
Mereka sudah tiba di rumah Raga. Bahkan, Dodi pun ikut serta karena paksaan dari Bima.
“Kata bunda, lo belum makan?” tanya Alzam, duduk di pinggir ranjang.
“Gue gak lapar,” balas Raga.
“Baguslah, gak usah makan selamanya sekalian! Biar mati!” sahut Dodi, tanpa dosanya.
“Lo masih marah sama gue?” tanya Raga, melihat Dodi yang terus saja berbicara ketus padanya.
“Jelas lah, lo kagak mikir? Lo yang salah di sini!”
Raga menghela nafas pelan “Iya, gue tahu, gue yang salah di sini, gue yang nyebabin semua ini. Tapi gue juga gak mau semua ini terjadi, gue gak mau Caca pergi ninggalin gue!”
Dodi tertawa remeh “Ya terus, kalo misalnya lo gak mau di tinggalin Caca, kenapa lo yang nyebabin Caca mati? Gila lo?”
“Lo apaansi Dod? Caca mati karena kecelakaan! Bukan karena Raga!” lontar Alzam, merasa Dodi sudah cukup keterlaluan.
“Belain aja terus!” cibir Dodi.
“Dod jangan kayak gini, Caca sedih pasti liat lo kayak gini. Caca pasti mikir di sana, kepergiaannya jadi alasan renggangnya kita.” Lerai Bima.
“Kita sayang Caca kan? Harusnya kita gak boleh kayak gini...”
“Iya! Bawel banget si lo!”
“Ya udah. Pelukan sana, baikan kita,” kata Bima.
“Gue mau maafin dia, kalo dia jajanin gue banyak jajanan hari ini,” ucap Dodi. Lelaki mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Raga tersenyum, Dodi mengingatnya pada Caca, sifat lelaki itu hampir sama sekali dengan perempuan itu, “Iya, gue bakal jajanin lo sepuasnya!”
“Pelukan dulu dong, biar kelihatan udah baikannya,” kata Bima, sambil menaik-turunkan alisnya.
“Gak!” balas kedua lelaki itu serempak.
“Berhubung udah baikan. Yuk ke rumah Caca,” ajak Bima.
Mata Raga membulat “Caca masih hidup?” tanyanya antusias.
“Enggak, kita mau beres-beres aja rumahnya.”
Raga melengkungkan bibirnya ke bawah. Sedikit kecewa dengan apa yang Bima katakan, dirinya kira, Caca masih hidup, ternyata mau beres-beres saja di rumahnya.
|•••|
Mereka baru saja sampai di kediaman almarhumah Caca. Kondisi di sana sangat tak terkendali, dengan dedaunan yang menyapu semua halaman rumah perempuan itu.
Bukan hanya itu, lantainya tampak kotor dengan debu-debu dan sarang laba-laba yang berada di ujung-ujung ruangan.
Baru beberapa minggu di tinggalkan saja sudah seperti rumah yang tidak di tinggali beberapa tahun lamanya. Bagaimana tidak, rumah yang awalnya terlihat mewah, kini lebih terlihat menyeramkan.
Raga lagi-lagi membuang nafasnya. Banyak kenangan yang di lewati di rumah ini, rasanya... untuk masuk lebih dalam saja, lelaki itu tak bisa.
Setiap tempat yang di lihatnya, seolah-olah menjadi memori yang memutar semua kejadian yang pernah terjadi di sana dengan begitu saja.
Baru saja mereka semua akan masuk, suara laki-laki yang jelas mereka kenal menginterupsi mereka untuk berhenti.
“Ngapain kalian semua ke sini?” tanya Alex, berada di belakang mereka.
“Gue yang harusnya tanya, ngapain lo ke sini?!” balas Raga gak suka.
Dodi tiba-tiba tertawa mendengar kat itu “Kapan Caca gitu? Perasaan, pas Caca sakit aja lo gak ada di sana?”
“Ya-ya sebelum dia masuk rumah sakit lah,”
Kembali tertawa, bahkan Dodi sampai-sampai memegang perutnya, karena omongan yang menurutnya lucu itu, “Lo tahu, Caca ke rumah sakit aja, dalam keadaan pingsan. Gak mungkin dia nyerahin rumah ini ke lo. Kalaupun iya, mana buktinya?”
Alex hanya diam, membuat Dodi memasang senyum miringnya. Sebenarnya, lelaki itu tak masalah, rumah ini akan menjadi milik siapa nantinya. Tetapi, Dodi tak suka dengan gaya bicara Alex yang sok berkuasa.
Dan dari awal pun, Dodi sedikit tidak suka dengan Alex. Gaya bicara orang itu seolah-olah perpect, tetapi ternyata fake.
“Kok diem?” sambar Bima, melihat Alex masih diam.
“Eh Alex, kita mah sama sekali gak ada niat buat ambil rumah ini kali. Kita cuman mau beres-beres doang, setelah ini terserah lo. Jadi gak perlu ketakutan banget, kalo rumahnya kita ambil, ya gak?” Bima berbicara dengan senyum remeh memandang Alex.
“Bener banget, ngapain kita ambil rumah ini, kita udah punya rumah kali. Jadi gak usah ketakutan deh!” balas Dodi.
“Saya bukannya ketakutan, hanya saja—“
“Udah lah, gak usah bacot mulu! Kita semua mau masuk!” final Dodi, mendorong teman-temannya untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk ke dalam, mereka benar-benar membersihkan rumah itu. Mulai dari menyapu, mengepel, semua benar-benar melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh.
Karena berhubung di ruang tamu, banyak foto mereka dan Caca yang terpampang. Mereka berniat, memindahkan semua foto ini ke markas, supaya tidak hilang dan rusak.
“Eh, eh, eh, lo semua mikir gak sih? Kalo Alex tuh kayaknya mau ambil semua harta Caca, ya gak sih?” Dodi yang tengah membersihkan vas bunga dengan lap, memulai aksinya untuk bergosip.
Tiba-tiba Bima melempar sapunya lalu mendekati Dodi “Bener anjir! Gue juga mikir kayak gitu! Pas Caca hidup, dia sok baik banget, tapi sekarang? Dia kek mau ngambil semua harta Caca,” terang Bima.
“Gue sih sebenernya gak papa, kalo harta Caca mau di kemanain juga. Tapi gue kek gak terima aja, Alex kek seolah-olah nge klaim, bahwa semua apa yang ditinggalin Caca itu miliknya,”
Dodi menjentikkan jarinya setuju, “Nah kan, pemikiran kita sama. Gue maunya tuh, semua harta caca itu di sumbangin. Harta-harta yang bisa kita jual, kita jual, terus uangnya kita sumbangin, biar jadi pahala buat Caca di akhirat,”
“Lo semua juga pasti tahu kan? Caca pasti banyak dosa banget, dia kan gak ada ahlak. Gue gak mau dia masuk ke neraka, gara-gara sifatnya sintingnya itu, makanya kita harus sumbangin-sumbangin hartanya,”
“Nah, gue juga setuju apa yang lo bilang. Tapi kek gak usah bilang, bahwa Caca itu gak ada ahlak lah, apalah, lo mau Caca gentayangin lo?” todong Bima, sambil menatap tajam Dodi.
“Caca gak mungkin gentayangan lah,” balas Dodi.
“Lo tahu Caca mati karena di tabrak kan? Lo juga tahu kan? Biasanya orang yang mati karena di tabrak itu pasti gentayangan dulu,”
Dodi melirik ke arah sekitar, lalu memeluk Bima dengan erat “Lo gak usah nakutin anjir! Gue mau pulang sekarang jadinya!”
“Siapa yang nakutin coba? Lo nya aja yang penakut. Awas ah, jangan peluk-peluk kayak gini, tar Bella marah!”
Pletak
“Mana ada, Bella marah gara-gara gue peluk. Udah ah, gue mau gini aja!” ucap Dodi, semakin menempelkan tubuhnya dengan Bima.
“Apaansi Dod! Geli ah gue!” kesal Bima, mencoba melepaskan pelukannya. Tetapi tak bisa, karena Dodi semakin mengeratkan pelukan itu.
“Bentar elah Bima, gue takut ini, takut Caca tiba-tiba nongol di depan gue!”
Bima menampilkan wajah kesalnya, lelaki itu mengambil nafas dalam, lalu dengan sekuat tenaga mendorong Dodi ke lantai. Membuat lelaki bernama Dodi itu terpeleset, karena lantai baru saja di pel oleh Raga.
“Lo berdua bisa diem gak sih?! Lo berdua gak liat gue lagi pel?”
“Gara-gara Bima tuh Dod, dia bilang Caca bakalan gentayangin gue, gara-gara gue ngomongin dia terus,”
“Gue harap, gue sih yang di gentayangin sama Caca, bukan lo!” setelah mengatakan itu, Raga melanjutkan tugasnya, membuat Dodi dan Bima saling lirik.