
Jangan pernah percaya pada siapapun, meskipun itu teman atau sahabat terbaik anda. Karena pada dasarnya, sifat manusia itu gampang berubah. Jadi, don’t expect to much.
Bukan, bukan berati kita tidak boleh percaya pada siapa pun. Hanya saja, kita tidak boleh terlalu mempercayai!
|•••|
Seminggu setelah kejadian kemarin, Caca tak pernah lagi terlihat. Perempuan itu pernah masuk ke sekolah, bahkan ketika Raga mencari di rumahnya, Caca tak ada disana.
Raga ketar-ketir seminggu ini, lelaki itu sudah mencari Caca kemana-mana, tapi tak pernah di temukan. Mengspam chat, menelepon, tapi Caca tak pernah mengangkatnya. Bahkan, handphonenya itu pun tak aktif. Caca meninggalkannya, tanpa kata. Itu yang membuat Raga ketar-ketir saat ini.
Raga mengusap air matanya yang mengalir secara kasar. Hari ini, Raga sudah mencari Caca keliling Jakarta, tetapi Caca tak di temukan. Itu membuatnya sedikit putus asa, lebay memang sampai menangis, tetapi itu yang di rasakan Raga, lelaki itu tidak bisa ketika Caca meninggalkannya begitu saja.
“Sayang... makan dulu yuk, kamu belum makan loh dari kemaren,” Renita masuk lalu mengusap-usap rambut anak lelakinya itu.
“Enggak bund, Raga belum laper,” jawabnya dengan suara bergetar.
“Makan dulu sayang, tar kamu sakit,”
“Aku mau makan, kalo Caca ada di sini!” lontar Raga.
“Jangan kayak gini, gimana mau cari Caca lagi, kalo buat makan aja kamu susah,” Renita mengusap air mata yang mengalir di pipi anaknya. Renita tak menyangka, efek dari perginya Caca sangat berdampak besar pada diri Raga.
Raga bangun lalu memeluk bundanya itu, “Caca marah banget ya sama aku? Sampai-sampai dia pergi gak bilang dulu, Caca pasti udah benci banget sama aku ya bund?”
“Enggak. Caca mana mungkin bisa benci sama kamu, toh dia sayang sama kamu,” ucap Renita memberi semangat. Tidak lupa tangannya yang mengusap-usap punggung anaknya yang terus terisak.
“Itu dulu bunda, sekarang Caca gak sayang aku, dia malahan benci sama aku bund. Buktinya, sekarang dia ninggalin aku,”
“Hey, enggak gitu. Kamu lupa? Opahnya Caca kan baru saja berpulang. Bisa aja Caca ngurusin perusahaan Opahnya. Kan dia pewaris satu-satunya,”
“Kalo misalnya iya, kenapa Caca gak bilang?” Raga semakin mengeratkan pelukannya, “apa mungkin, aku udah gak berati lagi di hidup Caca?”
“Makan dulu ya, papa juga lagi bantuin kamu cari Caca kan? Kalo kamu gak mau makan, bunda suruh papah berhenti buat cari Caca,”
Raga mengangguk lesu mendapat ancaman itu, lelaki itu akhirnya menerima suapan dari bundanya.
“Aga sayang sama Caca bund, aga gak mau di tinggalin Caca, aga sayang sama dia. Kalo dia ketemu, bunda harus urus pernikahan kita, supaya Caca gak pergi lagi dari aku, kalo dia udah jadi istri aku, dia gak mungkin tinggalin aku,”
Renita tertawa mendengar itu, ucapan anaknya semakin ngaco aja semakin hari, setelah di tinggalkan oleh Caca.
|••|
Raga sakit sekarang, tetapi lelaki itu memaksakan untuk ke markas.
Mencari tahu, apakah ada yang sudah menemukan Caca atau belum.
“Ada dari kalian semua yang udah nemuin Caca?” Raga berdiri di depan, menghadap semua anggotanya.
Mereka semua terdiam, yang artinya belum ada yang menemukan Caca. Raga memijit-mijit pelipisnya, merasa pusing di kepalannya.
“GAK BECUS LO SEMUA! CARI SATU CEWEK AJA SUSAH!” Raga berbicara dengan oktaf yang tinggi, lelaki itu butuh pelampiasan sekarang.
Raga menghela nafasnya, membanting kursi yang ada di depannya lalu pergi meninggalkan mereka semua “Lo kemana sih Ca?” ucapnya lirih.
“Ga, lo gak boleh kayak gini, mereka semua udah berusaha cari Caca,” ucap Bima. Merasa kasihan, karena Anggota lain jadi terkena imbasnya.
“Gak boleh kayak gimana maksud Lo? Caca pergi tinggalin gue tanpa kata, apa gue harus diam aja? Apalagi, keadaan kita terakhir lagi buruk Bim,”
“Coba deh positif thinking, Caca mungkin pergi ngurusin perusahaan opahnya, opahnya kan udah gak ada,” Bima dan Renita sama saja. Mereka selalu menyuruh Raga untuk positif thinking, padahal keadaannya sekarang sangat tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu.
“Gak bisa! Perasaan gue gak enak, gue takut terjadi apa-apa sama Dia!”
Raga menutup matanya, lelaki itu sudah tidak bisa lagi menahan air matanya sekarang “gue takut Caca gak balik lagi, gue belom ngungkapin semua perasaan gue ke dia,” lirih Raga.
Alzam menepuk-nepuk bahu Raga, Alzam sangat tahu perasaan apa yang sedang di rasakan Raga, toh dirinya dan Raga sudah berteman sejak sekolah dasar. Lelaki itu belum pernah menangis, apalagi menangisi perempuan, dan dari sana juga Alzam jadi jadi tahu, seberapa besar perasaan raga kepada Caca.
“Kita cari lagi, lo jangan kayak gini” Alzam berusaha menenangkan. Meskipun sifatnya seperti batu, Alzam adalah manusia yang bisa di katakan perhatian.
Raga mengangguk lesu “Gue mau ke rumah Caca, siapa tau dia udah balik,”
|•••|
Raga mengendarai Motornya dengan kecepatan tinggi. Lelaki itu sesekali mengusap air matanya secara kasar, karena terus-menerus mengeluarkan air mata tanpa di minta.
Raga mengutuk dirinya sendiri, kenapa dirinya menjadi selemah ini, hanya karena wanita aneh semacam Caca meninggalkannya. Mungkin, Raga tidak akan terlalu sedih, jikalau Caca meninggalkannya pada saat keadaan mereka berdua baik-baik saja, tetapi ini tidak.
“Lo kemana sih anjing!” pandangan Raga mengabur, karena air matanya yang menutupi.
Bukannya mengurangi laju kecepatannya motornya, lelaki itu tetap dalam pendiriannya untuk mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Raga ingin cepat sampai ke rumah Caca, berharap perempuan itu ada di rumahnya sekarang.
Tanpa Raga sadari, ada sebuah truk besar terlihat ugal-ugalan ke arah lelaki itu.
Raga yang mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, dan truk itu ugal-ugalan dengan kecepatan tinggi juga. Sepertinya rem nya blong.
Ketika Raga akan kembali mengusap air matanya, lelaki itu memelotot matanya kaget ketika truk di depannya akan menghantam dirinya. Raga berusaha untuk menghindar, tetapi semuanya terlambat.
Bruk
Raga terlempar beberapa meter dari tempat kejadian. Lelaki itu terlempar, karena menabrak bagian depan mobil truk tangki itu.
Badan lelaki itu terasa sangat suit untuk di gerakan. Bahkan, ketika Raga berusaha melepaskan kaitan helmnya, itu sangat sulit dilakukan karena sekujur tubuhnya sudah lemah. Lelaki itu juga sedang berusaha untuk tetap membuka matanya, meskipun itu terasa sulit.
“Mungkin dengan cara ini gue bisa ketemu lo Ca, gue sayang sama lo,” setelah mengatakan kata itu, semua mata Raga tertutup, pandangannya gelap, dan orang-orang yang ada di sana mulai mengerubungi lelaki itu.
|•••|
“Halo bos, rencana kita berhasil!” seru seseorang yang berada di tempat kejadian. Mengecek bagaimana keadaan Raga.
Lelaki itu tampak sedang menelepon orang yang menjadi bosnya.
“Bagus, gimana keadaan orang itu?”
“Sangat-sangat mengenaskan,” Jawab orang yang berada di tempat.
“Bisa saja Raga mati, karena lelaki itu terlempar sangat jauh. Dan ketika saya melihat bagaimana kondisinya, hampir semua tubuhnya, di baluri oleh darah.”
Terdengar tertawa setan di seberang telepon “Bagus, ikutin terus. Dan kasih tahu saya secepatnya, Raga di bawa kerumah sakit mana, saya akan melihatnya secara langsung,”
“Dia sudah di bawa ke rumah sakit bos. Nanti saya shareloc tempatnya.”
“Bagus, saya minta secepatnya!”