
“Kenapa lo ajak keluar? Udah jelas Caca lagi gak baik-baik aja, kenapa lo bawa Caca keluar Raga!”
Dodi menutup wajahnya. Rasanya ingin menangis saja, tetapi takut menjadi bahan ejekan. Caca, perempuan itu adalah sahabat terbaiknya, meskipun mereka sering cekcok, tetapi Dodi sayang menyayangi perempuan itu.
Malas mengakui bahwa memang dia menyayangi Caca, tetapi itu kenyataannya. Lelaki tak baik-baik saja, ketika Caca pun sedang merasakan keadaan yang sama.
“Besok lusa, dia operasi buat kanker otaknya. Dia minta gue anterin dia ke makam keluarganya, karena dia di izinin dokternya sendiri. Gue nyesel, udah turutin kemauan dia, gue juga gak mau kejadian ini terjadi Dod, siapa yang mau kejadian ini terjadi gue tanya, hah?!””
“Hiks hiks hiks hiks, Gue sayang dia, gak mungkin gue mau kejadian ini terjadi!”
Raga mendudukkan dirinya, lalu membentur-benturkan kepalanya di tembok. Kenapa? Kenapa semua ini sampai bisa terjadi? Caca berniat untuk sembuh bukan? Kenapa kejadian ini terjadi? Bagaimana jikalau Caca—, Raga menggeleng-gelengkan kepalanya, menghalau pikiran negatif, yang tiba-tiba mengerumuni otaknya.
Semua orang di sana tampak kacau. Bima dan Bella yang saling berpelukan menguatkan, terlebih lagi Bella yang menangis, mengharuskan Bima menguatkan istrinya itu meskipun Bima sama kacaunya. Di mana, dan bagaimana pun keadaannya, pasutri muda itu selalu menampilkan kemesraannya.
Alzam yang sedang menelungkupkan kepalanya, di susul usapan tangan lembut Sasa yang menguatkan lelaki itu. Tidak lupa di sebelahnya, Dodi yang tampaknya lebih kacau, dengan rambut yang sudah acak-acakan, karena usapan kasar oleh dirinya sendiri.
Suara hak yang menggema, sama sekali tak mengalihkan atensi mereka semua. Mereka semua hanya fokus, pada pikirannya masing-masing.
“Huh huh, Raga... Caca kenapa Ga? Caca kenapa sayang?” Renita mengusap-usap rambut Raga, membuat lelaki itu mendongak.
“Bunda....” ucap Raga, membuat Renita memeluknya.
“Aku takut bunda... takut Caca kenapa-napa,”
“Enggak, percaya sama bunda. Caca gak akan kenapa-kenapa,”
“Tapi bunda, Caca sama sekali gak buka matanya, pas aku suruh, dia sama sekali gak buka matanya. Dia gak dengerin omongan aku bunda, Aku takut... Caca gak bangun lagi,”
Renita mengusap-usap wajah anaknya, “Enggak, Caca kan kuat. Kamu tahu itu kan? Caca gak mungkin, kayak yang kamu omongin Raga...”
“Tapi bunda—“
“Hust.. kita tunggu yah? Pegang omongan bunda, Caca gak akan kenapa-kenapa.”
Sudah hampir dua jam, mereka menunggu di depan ruang operasi, tetapi ruangan itu sama sekali belum terbuka, membuat orang yang dari tadi menunggu merasa resah.
“Bunda, kenapa ruangannya gak kebuka dari tadi? Caca gak kenapa-napa kan?” tanya Raga.
Renita mengangguk ragu. Entahlah, pikirannya pun tiba-tiba berkelana kemana-mana, meskipun terus mencoba berpikir positif, bahwa anak yang di anggap anak kandungnya itu, akan baik-baik aja.
Ceklek
Pintu ruang operasi terbuka, membuat semua yang ada di sana, menghampiri Dokter dengan tergesa-gesa.
“Bagaimana keadaan anak saya Dok?” tanya Renita.
Terlihat Dokter itu sedikit menunduk “Maaf sebelumnya, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi tuhan berkata lain. Beliau mengidap kanker otak, dan benturan yang terjadi akibat kejadian tadi cukup berdampak pada kinerja otaknya. Kami berusaha untuk mengoperasi langsung dalam keadaan seperti tadi, tetapi tetap saja, Pasien tetap tidak bisa terselamatkan,”
“Gak usah ngarang! Kata bunda dia bakalan baik-baik aja! Jadi lo gak boleh ngomong yang enggak-enggak!”
Raga berjalan, seraya menubruk bahu Dokter itu untuk masuk ke dalam ruangan. Lelaki itu mendekat ke arah manusia yang sudah di tutupi oleh kain putih.
Menghela nafas pelan, lalu membuka kain itu secara perlahan. Terdengar tertawaan sumbang yang keluar, ketika lelaki itu sudah membuka kain kafan itu sepenuhnya.
“Gak usah prank gue, lo kira gue percaya?” ucap Raga menatap wajah yang tampak sudah pucat pasi itu.
“Bangun lo! Gak usah pura-pura mati kayak gini! Gue gak suka! Bangun Ca! Bangun!” Raga menggoyang-goyangkan tubuh perempuan itu, merasa tak ada reaksi apapun Raga mendudukkan dirinya.
“Katanya lo gak akan tinggalin gue? Ini apa Ca? Ini apa? Kenapa lo harus kasih gue harapan, kalo hasilnya kayak gini, kenapa Ca?”
“Bangun Ca, jangan kayak gini... gue gak suka!”
“Ini semua gara-gara lo!” ucap Dodi, yang sendari tai hanya diam di depan pintu.
“Ini semua gara-gara lo! Gak mungkin Caca tinggalin kita sekarang, kalo misalnya lo gak mau nganter dia ke makan keluarganya! Ini semuanya gara-gara lo!”
Dodi mendekat sambil menarik kerah baju Raga, membuat lelaki itu bangun dari duduknya.
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Beberapa pukulan terus di layangkan Dodi ke wajah Raga, lelaki itu seolah-olah menjadi buta, bahwa yang sedang di pukulinya sekarang itu adalah temannya.
“Inti dari permasalahan itu munculnya di lo! Caca gak mungkin kayak gini, kalo bukan karena lo! Caca gak mungkin sembunyiin penyakitnya kalo bukan karena lo bohongin dia! Caca pasti gak akan kayak gini, kalo bukan lo Raga!”
Raga menundukkan kepalanya, lelaki itu tak membalas pukulan Dodi. Raga berpikir, apa yang di katakan Dodi adalah kenyatannya. Benar kata Dodi, Caca tidak mungkin mejadi seperti ini, jikalau dirinya dari awal sudah terus terang pada Caca. Benar kata Dodi, semua ini karenanya, Caca celaka pun itu karenanya.
“Maaf...” itu, hanya itulah kata yang keluar dari mulut lelaki itu.
“Maaf lo bilang? Apa dengan kata maaf sampah lo? bisa balikin teman gue? Enggak kan? Mikir anjing!”
“Bagus lo kayak gitu hah? Kalo mau berantem, jangan di sini! Di luar sana!” seru Alzam dingin, merasa muak dengan tingkah laku lelaki di depannya.
“Dan lo Dodi, bukan lo doang yang merasa kehilangan di sini, kita semua! Jadi stop salahin Raga! Ini takdir! Bukan karena salah Raga!”
Dodi tertawa, “Lo bilang gini, karena Raga temen kecil lo, makanya lo belain dia! Lo gak mikir apa? Ini semua gak akan terjadi, kalo Raga gak berbohong waktu itu!”
“Kenapa diem?” Dodi bertanya sambil menaikkan satu alisnya “Bener kan? Temen kecil lo yang nyebabin semua ini!”
“Katanya sayang, tapi dia sendiri yang nyebabin ini semua, lucu ya?”
“Mulut lo bisa diem gak sih anjing?!” sahut Alzam, merasa terpancing emosi.
“Enggak! Mulut gue gak akan bisa diem, sebelum lo semua sadar, bahwa emang Raga lah penyebab semua ini!”
Terlihat Alzam yang menghela nafasnya meredam emosi “Jangan pancing emosi gue, jangan biarin gue abisin lo di sini!”
“Ap—“
“Udah lah Dod, jangan sekarang. Mendingan kita berdoa buat Caca di sini. Tahan emosi lo, lo boleh marah, tapi gak sepantasnya lo marah di sini,” Bima mendekat untuk mengusap-usap bahu Dodi menenangkan.
“Kalo lo emang sayang Caca, jangan kayak gini. Dia pasti sedih liat lo kayak gini, Dod.”