RAGASA

RAGASA
Ep. 24. Keluhan Quenshaa



Semua orang sudah pulang, karena acara pemakaman pun sudah dilakukan. Awalnya anak-anak Alverage meminta untuk menginap. Yap, setelah Raga pulang di pemakaman, ternyata tidak langsung pulang, ia menunggu Caca di depan rumah gadis itu, bermaksud meminta izin, bahwa anak Alverage akan menginap di sini.


Caca sudah mengira Raga akan melakukan itu, tetapi caca dengan tegas menolaknya, ia hanya ingin sendirian sekarang, menuangkan segala keluh kesah di kamarnya. Tanpa berpura-pura baik-baik saja, di depan semua orang.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, tetapi Caca masih betah berada di balkonnya, sambil menatap langit malam tanpa bintang.


Caca terkekeh hambar, "Bahkan bintang pun tak bersinar, saat gue butuh penerangan dia," ucapnya sendu.


"Sesulit itu bahagia? Sesulit itu?apa yang telah gue perbuat di masa lalu, sampai sekarang rasanya gue menderita, kenapa tuhan? Caca gak minta apapun, Caca cuman minta keluarga Caca berkumpul, cuman itu aja. Kenapa sulit sekali engkau kabulkan?"


Wanita itu menatap langit dengan tatapan memohon. Tak sadar, satu air mata lolos di kelopak matanya.


"Ambil kekayaan Caca, ambil apapun yang Caca punya, tapi mohon, jangan keluarga Caca, Caca rindu kasih sayang mereka."


Caca menenggelamkan wajahnya di penyangga pagar yang ada di sana. Ia terisak, menangisi hidupnya yang sangat menyedihkan baginya.


"Mah, pah, kak, opah, omah. Kenapa kalian semua tega ninggalin Caca? Kenapa kalian tega? Kalian gak liat aku menderita atas kepergian kalian? Caca sendirian disini, kalian gak liat? Hiks.. hiks.. Caca kangen kalian semua. Caca kangen.."


"Kenapa kalian gak bawa Caca juga sekalian? Kenapa kalian bahagia tanpa Caca disana? Kenapa? Caca salah apa? Sampe kalian semua tega ninggalin Caca sendirian di sini?"


Caca terus saja menangis, menangisi kehidupan yang menurutnya sangat menyedihkan. Caca lelah dengan semuanya, ia ingin istirahat.


Caca paham, banyak orang yang lebih menderita darinya, harusnya dirinya masih bisa bersyukur. Tapi apakah salah? Dirinya sesekali mengeluh dan lelah dengan hidupnya. Ia lelah terus-terusan terlihat baik-baik saja, padahal hatinya tidak. Ia lelah, ia ingin mengungkapkan semuanya pada teman-temannya, tetapi ia takut, bahkan sangat takut, jikalau mereka semua akan meninggalkannya, karena menganggapnya dirinya hanyalah beban. Caca trauma dengan yang namanya kepergian.


"Cukup sampai sini tuhan, saya tak mau lagi mendengar kata kesendihan."


Dor


Dor


Dor


Dor


Dor


Caca mendongak, lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah pistol berisi peluru di atas nakas pinggir ranjangnya.


Dor


Dor!


Suara tembakan kembali berbunyi, membuat Caca dengan cepat-cepat turun dari kamarnya.


Melihat siluet seseorang di balik jendela, membuat gadis itu cepat-cepat menembak jendelanya.


"Sial, hampir semua jendela hancur gara-gara manusia sialan itu!" Umpat Caca kesal.


Caca sedikit berlari menuju keluar dan mendapati orang itu sudah menaiki mobilnya.


dor


dor


dor


dor


dor


dor


Caca terus saja menembaki mobil itu, sampai hilang dari jangkauan matanya. Ia berlari ke arah pos satpam, takut-takut terjadi apa-apa dengan manusia setengah paruh baya yang menjadi seorang satpam di rumahnya.


Mata Caca melotot, melihat lelaki tua itu diikat di kursi dengan mata yang terpejam.


"Pak, pak Iman bangun! Pak!" Caca menggoyangkan tubuh pak iman.


Melihat pak iman yang masih memejamkan matanya, Caca membuka ikatan tali di tubuh pak iman.


"Pak, pak Iman!" Caca menepuk-nepuk pelan pipi pak iman. Tetapi melihat pak Iman yang masih memejamkan matanya membuat Caca cemas.


ia baru saja kehilangan opahnya, hanya melihat pak Iman masih memejamkan mata, cukup membuat Caca sangat cemas di buatnya.


"Tuhan. Jangan lagi, aku trauma akan kehilangan," ucap Caca sembari menatap langit.


Caca merogoh sakunya, lalu menelpon Alex, lelaki yang awalnya asisten opahnya kini menjadi asisten dirinya juga.


"Halo pak Alex, tolong kerumah saya sekarang!" ucap Caca setelah sambungan telponnya tersambung.


"Jangan panggil saya pak nona," jawab Alex.


"Iya-iya, cepat kesini!"


Tut!


Caca mematikan sambungan teleponnya, lalu kembali menatap ke arah pak iman yang memejamkan mata.


Tidak lama dari itu, pak Alex datang dan membawa pak iman ke rumah sakit, karena suruhan dari Caca.


Setelah urusan pak iman selesai, Caca berkeliling ke arah rumahnya, siapa tahu ada bukti tentang siapa yang berani-beraninya mengusik hidupnya.


Caca menyipitkan matanya, ketika melihat sesuatu di teras depan rumahnya, hendak mengambil barang itu, tetapi suara motor kencang di belakang tubuhnya, membuat dirinya mengurungkan niat dan berbalik.


Bruk!


Ternyata itu Raga dengan motornya yang sengaja di jatuhkan, karena malas mengstandar, terlalu lama menghabiskan waktu katanya.


Raga berlari dan langsung memeluk tubuh Caca yang sedang kebingungan dengan sikap Raga sekarang.


"Lo kenapa?" tanya Caca melepas pelukannya.


"Lo yang kenapa! Ini kenapa semua kaca pecah! Mata lo sembab, apa yang terjadi sama lo!" panik Raga.


"Untung gue kesini, kalau enggak gimana coba? Gue udah bilang sama lo, nginep di rumah gue! anak-anak mau nginep disini lo gak ngebolehin. Pengen sendiri! Ini yang lo mau hah? Celaka? Iya?"


Nafas raga naik turun setelah menjelaskan itu. Ia cemas, sungguh cemas dengan keadaan Caca sekarang. Tetapi gadis itu malah membuatnya semakin cemas, ketika melihat rumahnya, sangat berantakan dengan pecahan kaca di mana-mana, apalagi melihat mata gadis itu yang sembab.


"Bisa gak jangan buat gue khawatir?" tanya Raga.


Caca menunduk. Selama berteman dengan Raga, ia belum pernah melihat Raga secemas dan semenyeramkan ini. Kecuali sedang melawan musuh, Raga akan terlihat menyeramkan.


"Maaf. Gue gak bermaksud buat lo khawatir, gue cuman butuh waktu sendiri, buat ekspresiin kesedihan gue. Gue gak tahu kalau bakal kayak gini," ucap Caca masih menunduk.


Raga mengambil dagu Caca menatap manik sembab perempuan itu.


"Tapi lo gak papa kan?" tanya raga lembut.


Caca mengangguk, membuat Raga kembali memeluk tubuh gadis itu. Memeluknya semakin erat, menyalurkan kekuatan.


Pada saat di rumah, Raga merasa hatinya tetap berada di rumah Caca, ia resah, ia khawatir sekaligus cemas dengan keadaan gadis itu. Dan ketika melihat keadaan Caca seperti ini, khawatir nya cukup terbalaskan meskipun sedikit.


Ia belum sepenuhnya lega, ketika melihat rumah Caca dan mata Caca yang tampak sembab.ia masih khawatir dan takut terjadi apa-apa pada cewek itu. Takut gadis itu melakukan hal-hal di luar nalar.


Meskipun Caca bilang tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak. Tetapi tetap saja, ketakutan di hatinya tak pernah bisa hilang begitu saja. Apalagi untuk pertama kalinya, Raga melihat Caca serapuh ini.


Gadis yang biasa ceria dan menyebalkan, kini bisa serapuh ini. Raga mengusap-usap rambut Caca pelan. "Ekspresiin kesedihan lo, nangis kalo lo udah gak kuat. Jangan pura-pura sok kuat di depan gue. Nangis gak ngejadiin lo lemah kok, nangis itu wajar. Jadi jangan berpikiran, bahwa yang sering nangis itu lemah."


Suara isak tangis mulai terdengar di bibir kecil Caca. Wanita itu menangis, menangis karena lelah dengan cobaan yang turun secara bertubi-tubi di hidupnya. Kasus kakaknya saja belum selesai, sekarang datang lagi kasus yang menerornya di saat baru saja ia merasa kehilangan.


"Sakit Ga, hati gue sakit, saat semua orang yang gue sayang, perlahan-lahan ninggalin gue, sakit rasanya Ga." keluh Caca.


"Rasanya gue pengen cepat nyusul mereka, supaya gue bisa ngerasain kasih sayang mereka lagi. Gue kangen mereka Ga. Gue kangen mereka."


Raga melonggarkan pelukannya, lalu mengusap air mata Caca secara lembut, "Semangat! jangan pantang nyerah. Ada gue, jangan pernah ngerasa sendirian, lo bisa ceritain semua keluh kisah lo sama gue. Kalau misalnya lo kangen kasih sayang dari keluarga lo, dateng ke rumah gue, orang tua gue sayang banget sama lo. Jadi jangan sedih, okey!"


Caca tersenyum lalu mengangguk, apa yang diucapkan raga memang lah benar, masih banyak yang menyayanginya.


"Jalan-jalan mau?" Ajak Raga.


Caca mengangguk semangat.


"Mau-mau!"