
"Ke mana aja kalian, kok baru masuk?" tanya Bu Nita, karena mendapati Alzam dan Raga, baru masuk ke dalam kelasnya.
"Kita terlambat Bu," jawab mereka. dengan wajah Raga yang masih setia menunduk. lelaki itu sengaja menunduk, menutupi matanya, yang selesai menangis tadi.
"Itu kenapa baju kamu sobek Raga?" Tanya Bu Nita, dengan wajah sok malu-malu ketika melihat beberapa bagian dada Raga yang terbuka.
Pantas saja, Murid-murid perempuan di kelas, tiba-tiba memelekkan matanya, toh ternyata ada objek gratis di sini.
"Saya mau duduk Bu, permisi," Raga berjalan untuk duduk di bangku yang sama dengan Caca, lelaki itu ingin menyelesaikan semuanya, Raga tidak suka dengan keadaan seperti ini.
"Kalo saja bukan murid pintar nan tampan, sudah saya jemur kamu Raga," gumam Bu Nita, membuat Alzam juga berjalan menuju bangkunya.
Pelajaran kembali di mulai, semuanya kembali fokus dengan mata pelajarannya, termasuk Caca.
Sebenarnya pikiran Caca sedang kemana-mana, raganya memang disini, tetapi jiwanya seolah berkelana.
Memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing, tetapi tetap mencoba memfokuskan mata ke mata pelajaran yang sedang berlangsung, berharap pusingnya bisa menghilang.
Saking pusingnya, Caca saja sampai mengepalkan tangannya, berharap pusing dan sakit kepalanya tersalur ke sana.
"Ca maafin gue, jangan diemin gue kayak gini,"
Di tambah lagi Raga yang terus-menerus mengoceh, membuat Caca ingin saja menonjok wajah manusia yang tiba-tiba bawel ini di depan matanya.
"Bisa diem gak sih? pusing otak gue dengerin Lo bacot kayak gini!" Caca berbalik menatap Raga tajam, bisa kah lelaki di sampingnya ini diam.
"Ca, Lo mimisan lagi," Ucap Raga pelan, hendak memegang wajah caca, tetapi Caca menghentikan pergerakan itu.
"Jangan pegang-pegang gue!"
Caca mengambil tas nya, lalu mengeluarkan tisu disana, mendongkak lalu menyumpel hidungnya dengan tisu.
"Lo kenapa Ca? Lo sakit ya, kok Lo gak cerita sama gue?" Tanya Raga sendu.
"Gak penting!" Balas Caca, acuh tak acuh.
"Ca—"
"Bu saya mimisan," Caca mengangkat satu tangannya, membuat semua atensi mengarah ke arah dirinya. wanita itu sangat malas juga harus berdekatan dengan manusia macam Raga sekarang.
"Kok bisa sih?! cepat-cepat ke ruang Uks. Raga, anter teman sebangku mu," panik Bu Nita.
"Iy—"
Mendengar nama Raga lagi, membuat Caca mencebikkan bibir, "Saya bisa sendiri, lagian disana sudah ada penjaganya bukan? kenapa harus di antar segala?" Caca memotong ucapan Raga yang akan mengiyakan, suruhan Bu Nita untuk mengantarnya ke Uks.
Berjalan untuk keluar kelas, mood yang tadi pagi baik-baik saja bahkan bisa di sebut bagus, kini menghilang begitu saja seolah-olah di telan bumi.
|•••|
Bel baru saja berbunyi, membuat Raga langsung saja berlari ke luar kelas, meskipun Bu Nita belum sama sekali menyuruh murid-muridnya untuk keluar.
Baru saja sampai di ruang Uks, tetapi Caca baru saja keluar juga, membuat mereka berdua bertemu di depan pintu.
"Lo udah gak papa kan Ca? kantin yuk!" ajak Raga antusias, sembari merangkul bahu Caca.
Caca menyingkirkan tangan Raga secara pelan, "Lo duluan aja," ucap Caca, lalu berjalan mendahului Raga.
"Tapi gue mau bareng!" Seru Raga, kembali merangkul Raga.
Menghela nafas pelan, Caca memang belum bisa sepenuhnya menjauh dari Raga. lelaki itu seolah-olah mempunyai pelet, supaya Caca tetap berada di sisi lelaki itu.
"Emm.... Lo baik-baik aja kan Ca? maksudnya, Lo gak sakit kan?"
Caca menggeleng untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan Raga.
"Lo gak sakit kan," Jawab Caca.
Kali ini Raga yang mengangguk, mengiyakan, apa yang Caca ucapnya.
Caca mengerutkan keningnya, ketika para perempuan seperti sedang memperhatikan Raga. memang, setiap hari pun banyak yang memperhatikan Raga, tapi kali ini tampak berbeda.
Caca sedikit melirik ke arah Raga, matanya tiba-tiba mendelik tak suka, dan sedikit decakan keluar dari bibir perempuan itu.
"Lo mau pamer dada ke setiap perempuan disini?" Tanya Caca, dengan nada sedikit ketus.
"Hah? maksudnya?" Raga melirik ke arah dadanya, lelaki itu tiba-tiba tersenyum, lalu mencolek dagu Caca menggoda. ternyata Caca tak suka, dadanya di lihat perempuan lain.
"Emangnya kenapa kalo gue pamer dada ke cewek lain? Lo cemburu?" Raga bertanya sembari menaik-naikan alisnya.
Biasanya Caca yang selalu menggoda Raga, tetapi kali ini, Raga lah yang menggoda Caca.
"Siapa yang cemburu? gue cuman tanya, Lo mau pamer dada sama perempuan disini? itu cuman pertanyaan, gak lebih dari itu!" elak Caca. sudah jelas bukan? dalam ucapannya pun, Caca jelas tak suka, Raga memamerkan dadanya ke setiap perempuan lain disini.
"Oke, kalo Lo gak cemburu bagus deh, gue lebih leluasa pamer disini,"
Caca kembali berdecak, lalu menggiring Raga ke suatu tempat dengan cepat.
"Tunggu disini!" Caca masuk, lalu beberapa menit kembali ke luar.
"Nih pake!" katanya, lalu melemparkan kemeja baru ke arah Raga. perempuan itu, baru saja membelinya di koperasi sekolah.
"Gue gak mau pake," kata Raga, lalu mengembalikan kemejanya ke arah Caca.
"Pake Raga!" kesal Caca.
"Enggak mau, emangnya kenapa sih? kenapa gue harus ganti baju?"
"Terserah Lo lah," Setelah mengatakan itu, Caca pergi meninggalkan Raga yang cengengesan.
"Marah aja masih peduli," Membuka baju sobeknya, lalu mengganti dengan kemeja yang baru saja di belikan oleh Caca.
|•••|
Caca memakan baksonya Dengan khidmat, meskipun perempuan itu sedang badmood sekarang, tetapi makan itu harus di dahulukan, makan cukup membangkitkan moodnya walaupun sedikit.
"Gue udah ganti baju sama yang Lo kasih tadi. jadi, gak usah cemburu," Ucap Raga, lalu mendudukkan pantatnya, di pinggir Caca.
Raga berkata seperti itu, seolah-olah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Raga melakukan itu, berharap supaya Caca perlahan-lahan melupakan kesalahannya di masa lalu dulu.
Raga menyesal, sungguh-sungguh menyesal. lelaki itu menyesal, karena asal saja menghabisi orang, tanpa mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya.
Raga hanya tersenyum, ketika pertama dalam hidupnya, Caca tak menjawab pertanyaannya.
"Bu bakso satu!" Teriak Raga, membuat beberapa menit kemudian, satu mangkuk bakso, sudah berada di mejanya.
"Gue males bumbuin lagi, jadi mending tuker aja sama punya Lo yang udah merah sama saos," Raga dengan cepat mengambil mangkuk Caca, lalu menukarnya dengan bakso baru.
"Lo gak liat gue lagi makan?" Tanya Caca.
"Liat," jawab Raga, lalu memakan bakso kepunyaan Caca yang sudah menjadi miliknya.
"Terus kenapa Lo ambil gitu aja?"
"Emangnya kenapa? bukannya kita udah sering lakuin itu? bahkan Lo lebih sering yang minta tuker makanan, dengan alasan makanan Lo hampir habis, jadi minta tuker sama makanan punya gue yang masih baru," ucap Raga, menyuapkan satu baso kecil kedalam mulut Caca.
Caca mengunyahnya, lalu menelannya "Sekarang beda Raga, beda! keadaannya beda sekarang, jadi stop bertingkah kalo kita emang baik-baik aja kayak sebelumnya,"
Raga tertawa, merasa apa yang Caca ucapakan adalah hal yang lucu. "Kita emang baik-baik aja, dan akan selalu seperti itu, sampai kapanpun!"