
Raga menunggu Caca di parkiran, karena lelaki itu melihat motor Caca masih terparkir di sana.
Raga celingukan, kemana perempuan itu? Setelah obrolan singkat mereka yang di lakukan di kelas, Caca tidak terlihat lagi. Padahal biasanya, perempuan itu akan nangkring di kantin sampai pulang, atau tidak berdiam diri di rooftoop kalo misalnya membolos.
Senyum Raga tiba-tiba mengembang, ketika orang yang di tunggu-tunggunya itu datang.
“Kemana aja lo? Kok gue cari-cari ke mana-mana gak ada?” Raga bertanya seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Laki-laki itu hanya ingin, hubungannya kembali seperti semula.
“Ada,” Jawab Caca, tanpa sama sekali melirik Raga, perempuan itu langsung saja berjalan menuju motornya.
“Eh, eh, jangan dulu pulang, gue mau ngobrol,” tahan Raga memegang pergelangan tangan Caca.
“Gak bisa, gue sibuk,” balas perempuan itu.
Raga cemberut tak suka, mematikan motor Caca, lalu memangku perempuan itu seperti karung beras.
“Turunin gak?!” kesal Caca, terus-terusan memukul punggung Raga, supaya di turunkan.
Raga tak menghiraukannya, setelah sampai di taman sekolah, Raga mendudukkan Caca, lalu menatap perempuan itu.
“Nyebelin banget si lo!” desis Caca, yang kini memandang Raga dengan tatapan tak suka.
“Lo yang nyebelin! Sok sibuk banget!”
Caca berdecak “Lo gak paham ya? Stop bertingkah seolah-olah diantara kita gak terjadi apa-apa! Stop seolah-olah lo emang gak ngelakuin apa-apa! Stop Raga! Stop!” Caca berkata dengan nafas memburu, perempuan itu tampaknya lelah menjelaskan apa yang terjadi terhadap lelaki di depannya ini.
“Ca,” panggil Raga, sembari memegang tangan Caca lembut.
“Maafin gue, gue gak berniat buat bohongin lo hampir tiga taun lamanya Ca. Gue sayang lo, gue takut Lo pergi kalo gue jujur tentang semuanya,”
“Maaf, waktu itu gue masih di kerumunin sama amarah Ca. Sampai-sampai gue gak bisa berpikir jernih dan bunuh kakak lo gitu aja. Coba lo bayangin Ca, lo dapat kabar kakak cewek Lo di perkosa, lo bakal marah gak? Marah kan?”
Caca tertawa merasa lucu dengan apa yang Raga katakan, “Jelas gue bakal marah. Tapi coba lo mikir lagi, ketika gue dapat kabar kakak gue di bunuh, apa gue langsung bunuh orang yang jadi tersangka? Enggak kan? Dan ketika gue tahu pun, lo yang jadi pembunuhnya, apa gue langsung bunuh lo waktu itu? Mikir Raga! Mikir!” Caca menunjuk-nunjuk letak otaknya dengan jari telunjuknya.
“Dan satu lagi, gue gak akan jadi bodoh kayak lo, yang bunuh orang seenaknya, tanpa cari bukti dulu!” ucap Caca lagi.
“Maafin gue, maafin gue Ca. Gue harus gimana biar lo bersikap kayak dulu lagi sama gue? Tatapan teduh lo, jawaban antusias lo, semua tentang lo gue kangen Ca,”
“Gue udah maafin lo,” satu kalimat yang Caca lontarkan, membuat mata Raga berbinar antusias.
“Beneran?” tanya Raga.
“Ayok! Lo harus ikut ke rumah gue, bunda nanyain lo terus tahu, bunda kangen katanya,” Caca masih diam di tempat, ketika Raga menarik tangannya, membuat lelaki itu. Mengerutkan alisnya.
“Kenapa? Ayok ihh! Bunda udah nungguin pasti,” ucap Raga lagi.
“Gue gak mau ikut, gue mau pulang,” Ucap Caca lalu berdiri dari duduknya.
Raga ikut berdiri, lelaki itu memandang Caca tak suka, ketika mendengar penolakan yang terlontar di mulut perempuan itu. “kok lo gitu sekarang? Katanya lo udah maafin gue?”
“Gue maafin lo bukan karena gue, tapi karena Kakak gue,” setelah mengatakan itu, Caca pergi meninggalkan Raga.
Raga tersenyum miris “Lo berubah Ca, dan sialnya itu karena ulah gue sendiri,”
|•••|
Caca mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Awalnya perempuan itu tampak tenang dan biasanya saja, tetapi ketika melihat segerombolan orang yang tampaknya mengejarnya, mimik wajah tenang itu kian sedikit berubah menjadi cemas.
Tidak, Caca tidak menambah kecepatannya, perempuan itu bertingkah seolah-olah memang tidak ada yang terjadi apa-apa.
Melirik kaca spion, lalu membelokkan motornya, ke jalanan sepi yang jarang di lewati orang-orang. Benar saja, segerombolan orang bermotor itu seolah-olah menampakkan dirinya bahwa sedang mengejar Caca.
“Lo mau apa bangsat?!” maki Caca, menendang motor seseorang yang berada di sampingnya.
Terlihat senyuman di balik helm orang yang baru saja tendang motornya. Motor seseorang itu tampak sedikit oleng, tetapi tak membuat seseorang itu jatuh, “Tidak ada,” balas seseorang itu dengan tenang, tetapi tetap menyeret motor Caca supaya terus ke samping.
Caca baru saja mengembangkan senyumnya, karena berhasil melumpuhkan satu motor, tetapi tiba-tiba...
Bruk
Motornya ikut di tendang, oleh orang yang berada di samping motor sebelahnya. Karena tanpa persiapan, Caca ikut terjatuh ke aspal, menyusul orang yang di tendangnya.
“Berani-beraninya lo!” Caca berdiri, lalu mengecek setiap inci Ducati barunya, perempuan itu tampak kesal, ketika menemukan beberapa lecet di tubuh si Ducati.
“Motor gue lo bikin lecet! Gue lecetin tuh muka,” Caca berjalan ke arah orang yang menendangnya, tetapi tiba-tiba menghentikan langkahnya begitu saja.
“Muka lo kayaknya udah lecet, makanya pakai masker, gak mungkin kan? Kalo ganteng tuh muka di tutup-tutupin, awokawowk,” Caca tertawa, lalu menutup mulutnya, seolah sedang berbicara keceplosan.
“Bangsat! Berani-beraninya lo!” orang itu melayangkan pukulan, tetapi Caca cepat-cepat menghindar, membuat pukulan itu meleset.
“Gak kena, gak kena!” Caca menjulurkan lidahnya mengejek.
Terlalu fokus dengan musuhnya yang di depan, sampai melupakan bahwa orang yang terjatuh karena tendangan Caca itu berdiri, dan berjalan mengendap-endap ke arah Caca, dengan pisau di tangannya.
Bleshh
Caca berbalik, mata perempuan itu membulat kaget.
“Ca sakit,” Ringis seseorang.
Bukan, bukan Caca lah yang kena tusuk disini, tetapi seseorang yang menyelamat perempuan itu.
“Bangsat! Mau kemana Lo semua?!” seru Caca, ketika orang yang menusuk temannya itu pergi begitu saja.
“Kenapa lo selamatin gue sih anjir?!” kesal Caca, lalu berjongkok di depan orang yang menggeletakkan tubuhnya sendiri.
“Kenapa lo selamatin gue? Sok pahlawan banget jadi orang,” maki Caca lagi.
“Jangan marah dulu, sakit,”
“Udah tahu sakit, kenapa lo tolongin gue?” Caca membopong orang itu, tetapi orang itu malah mengambil kesempatan untuk memeluknya.
“Ca sakit ca,” orang itu terus mengerang kesakitan, dan semakin memepetkan tubuhnya dengan Caca.
“Bisa gak usah mepet-mepet?” tanya Caca, dengan mata malasnya. Pasalnya, setengah badan orang itu menempel pada tubuh Caca.
“Biar sakitnya berkurang,” balas orang itu.
Caca menghela nafas, perempuan itu merogoh sakunya untuk menelepon Alex.
“Halo Lex, bisa kejalan lama?” tanya Caca, ketika Alex mengangkat teleponnya.
“Bisa Nona, ada apa?”
“Raga perutnya ke tusuk, jadi cepetan!”
“Baik Nona,” setelah mengatakan itu, Alex menutup teleponnya.
“Ca sakit,” ucap Raga, semakin menyenderkan kepalanya di bahu Caca.
“Lebay banget perasaan! Siapa suruh sok jadi pahlawan! Ketusuk rengek-rengek, berisik banget deh!”
“Orang perih Ca, dalam banget tusukannya,” Raga tersenyum di dalam pelukan Caca. Lelaki itu mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Padahal lukanya tidak terlalu sakit, hanya saja, lelaki itu sangat merindukan pelukan perempuan yang sedang di dekapnya ini.
“Lepas dulu pelukannya, biar gue liat luka tusukannya sedalam apa,”
“Gak mau lepas, maunya peluk terus,” kata Raga.
Caca sedikit mengerutkan dahinya, ada aPa dengan Raga? Apakah setelah tertusuk, otak Raga sedikit oleng?