
“Tapi Dok, saya gak mungkin tinggalin Caca sendirian. Biarkan saya masuk,” Raga kembali memohon dengan wajah melasnya.
“Maaf sekali, tidak bisa sekarang.”
“Bener Ga, biarin caca ekspresiin kesakitannya sekarang. Kalo di depan kita, dia selalu terlihat baik-baik aja. Kasian kalo dia harus nahan rasa sakitnya karena ada kita. Tar siang kita kesini, bawain makanan buat Caca,”
“Tapi Bim... gak mungkin, gue tinggalin Caca dalam kondisi kagak gini...”
Alzam yang mendengar pertikaian itu, tanpa ba-bi-bu-be-bo, langsung mendorong kursi roda Raga tanpa berpamitan.
Mereka itu bodoh, toh Raga ada di kursi yang di pegang dirinya. Meskipun Raga bersikeras ingin melihat Caca, lelaki itu tidak akan bisa. Karena untuk berjalan saja tidak mampu. Tinggal dorong saja kan selesai urusannya, pikir Alzam tampak cerdik.
Dodi dan Bima melongo. Saking panik dan cemasnya, mereka berdua sampai tak sadar jikalau Raga memang sedang berada di kursi roda.
Dodi dan Bima kembali melirik Dokter Bagas dengan berbarengan lalu tersenyum “Kita berdua pamit, terima kasih atas izinnya.”
Dokter Bagas mengangguk, membuat kedua lelaki itu berlari mengejar Raga dan Alzam.
“Woy! Tungguin kita!”
|•••|
Raga masih memikirkan kondisi Caca, apakah perempuan itu sudah baik-baik aja sekarang? Raga bahkan sampai tak bisa makan, hanya memikirkan perempuan itu.
“Zam?” Raga memanggil Alzam.
Alzam berbalik, lalu mengangkat alisnya bertanya.
“Kita ke ruangan Caca sekarang, gue mau liat kondisi dia,”
“Makan dulu, baru gue anter,” jawab alzam.
Raga menggeleng, “Gue mana bisa makan, kalo Caca aja kesakitan di sana,”
Alzam menghela nafas pelan, kenapa temannya ini sangat keras kepala sekali? “Pikirin diri Lo juga!”
“Please Zam... anterin gue ke Caca,”
Alzam melirik ke arah Dodi dan Bima, mereka hanya mengangguk saja, membuat Alzam kembali menghela nafas dan menghampiri Raga.
“Sekali ini aja lo gak makan! Kalo keulang lagi, gue gak mau nganter Lo!” Ancamnya, lalu membantu Raga untuk menaiki kursi roda.
Raga mengangguk, membuat alzam mendorong kursi roda itu dan tentunya di ikuti oleh dua kutil, yaitu Bima dan Dodi.
Mereka sudah berada di depan bangsal, membuka pintunya pelan. Lalu berjalan ke arah perempuan yang sedang memeluk lututnya, sembari menenggelamkan wajahnya.
“Gue gak mau minum obat pak Dokter,” ucap Caca yang masih menenggelamkan wajahnya.
“Ca,” panggil Raga pelan.
Caca sempat menegang karena mendengar suara yang sangat ia kenali. Perempuan itu mendongak, dan matanya menyorot kaget, objek di depannya ini, mereka semua terlihat nyata.
Ketika merasakan usapan lembut di tangannya, Caca mendatarkan mimik wajahnya, lalu menarik tangannya.
“Ngapain lo semua kesini?” tanya Caca, sambil memalingkan wajahnya.
“Kita yang harusnya tanya! Ngapain lo di sini?!” tukas Dodi kesal. Entahlah, lelaki itu merasa menjadi teman yang sangat tidak berguna. Tetapi memang tak berguna, aoeowkaoawk.
“Gue lagi gak mau ketemu sama siapa-siapa, mendingan kalian semua pergi!”
“Gak usah pegang-pegang!”
Dodi berdecak “Raga lagi ngomong, bisa lo liat sini dulu?” terdengar suara kesal dari mulut lelaki itu. Entah kesal karena apa, yang pastinya Dodi gampang sekali tersulut emosi.
“Jangan paksa gue, gue lagi gak mau ketemu siapa-siapa hari ini,”
“Dih? Gue juga males kali aslinya menuin lo! Kalo bukan karena Raga, gue juga males buat jengukin manusia songong kayak lo! Tapi lo mikir lah anjir, Bukan lo doang yang sakit di sini, Raga juga. Raga bela-belain kesini, cuman karena mau liat kondisi lo, sedangkan lo? Untuk lihat mukanya aja, susah banget kayaknya!”
“Gue gak minta, lo atau Raga ke sini buat liat kondisi gue!”
“Udah Dod, lo apa-apaan sih?!” lerai Bima, sembari mengusap-usap bahu Dodi menenangkan.
“Udah lah, kita pergi aja! Orang yang mau di jenguk nya sama sekali gak mau di jengukin!”
Alzam menatap Dodi yang akan pergi dengan tatapan mautnya, membuat lelaki yang bernama Dodi itu kembali diam dengan mulut yang mengatup.
“Ca,” panggil Raga lagi.
“Liat dulu gue bentar,”
Caca berbalik seraya menaikkan alisnya bertanya.
“Kenapa sampai bisa kayak gini sih? Kenapa gak bilang? Kenapa gue harus tahu dulu dari orang lain, kenapa gak tahu secara langsung dari lo. Kenapa Lo gak cerita sama gue?”
“Gue gak papa, gue baik-baik aja.”
Dodi kembali berdecak merasa muak, “Masih aja lo bilang lo gak papa, padahal kita udah jelas liat lo gak baik-baik aja!”
“Ini yang lo bilang hah? Lo bilang, lo mau coba gak butuh orang sama sekali, lo kira bagus kayak gini?! Lo anggap kita apa? Sampai-sampai lo sakit aja kita gak tau?!” ucap Dodi dengan kekehan mirisnya.
“Mungkin lo udah gak mau berhubungan lagi sama kita. Tapi kita, gak mungkin biarin lo kayak gini sendirian! Gue paham, lo bilang gitu karena lo masih di kuasai ego pada saat itu, makanya gue coba paham sama apa yang di maksud lo Ca!”
“Kita itu teman, bukan cuman sekedar temen doang! Gue udah anggap kalian keluarga! Gue udah anggap lo keluar Ca! Gue marah-marah kayak gini, ya karena gue sayang sama lo! Kalo misalnya gak sayang, gue bakalan biarin lo sendirian disini! Gue gak mungkin datang ke kesini!”
Dodi mengusap wajahnya secara kasar, “Biar apa lo kek gini? Gue tanya, BIAR APA LO KEK GINI?!” teriak Dodi.
Dodi mencoba mengatur nafasnya. Akhir-akhir ini, lelaki itu mencoba untuk berpositif thinking, bahwa Caca akan baik-baik saja, tetapi pikiran ternyata salah, itu yang membuatnya marah sekarang.
“Biar apa lo kayak gini Ca, biar di sangka mandiri? Biar lo bisa buktiin bahwa lo bisa hidup sendiri di dunia ini? Asal lo tahu Ca, lo bikin kita panik akhir-akhir ini! Lo gak tahu? Seberapa susahnya kita cari lo, buat cari tahu Lo baik-baik aja atau enggak? Kita sampai kerahin anak buahnya om Wijaya buat cari lo.”
“Bener kata Dodi Ca, biar apa lo kayak gini? Biar gak nyusahin kita semua?kita gak pernah merasa di susahin sama lo. Lo selalu bantu kita semua, kita gak mungkin sampai mikir, lo itu nyusahin. Kita itu keluarga, gak mungkin kita sampai mikir kek gitu,” timpal Bima. Karena Bima tahu, Caca bukanlah tipe orang yang akan sungkan selalu meminta bantuan orang lain.
“Bener kata mereka semua, kita gak pernah merasa di susahin,” Raga mengambil tangan Caca dan mengusap-usapnya “ada yang mau Lo ceritain? “tanya lelaki itu.
Caca menggeleng “lo udah pasti tahu soal penyakit gue, makanya lo semua ke sini.”
Mata Caca terlahir ke arah kursi roda yang di duduki oleh Raga “Kok Lo pakai kursi roda? Masih belom bisa jalan apa gimana?” Caca mencoba mengalihkan pembicaraan, wanita itu tak ingin teman-temannya hanya membahas dirinya.
Raga berdiri lalu menepuk-nepuk kakinya pelan “Udah bisa kok. Tapi males jalan aja, makanya pura-pura gak bisa. Biar terus di dorong sama Alzam. Lagian ribet, kemana-mana harus banget bawa infusan.”
Ketiga cowok yang ada di sana melotot tak percaya dengan wajah yang bisa di katakan menahan marah “Lo udah bisa jalan?”
“Udah dong!” ucap Raga bangga.
Lelaki itu berjalan berjalan ke arah tiga teman lelakinya. Membuat Alzam menggeram, lalu menjitak keras kepala Raga.
“Babi Lo!” umpat lelaki itu.