RAGASA

RAGASA
Ep. 19. Kecurangan Kevin



Caca dan Kevin sudah ada di cafe dengan Kevin yang masih mengobati luka Caca. Padahal, gadis itu sudah menekankan bahwa dirinya bisa sendiri, tapi tetap saja, Kevin tak membiarkan dirinya untuk mengobati lukanya sendiri.


"Gue bisa sendiri Kevin, kenapa lo tiba-tiba jadi baik gini sih?" Bingung Caca terhadap perubahan Kevin yang secara mendadak ini.


Kevin menekan luka Caca. "Bisa diem gak sih? Lo tinggal diem aja, susah amat!" Bentak kevin.


Akhirnya Caca pasrah, terus-terusan mendapat amukan dari Kevin membuat dirinya lelah, apalagi luka lebamnya terus-terusan ditekan, memang tidak ada lembut-lembutnya si Kevin ini.


"Lo mau balesan apa?" Tanya Caca berbarengan dengan Kevin yang selesai mengobati lukanya.


"Lagian gue bingung, lo kan ketua mereka. Kenapa lo hentiin mereka? Apa jangan-jangan ada udang dibalik bakwan?" Curiga Caca semakin menerka-nerka.


"Lo itu bodoh, percaya sama orang yang udah bunuh kakak lo!" Sahut Kevin tiba-tiba.


Deg!


Caca memelototkan matanya, bagaimana mana Kevin bisa tahu? Kalau dirinya mempunyai kakak yang dibunuh.


"Lo—lo tahu?" Gugup Caca.


Pasalnya tidak ada yang tahu pembunuhan ini selain anggota inti Alverage dan kak Cakra.


"Hm. Dan lo bodoh percaya sama orang yang udah bunuh kakak lo sendiri!" Balas Kevin masih dengan nada ketusnya.


"Lo gak inget ucapan gue waktu itu? Orang yang terlihat bersalah belum tentu salah, begitupun sebaliknya, orang yang terlihat benar, belum tentu sepenuhnya benar. Tapi lo? Malah nyepelein maksud dari kata yang keluar dari mulut gue!” Bentak Kevin.


Caca berdecak, siapa Kevin? Berani-beraninya menyuruhnya.


"Lo siapa? Kok tahu tentang kakak gue?" Tanya Caca tak menghiraukan pernyataan yang Kevin jelaskan.


Kevin berdecak, ”Lo tahu? Orang yang ngebunuh kakak lo ada dianggota geng Alverage?"


"Gue gak yakin soal itu, belum ada bukti kuat," kata Caca.


"Gue antara percaya sama enggak sih? Masa iya temen-temen gue tega bohongi gue kek gitu," Caca tersenyum kecut, ia tidak mau kalo pemikiran yang selama ini ia pikirkan terjadi, Caca sudah terlanjur sayang dan percaya terhadap mereka. Ia bingung harus bersikap seperti apa, kalau diantara mereka ada yang membunuh kakaknya.


"Itu namanya lo bodoh, lo udah terjebak sama permainan mereka!"


Caca terkekeh, "Lo siapa sih anjir? Kenal kakak gue? Deket sama gue? Kenapa seakan-akan lo tahu banget soal pembubuhan ini?" Kesal Caca.


"Lo kan rivalnya Alverage, bisa aja kan lo hasut gue buat benci sama mereka dan berpihak sama lo?" Lanjutnya.


Kevin menutup matanya, "Terserah lo lah, lo itu jadi bodoh gara-gara terlalu percaya sama mereka.”


"Ya terus? Mau gue percaya sama mereka kek, apa kek. Hubungannya sama lo apa? Lo siapa anjir, tiba- tiba masuk dalam kehidupan gue, seolah-olah lo tahu apa-apa, wajar dong kalau gue masih ragu sama adanya lo disini, apalagi secara tiba-tiba kayak gini."


Kevin menghela nafas, "Gue sahabatnya kakak lo dulu."


Deg!


Jantungnya semakin berdetak kencang. Malam ini, banyak fakta yang membuatnya jantungnya dag-dig-dug ser.


**


Dengan tergesa-gesa, Caca masuk ke dalam markas, ia sampe melupakan waktu yang ditaktornya yang awalnya lima belas menit jadi hampir sejam, memang selama itu.


"Lima belas menit serasa sejam!"


Sindiran bernada dingin itu membuat dirinya berbalik ke arah sumber suara dengan terbitnya cengiran khas gadis itu.


"Ma—"


Belum sempat Caca mengatakan sesuatu, tetapi ucapan bertubi-tubi itu bermunculan.


"Anjir, lo kenapa? Kok muka lo kayak gitu? Siapa yang berani mukulin lo? Bilang ke gue, siapa anjing bilang! Lo bisu hah? Bilang Ca!"


Lelaki itu menggoyangkan bahu Caca khawatir bercampur emosi. Pertanyaan bertubi-tubi dan terdapat umpatan didalamnya itu membuat Caca bingung. Raga membuat Caca bingung harus menjawab apa? Belum lagi badannya yang diguncang-guncang dengan kencang, rasanya otaknya yang berada dikepala langsung turun ke telapak kaki, saking kencangnya guncangan Raga.


"Pusing gue mau jawab yang mana dulu," balas Caca.


Raga berdecak, lalu menggeret Caca ke kursi, "Udah lo obatin?" Cemas Raga sambil mengelus-elus pipi Caca lembut.


"Udah."


Raga menghela nafas, "Biar gue kompres lagi," setelah itu, Raga langsung berlari ke arah dapur.


"ANJIR, MUKA LO KENAPA?" Teriakan Dodi mengundang semua anggota Alverage yang sedang berkumpul untuk menatap Caca.


"Siapa yang buat lo kayak gitu Ca?" Tanya Alzam.


"Iya, siapa-siapa? Biar kita hajar balik," ucap Anggota lainnya ikut menimpali.


"Ayo ngomong siapa?"


Caca memegang kepalanya pening, "Ngomong-ngomong, gue mau ngomong dari tadi, tapi lo semua yang ribut, gimana gue jawabnya coba?”


"YAUDAH NGOMONG SEKARANG!!!" Bentak mereka semua.


Banyangkan saja, hampir ada lima puluh orang yang berkumpul disana, terus tiba-tiba teriak berjamaah, siapa yang tidak kaget coba? Termasuk Caca yang sedang memegang dadanya.


Tadi otak yang pindah ketelapak kaki, sekarang bagian jantung yang loncat ke lantai gara-gara keterkejutan tiba tiba.


"Ngapain pada teriak-teriak sih? Biar gue obatin dulu, entar kita tanya-tanya," mereka mengangguk mendengar Raga yang sedang membawa kompresan ditangannya.


"Tahu lo semua, gak ada perhatiannya sama gue!" Ucap Caca dramis sembari memegang dadanya.


"BODO!” Seru mereka berbarengan lagi, lalu melanjutkan aktivitasnya masing-masing kembali.


"Sabar-sabar, nasib punya teman kek dakjal," gumam Caca pelan.


Untung dia berujar pelan, kalau saja sampai kedengaran sama mereka, bisa-bisanya semua organ Caca sudah berhamburan kemana-mana yang endingnya bakal dijual juga sama mereka.


"Kenapa bisa gini sih?" Tanya Raga lembut, sambil menyimpan kompresan itu pada Pipi Caca.


"Kecegat, terus salah jalan," balas Caca.


"Bodoh, gunain otak lo bego!" Damprat Raga.


Caca meringis, "Gue tadinya mastiin, eh ternyata bener mereka ngikutin gue."


Raga mengelus-elus pipi sebelah Caca yang tak dikompres, "Lain kali hati-hati, kalau ada apa-apa bilang, jangan kayak gini," Raga berucap dengan nada rendah nan lembut, membuat gadis itu menatap dalam laki-laki yang tengah mengobatinya.


Tiba-tiba iya teringat obrolannya bersama Kevin tadi.


Flasback.


"Lo temen kakak gue?" Caca terkekeh sinis.


"Gak mungkin, mana buktinya?" Kevin membuka hanponenya lalu menunjukan banyak foto kebersamaan mereka berdua.


"Lo masih gak percaya? Dia itu sahabat gue, sahabat yang selalu denger curhatan gue, sahabat yang selalu dukung gue apapun keadaannya, pas gue denger dia mati dibunuh, gue terpuruk banget, rasanya dunia gue hancur, orang yang gue anggap rumah itu tiba-tiba ninggalin gue."


Caca mengusap-usap punggung Kevin. Caca tahu apa yang dirasakan Kevin. Bahkan bisa dibilang ia lebih sakit dan terluka, ditinggal seorang kakak yang menggantikan peran ayah dan bundanya.


"Kalau misalnya lo tahu gue adiknya almarhum, kenapa lo gak deketin gue dan cari penyebabnya sama-sama? Kenapa lo harus jadi musuh gue?" Tanya Caca.


"Gue gak bisa, gue tahu lo orangnya susah dideketin meskipun lo friendly. Takutnya kaloau gue deketin lo, entar lo baper, kan bingung gue."


Caca memutar bola matanya malas, lalu menimpuk punggung lelaki yang sendari tadi elusnya, ia bahkan sudah merasa kasian, tetapi dengan narsisnya dia bilang semua itu, membuat dirinya kesal, padahal ini lagi masa serius-seriusnya.


"Yang ada lo yang baper bukan gue!" Ucap Caca.


"Serius anjir ah! Kenapa lo gak deketin gue, terus cari sama-sama pembunuhnya," lanjut Kevin.


"Gue gak bisa karena dulu lo udah masuk Alverage, sedangkan gue posisinya adalah ketua Libra. Jadi satu-satunya cara, ya emang jadi musuh lo."


Caca mengiyakan, pada saat masuk kelas sepuluh memang dirinya langsung dekat dengan Raga dan Raga mengajaknya masuk geng Alverage dengan alasan Raga melihatnya sedang memukuli lelaki yang sering membully.


Caca yang tak tahu apa-apa waktu itu, mengangguk-ngangguk saja, sembari mengambil kesempatan untuk mencari siapa pembunuh kakaknya melalui mereka.


"Lo masih ragu kalau pembunuh kakak lo anggota Alverage?" Tanya Kevin.


Caca mengangguk, jujur dirinya sudah terlanjur sayang dengan mereka dan tidak bisa menerima kenyataan, kalau diantara mereka ada yang membunuh kakaknya.


"Udah banyak bukti jelas, lo masih gak percaya? Yaudah, gak perlu cari siapa pembunuh kakak lo!"


Kevin berdiri hampir beranjak dari sana, tetapi suara Caca kembali membuatnya berhenti.


"Lo udah tahu pembunuhnya?"


"Tahu, tapi percuma gue kasih tahu lo, bahkan lo sendiri masih ragu, kalau diantara mereka ada yang ngebunuh kakak lo."


Setelah mengatakan itu, Kevin benar-benar meninggalkan dirinya.


Flasback of.


"Gue tahu gue ganteng,segitu banget lo liatin gue?"


Caca tersadar lalu tersenyum, lebih tepatnya senyuman kecut, ia belom siap atas fakta yang akan ia terima nantinya.


Meskipun ia belum tahu siapa pembunuh kakaknya, tetapi ia tak siap jika salah satu anggota Alverage lah yang membunuh kakaknya.


"Lo emang ganteng, ganteng banget malahan, sampai-sampai gue males ngalihin mata gue ketempat lain," Caca membenarkan diakhiri kekehan, manis.