
Lima pentolan sekolah ini, kini sedang berjejer di parkiran. mungkin, hanya untuk sekedar melihat berapa banyak orang yang datang hari ini. Atau mungkin caper? Bisa jadi kan?
Pagi yang cerah ini, membuat mereka sibuk merecoki semua orang yang baru sampai, terutama Dodi, yang memang awalnya ingin mencari pasangan.
Dodi turun dari motornya, untuk menghampiri perempuan mungil yang baru saja datang.
“Hai,” Sapa Dodi.
Perempuan itu mendongkak, lalu tersenyum kak ”Ha—hai,” Balasnya gugup.
“Kok bisa cantik banget sih hari ini?” Puji Dodi,
“Hehe,” Kekeh cewek itu tampak tertekan.
“Hahaha.... udah lah Dod, liat noh, kasian tau, dia takut sama Lo!” Cibir Bima, membuat Dodi menatap tajam Lelaki itu.
“Gu-gue permisi kak,” Ucap wanita itu, lalu berjalan cepat meninggalkan tempat parkiran.
“Gara-gara Lo sih Bim! Jadinya Dede gemes gue pergi!” Tuduh Dodi. Ia menatap tajam Bima, sembari berjalan mundur.
Bruk
“Jalan liat-liat bisa?” Tanya wanita yang baru saja datang, dan tidak sengaja di tabrak oleh punggung Dodi.
“Sorry, gue gak liat,” Katanya.
Cewek itu tak menjawab, menabrak bahu Dodi, lalu pergi meninggalkan parkiran juga.
“Nasib Lo Dod,” Kini, giliran Caca yang mencibir.
“Gue suka cewek kayak tadi, dingin-dingin gimana gitu?” Kata Dodi, sembari menatap kepergian cewek itu.
Mungkin, cewek yang di sebut dingin oleh Dodi, itu akan menjadi incaran Lelaki itu.
“Iyain aja dah, kasian...jomblo dari lahir,”
“Sung—eh, Sasa datang sama cowok!” Riweh Dodi, ketika masuk ke parkiran dengan seseorang pria.
Mereka berlima mengamati, mulai dari masuk, dan parkir di tempat yang tidak jauh dari mereka. Sasa berjalan melewati mereka, seolah-olah tidak pernah kenal, ataupun bertemu.
“Hey sasa, tumben Lo gak ngerecokin Alzam,” Ucap Dodi, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Sasa berbalik, lalu tersenyum kecil untuk membalas ucapan Dodi,”Cepetan anjir, udah telat nih,” Kata Ari, langsung membalikkan kepala Sasa secara paksa, dan menggandeng bahunya.
“Aduh, padahal masih pagi, kenapa panas banget sih?” Kata Dodi, sembari melirik ke arah Alzam, yang masih memperhatikan kepergian Sasa.
“Panas gak sih Ca,Bim?” Tanya Nya.
“PBL PBL PBL PANAS BANGED LOCH,” Seru Caca dan Bima berbarengan.
“Itu pacarnya Sasa ya? Kok Sasa punya pacar sih? Kan tunangannya jadi panas,” Dodi terus-terusan saja memanas-manasi keadaan.
“Positif thinking aja, mungkin iya itu pacarnya. Kan tunangannya di paksa,” Tambah Bima.
“Itu negatif thinking,.bego!” Umpat Caca sembari menggeplak kepala Dodi.
Cewek itu tiba-tiba memegang stang motornya kuat, ketika pusingnya tiba-tiba menyerang. Ia menutup matanya, berharap menetralisir rasa sakit, yang di deritanya sekarang.
“Kenapa Lo Ca?” Tanya Dodi.
Caca menggeleng, lalu menghirup-hirup udara dengan rakus, seperti sedang mencium sesuatu ”Gue mencium-cium bau yang cemburu disini,” Katanya, dengan intonasi serius.
Pletak
Dodi yang paling dekat menggeplak kepala perempuan itu, ia kira terjadi apa-apa, ternyata cewek itu sedang cosplay menjadi Dede Roy.
“Gue kira Lo kenapa-kenapa,” Kata Dodi.
“Gue mah gak kenapa-kenapa, tanya mah Alzam, kenapa-kenapa gak? Liat Sasa sama cowok lain?” Caca tertawa, melihat Alzam yang nampaknya sangat-sangat menahan amarahnya.
Raga menepuk bahu Alzam, kasihan sekali teman malangnya ini,” Kita ke kelas aja, jangan dengerin ke tiga orang sinting itu!”
Melihat Raga dan Alzam pergi, ketiga manusia sinting itu saling lirik, lalu tertawa bersama, entah apa yang lucu disana, tetapi mereka semua tertawa begitu saja. nampaknya, yang di bilang Raga memang benar adanya.
•••
Cewek dengan jaket kulit berlambangkan alverage itu menambahkan kecepatan Motornya, ketika ada lima orang yang mengejarnya.
Bukan Anggota libra seperti sebelumnya, Caca pun tak mengenali siapa yang mengerjakannya sekarang.
Hanya lima orang saja, tetapi berhasil membuat Caca ketar-ketir, karena setiap orangnya membawa pistol dan senjata tajam.
Ia cewek biasa, yang akan mati juga ketika dada atau otaknya di tembak bukan? Jadi, ia cukup khawatir, tetapi ia menutupinya dengan wajah garang, dan terus menambah kecepatan Motornya.
Dor
Dor
“Sial!” Katanya mengumpat.
Dor
Dor
Dua tembakan lagi berhasil mengenai bahu cewek itu, membuat seragam yang awalnya putih kini bersimbah darah.
“SAKIT ANJING!” Teriaknya, masih berusaha mengendarai motornya
Seberusaha apapun dirinya, jika ban belakang bannya bocor, jalan motornya tidak akan stabil, atau tidak akan berjalan cepat. Jadi itu sia-sia saja bukan? Bahkan, kelima orang itu sudah berada di pinggir Caca sekarang.
Kembali menambah kecepatan, dan...
Bruk
Motornya di tabrak, membuat ia mau tidak mau jatuh.”Awss.....sakit banget gila,” Katanya pelan. Ketika bahunya semakin sakit, karena terlebih dahulu terkena aspal
Caca berdiri sok kuat, dirinya menatap tajam orang tak di kenalnya itu dengan angkuh. Tidak lupa, wajahnya yang tersenyum menyenangkan sembari bersidekap dada.
“Apa tujuan Lo semua?” Tanyanya, dengan nada rendah.
“Tidak ada, hanya ingin harta liberta saja,” Jawab salah satu orang.
“Gak bisa kerja ya? Kok palak harta orang?” Ucap Caca, dengan seringai di bibirnya.
“Kalo bisa malak, kenapa harus kerja?” Jawab orang itu, begitu menyebalkan.
“Anda ingat? Dengan kotak yang pernah saya kirimkan? Jika anda tak memberikan harta libertà, anda akan mati. Ini baru permulaan, dua tembakan pas mengenai bahu Anda, saya bisa melakukan hal yang lebih, sampai anda benar-benar mati.”
Caca tertawa, bahkan sampai memegangi perutnya saking lucunya ”Lucu banget Lo, cocok jadi pelawak,”
“Saya tidak sedang bercanda!”
Caca mendekatkan wajahnya, dengan wajah tuan bertopeng itu. Memang, kelima orang itu menggunakan topeng.
“Lo kira gue takut? Enggak tsay... kayaknya Lo yang takut disini, karena gak bukan identitas Lo!” Caca kembali menjauhkan wajahnya, lalu bersidekap dada, memandang kelima orang ini.
“Jangan jadi manusia rendahan! Yang bisanya ngambil hak milik orang lain. Kalo Lo mau bunuh gue, bunuh aja kalo bisa, gue akan tunggu waktu itu.” Caca tersenyum miring, membuat cewek itu terlihat semakin angkuh.
“Jadi liat, siapa yang akan mati nanti,” Tambahnya.
Sekarang giliran orang bertopeng itu mendekati wajah Caca,” Jangan songong, anda hanya perempuan kecil yang ingusan. Saya bisa membunuh Anda sekarang juga,” Bisik orang bertopeng itu, lalu kembali menegakkan tubuhnya.
Caca mendekat kembali, ia berjalan mengelilingi satu pria bertopeng yang tampaknya menjabat menjadi leader dari mereka semua.
“Pengen dong di bunuh,” kekehnya
Kembali di hadapan orang itu, lalu menyimpan kepala tepat di depan lelaki itu, menatap lekat matanya. Merasa pergerakan mata orang itu terkunci padanya, ia menggerakkan tangannya untuk mencapai saku belakang celana, terdapat pistol di sana.
Dor
Orang lainnya yang berada di belakang Berhasil menembak tangan Caca, karena hampir ketahuan mengambil pistol, di dalam saku lelaki bertopeng itu.
Merasa Pistolnya akan di ambil, pria bertopeng itu hendak menonjok wajah Caca, tetapi kalah cepat ketika Caca juga berhasil mengambil pistol itu.
“Turunkan semua pistol kalian, atau saya bunuh orang ini!” Todongnya tepat pada mata orang di depannya ini.
Caca melirik menggunakan ekor matanya, ketika satu orang akan kembali penembak pergelangan tangannya, yang pastinya akan membuat pistol yang di pegangnya jatuh.
Dor
“Kalah cepat sayang,” Setelah menembakkan pistolnya, pas pada perut lelaki yang akan menembaknya. Ia menodongkan kembali pistolnya pada orang yang pertama.
“Jangan pernah macam-macam, gue gak pernah bohong sama ucapan gue!”
Mereka semua perlahan menyimpan senjatanya di lantai, membuat Caca tersenyum.
Dor
Dor
Dor
Ketiga orang yang di belakang, Caca kembali tembak di perutnya. Membuat keempat lelaki yang di belakang tumbang.
“Bodoh semua pengikut Lo,”