
Raisa Atau yang biasa di sebut Sasa itu sedang mengotak-atik laptop di depannya.
Wanita itu tersenyum, ketika poster yang di buatnya sudah selesai.
Rumor tentang Hubungan Bima dan Bella itu salah!
Itu fitnah yang di sebarkan oleh Raisa Agnesia Pancara, Kelas 12 IPS 3. Karena tidak terima di jodohkan dengan Alzam
Itulah Tulisan yang berada di dalam poster yang di buat cewek itu. Raisa melakukan itu karena tidak terima bertunangan dengan Alzam, dan yang menjadi sasarannya adalah Bima dan Bella. Apakah memang betul itu alasannya?
Sasa tersenyum, ia harus merasakan apa yang Bella rasakan. Di benci semua orang, ia juga harus mendapatkannya. Tidak adil, jika hanya Bella yang tak salah apa-apa di salahkan.
Wanita itu berjalan ke tempat fotokopi untuk memprint karyanya itu.
"20 lembar aja bang," Ucapnya, sembari menyerah flashdisk
"Berapa bang?" Katanya, ketika tukang fotokopi itu sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"30 ribu aja neng,"
"Gak bisa kurang Mang? hehehee" cengir Sasa, sembari menggaruk tekuknya.
"Kamu pikir ini pasar malam? Maen tawar-menawar, cepet bayar!" Sinis tukang fotokopi itu.
Sasa cemberut lalu mengeluarkan uang tiga puluh ribu itu, “Yakin gak bisa kurang Mang? uang saya segini-gini nya loh. Saya belum makan dari pagi,"
Tukang fotokopi itu merebut uang Sasa secara kasar, “Bukan urusan saya, jadi sana pergi!"
Sasa mendengus, lalu mengambil hasil printnan itu “Judes banget sih! Masa iya gue harus jalan ke rumah sakit sih?" Monolognya.
|•••|
Caca yang akan kontrol ke rumah sakit, menghentikan langkahnya ketika melihat Sasa yang sedang berdiri di tempat administrasi. Wanita itu berjalan mendekat untung menguping apa yang Sasa bicarakan.
"Ini uangnya, berati adik saya udah bisa di operasi kan?" Tanya Sasa, sembari menyodorkan sebuah berwarna coklat.
"Iya, adik anda sudah bisa operasi,"
Sasa tampak undur diri, membuat Caca pun ikut mengikuti, tampaknya ia penasaran sekarang.
Terhenti lah Caca di depan sebuah bangsal, karena Sasa masuk ke dalam bangsal itu. Ia mengintip sedikit, karena memang, pintunya tidak tertutup sepenuhnya.
"Kamu hari ini bisa Operasi," Terlihat, disana Sasa sedang mengusap-usap pucuk kepala seorang perempuan.
"Emang kakak udah ada uangnya ya?" Tanya adiknya Sasa, Caca pun tak tau namanya siapa.
"Kalo masalah uang mah gampang. buktinya, kamu bisa operasi sekarang,"
Adik Sasa memeluk Sasa,"Makasih Kakak, Kila senang banget.... bentar lagi mau sembuh,"
Terlihat Sasa yang membalas pelukan itu “Udah makan belum?" Tanya Sasa.
"Udah, tapi gak enak. Makanan rumah sakit, selalu gak enak!"
Sasa tertawa, “Hari ini, kakak gak bisa beliin makanan yang enak dulu. gak papa kan? makan makanan yang di kasih rumah sakit aja?"
Kila terlihat mengangguk "Gak papa kok, kakak udah makan?"
"Udah, kakak udah makan kok,"
Setelah mendengar semua itu, Caca kembali menegakkan tubuhnya. lalu berjalan, ke lawan arah untuk masuk Ruang yang biasa ia kontrol.
Wanita itu berfikir, apakah Sasa melakukan itu hanya karena gabut semata? nampaknya tidak masuk akal. Terlihat jelas bukan? Sasa sibuk mengurusi adiknya, kenapa juga gabutnya harus seperti itu?
Apa karena tidak mau di jodohkan dengan Alzam? kenapa juga yang menjadi sasaran harus Bella? Kenapa tidak Alzam saja secara langsung.
"Ada yang gak beres nih," Monolog Cewek itu.
|•••|
Sasa mengusap-ngusap Rambut Kila adiknya. Adik perempuannya itu sangat-sangat manja padanya, makanya... ia akan melakukan apapun untuk adiknya tersayangnya ini.
"Kakak ada urusan. Kakak bakal suruh Ari kesini, kalo kamu mau ada temen," Ucap Sasa.
Kila cemberut tak terima, baru saja bertemu, kakaknya Sasa sudah akan meninggalkannya lagi.
"Mau kemana? baru juga sampai," Kila melengkungkan bibirnya kebawah, tak suka.
"Ada urusan sebentar, kalo udah selesai Kakak janji langsung balik,"
"Kakak telepon Ari ya?" Ucap Sasa kembali,
"Gak perlu, kak Ari udah kesini tadi. Aku butuhnya kakak, bukan kak Ari!" Ucap Kila.
"Bentar dulu sayang, Kakak janji langsung balik lagi,"
Kila cemberut, lalu melepaskan pelukannya "Yaudah, terserah Kakak aja!”
"Janji ya?"
"Iya sayang janji," Kila tersenyum, lalu membalas tautan tangan itu.
"Kakak berangkat dulu ya?" Kila mengangguk, membuat Sasa mencium pucuk rambut Kila, lalu berjalan keluar kamar.
"Hati-hati kak!" Teriak Kila.
|•••|
Sasa celangak-celinguk, lalu memanjat pagar sekolah, ketika melihat di sekelilingnya tidak ada siapa-siapa.
Setelah berhasil loncat pagar, wanita itu masuk kedalam, menempelkan satu- persatu poster yang di buatnya tadi, di tempat-tempat yang pasti banyak pengunjungnya. Tidak lupa mencopot foto-foto Bima dan Bella.
Setelah di rasa semuanya sudah selesai, Sasa cepat-cepat pergi dari sana.
Memanjat pagar kembali, lalu duduk di tempat halte bus.
Membuka handphonenya, lalu membuka grup sekolah semua angkatan. jadi grup itu berisi, semua murid sekolahnya.
Mengirim video cctv, tentang dirinya yang sedang menempel-tempelkan foto Bima dan Bella. dengan seperti itu, semua murid pasti percaya, dan akan berhenti menyalahkan Bella, kini dirinya yang akan di salahkan.
Ia mematikan handphonenya, ia yakin teman-temannya pasti akan ramai-ramai menghubungi dirinya, ketika melihat orang yang ada di cctv itu.
Fyi. kenapa Sasa bisa punya video cctv nya, pada saat masang foto mesra Bima dan Bella. karena memang dirinya lah yang menghapus cctv itu, sebelum menghapus video itu, ia segera menyalinnya di flashdisk.
"Selesai," Katanya bangga.
|•••|
Disisi lain, Caca terus memikirkan kejadian tadi, kejadian yang tadi di lihatnya di rumah sakit. Wanita itu tak percaya, Sasa melakukannya hanya karena gabut, atau karena di jodohkan oleh Alzam, semuanya tampak tak masuk akal bagi perempuan itu.
"Ngelamun Lo!" Sentak dodi tiba-tiba, sembari menepuk pundak Caca cukup keras.
"Jangan ngagetin anjir!" Kesal Caca, membalas tepukan keras itu.
"Ngelamunin apa sih Lo?" Tanya Dodi, duduk di sisi Caca.
"Sasa," Balas Caca.
"Ngapain Lo mikirin dia?!" Sahut Alzam nyolot.
"Gue ngeliat dia di rumah sakit, Bener kata Alex, adiknya Sasa di rawat, dan yang gue dengar, adiknya Sasa mau operasi," Ucap Caca.
"Jadi, Gue mikir.... gak mungkin dong, Sasa ngelakuin hal itu gara-gara gabut, toh dirinya sibuk urus adiknya yang bentar lagi operasi. Dan, menurut gue juga bukan karena gak mau di jodohin sama alzam, itu hanya opininya dia, karena Alzam kasih pertanyaan," Tambahnya.
"Apapun alasannya, dia tetap salah!" Sinis Alzam.
"Iya, siapa juga yang ngebenerin dia. Apa yang di lakuin dia salah, gak ada yang ngebenerin dia, sensi amat lo si Zam!" Semenjak kejadian tadi, Alzam lebih menjadi sangat-sangat sensitif.
"Tau Lo Zam, nyolot banget. Bima aja diam-diam aje yang jadi korban. Kenapa Lo yang marah Sama ketar-ketir? mulai suka ya Lo sama dia?" Goda dodi.
Alzam berdecih, "Bukan suka, Gue malah makin benci sama dia!"
"Hati-hati Zam, benci sama cinta itu beda tipis," Kata Dodi.
"Bener, beda tipis." Timpal Caca.
Dodi yang sedang menertawakan wajah alzam, harus terhenti karena ada yang berani menghubunginya.
"Halo Bim, Ada apa?" Tanya Dodi, ketika Bima lah yang menelepon. Dodi sengaja mengloadspeaker supaya semuanya bisa mendengar.
"Sasa Barusan datang ke apart, dia minta maaf sama gue, sama Bella juga,"
Mereka semua saling lirik, ketika mendengar ucapan itu.
"Terus, Lo maafin dia?"
"Gue belum, tapi istri malaikat gue yang baik hati, udah maafin dia,"
"Gimana wajahnya, keliatan nyesel gak? atau biasa aja?"
"Mukanya sih yakinin banget nyesel, tapi gue gak terlalu percaya sampai dia lagi, takut-takut nyakitin Bella sama calon anak gue,"
"Ada apaan sih?" Tanya raga yang baru saja datang, Lelaki itu langsung merebahkan dirinya di paha Caca.
"Heh, ganggu aje Lo!" Kesal Dodi, terhadap raga.
"Udahan dulu deh, udah beres juga kan yang Lo omongin?" Dodi langsung saja, mematikan sambungan teleponnya.
"Lo kenapa si dod? cemburu sama raga?" Tanya Caca, menahan tawa.
"Cih, najis gue cemburu sama raga cuman karena Lo!"