
Seseorang misterius dengan wajah ditutupi masker dan memakai hoodie hitam, sedang melihat situasi keadaan rumah Caca yang nampaknya sedang berbela sungkawa.
Tidak hanya melihat keadaan sekitar, orang itu nampak sedang mencari-cari seseorang. Entah orang yang sama atau bukan dengan orang yang mengadu domba geng Alverage dan Libra. Yang pastinya mereka sama-sama misterius.
Bruk!
Orang misterius itu menoleh, ketika punggungnya ditabrak oleh seseorang. Matanya menyipit, ketika melihat orang itu menggunakan pakaian yang hampir sama dengannya. Masker hitam dan hoodie. Apa jangan-jangan mereka kembar?
"Lo siapa?" Tanya orang misterius pertama.
"Lah? Anda yang siapa?" Jawab orang misterius kedua.
Orang misterius pertama menghela nafas, "Tujuan lo kesini buat apa? Berbela sungkawa? Kok pake masker sama hoodie? Gak sopan banget!" Cibir orang misterius pertama.
Orang misterius kedua mendelik, "Gak ngacaya? Pakaian anda sama. Sama apa yang dipakai saya sekarang!" Balas orang misterius kedua.
"Berati tujuan lo, bukan untuk berbela sungkawa?" Tanya orang misterius pertama.
Orang misteri kedua hanya mengangguk, kenapa orang misterius didepannya ini kepo sekali.
"Tujuan lo apa?" Orang misterius pertama kembali bertanya.
"Kenapa anda sangat ingin tahu sekali?" Orang misterius kedua malah balik bertanya.
Orang misterius pertama tak menanggapi ucapan orang misterius kedua yang cukup menyakitkan, menyebutnya dengan sebutan manusia yang ingin tahu. Tapi memang itu kenyataanya, dirinya sangat kepo dengan orang misterius kedua.
"Gue disini mau hancurin geng Alverage. Geng dari cucu orang yang sekarang meninggal," kata si misterius pertama.
"Geng? Cucu Libertà masuk dalam sebuah geng?" Tanya orang misterius kedua.
Orang misterius pertama mengangguk, "Ya, cucu Libertà masuk kedalam sebuah geng Alverage dan menjadi anggota inti."
Orang misterius kedua mengangguk, lalu menatap banyaknya orang didepan sana. Dan berpikir bahwa orang yang sedang berkumpul adalah geng Alverage.
"Mau kerjasama? Lo kayaknya gak suka sama cucu Libertà." Ajak orang misterius pertama.
"Tidak, saya tidak mau berkerja sama dengan orang bodoh seperti anda," ceplos orang misterius kedua.
Orang misterius pertama menggeram marah, berani-beraninya ada yang menyebut bodoh.
"Lo yang bodoh, karena nolak kerjasama sama gue!" Ujar orang misterius pertama.
Orang misterius kedua itu terkekeh, lalu mengeluarkan pistol dari saku hoodienya.
"Jangan pernah asal bicara!" Todong orang misterius kedua.
Orang misterius kedua itu menodongkan pistolnya, tepat pada dahi orang misterius pertama.
Orang misterius kedua, mulai menggerakkan pelatuk pistolnya dengan slowmo, membuat orang misterius pertama, memejamkan matanya takut.
"Ap—apa yang lo lakuin bangsat!" Gagap orang misterius pertama.
Dor!
Suara pistol terdengar nyaring ditelinga. Orang misterius pertama membuka matanya perlahan, ketika peluru itu tidak sampai diotaknya.
Orang misterius kedua terkekeh, berani-beraninya orang didepannya ini mengatakan dirinya bodoh. Padahal orang misterius pertamalah yang bodoh, karena bisa-bisanya menyebut dia bodoh.
Dor!
Pistol kembali ditembakan, tepat pada kaca kedua yang ditujunya. Memang, sasaran pertama yang dia lakukan orang misterius pertama adalah kaca, tidak mungkin, ia membunuh orang baru saja dikenalnya ini.
"Lemah! Hanya mendengar suara tembakan saja, anda menutup telinga. Bagaimana anda bisa menghancurkan geng Alverage yang nampak anggotanya kuat-kuat?" Cibir orang misterius pertama.
Setelah mengatakan itu, orang misterius pertama berjalan meninggalkan rumah Caca, karena orang-orang disana, mulai mencari seseorang yang telah menembak kedua kaca besar dilantai atas.
Karena masih dalam keterkagetan, orang misterius pertama hanya melihat kepergian orang misterius kedua dengan seksama dari belakang.
Didalam benak orang misterius satu bertanya-tanya, siapa orang tadi? Kenapa dia bisa keren dan menyeramkan dalam satu waktu? Berbeda sekali dengan dirinya.
Baru saja orang misterius pertama hendak berdiri, dua tembakan berhasil dilayangkan dari dalam.
Dor!
Dor!
Menghela nafas sebentar, lalu lari meninggalkan tempat, takut-takut ia akan menjadi sasarannya, karena berpakaian misterius.
**
Orang misterius satu membuka tudung hoodienya, lalu membuka maskernya dan masuk ke dalam sebuah markas.
Ia mendekat, ketika melihat bosnya duduk disebuah tempat, dirinya mendekat.
"Saya mau cerita bos," kata orang misterius itu.
Yang menjadi bos memutar bola matanya malas, yang ia mau adalah informasi tentang bagaimana kondisi rumah Caca, tetapi kenapa? Anak buahnya malah akan bercerita?
"Saya tidak ada waktu mendengar ceritamu! Yang saya butuhkan adalah, informasi keadaan disana!" Bentaknya.
"Tapi bos, ini cukup penting untuk diceritakan, apa bos tidak mau mendengarkannya?"
"Yasudah ceritakan," malas sang bos, sembari berdecak dan memutar bola matanya kembali.
"Pas tadi saya melihat kondisi bagaimana rumah Caca, tubuh belakang saya ditabrak oleh manusia yang berpakaian sama seperti saya, memakai hoodie dan masker. Pas saya tanya, 'anda mau berbela sungkawa bukan?' orang itu jawab, bukan. Tapi nampaknya, orang itu membenci Caca juga bos," ucap si misterius.
"Saya gak tahu tujuan dia apa, tapi yang pasti bos, dia keren banget sumpah. Awalnya dia nodongin pistol didahi saya kan, saya kira mau nembak saya, tapi ternyata, orang itu nembak dua kaca jendela rumah Caca dan ngebuat penghuni disana pada ribut, karena takut, mungkin. Pas selesai nembak dan ngebuat dua kaca jendela Caca pecah, dia pergi aja bos. Pokonya, vibesnya kayak mafia-mafia gitu, jalannya enteng aja meskipun udah nembak dua kaca rumah orang."
Orang misterius itu, menceritakan semuanya dengan menggebu-gebu, ketika orang misterius kedua menembakkanan pelurunya ke arah dua jendela rumah Caca.
"Karena terlalu keren, saya pernah mengajak dia kerja sama bos. Karena menurut saya, tujuan bos dengan dia sama. Boskan menghancurkan Alverage, sedangkan orang itu menghancurkan Caca bos."
"Terus, dia bilang apa? Pas kamu gajaknya kerja sama?" Tanya bosnya malah penasaran.
Orang misterius itu cemberut, ketika mengingat kata yang diucapkan orang misterius kedua kepadanya.
"Gak mau. Katanya, dia gak mau berkerja sama dengan orang bodoh seperti saya. Padahalkan, orang itu belum pernah sama sekali melihat saya, tapi saya udah dibilang bodoh aja!" Kesal orang itu.
Si bos terkekeh, "Kamu memang Bodoh. Bahkan, orang baru pertama kali melihatmu, menyebutmu bodoh!" Si bos tertawa terbahak-bahak.
Orang misterius itu memutar bola matanya, "Tapi saya selalu menjalankan tugas bos dengan baik kan?" Tanya orang misterius itu dengan tatapan datar.
"Iya-iya, walaupun gak semuanya," jawab bos itu kembali tertawa.
"Bos menyebalkan!" Kesalnya.
Sang bos meredakan tawanya.
"Kamu tahu ciri-ciri orangnya seperti apa?"
Orang misterius itu menggeleng, "Gak, kan dia memakai maker."
Bos itu mengangguk, benar juga, bagaimana anak buahnya bisa mengetahui ciri-ciri orang itu, sedangkan orang itupun memakai masker untuk menutupi wajahnya.
"Yaudah, kita cari orang itu lain kali. Sekarang, ceritakan bagaimana keadaan disana?"
"Keadaannya memang seperti berbela sungkawa orang biasanya bos, gak ada yang aneh. Cuman aja, lebih ramai. Mungkin karena rekan kerja kakeknya Caca." Ucap orang misterius itu.
Bos menghela nafas, pantas orang baru itu menyebut anak buahnya bodoh, ternyata kenyataan memang bodoh.
"Maksud saya, keadaan disana banyak anggota Alverage gak? Kan kita emang lagi liat situasi anggota Alverage, bukan keadaan berbela sungkawanya. Emang kamu jadi keamanan disana, sampai-sampai melihat situasi seperti itu?"
Orang misterius itu nyengir, lalu menggaruk tekuknya. Ia juga ya, dirinya bukan keamanan, kenapa dirinya yang mengontrol keadaan disana coba, haha.
"Maaf bos, otak saya agak ngelag sedikit. Tapi nampaknya, semua anggota Alverage ada disana, karena yang saya tahu, anggota Alverage menjadi keamanan."
Si bos itu tersenyum, "Bagus, markasnya pasti kosongkan? Kita hancurkan markas itu untuk kedua kalinya, saya hanya ingin melihat betapa kagetnya mereka, ketika markasnya hancur berantakan lagi."