
Caca yang biasanya datang ke sekolah tepat pada waktu bel pelajaran di mulai, atau bahkan lebih. Wanita itu kini, berangkat lebih pagi dari itu.
Wanita itu berjalan di koridor sendirian, entah ada Hidayah dari mana, wanita itu ingin mengikuti pelajaran pagi ini.
Caca sudah berada di depan kelas, mengambil nafas secara dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Biasanya wanita itu akan masuk dua kali dalam seminggu, dan sekarang dirinya akan masuk tiga kali dalam seminggu, itu merupakan pencapaian yang bagus bagi Caca, meskipun satu hari.
“SELAMAT PAGI BESTI BESTI, ADA YANG KANGEN AKAN KEHADIRAN CEWEK BAIK DAN CANTIK INI GAK?!” Caca berteriak di ujung pintu. Dan tanpa dosanya, wanita itu langsung berlari ke arah meja guru.
Brak
Dengan tidak sengaja Caca menabrak kursi, membuat kursi itu terpental dan satu kakinya patah. Entah kekuatan dari mana, Caca menabrak kursi itu dengan keras, makanya kursinya sampai patah seperti itu.
Semua yang berada dikelas menepuk jidatnya secara otomatis, ketika melihat kejadian itu.
“Lo jarang masuk Ca, sekalinya masuk ngerusak barang kelas,” itu Gaga, ketua kelas di kelas Caca.
Caca nyengir lalu menggaruk tekuknya “Eehehe, sorry besti, anak cantik tidak sengaja,”
“Selamat pagi anak-anak,” Guru pun masuk, membuat Caca menadahkan tanganya untuk melihat jam. Caca kira ia datang pagi-pagi sekali, ternyata hanya lima menit lebih pagi dari biasanya.
Caca ngacir ke arah kursinya yang berada di belakang. Wanita itu duduk sambil bersidekap di meja, seperti manusia-manusia pintar yang berada di barisan pertama.
Kembali lagi ke Bu Nita yang baru saja masuk. Beliau ingin duduk, tetapi melihat kursinya tergeletak di bawah dan satu kakinya hilang, membuat Bu Nita membuat menatap semua murid-muridnya.
“Kok kursinya bisa sampai seperti ini? Terus saya duduk di mana?” Tanya Guru itu.
Spontan semua orang membalikkan kepalanya untuk menatap Caca. Caca yang di tatap seperti itu menggaruk tekuknya merasa gugup.
“Maaf Bu, saya tadi tidak sengaja merusak kursi ibu,” cicit Caca pelan.
Bu Nita menghela nafas, marah pun percuma, toh tak akan pernah mempan untuk orang yang baru saja merusak kursinya. “Yasudah, ambilkan lagi saya kursi di gudang,”
Caca mengangguk lalu berdiri, “Siap Bu,” Ucap Caca sambil memberi hormat.
“Balik lagi, awas saja sampai tidak!”
Caca mengangguk, lalu keluar dari kelas setelah berpamitan dengan Bu Nita.
“Gimana saya bisa marah, tuan Libertà sudah meninggal, yang menjadi pewaris sekolah ini adalah murid nakal seperti itu. Yang artinya juga, sekolah ini pun milik anak nakal itu sekarang,”
“Niat hati ingin mengeluarkan murid nakal, jadi saya yang di keluarkan. Jadi guru disini, puyeng saya,” Keluh Bu Nita, membuat murid yang mendengarnya menahan tawa, mendengar keluhan itu.
Caca bersenandung kecil, wanita itu hendak berjalan ke arah gudang, tetapi suara familiar yang sedang mengobrol membuat wanita itu menghentikan langkahnya.
Niat hati ingin mengagetkan, tetapi tak jadi, ketika ke dua orang yang tengah mengobrol itu membahas dirinya. Menguping adalah jalan terbaik, pikir wanita itu.
“Gue takut, gue takut Caca tahu semuanya. Gue takut Caca tiba-tiba jauhin gue, kalo dia tau siapa gue sebenarnya. Gue takut, kalo Caca tahu, bahwa gue lah pembunuh kakaknya,”
Deg
Tubuh Caca tiba-tiba merosot kebawah, ketika mendengar pernyataan mengejutkan itu.
Apalagi, ketika orang itu sendiri lah yang mengaku, bahwa orang itulah yang membunuh saka, kakaknya.
Caca bangun lalu berjalan pelan mendekati orang itu, ia akan menyelesaikan semuanya.
Caca tertawa “Oh gitu ya? Kok kalian jahat banget sih, bohongin gue selama ini?” Tanya Caca, sambil terus tertawa.
Mereka yang tengah mengobrol pun berbalik. Caca memiringkan senyumannya ketika melihat betapa terkejutnya mereka berdua, ketika mendapati Caca disana.
“Kenapa? Kok mukanya kaget gitu?” Caca menaikan satu alisnya bertanya.
Caca bertepuk tangan, sambil menggelengkan kepalanya takjub, “Jago yah kalian? Sembunyiin ini sebegitu lamanya dari gue,”
“Gue udah kayak orang bodoh banget ya Dimata kalian? Gue ngemis-ngemis minta bantuan kalian buat cari siapa pembunuh kakak gue. Tapi ternyata kalian salah satu orang itu,”
“Pantes aja semuanya terasa di persulit, toh kalian salah satu pembunuhnya. Dan hebatnya lagi, ada satu orang lagi yang tahu, bahwa siapa pembunuh kakak gue, dan mereka diam aja seolah emang gak tahu apa-apa,”
Caca kembali tertawa, “Dan bodohnya gue, gue bisa percaya sepenuhnya sama Lo Berdua!” Caca berteriak, tidak lupa tangannya menunjuk mereka berdua yang masih diam mendengarkan semua apa yang di ucapkan oleh Caca.
“Berati.... setiap gue cerita, dan setiap gue minta bantuan kalian cari siapa pembunuh Kakak gue, kalian ketawa? Iya? Ketawain betapa bodohnya gue bertanya, sama orang yang emang orang itu sendiri yang bunuh!”
“Lucu ya? Kenapa takdir selucu ini? Orang yang gue percaya, adalah orang yang bunuh kakak gue,”
“Gimana kalo kita jadi produser sinetron aja? Gue udah nemu judul yang pas nih, ‘Wanita bodoh yang mempercayai pembunuh kakaknya’ Lo berdua ada saran? Judul sinetron yang lebih bagus gitu?”
Caca berdecak, ketika kedua orang di depannya hanya diam dan tidak menjawab “Lo berdua cosplay jadi orang bisu?”
“Bohong aja bisa, tapi gue tanya soal judul sinetron aja Lo gak bisa jawab, “
Caca memalingkan wajahnya, bahu wanita itu tiba-tiba bergetar. Caca menangis, tangisannya yang begitu terdengar memilukan, membuat siapapun akan teriris hatinya ketika mendengar suara tangisan itu.
“Gue Cuma punya kalian, tapi kenapa kalian jahat banget sama gue! Kenapa kalian lakuin semuanya sama gue?!kenapa? kenapa kalian lakuin itu,” Caca memegang dadanya yang terasa sesak. Ia benci keadaan seperti ini.
“Asal Lo tau, gue udah tahu dari lama bahwa Lo adalah pembunuhannya. Tapi gue gak percaya gitu aja, karena gue percaya sama Lo, KARENA GUE PERCAYA SAMA LO! TAPI APA? TERNYATA KENYATAANNYA MEMANG SEPERTI ITU!”
“Hiks hiks hiks, kenapa Lo hancurin kepercayaan gue gitu aja? Kenapa Lo hancurin kepercayaan gue gitu aja Raga! KENAPA?! “
Yap, orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah pembunuh kakaknya Caca adalah Raga. Orang yang paling di percaya oleh perempuan itu.
“Kenapa disaat gue sayang banget sama Lo, gue tau semuanya? Kenapa Raga, kenapa?” Caca kembali tertawa, “Oh atau? Lo mau bales pembuatan kakak gue yang katanya udah perkosa Kakak Lo dulu?”
“Kenapa! Kenapa harus dengan cara ini gue tau semuanya! Kenapa di saat gue sayang banget sama Lo, gue tau semuanya Ga!”
Caca mendekat ke arah Raga yang masih menunduk, wanita itu mendekat dan merobek kemeja sekolah yang di kenakan Raga.
Caca tertawaan lalu menekan-nekan tato lambang alverage yang ada di dada Raga, “ini, ini tato yang pernah gue ceritain, gara-gara nih tato juga, gue berantem sama Dodi!”
Caca mengusap wajahnya secara kasar, ternyata rasanya sesakit ini, ketika kita di bohongi oleh orang yang kita sayang, rasanya lebih sakit ini, daripada di tembak oleh pistol di beberapa bagian tubuhnya.
“Sakit Raga, sakit ketika gue tau Lo udah bohongin gue, sakit ketika Lo lah yang udah bunuh Kakak gue. Pada kenyataannya, orang yang paling gue percaya, ternyata orang yang dari dulu jadi tersangka!”