RAGASA

RAGASA
Ep. 46. Dokter Sinting



Mereka berlima kembali ke rumah sakit, karena Caca di bawa oleh Raga ke rumah sakit. awalnya Caca menolak, tetapi Raga yang memaksa.


"Kamu mainnya kemana sih? luka tembakan kemarin aja belum sembuh, sekarang luka tusukan. udah saya bilang, jangan dulu pulang, ini jahitannya hampir kebuka lagi, karena kamu banyak gerak," Cerocos dokter itu, sembari mengobati luka Caca.


Caca diam, cewek itu sedang berusaha menikmati kesakitan ini, kesakitan yang dulu di derita Kakaknya.


"Sudah selesai, jangan banyak gerak, dan jangan pulang dulu, sebelum saya suruh. saya pamit dulu, mau cek pasien yang lain," Dokter pergi, meninggalkan Caca dan yang lainnya.


"Lo Semua balik deh, gue mau sendirian," Katanya, tanpa memandang mereka sama sekali.


"Gue gak mau, gue mau temenin Lo!" Balas Raga.


"Tapi gue gak mau Lo temenin!" Ucap Caca.


"Bodo, gue tetap mau disini!" Jawab lelaki itu.


Caca menghela nafas, lalu menatap mereka semua “Gue mau sendirian dulu Ga, tolonglah," Katanya, sembari menatap Raga memelas.


Ketiga lelaki itu hendak menyeret Raga, tetapi Raga malah berdiam diri di tempat.


"Ga... biarin Caca sendiri, mungkin dia lagu kangen kakaknya," Ucap Alzam, di angguki Bima dan Dodi.


"Biarin dia sendiri dulu," Lanjut Alzam


Raga mengangguk, lalu berjalan ke arah Caca, “Gue pulang, tapi kalo ada apa-apa langsung telepon," 


Caca mengangguk mengiyakan, membuat Raga terpaksa harus keluar.


"Inget! kalo ada apa-apa telepon!" Katanya lagi.


"Jawab Ca, jangan ngangguk aja!" Raga berucap dengan intonasi yang naik satu oktaf, karena Caca hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.


"Iya Ga, gue telepon kalo ada apa-apa," 


"Drama banget si Lo! keluar ruangan aja susahnya nauzubillah!" Timpal Dodi, menyeret Raga.


"Lo Bertiga pulang aja, gue mau nunggu disini," Ujar Raga, duduk di kursi luar ruangan.


"Biarin aja lah, dasar batu!" Dodi yang terlanjur kesal karena drama Raga, lebih memilih merangkul bahu Alzam dan Bima, untuk di seretnya keluar ruangan.


"Nambah dah, populasi batu di dunia ini. Alzam manusia batu, karena kaku. Raga si kepala batu, karena keras kepala. cuman gue aja yang benar di antara kalian semua," Ucap Dodi.


|•••|


Caca mendongkak menatap langit-langit. Memejamkan matanya, merasakan rasa yang di rasakannya saat ini, seiring dari matanya yang tertutup, air mata keluar tanpa di minta di kelopak mata cantik wanita itu.


Wanita itu tersenyum, merasa kakaknya ada disini dan melihat dirinya.


"Kakak hiks hiks hiks, aku kangen hiks, kakak kenapa gak peluk aku? kenapa kakak cuman liatin aku aja, kakak udah gak sayang sama aku lagi?"


Cewek itu kembali menangis, bahkan lebih keras dari sebelumnya. ia membuka matanya, lalu memegang dadanya yang tiba-tiba sesak.


Caca tertawa, halusinasi itu datang lagi, halusinasi tentang Kakaknya selalu datang menghantui. itu seolah-olah menjadi rasa bersalahnya, tentang kematian kakaknya.


"Cape rasanya hidup di keramaian tetapi merasa sendirian," monolog perempuan itu.


Caca turun dari ranjangnya, sembari menggeret infus. mungkin, ia akan ke taman rumah sakit, hanya sekedar menikmati angin malam.


Ceklek


Baru saja pintu di buka, tetapi Raga langsung lari menghampiri, “Mau kemana Lo!" Sentak Raga.


Caca memegangi dadanya kaget, Baru saja keluar, Raga sudah mengagetkannya.


"Kenapa Lo gak balik?" Tanya Caca.


"Gimana mau balik, orang Lo kayak gini, gimana bisa gue tinggalin!" 


Raga mendekat, mengusap sisa air mata yang berada di pinggir mata cewek itu, “Jangan nangis lagi, gue gak suka liat Lo nangis," Katanya, sembari memeluk tubuh ringkih cewek di depannya.


Raga sedikit melonggarkan pelukannya, ia kembali mengusap sisa air mata itu, lalu menatap dalam mata Caca. "Dengerin, Lo gak akan pernah bisa ikhlasin, kalo misalnya Lo aja masih gak rela akan kepergian Kakak Lo,"


"Dia pasti gak tenang, kalo Lo terus-terusan belom bisa ikhlasin dia," Tambahnya.


"Dia gak tenang bukan gara-gara gue, dia gak tenang gara-gara gue belum nemuin pembunuh dia!" Jawab Caca.


"Dia udah tenang, kalo Lo bisa ikhlasin semuanya. emang, Kakak Lo pernah ngajarin Lo buat jadi manusia pendendam? enggak kan?  Dia gak tenang bukan karena Lo belum nemuin orang yang ngebunuh dia, dia gak tenang, karena Lo belum ikhlasin dia!" Ucap Raga penuh penekanan, tetapi tetap masih menggunakan intonasi lembut.


Caca mengangguk membenarkan, kakaknya tidak pernah mengajarkan dirinya, untuk menjadi manusia pendendam. tetapi, ia juga tak bisa tinggal diam, ketika melihat kakaknya di bunuh, bukan atas kesalahannya. 


Ia hanya ingin keadilan, itu saja.


"Tapi.... gue tetap mau cari siapa pembunuh Kakak," 


Raga mengangguk “Kita cari lagi nanti ya, tapi untuk sekarang, kita selesai masalah yang baru-baru datang, udah selesai itu, kita cari lagi siapa pembunuh kakak Lo,"


Raga mengusap-usap puncuk kepala Caca “Tadi mau kemana? jangan-jangan Lo mau kabur lagi?!" Tuding Raga.


"Enggak! mau ke taman Rumah sakit, mau liat bintang," Balas Caca.


"Oke, gue antar kalo gitu,"


Mereka berdua berjalan di koridor Rumah sakit, dengan tangan kiri Raga yang memegang infus, sedangkan tangan kanannya, memegang pinggang Caca.


Caca melirik ke arah Raga yang berada di sampingnya “Lo harus janji ya Ga, jangan pernah tinggalin gue, kayak yang keluarga gue lakuin," 


Raga berbalik, laku tersenyum “Enggak, gue gak akan pernah tinggalin Lo!"


Caca tersenyum mendengar jawaban itu, tetapi matanya tiba-tiba melotot kaget, ketika berbalik ia melihat dokter Bagas, dokter penyakitnya berjalan ke arah dirinya. 


"Bisa ketahuan punya penyakit gue sama Raga, kalo si Bagas itu nyapa gue," Batinnya ketar-ketir


"Raga, bisa putar arah gak? ke Taman nya jalan sana aja," Ucap Caca.


"Kenapa? kan lebih deket jalan sini," Jawab Raga.


"Pokonya gue mau puter arah!" Caca memaksakan tubuhnya berbalik, membuat Raga juga terpaksa ikut berbalik, untuk mengikuti kemauan cewek itu.


Baru saja beberapa langkah, suara yang jelas-jelas ia kenal berbicara.


"Lho Caca, kenapa anda bisa disini? bukannya jad—"


Caca cepat-cepat berbalik, lalu menginjak cukup keras kaki Dokter ganteng itu. Menatap Dokter itu tajam, lalu melirik Raga yang tengah bingung oleh interaksi dirinya.


"Siapa Lo ca? kok bisa kenal, terus jad, apa jad? kok gue gak paham," Kata Raga, meminta penjelasan.


"Enggak, gue gak kenal. jad? gue juga gak tau artinya jad apa," Jawab Caca.


"Permisi dokter, mungkin dokter salah orang," Caca berbicara lembut, tetapi beda halnya dengan tatapan yang di berikan matanya seolah berkata ' kalo di omongin, mampus Lo!' 


Dokter Bagas yang melihat itu tersenyum, lalu geleng-geleng “Oh iya maaf, saya salah orang. saya kira tadi pasien saya,"


Caca Menghela nafas lega, ketika dokter Bagas itu memilih pergi. tetapi matanya kembali menajam, saat dokter itu kembali ke arahnya dan Raga.


"Tapi.... Kalo saya liat-liat, sangat mirip sekali dengan pasien saya," Ucapnya begitu menyebalkan.


Caca sudah mengira itu, Dokter Bagas, memang Dokter yang paling menyebalkan yang pernah ia kenal.


"Masa iya sih dok? wajah saya PASARAN banget ya," Balas Caca, menekan kata 'pasaran' 


"Emm... mungkin, nama anda siapa? siapa tau anda pasien saya kan? bisa jadi anda sedang pura-pura tidak kenal dengan saya,"


Caca menatap tajam Bagas, lalu menatap Raga dengan tatapan yang berbeda, tatapan hangat dan teduh, itulah tatapan yang di berikan cewek itu pada Raga.


"Mendingan kita langsung aja ke taman yuk, dokter ini kayaknya sakit jiwa deh! masa iya gue di sebut pasien nya," Caca berucap sembari menatap Rgaa sepenuhnya.


Raga mengangguk, tetapi berbeda dengan pikirannya yang tiba-tiba terpikir omongan Dokter di depannya itu.