


Caca terkekeh dan tertawa “Sakit? Enggaklah! gue kan kuat, masa iya seorang Caca sakit, gue lagi kecapean aja, akhir-akhir ini gue susah tidur, mungkin penyebabnya karena itu,” 


Raga menghela nafas dan mengangguk. Lelaki itu merasa masih ada yang di sembunyikan oleh Caca, tetapi Raga sendiri tak bisa memaksakan Caca untuk bercerita kepadanya, karena Raga juga tahu dan cukup sadar, Caca juga mempunyai privasi.


“Kenapa gak bilang kalo susah tidur?” Tanya Raga, sembari mengusap sudut bibir Caca yang meninggalkan jejak bubur di sana.


“Susah tidur doang Ga, masa harus bilang juga,” Caca kembali membuka mulutnya untuk menerima suapan Raga kembali.


Caca kembali tersenyum dan mengangguk “Udah kenyang, sekarang mau peluk,” Caca merentangkan tangannya, wanita  ingin segera merasakan pelukan hangat Raga.


Dodi yang memang dari tadi melihat interaksi mereka berdua menghela nafas kasar, “Hadeuh, keluar-keluar! Udah mulai gak beres,” Dodi nampak lelah, lelaki itu segera mendorong Bima dan Alzam untuk keluar.


Dodi adalah manusia uwufobia, teman-temannya sudah memiliki pasangan, tetapi kenapa Dodi sendiri yang betah menjomblo, atau memang, tidak ada yang mau kepada lelaki itu? 


Bima sudah menikah, Alzam sudah mempunyai tunangan, Raga dan Caca, sudah kalian lihat bagaimana nasih dua insan itu. Jadi, hanya dirinya disini yang memang tidak mempunyai pasangan.


Setelah berada di luar UKS, Dodi  mengambil nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Menutup matanya lalu—


“SIAPA YANG MAU JADI PACAR GUE!”


Dodi mengatur nafasnya, “Siapa yang mau jadi pacar gue, gue tanya! Siapa yang mau jadi pacar gue!”


Perempuan yang memang sedang berlalu lalang hanya tersenyum kikuk, tidak sama sekali ada yang menjawab teriakan Dodi itu.


Sebenarnya Dodi tidak terlalu jelek, dan memang lumayan tampan juga, tetapi... perempuan di sana sedikit ngeri, dengan sikap Dodi yang cukup agresif, atau bisa di bilang aneh.


“SIA—“ Dodi yang hendak kembali berteriak, tiba-tiba mendatarkan wajahnya sok cool, ketika perempuan dingin incarannya terlihat seperti akan melewati lorong yang lelaki itu tempati.


“Ekhem,” Dodi berdehem, menyedekapkan tangannya di depan dada, lalu menyilangkan kakinya, sembari bersandar di tembok.


“Eh Lo, cewek yang pakai bandana warna merah,” Panggil Dodi, ketika perempuan itu, melewati dirinya.


Terlihat perempuan dengan bandana merah itu berhenti berjalan, lalu berbalik menatap Dodi dengan satu alis terangkat seolah bertanya.


Dodi mengulurkan tangannya, tetapi wajahnya seolah masih menampakkan wajah sok datar “Gue Dodi,” 


Perempuan dengan bandana itu, sedikit memiringkan senyumannya, lalu kembali berjalan, tanpa sama sekali membalas uluran tangan Dodi.


“Eh anjir! Berani-beraninya Lo gak balas uluran tangan gue!” Ucap Dodi, lalu mencekal tangan perempuan itu, agar kembali ke tempat semula.


“Lepas!” Ucap perempuan Bandana dingin.


“Gak! Sebelum Lo sebutin nama Lo,”


Terlihat helaan nafas dari perempuan Bandana itu “Awan,”


“Nama Lo Awan?” Tanya Dodi antusias.


Awan hanya mengangguk sebagai balasan “Lepasin,” 


Dodi melepaskan cekalan itu, setelah bisa mendapatkan nama perempuan dingin itu secara langsung “Oke Awan, mulai sekarang Lo pacar gue!” enteng Dodi.


“Gila!” Maki Awan, lalu pergi.


“Entar malam gue jemput lo di mini market!” Teriak Dodi, tak di gubris sama sekali oleh Awan yang mulai menjauh.


“Bener tuh kata Awan, Lo gila! Ya kali, baru tahu nama langsung Lo tembak gitu aja,” Cibir Bima, sembari geleng-geleng kepala, merasa heran, dengan tingkah ajaib Dodi.


“Gak papa gila, yang penting udah jadi pacarnya Awan,”