RAGASA

RAGASA
Ep. 48. Gak Usah Genit



Sebelumnya.


"Kenapa gue selama ini diam? ya karena gue gak mau kehilangan Lo! gue tau, Lo pasti gak mau kan? di ajak pacaran terlebih lagi sama gue, gue tau itu. Lo goda-godain gue cuman seru-seruan aja kan? tapi hati gue gak bisa di ajak seru-seruan sama Lo!"


|•••|


"Lo pikir, gue gak baper sama perlakuan Lo selama ini Ca? karena gue selalu bales gombalan Lo itu sama ucapan ketus gue? Lo salah, gue baper Ca,"


Raga tertawa "Gue emang pengecut, karena baru berani ngungkapin perasaan gue sekarang, itu juga... karena Lo hampir marah. mungkin, kalo bukan karena ini, gue gak akan pernah ngungkapin perasaan apapun sama Lo,"


"Semua ucapan ataupun tindakan, yang keluar dari tubuh gue, yang biasanya Lo anggap candaan, itu semua benar ca. semuanya benar, gue emang suka sama Lo, tapi gue gak mau mengubah status kita lebih dari seorang sahabat. jawabnya itu tadi, karena gue gak mau kehilangan Lo,"


"Gue gak akan tau, tragedi apa yang bakal kita lalui nanti, misalnya kalo kita pacaran, yang nyebabin kita putus dan asing, dan gue gak mau itu terjadi. makanya, itu juga salah satu alasan gue, buat terus simpan perasaan gue sama Lo, tanpa adanya kata pengungkapan."


Caca memalingkan wajahnya, lalu tersenyum. niat hati berpura-pura marah, tetapi malah mendengar hal besar seperti ini, Rasanya kayak dag-dig-dug ser gimana gitu.


Raga pentolan sekolah, menyukai dirinya? Arghhh, Rasanya... kalo mempunyai nyawa tujuh seperti kucing, ia akan terjun dari rooftoop, karena terlalu senang mendengar pengungkapan mengejutkan ini.


"Aaaaaaa, Raga soswit banget sih," Kata Caca, sembari menatap Raga sepenuhnya.


Sadar dengan apa yang ia katakan, Raga memalingkan wajahnya. sial, kenapa dadanya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya, hanya karena Caca menatapnya seperti itu.


"Emm.... Lo-lo harus tidur, gu-gue mau pulang, bunda sendirian di rumah," Kata lelaki itu, tanpa menatap Caca sama sekali.


Kenapa dirinya, sangat gugup sekali.


"Kalo ngomong tuh, liat gue dong. ngapain ke arah lain,"


Raga berbalik, sembari menggaruk tekuknya "Gu-gue balik dulu, gue bakal kesini besok, sama yang lain." Ucap Raga.


Meskipun Raga berbicara menghadap Caca, tetapi matanya selalu berkeliaran menghindari tatapan.


Caca menangkup pipi Raga agar menghadap ke arah matanya, “Kalo ngomong liat matanya Raga,"


Raga menurut, melihat mata Caca sepenuhnya, ia tiba-tiba malu, jika bersitatap seperti ini dengan Caca.


"Lo beneran suka sama gue?" Tanya Caca.


"Ah, sial... kenapa jadi deg-degan gini sih?" Batin Raga.


"I-iya," Jawab Raga, yang sudah tak bisa mengelak.


Caca tersenyum “Bagus deh, Soalnya gue juga sama Lo," 


Blush


"Kenapa pipinya tiba-tiba merah sih? panas ya?" Tanya Caca menaikan satu alisnya.


Raga melepaskan cekalan tangan itu, lalu memalingkan wajah “Gue balik dulu," Ucapnya cepat, lalu berjalan cepat pula menuju keluar.


|•••|


Setelah kejadian tadi, mulai dari keluar rumah sakit, di perjalanan pulang, bahkan sudah sampai rumah pun, Raga tak pernah melunturkan senyumnya. 


Senyuman itu selalu terukir, setelah Caca juga mengungkapkan perasaannya.


"Tumben senyu—" 


Cup


Raga mencium pipi kiri Renita, lalu berjalan menaiki tangga “aku ke kamar dulu mah," Katanya.


Membaringkan diri di kasur, lalu berguling-guling tak tentu arah, Rasanya... pipinya kembali merah, saat mendengar perkataan Caca seperti itu.


"Sial, manusia nyebelin kayak Caca, bisa buat gue hampir gila kayak gini," Monolognya.


Raga mengambil handphone, lalu membuka aplikasi WhatsApp, baru saja pulang, lelaki itu sudah merindukan Caca, wanita yang hampir membuatnya gila.


Mengigit jarinya, lalu menghubungi nomor Caca, lelaki itu tidak bisa menahan rasa rindunya sekarang. 


Ingin tetap diam disana, tetapi tak bisa. pernyataan yang keluar dari mulut Caca, tampak berbeda dari biasanya, cewek itu tampak serius, berbeda ketika mengungkapkan rasa itu ketika bercanda. ia takut, tak bisa mengontrol diri, kalo terus-terusan tetap disana.


"halo sayang," Sapa Caca di 


Sapaan yang keluar dari telepon, berhasil membuat dirinya semakin keras menggigit jari.


Raga merapatkan bibirnya, supaya tidak ada senyuman yang terukir di bibirnya,  tetapi tak bisa, senyuman itu selalu terukir, setelah kejadian tadi.


"Ada apa telepon? kamu kangen ya?"


"Jangan berani-berani kabur, tetap diam di rumah sakit, gue sama yang lain, kesana lagi besok,"


"Ok— nona, anda tidak apa-apa?"


Raga jelas tahu, siapa orang yang berada di sebrang telepon selain Caca.


"Ada Alex disana?" Tanya Raga. senyumnya hilang, hanya karena satu nama, bernama Alex itu.


"Iya baru Datang,"


"Gausah genit!”


Tut


Raga melemparkan handphonenya, sembarang arah, lalu mencoba memejamkan matanya.


Raga menggeram, nama Alex bisa membuat dirinya yang goodmood, tiba-tiba menjadi badmood seperti ini.


Kenapa selalu saja seperti ini? ia benci Caca dekat dengan lelaki lain selain anggota alverage. ingin marah pun tak bisa, ia takut Caca tak nyaman dengan sikap dirinya, dan di anggap berlebihan oleh Caca.


Raga tahu, Caca adalah seorang anak yang cepat sekali bersosialisasi, dan entah kenapa Raga tak suka itu. ia takut, semakin banyak Caca dekat dengan orang luar lainnya, semakin besar kemungkinan ia cepat di lupakan oleh cewek itu.


Lelaki itu takut, ketika Caca berubah, ketika Caca tak mementingkan dirinya lagi, ia takut, ketika Caca tak menjadikannya tempat pulang lagi, ia takut, ketika Caca tiba-tiba nyaman bersama orang lain selain dirinya, yang berakhir dirinya di lupakan dan di tinggalkan.


Dan ia tidak mau hal buruk itu terjadi. Makanya, sebisa mungkin, ia akan selalu menjadi yang terbaik, supaya tidak terlupakan.


|•••|


Caca yang tengah-tengah senyum sendiri itu, semakin melebarkan senyumannya, ketika Raga menelpon dirinya.


"Halo sayang," Kata Caca genit.


Caca mengerutkan keningnya, kenapa Raga diam saja, dan tak menjawab pertanyaannya. apa lelaki itu tak mendengar apa yang ia katakan?


"Ada apa nelpon? kamu kangen ya?" 


Caca lebih berbicara kembali, takut-takut memang Raga tak mendengar ucapannya.


"Jangan berani-berani kabur, tetap diam di rumah sakit, gue sama yang lain, kesana lagi besok,"


Caca menutup mulutnya yang akan menjerit, ketika mendengar kata datar di sebrang sana. kata datar, plus peringatan bagi dirinya, bukan lagi hal yang biasa.


"Ok— nona, anda tidak apa-apa?" Kata Alex yang baru saja datang, memotong pembicaraan dirinya, yang akan menjawab pertanyaan Raga disana.


"Ada Alex disana?"


Caca otomatis mengangguk, mendengar kata itu “Iya baru datang,"


"Gak usah genit!"


Tut


Caca sedikit menjauhi telinganya, ketika Raga menutup Teleponnya keras seperti itu. ia tersenyum, lucu sekali Raga ini.


"Nona, anda tidak apa-apa?" 


Caca tersadar, lalu menatap Alex “eh, gue gak papa kok," kata Caca.


"Kenapa nona gak bilang, kalo nona kembali di rawat? kemarin saya kesini, dan ternyata saya dapat kabar kalo nona sudah pulang. pada saat saya ke rumah nona, nona pun tak ada disini," Cemas Alex.


"Kok bisa, Lo temuin gue disini?" Tanya Caca bingung.


"Saya lacak keberadaan nona," Jawab Alex.


"Nona tidak apa-apa kan?" 


"Gue gak papa kok, santai aja,"


"Tapi, saya mendengar kalo nona terkena tusuk. kenapa sangat ceroboh sekali, kemarin di tembak, sekarang di tusuk. apakah saya perlu menyiapkan bodyguard buat anda?"


Caca tertawa "Nggak perlu. Lo berlebihan lex, gue gak papa kok, cuman kena tusuk kayak gini, gak bakalan bisa bikin gue mati,"


Alex mengangguk “Kalo ada apa-apa tolong telepon saya nona, saya merasa menjadi asisten yang tidak becus, ketika bosnya terluka saya tidak tahu apa-apa,"


"Maaf, lagian gue gak mau bikin Lo repot. kerja Lo kan kayak asisten, tapi kerja Lo lebih dari itu,"