RAGASA

RAGASA
Ep. 52. Hector Giovanni



Sebelumnya


"Bukan itu yang gue mau. gue mau Lo jadi Sasa yang pertama kali gue kenal, gak kayak sekarang. gue gak suka Lo kayak gini, gue gak suka liat sifat Lo yang sekarang!"


|•••|


Bruk


Pintu UKS tiba-tiba di dorong oleh kaki seseorang, yang menyebabkan Sasa dan Alzam yang sedang berhadapan harus mengalihkan penglihatannya.


Lelaki itu mendekat, dengan wajah penuh Amarah itu. mencekal tangan Sasa, lalu menyimpan perempuan itu di belakang tubuhnya.


"Lo gak di apa-apain sama manusia sialan ini kan?" Tanyanya, sembari mengecek setiap inci tubuh Sasa.


"Gue gak di apa-apain kali Ri, emangnya Alzam mau apa-apain gue?" balas Sasa, sembari memegang bahu Ari, sahabat sekaligus calon adik iparnya.


Ari hendak mendekat ke arah Alzam, tetapi Sasa cepat-cepat menahan lengan itu, sebelum terjadi keributan.


"Jangan mancing-mancing keributan Ri, mendingan kita keluar aja," Kata Sasa, sembari mendorong bahu Ari.


Sasa berbalik ke arah Alzam ketika sampai di depan itu,"Gue duluan ya, bye-bye!"


Alzam tersenyum, semoga Sasa mengabulkan permintaannya untuk menjadi Sasa yang ia kenal seperti dulu.


|•••|


Raga tertidur di ruangan Caca, lelaki itu tidur, dengan tangannya yang memegang Caca erat. 


Sama hal nya dengan Raga, Caca pun ikut tertidur, awalnya perempuan itu hanya mengusap-usap rambut Raga, tetapi malah kebablasan ikut tertidur.


Bruk


"DODI GANTENG DATANG!" Pintu bangsal di buka secara keras oleh Dodi, tidak lupa teriakan keras juga yang keluar dari mulut lelaki itu.


Otomatis, Raga dan Caca yang sedang tertidur tersadar dengan wajah kaget masing-masing. Mata mereka berdua memutar bola matanya malas, ketika Dodi lah penyebab semuanya.


"Berisik Lo! gak liat? gue sama Caca lagi tidur?" Tanya Raga kesal.


Dodi nyengir, lalu menunjuk Bima “Dia yang nyuruh gue teriak," Balas Dodi, melakukan pembelaan.


"Dih, Gak usah sok asik, kita gak kenal!" Kata Bima, lalu duduk di kursi meninggalkan Dodi, yang mengerucutkan bibirnya sebal.


Raga berdiri, berniat pindah tempat duduk di sisi temannya, tetapi tangannya di cekal oleh Caca.


"Pengen duduk disana juga, pegel tiduran terus di kursi," Keluh perempuan itu.


Raga mengangguk, lalu membopong Caca untuk duduk di sebelahnya nanti.


Setelah Caca duduk, Raga langsung saja memeluk dan menyiman kepalanya di tekut cewek itu. dirinya masih ngantuk, tidur di pelukan Caca bukanlah pilihan yang buruk, melainkan sebaliknya.


"Mau dong, peluk Caca juga," Goda Dodi, tampaknya lelaki itu akan memancing emosi Raga hari ini.


"Diem Lo! atau gue pecahin otak Lo!" Ancam Raga.


"Lah, kok ngamuk? Lo kan temannya Caca, gue juga temannya Caca, kenapa gue gak di bolehin peluk Caca," Tanya Dodi.


"Berisik Lo! dia pacar gue sekarang!" Balas Raga.


Bohong, Lelaki itu hanya berbohong, Daripada Dodi terus-menerus memancing emosinya.


"APA!" Kaget Dodi dan Bima.


"Berisik anjir," katanya, membuat Raga semakin menelusupkan wajahnya di leher Caca.


"Ada yang mau gue omongin sama Lo ca," Kata Alzam, membuat suasana serius, meskipun di liputi penasaran dari wajah Bima dan Dodi tentang hubungan Caca dan Raga.


"Tentang?" Tanya Wanita itu.


"Lo pernah ngomong kan waktu itu. tentang sapu tangan Topan. Bahwa sarung tangan Topan, sama persis dengan sarung tangan orang yang ngerusakin markas," Kata Alzam.


Caca mengangguk, membenarkan ucapan yang Alzam berikan. Sapu tangan Topan, memang sama persis, dengan sapu tangan orang yang merusak markas.


"Gue gak nuduh dia, tapi kita harus selidikin orang yang namanya Topan itu, gue gak yakin, dia emang benar-benar cupu. buktinya, dia yang bantuin Mona, supaya Sasa mau sebarin foto-foto Bella sama Bima," Jelas Alzam.


"Gue setuju, gue emang udah ngira dari awal, kalo Topan itu bukan cupu beneran," Balas Caca.


Alzam mengeluarkan laptop dari tasnya, terpampanglah biodata Topan disana.


"Gue udah retas biodata Topan," Alzam berucap, sembari membalikan laptopnya ke arah teman-temannya.


Nama Ayah : Giovanni Albina


Nama ibu : Lioren Albina


Tempat tangga lahir : Italia, 1 


Febuari 2002


Alamat : **** ****


Jenis kelamin : Laki-laki


kewarganegaraan : Indonesia


Berat Badan : -


Tinggi badan : 180


Hobi : Bermain game online


Cita-cita : Menjadi manusia tanpa tekanan


Semua orang di sana saling lirik, kecuali Raga yang masih anteng di pelukan Caca tanpa peduli siapa orang yang sudah merusak markasnya.


"Orang italia ternyata. pantesan, meskipun tampilannya cupu kayak gitu, gak ngurangin ketampanan khas Italia nya," Kata Caca terkagum-kagum, melihat wajah Topan tanpa kacamata disana.


Krek


Caca meringis, ketika lehernya tiba-tiba kena gigit begitu saja oleh Raga,"Gue jauh lebih tampan dari pada dia, jadi gak usah puji orang lain di depan gue!" Bisik Raga, penuh penekanan.


"Hector Giovanni?" Tanya Caca, membuat Alzam mengangguk. Wanita itu tak menghiraukan ucapan Raga, Caca sangat-sangat penasaran dengan orang yang bernama Hector atau Topan itu.


"Iya, Namanya Hector Giovanni. nama Topan adalah nama samaran, atau nama palsu, entah apa tujuannya, kita harus selidikin itu," Jawab Alzam.


"Albina, kenapa Topan gak pake marga itu juga? kenapa harus gunain nama bapaknya sebagai marga?" Tanya Bima.


"Ya mana gue tau, tanya aja sama bapaknya!" Ceplos Dodi membalas.


"Gue gak namanya Lo, gue cuman lagi bernagan-angan!" Sebal Bima.


"Entah benar atau enggak. Tapi yang gue pikirin, Topan emang gak boleh pakai marga itu. liat aja dari cita-citanya, menjadi manusia tanpa tekanan, mungkin... Topan gak bisa pakai itu, karena target dari seseorang yang harus di penuhi, supaya bisa pakai marga Albina. bisa juga, Topan sendiri yang gak mau pakai marga itu,"


"Gue pilih opsi pertama sih, Topan gak berguna, makanya gak dapat Marga itu, sama kayak orang yang lagi pelukan, gak berguna. kok ketua gak berguna, bukannya ikut diskusi, dia malah asik pelukan," Sinis Dodi.


Raga tak merespon ucapan Dodi sama sekali, lelaki itu malah mengeratkan pelukannya. Raga tau, Dodi hanya ingin memancing emosinya, itu target Dodi.


"Bangsat! Kagak di dengerin!" Umpat Dodi kesal.


"Biarin aja lah Dod, lagian Raga pasti dengerin kok,"


"Belain aja terus!" Ucap Dodi semakin kesal.


"Ya terus? Lo maunya gimana? gue yang belain Lo?" Tanya Caca.


"Udahlah, kita dengerin dulu penjelasan Alzam, biar cepat selesai nih kasus, kalo mau adu bacot, mendingan di luar," Saran Bima.


"Emang Alzam yang pantes jadi ketua, gak kayak si Onoh!" Sindiran keras dari Dodi, kembali di luncurkan dari mulut lemes itu.


"Gue depak Lo! lo juga gak pantes jadi anggota alverage!" Sahut Raga.


Dodi tersenyum, lalu mendekat ke arah Raga, lelaki itu menepuk-nepuk pelan punggung lelaki yang sedang memeluk Caca itu.


"Bercanda elah, baperan amat Lo! semua orang juga tau kali, Lo adalah ketua yang sangat-sangat bisa di andalkan," Ucap Dodi, lelaki itu ikut memeluk Raga. padahal, itu hanyalah kedok, supaya bisa ikut memeluk Caca juga.


"Lepasin anjir! gue tau modus Lo!" Sentak Raga tak suka, membuat Dodi terpaksa melepaskan pelukannya itu.


"Eh iya, gue hampir lupa, tujuan Mona suruh Sasa buat sebar foto Bima apaan?" Tanya Caca.


"Dia gak ngaku, tapi gue yakin, itu berhubungan sama alverage, bener kan?" Jawab Bima.


"Bukan alverage, tapi gue. Mona suka sama gue, mungkin dia sakit hati, karena cintanya gak pernah gue balas," Kini, Raga lah yabg berbicara.


"Ngerasa ganteng banget Lo ngomong gitu?" Seru Dodi.


"Lah, itu fakta. yang jelek jangan syirik!" Ucap Raga, segitu menusuk sampai ke anus.