
Gadis dengan rambut bergelombang itu tengah fokus terhadap layar laptop di depannya.
Waktu sudah menunjukkan tengah malam, tetapi gadis itu urung memejamkan matanya.
"Udah ke seberapa film yang udah gue puter, tapi kenapa belum ngantuk juga sih?!" Keluhnya.
Caca hendak mengambil minum di atas nakasnya, tetapi yang ia temukan hanya sapu tangan milik Topan yang ia belum sempat kembalikan.
Teringat sesuatu, gadis itu mengambil handphonenya untuk melihat cctv yang di kirimkan Alzam tadi, lebih tepatnya ia yang meminta.
Ia menyatukan alisnya, ketika yang dipikirkannya memang benar adanya. Sapu tangan milik Topan, sama persis dengan sapu tangan orang yang sudah merusak markas. Karena orang itu, melilitkan sapu tangannya di tangan kanannya.
Ia semakin menyatukan alisnya, melihat apakah corak sapu tangan orang itu sama persis dengan sapu milik tangan Topan.
Dilihat dari sisi depannya, kanan ataupun kiri, sarung tangan itu, coraknya memang sama persis dengan corak sapu tangan milik Topan.
"Masa iya sih, yang di cctv itu Topan," Kata Caca tak percaya.
"Bisa saja kan? ada orang yang punya sapu tangan, coraknya sama persis kayak Topan"
"Tapi, corak gambarnya kok gak pasaran? Apa Topan beli di luar Negeri”
"Nah kan? bisa saja topan beli di luar Negeri, soalnya... gak mungkin Topan lah yang ada di cctv itu,"
"Ngapain juga topan ngerusak markas alverage? bukan Topan lah,ngaco Lo ca!"
*'*
Bima berlari di koridor dengan wajah memerah padam menahan emosi. Ia berjalan menuju Mading, lalu mencopot apa yang ada disana, yang menurutnya sangat menganggu matanya.
"Siapa yang berani nempelin ini!" Ucapnya tajam. tidak lupa, mata yang mengobarkan api kemarahan.
"SIAPA YANG BERANI NEMPELIN INI GUE TANYA!" Teriaknya.
Di mading itu terdapat banyak foto Bima dan Bella yang sedang bermesraan, tidak lupa keterangan yang mengatakan bahwa Bella sedang hamil, dan di tanggungjawabi oleh Bima.
Jelas-jelas Bima tidak terima. Di tanggungjawabi? memang seharusnya dirinya yang bertanggung jawab, karena dirinya yang melakukan. Tetapi kenapa di Mading ini, seolah-olah istrinya adalah wanita tidak baik, sampai-sampai harus di tanggungjawabi oleh dirinya.
Tidak hanya itu yang membuatnya marah, akibat kejadian Mading ini, istrinya habis-habisan di bully oleh hampir semua anak di sekolah ini.
Ia takut, mental istrinya terguncang, dan berakhir sangat buruk untuk kandungannya. Bukan hanya itu, ia takut Bella kenapa-kenapa, akibat kejadian ini.
Caca yang melihat itu mendekat, ia mengusap-ngusap pelan punggung tegap cowok itu.
"Udah bim, Masalah kayak gini....biar kita semua yang cari, jangan koar-koar kayak gini, gak mungkin ada yang berani ngaku. sekarang Bella butuh lo, dia pasti lagi ketakutan sekarang," ujar Caca, cukup berhasil menenangkan Bima.
"Udah, meningan Lo samperin bella, kalo masalah siapa yang nempelin ini, biar anggota alverage lain yang cari,"
Bima mengangguk, lalu berlari ke arah belakang sekolah. Bella memang di bawa di sana, setelah kejadian pembullyan tadi.
"Zam, menurut Lo.... siapa yang udah ngelakuin ini? karena cuman anggota alverage aja yang tau kan? Kalo Bima sama Bella ada hubungan," Tanya Caca, kembali mendekat ke arah Raga dan Alzam.
Dodi? lelaki itu tak sekolah hari ini. Di telpon pun tak di angkat, entah kemana hilangnya.
"Gue belum tau," Jawabnya.
Caca menghela panjang, siapa yang berani melakukan ini..... itu sangat mengancam calon keponakannya.
"Sayang, cepat temukan siapa yang berani melakukan ini?" Manjanya, sambil bergelayut manja di lengan Raga.
"Siapa yang Lo sebut sayang?" Tanya Raga tajam.
Mona yang baru saja datang, melepas cekalannya secara kasar, lalu menatap Caca tajam, karena berani-beraninya menyebut Raga dengan sebutan sayang.
Cewek itu sekarang yang menggantikan posisi Caca, dengan bergelayut manja di tangan Raga.
"Singkirin tangan kotor Lo!" Sentak Raga tajam.
Mona cemberut, sembari memasang wajah sok imutnya.
"Lo siapa gue, gue tanya?" Tanya raga tajam.
"Calon pacar kamu," Jawabnya, dengan nada super percaya diri.
Raga tersenyum miring, lalu memeluk pinggang Caca posesif. “Lo baru calon pacar kan? Tapi dia udah jadi pacar gue," Kata Raga. mencium pucuk kepala Caca dengan lembut.
Mona terkekeh sumbang "Gak mungkinlah! kalian kan cuman temen, dan gue tau itu. Bahkan, bukan gue doang yang tau, semua orang pun tau, kalo kalian cuman temen,"
"Lo gak denger? Caca bilang sayang sama gue tadi?" Tanya Raga.
"Gak, gue gak denger!" Bohongnya, sudah jelas, Mona mendengar kata itu, bahkan sangat jelas.
"Sayang...coba kamu kasih tau, kalo kamu pacar aku sekarang," Kata Raga, berbisik, tetapi suaranya cukup keras, sampai terdengar oleh Mona.
Tubuh Caca tiba-tiba menegang, ketika mendengar suara berat Raga di telinganya. kenapa Raga tampak sekali berbeda dari biasanya.
"Anjir, kenapa jadi deg-degan gini sih?" Batin caca.
"Sayang...." Ucap Raga kembali.
Caca yang tersadar pun, menggeleng-gelengkan kepalanya. Dirinya cinta damai, ia tidak mau mempunyai musuh di sekolah ini. Bukan berati takut, tidak sama sekali, hanya saja.... cukup musuh di luar sekolah saja, itu cukup buruk membuat hidupnya tidak tenang. Jangan sampai menambah musuh lagi Disini.
"Enggak lah! Raga itu cuma—"
Raga tiba-tiba mencium bibirnya, di tengah banyaknya orang yang sedang menonton. Tidak hanya itu, Raga ********** secara lembut, ketika mulut Caca terbuka, karena tidak Percaya atas apa yang Raga lakukan.
Murid-murid yang ada disana berteriak histeris. bahkan, yang sedang berjalan pun ikut berhenti hanya ingin ikut berteriak saja. Mereka semua tidak percaya atas apa yang Raga lakukan.
"Mungkin, sebatas kata aja gak buat Lo percaya. Tapi, setelah apa yang gue lakuin di depan banyak orang ini masih buat Lo gak percaya? bahwa Caca itu Emang pacar gue?" Kata raga.
Mona terdiam, bahkan Caca pun ikut terdiam. Caca seperti orang linglung, celangak-celinguk tidak jelas, menggaruk tekuknya, seperti mencerna apa yang baru saja terjadi terhadapnya.
Di cium di depan banyaknya orang, pinggangnya di rengkuh posesif, bahkan di klaim di depan banyak orang. Cukup sedikit, membuatnya linglung tidak jelas. Ingat! cukup sedikit linglung, tidak cukup banyak.
"Oke. Mungkin sekarang Caca pacar Lo, tapi gue pastiin.... gak bakalan lama lagi Lo bakal jadi pacar gue!" Seru Mona, setelah beberapa menit diam.
Raga terkekeh “Terus bermimpi, terus bermimpi....."
"Emmm.......Caca jadi pacar Lo mungkin karena tubuhnya udah sering Lo coba kan? sama halnya kayak Bima, dia jadiin si cupu istrinya, mungkin karena kebablasan hamil, iya kan?" Tanya Mona.
Raga menggeram marah, ia tidak suka. Ada yang menilai Caca atau temannya yang lain bergitu buruk, mereka berdua tidak seburuk itu.
"Jaga ucapan Lo!" Sentak Raga, lelaki itu berjalan beberapa langkah untuk mendekati Mona.
"Gak terima? Emang iya kan? Caca pacar Lo itu emang ******!" Kata Mona sambil tersenyum miring.
Rahang Raga mengetat, ia berbalik ke arah Alzam"Pinjem sapu tangan motor Lo," Katanya.
Tanpa menjawab, Alzam langsung saja memberikannya.
Raga kembali berbalik ke arah Mona, menatap wanita itu tajam. Memakai sarung tangannya, lalu kembali melangkah, supaya semakin dekat dengan cewek itu.
"Ngomong apa tadi, Hm?" Tanya raga dengan tajam, tidak lupa mencekal dagu cewek itu erat, menggunakan tangan yang sudah di baluti sarung tangan.
Bahkan, untuk mencekal dagu Mona menggunakan tangannya secara langsung pun, nampaknya sangat menjijikkan, Makanya Raga menggunakan sapu tangan.
Raga malas sekali, bahkan untuk menggunakan sapu tangannya sendiri. Makanya ia menggunakan sapu tangan milik Alzam.
Rasanya...sapu tangannya pun lebih mahal, dari cewek di depannya ini.
"Gue tanya? Lo ngomong apa tadi?!" Raga berkata, dengan oktaf yang lebih tinggi dari kata sebelumnya.
"Bagus Lo ngomong kayak gitu? kayak diri Lo mahal aja! bahkan, sapu tangan yang gue pake sekarang, lebih mahal daripada harga diri Lo!" Katanya begitu menusuk.
"Jadi....Gak usah ngomongin harga diri, kalo Lo sendiri aja gak punya harga diri. Ngomong di saring dulu, sebelum kata-kata yang Lo omongin berbalik ke arah Lo sendiri!"
“Satu lagi, gue macarin Caca... karena gue cinta sama dIa, bukan karena body ataupun apa. Asal Lo tau, dia gak rendah kayak Lo!”