RAGASA

RAGASA
Ep. 102. Berkunjung



“Aku mau serahin diri aku ke penjara bunda. Aku mau tanggung jawab sama apa yang telah aku perbuat di masa lalu,” ucap Raga, menatap Renita sepenuhnya, sembari memegang tangan perempuan itu.


Renita mengusap pipi putranya dengan lembut. Ini memang yang harus di lakukan putranya dari dulu, Renita rela akan hal itu, meskipun akan di tinggalkan nantinya. Yang penting, putra lelaki nya itu bertanggung jawab, dengan apa yang telah di perbuatannya di masa lalu.


“Kamu yakin sayang?” tanya Renita.


“Yakin bunda, aku gak mau ngecewain Caca di sana, aku mau Caca tenang di sana bunda. Aku sayang sama dia,”


Renita mengangguk sambil tersenyum, wanita terus-menerus pipi anaknya, “Bunda gak papa kan, kalo aku tinggal nantinya?”


“Gak papa sayang, justru bunda seneng, kalo misalnya kamu mau bertanggung jawab, sama apa yang kamu lakuin,”


“Assalamu’alaikum bunda! Dodi ganteng, datang lagi nih!”


Raga dan bunda Renita saling lirik lalu tertawa, ketika mendengar teriakkan itu. Rupanya, Dodi sudah kembali seperti dulu.


“Lama banget sih bukain pintunya. Jadi gue masuk aja, karena bunda Renita pernah bilang sama gue, kalo misalnya, anggap aja rumah ini, kayak rumah sendiri,” jelas Dodi, menyalimi bunda Renita, lalu duduk di sana tanpa di suruh.


“Gak sopan banget si lo!” maki Raga.


“Ini rumah gue, wajar lah gue kayak gini!” balas Dodi nyolot.


Bunda Renita tertawa, seraya bangkit dari duduknya “Bunda mau siapin makanan, kalian ngobrol aja di sini,”


“Siap bunda!” jawab Bima dan Dodi heboh.


“Ke rumah Caca lagi yuk, gue mau cobain pistol yang belum sempat gue cobain itu lho,” ucap Dodi, antusias.


Raga menghela nafas pelan, tampaknya ini waktu yang tepat, untuk menceritakan kepada mereka apa rencananya.


“Gue mau serahin diri ke polisi. Gue mau di penjara, buat tanggung jawabin perbuatan gue ke dulu ke Saka,” ucap Raga.


“Hah? Kapan?” kaget Dodi.


“Sekarang atau besok, pokoknya secepatnya.”


“Lo gak mau tamatin sekolah dulu? Kota bentar lagi lulus lho,” timpal Bima.


“Gue gak mau nunda-nunda. Lagian, gue udah pinter,” balas Raga.


Mereka mengangguk mengerti, apapun yang akan Raga lakukan, mereka akan mensupport nya, apalagi perbuatan yang baik.


“Lo gak mau ke makam Caca dulu gitu? Dari semenjak dia meninggal, lo gak pernah ke sana, padahal lo adalah orang paling terdekat dia, sebelum kita,”


“Gue mau ke sana kok,”


|•••|


Raga datang ke pemakaman, dengan setelan kemeja hitam dan celana hitam, tidak lupa di tangannya terdapat sebuah buket besar yang sekarang sudah di letakan di atas nisan.


“Maafin gue Ca, maafin karena baru berani datang hari ini. Sebenarnya, gue masih gak terima lo tinggalin gue gitu aja, tapi gue mencoba ikhlas di sini, yang tenang ya di sana,”


“Kalo lo masih hidup nih yah, lo pasti jingkrak-jingkrak terus godain gue, gara-gara gue kasih buket besar banget buat lo,”


Raga mendongak, lelaki itu mencoba untuk tidak menangis di depan nisan yang sedang di pegangnya ini. Tetapi tak bisa, tetap saja, air mata tiba-tiba tumpah tampa di mintanya.


“Gue gak nangis, jangan ejekin gue. Gue cuman kelilipan ini,” lelaki itu berucap, sambil mengusap air matanya secara kasar.


Tampaknya, untuk tetap diam saja Raga tak mampu melakukan. Hatinya masih belum bisa menerima sepenuhnya, kalo memang benar, perempuan yang bernama Caca itu dengan cepat meninggalkannya.


Melihat Raga yang tiba-tiba pergi itu, Alzam dan yang lainnya dengan segera mengejar. Bahkan, untuk sekedar berpamitan pun, lupa untuk di lakukan.


Sampai lah mereka di luar pemakaman, dan melihat Raga yang terduduk dengan menutup seluruh wajahnya. Lelaki itu tampak sangat miris, jikalau keadaannya sedang seperti ini.


Mereka bertiga mendekat, sambil memegang bahu Raga. Raga mendongak, sambil menggelengkan kepalanya, pertanda lelaki itu tak papa.


“Ayok pergi, gue gak mau lama-lama di sini,” ajak Raga.


“Yakin gak mau masuk lagi? Lo bakalan lama ninggalin dia,”


Raga mengangguk tegas, lelaki itu sangat yakin. Karena lama-lama di sana pun, akan membuatnya terlihat sangat menyedihkan, dan Raga tak mau itu. Apalagi jikalau kesedihannya di lihat oleh Caca, Raga tak mau membuat Caca tak tenang di sana, apalagi itu karenanya dirinya yang masih tak terima di tinggalkan.


“Ikhlasin dia Ga,” kata Alzam, seraya mengusap-usap bahu Raga.


“Gue coba,” balas Raga.


“Bukan coba aja ga, harus! Lo harus ikhlasin dia, lo gak mau Caca gak tenang dan sedih di sana kan?”


“Susah Zam, susah! Susah buat ikhlasin dia gitu aja,”


“Gue gak minta lo lupain dia, gue cuman minta lo ikhlasin dia Ga, apa susahnya sih buat lo?” tanya Alzam.


“Lo gak akan paham Zam, karena gue yang ngerasain di sini, bukan lo!”


Alzam menghela nafa panjang, “Gimana gue mau paham, lo nya sendiri aja gak mau cerita!”


“Udah lah Zam, semuanya butuh proses kok. Mendingan kita ke rumah Caca, katanya Dodi mau cobain senjata yang lain,” ucap Bima berusaha menenangkan.


|•••|


Mereka semua selalu paksa gue buat ikhlasin lo Ca, tapi mereka sendiri aja gak paham, sama apa yang gue rasain sekarang.


Susah rasanya buat sekedar ikhlasin lo, susah rasanya jalanin apa yang seharusnya gue jalanin. Gue gak bisa, dan gak akan mungkin bisa ikhlasin Lo gitu aja.


Dan dengan mudahnya mereka bilang, ikhlasin aja Ga, ikhlasin aja. Iya, gue tahu, ngomong ikhlasin gitu aja itu gampang, gampang banget malahan, tapi yang susah itu ngejalaninnya. Ngejalanin hidup, tanpa dengan adanya lo.


Gue pengen marah sama Tuhan, gue pengen protes sama apa yang dia lakuin sekarang, tapi gue gak bisa. Karena udah jelas-jelas, lo itu milik dia, milik penciptanya.


Rasanya, gue juga pingin banget susul lo di sana. Lo udah pasti bahagia kan di sana? Bahagia sama keluarga lo yang udah lama lo kangenin itu.


Lo emang bahagia di sana Ca, tapi lo tinggalin banyak luka di sini. Gue bukannya gak terima lo pergi, hanya saja, gue masih belum terima dengan kepergian lo yang secepat ini sekarang.


Tapi gak papa, dengan adanya kejadian ini, gue jadi ambil hikmah dan pelajaran. Bahwa emang, orang yang kita sayang itu, gak akan selamanya akan selalu temenin kita di sini.


Karena sesayang- sayanganya kita, dia masih punya pencipta yang lebih sayang sama dia. Dan tugas kita sebagai hamba, hanya menerima.


Raga mendongak ke arah langit, sambil terus bermonolog dalam hati, mencurahkan apa yang ada di dalam hatinya sekarang.


Rasanya sakit, tetapi akan lebih sakit, jikalau Caca terus di sini. Semua ini sudah takdir, dan jelas takdir tuhan itu adalah yang terbaik. Apa yang telah tuhan takdirkan kepada kita, itu akan selalu mendatangkan kebahagiaan, meskipun awalnya menyakitkan.


Tergantung bagaimana kita menyikapi takdir yang beri tuhan kepada kita. Karena sesakit-sakitnya takdir dan kenyataan, akan terasa lebih ringan, jikalau kita menerima itu semua.