RAGASA

RAGASA
Ep. 56. Gedung



Caca yang sedang menaikkan kakinya di dasbor mobil, dan scroll tik tik, tiba-tiba menyimpan handphone itu dan menurunkan kakinya, ketika melihat seseorang yang di kenalnya.


“Bukannya itu Sasa sama temannya itu, ngapain mereka berdua disini?” Caca turun dari mobil, lalu menghampiri dua orang yang akan masuk gedung itu.


“Sa, ngapain Lo disini?” Tanya Caca, membuat Sasa berbalik.


Mendengar suara seseorang, otomatis Sasa berbalik menatap orang yang baru saja mengajak bicara dirinya.


“Lo Ca, ngapain Lo disini?” Kaget Sasa.


“Gue yang harusnya nama gitu sama Lo, ngapain Lo disini?”


Sasa menyerahkan sebuah kertas yang menampilkan alamat gedung ini, sama persis dengan kertas yang Bima serahkan tadi.


“Adik gue di culik dan di sekap di sini,” Ucap Sasa.


“Adik Lo di culik juga?” Kaget Caca dengan mata membulat.


“Maksudnya? Ada yang di culik lagi, selain adik gue?”


“Betul sekali, Bella di culik, di tempat ini, dan di kasih kertas ini juga sama si penculik,” Ucap Caca.


“Ayok cepetan masuk, gue gak mau Kila kenapa-napa,” Desak Ari.


Caca tersenyum culas dalam hati, akhirnya ada alasan kepada Raga, supaya dirinya bisa masuk, “Ayok cepetan, kalo gitu!” Seru Caca, lalu memasuki gedung.


Baru saja di lantai pertama, sudah banyak orang yang tergeletak lemah disana. Ada yang sadarkan diri, ada juga yang tidak.


Caca mendekat ke arah manusia yang berbaring, tetapi masih dalam keadaan sadar. Menaiki tubuh orang itu, lalu menari-nari disana.


Caca menunduk, orang yang diinjaknya tampaknya sudah tidak bisa mengeluarkan suara, cewek itu berpindah tempat ke tubub yang lain dan melakukan hal yang sana. Menjadikan orang itu seperti jembatan, dan berjalan tanpa bebannya di atas tubuh mereka.


Sasa dan Ari memandang miris sekaligus ngeri, ketika melihat Caca menginjak tubuh manusia itu tanpa beban. Bahkan, ketika manusia itu meminta ampun pun, cac tak pernah mendengarkan.


“Udah ca, kasian... takut mati, orang-orangnya,” Peringat Sasa.


“Kenapa harus kasian si Sa, dia adalah komplotan orang yang culik Adek Lo, jadi ngapain harus kasihan. Lo mau coba juga? Ngijak mereka?”


Sasa menggeleng, dirinya masih punya rasa kasihani, ketika mendengar permohonan dan rintihan seseorang.


“Selesai, kita cari ke lantai berikutnya,”  Seru Caca, menggandeng tangan Sasa.


Mereka berdua sampai di lantai dua, tidak ada siapa-siapa, semuanya kosong.


“Gimana kalo kita bertiga mencar? Gue sendiri, dan Lo berdua,” Saran Ari.  Lelaki itu mempercayakan Sasa pada Caca, karena Ari tahu, Caca adalah perempuan yang jago dalam perbeladirian, kalo misalnya tidak. Tidak mungkin, wanita itu masuk dalam geng alverage, geng cukup di segani di kota ini.


“Oke,” Ucap Caca, mengajak Sasa untuk menaiki lantai berikutnya, sedangkan Ari, mengecek setiap ruangan yang masih tertutup.


“Ngapain Lo disini?” Suara dingin, menginterupsi di belakang. Cewek itu jelas tahu, siapa pemilik suara berat nan dingin itu.


“Gue tadi udah bilang apa sama Lo? Jaga di bawah!” Sentak Raga.


“Gue ngater Sasa Ga, adiknya juga di culik disini, dan di kasih kertas yang sama kayak Bima,” Jelas Caca, berharap Raga mengerti.


“Tapi gue suruh Lo untuk diam di bawah Ca,” 


“Tapi gue kesini bukan cuman berdua kok, kita bertiga, sama temannya Sasa,” Kata Caca, masih melakukan pembelaan.


“Terus sekarang dia dimana?” Tanya Raga.


“Di bawah, lagi cek ruangan-ruangan yang kosong,” Jawab Caca.


“Sial,” Umpat Raga “Gue izinin Lo cari Bella, dengan catatan Lo gak kenapa-napa, kalo sampai Lo kenapa-napa, gue gak mau ngomong lagi sama Lo,”


“Gak akan kenapa-napa, janji!” Caca berucap sembari menadahkan jari kelingkingnya.


Raga mengangguk “Yaudah, gue ke bawah dulu, Lo langsung ke aras aja,” Raga menepuk pelan kepala Caca, lalu berlari ke arah bawah.


“Hati-hati!” Teriak Caca.


Terlihat Raga yang mengangguk, membuat Caca dan Sasa melanjutkan perjalanannya.


“Kila! Kila! Kila!” Sasa berteriak, membuat Caca was-was sambil celangak-celinguk, takut-takut akan mengundang musuh berdatangan.


“Kila! Kamu dimana?!” 


Caca langsung menarik Sasa untuk berjalan ke lantai berikutnya, ketika melihat siluet seseorang. Perempuan itu bisa juga melawan, tetapi ketika mengingat ancaman Raga, perempuan itu memilih menghindar, untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan.


“Caca Lo ngapain tarik-tarik gue!” Sasa berteriak, hendak kembali tetapi Caca menarik tangan perempuan itu, untuk terus menaiki tangga dengan berlari.


Caca terus melihat kebelakang, tetapi tetap terus berlari kedepan, perempuan itu mencoba mendahulukan Sasa, supaya Sasa berdiri di depannya, agar perempuan itu tak kenapa-kenapa.


Bruk


Tubuh Caca mematung seketika, ketika menabrak tubuh seseorang. Perempuan itu otomatis memeluk Sasa, untuk melindungi perempuan itu, Sasa pun otomatis menutup matanya karena takut.


Melihat tak ada interaksi dari seseorang yang di tabrakannya, caca mendongkak.


Mengusap wajahnya, lalu menghela nafas lega, ketika melihat Alzam lah orang yang di tabrakannya barusan.


“Ngangetin aja Lo!” Kesal Caca.


“Siapa orang yang lagi Lo peluk?” Tanya Alzam, merasa seseorang itu tak asing di hidupnya.


“Tunangan Lo,” Jawab Caca.


“Sasa?” Caca mengangguk, membuat Alzam mendekat dan membangunkan cewek itu, yang juga sudah membuka matanya.


“Ngapain Lo disini?” Alzam bertanya, sembari mengusap-usap keringat yang berada di kening Sasa.


“Kila di culik disini,” 


Alzam menatap Caca meminta penjelasan, tetapi cewek itu menjawab dengan gerakan mulut ‘entar’


“Jangan kemana-mana, tetap di belakang tubuh gue, kalo takut, pegang belakang baju gue,” Perintah Alzam, membuat Sasa mengangguk.


“Lo udah temuin di mana Sasa sama Bella?” Tanya Caca.


“Belum, tapi gue pikir, mereka ada di rooftoop. Karena gue udah cari di setiap ruangan, mereka gak ada.” Jawab Alzam.


“Ya udah, kita langsung gas kesana,” Seru Caca.


“Jangan dulu, tunggu yang lainnya. Gue yakin, mereka bakal ngasih jebakan.”


Mereka semua sudah berkumpul, untuk mengeksekusi rooftoop. 


“Jangan terburu-buru atau gegabah. Lakuin dengan tenang, tapi mematikan itu targetnya,” Intrupsi Raga.


Mereka semua mengangguk mengiyakan “Lo berdua, diam! Gak usah ikut-ikutan,” Lanjut Raga.


“Terkhusus Lo Caca, jangan ngeyel, gue bilang diam ya diam!” 


Caca memutar bola matanya malas, “Iya bawel!” 


“Diam di dekat Caca, jangan kemana-mana,” Kini Alzam, yang memperingati Sasa.


Sasa mengangguk “Iya,”


“Tuh liat, Sasa aja langsung nurut Alzam perintah. Lah Lo, malah marah-marah, padahal ini kebaikan Lo,” Kata Raga.


“Siapa yang marah-marah sih?!” 


“Dih, gak nyadar? Intonasi bicara Lo aja tinggi banget sekarang,” 


Menghela nafas lelah, berdebat dengan Raga tidak akan pernah menang, dan membuat energinya terkuras.


“Iya, gue salah dan minta maaf,” Final Caca, memilih meminta maaf.


Mereka semua berjalan ke arah rooftoop, tidak ada suara ataupun terdengar apapun, membuat mereka sedikit was-was. Apakah Sasa dan Bella ada disana atau tidak?


Di perjalanan menuju rooftoop, Caca sama sekali tak memikirkan apapun seperti yang di pikirkan yang lainnya, yang wanita itu pikirkan adalah, apakah hanya Sasa dan Bella saja yang di culik? Atau banyak orang? Dan kenapa orang itu menculik Sasa dan Bella, apakah ada untungnya? Kenapa harus Sasa dan Bella, kenapa bukan dirinya?


Apa ada hubungannya dengan si perusak markas? Atau ada hubungannya dengan kasus yang baru saja terselaikan? Caca bingung hanya karena memikirkan itu.


Brak


Pintu Rooftoop di dobrak oleh kaki Raga, yang ternyata pintu Rooftoop nya tidak di kunci Sama sekali.


Mata mereka semua tiba-tiba membola kaget, Melihat apa yang terjadi di sana. Apalagi melihat posisi.....