RAGASA

RAGASA
Ep. 84. Goresan



Alex datang dengan mobilnya, membuat Raga yang melihat itu, seolah-olah semakin terlihat tak berdaya dan semakin mengeratkan pelukannya.


Caca membopong Raga ke dalam mobil Alex, setelah melihat Raga duduk, Caca hendak bangkit tetapi di tahan oleh Raga yang kembali memeluk perempuan itu.


“Disini aja, jangan duduk di depan,” pinta Raga, kembali menyimpan kepalanya di bahu Caca.


Mobil Alex di jalankan, membuat Raga semakin menjadi-jadi merengeknya, “Ca sakit, lemas,” rengek Raga.


“Sakit Ca, sakit banget,”


“Sakit Ca, sakit...”


“Lemas, badan rasanya mulai gak bertenaga.”


“Sakit Ca,”


“Jadi pusing, lemas banget, pengen pingsan,”


Caca menutup matanya, perempuan itu pusing, khawatir, cemas bercampur menjadi satu. Caca tak ingin menampilkan bahwa dirinya khawatir, tetapi mendengar rengek-rengekan Raga, Caca tak bisa.


“Lex, bisa cepetan lagi laju mobilnya gak?! Raga kesakitan ini!” Resah Caca. Perempuan itu dengan repleks, menggenggam tangan Raga erat.


“Ini sudah cepat Nona,” balas Alex.


Raga mengatupkan bibirnya untuk tidak terseyum dan tertawa, ketika melihat Alex tampak memutar bola matanya malas.


“Ca sakit Ca,” Ringis Raga lagi. Tentunya untuk memanas-manasi Alex.


“Ga, liat gue dulu,” ucap Caca terus menggenggam tangan Raga.


“Sakit?” Tanya Caca, membuat Raga mengangguk layaknya anak kecil, tidak lupa bibirnya yang melengkung ke bawah.


“Coba tarik nafas, jangan terlalu di rasain rasa sakitnya, biar gak terlalu sakit. Jangan bikin gue panik,” Caca mengusap-usap rambut Raga dengan sebelah tangannya.


“Tapi sakit, jadi kerasa terus,” kata Raga.


“Bentar lagi sampai rumah sakit, tahan ya?” Raga mengangguk, membuat Caca terus mengusap-usap rambut Raga.


|•••|


Caca masuk ke ruangan Raga, ketika lelaki itu selesai di periksa.


“Masih sakit?” tanya Caca, lalu duduk di pinggir berankar.


“Masih,” jawab Raga.


“Mana gue liat lukannya,” pinta Caca.


Raga menggeleng “Gak mau, malu,” 


Caca mengangguk saja, mengiyakan.


“Ca laper,” beritahu Raga, sambil mengusap-usap perutnya.


“Gue beliin makanan dulu ya?” Raga mengangguk, membuat Caca ke luar ruangan lelaki itu.


Caca menghela nafas, ketika berhutang nyawa kepada Raga sekarang. Perempuan itu semakin tak bisa menjauhi lelaki itu.


Kenapa ada saja halangannya? Ketika akan menjauhi Raga.


Caca kembali menghubungi Alex, karena Caca membutuhkan bantuan pria itu sekarang.


“Halo Lex,” Ucap Caca.


“Ada apa lagi Nona?” tanya Alex


“Sedang sibuk?”


“Tidak terlalu Nona,”


“Bisa bantu Carikan? Siapa orang yang  sudah menusuk Raga?” ucap Caca.


“Maaf, saya tidak mau Nona, sangat malas sekali harus menyelidiki orang yang sudah menusuk orang gila itu. Baru satu tusukan saja lebay nya minta ampun, kalo sudah sepuluh tusukan, baru saya bantu.” Tolak Alex mentah-mentah.


“Ayolah, saya mohon...”


“Tidak mau!”


“Lex, ayolahh,” mohon Caca lagi.


Terdengar helaan nafas disana, “Yasudah, nanti saya carikan, karena nona! Bukan karena orang gila itu!


Tut.


Caca menjauhkan teleponnya, ketika Alex mematikan teleponnya dengan tidak santai. “Asisten gak ahlak, sopan sama bos kayak gitu?” Caca bermonolog, sembari memasukkan handphonenya.


Hanya dengan berteleponan dengan Alex, Caca sudah sampai di kantin dengan tanpa sadarnya. Perempuan itu memesan makanan, setelah selesai, perempuan itu kembali berjalan, untuk sampai ke bangsal Raga.


“Kemana saja kamu?” di tengah perjalanan, Caca menggaruk tekuknya, ketika bertemu Dokter Bagas.


Caca meruntuki dirinya di dalam hati, kenapa harus membawa Raga ke rumah sakit ini? Yang jelas-jelas Dokter Bagas juga bekerja disini.


Caca cengir, “Ada kok dok, saya permisi dulu ya? Bye-bye!” pamit Caca, lalu berlari menuju bangsal Raga.


Brak


“Sorry, gue gak sengaja,” ucap Caca, lalu mendekat ke arah brankar.


“Nih makanannya, makan dulu,” Caca menyodorkan makanannya, ke arah Raga.


“Perutnya sakit, jadi suapin,” pinta Raga, tak mengambil sodoran makanan yang di berikan Caca.


“Perutnya yang sakit kan? Bukan tangannya yang sakit?”


“Pokonya suapin!” keukeh Raga.


Caca menghela nafas pelan, lalu duduk di pinggir brankar Raga. Melihat Caca yang duduk di brankar, Raga cepat-cepat memeluk perempuan itu.


“Katanya mau makan? Lepas dulu ini pelukannya, gimana mau nyuapinnya coba?”


“Gak mau! Pokonya suapinnya sembari meluk!”


“Kenapa lo jadi manja gini sih?!” kesal Caca.


“Cepetan suapin!” bukannya menjawab, Raga malah menyuruh hal lain.


Caca memutar bola matanya malas. Cepetan suapin? Gimana bisa? Orang kepala Raga ada di bahu Caca. Apakah perempuan itu harus memutar kepalanya 360° supaya bisa menyuapi laki-laki yang tiba-tiba manja di depannya ini.


“Gimana gue bisa suapin Lo? Dongkak dulu kepalanya,” 


Raga mendongkak ke arah Caca, tetapi tetap tak melepaskan pelukan itu. 


“Bukan mulutnya dong Ga,” kata Caca, ketika Raga terus mengatupkan mulutnya.


“Gak mau!” jawab Raga ketus.


“Katanya laper,”


“Lo marah-marah terus! Gue jadi males buka mulutnya!” seru lelaki itu.


Caca kembali menghela nafas, kenapa Raga menjadi sangat menjengkelkan? 


“Aaaaaaaa, buka mulutnya,” suruh Caca, menyimpan sendoknya di depan mulut Raga. Bahkan, sendok itu sudah menempel pada mulut Raga, tetapi tetap, Raga enggan untuk membuka mulutnya.


“Ga ayolahh, buka mulutnya, katanya laper,” 


“Gak mau udah gak laper!” kata lelaki itu, semakin menelusupkan kepalanya di bahu Caca.


“Terserah lo lah, gak usah makan sekalian!” kesal Caca.


Ada apa dengan Raga, setelah lelaki itu tertusuk, sifatnya menjadi sangat berbeda.


Caca memelototkan matanya, apakah orang yang di pelukannya itu bukan Raga? Tetapi orang yang bertragmigasi ke tubuh Raga? Entalah,  Lelaki yang di pelukannya ini, bukan seperti Raga.


“Mau makan, lapar!” ucap Raga.


“Tadi katanya gak mau,”


“Gak mau, karena lo marah-marah nyuruhnya,”


Caca lagi-lagi menghela nafas, menghadapi Raga yang berbeda-beda “Ya udah, mangap dulu  mulutnya,” ucap Caca, dengan intonasi yang berusaha di buat selembut mungkin.


Raga tersenyum, lalu membuka mulutnya menerima suapan dari Caca.


“Enak, apalagi si suapin sama lo,”


Bukan, bukan baper Caca mendengar kata itu, perempuan itu malah bergidik ngeri, Raga seperti orang yang kesurupan setan rumah sakit.


Ceklek


Pintu di buka, membuat atensi kedua remaja yang tengah berpelukan teralihkan.


“Maaf menganggu waktunya, tapi saya mau periksa pasien dulu,” ucap Suster itu.


Caca mengangguk, perempuan itu berusaha melepaskan pelukannya, tetapi berbeda dengan Raga yang semakin mengeratkan pelukan itu.


“Periksa aja dok, jangan ke ganggu dengan aktivitas saya sama pacar saya,” ceplos Raga tanpa tahu malunya.


“Dih, kita buk—“


“Diam sayang, kapan aku di periksanya, kalo kamu bicara terus,” sela Raga.


Caca hanya diam, tak menjawab atau menyangkal, tampaknya percuma, jikalau itu memang kembali di lakukan.


“Saya periksa sekarang ya?” Caca mengangguk, membuat Suster itu memeriksa kondisi Raga.


“Jadi, gimana kondisi teman saya dok?” Tanya Caca, ketika suster itu selesai memeriksa Raga.


“Pacar, bukan teman,” Koreksi Raga, membuat Caca memutar bola matanya malas.


“Kondisinya baik-baik aja. Bahkan sekarang pun sudah di perbolehkan untuk pulang. Mungkin saja, tadi pacarnya Shok aja mbak, atau mau manja-manjaan masa mbaknya yang cuek,” Ucap Suster itu, membuat caac mengerutkan dahinya bingung.


“Hah? Maksudnya gimana? Saya kurang paham. Luka tusukannya gimana dok? Dalam atau enggak, berimbas buruk ke organ lainnya tidak?”


Suster itu sedikit terkekeh “Tidak ada luka tusukan disini, hanya saja luka goresan yang cukup panjang, yang membuat darah meleber kemana-mana. Jadi mbaknya gak usah khawatir, pacarannya gak papa kok,”


“Oh ya sudah, terima kasih kasih Sus,” Caca berkata seperti itu, membuat Susternya pergi mengundurkan diri.


Setelah melihat Suster tak ada, Caca manatap Raga dengan tatapan datar. Kenapa di lihat-lihat Raga sangat lebay sekali. Padahal lukannya hanya berupa goresan, ingat! Berupa goresan saja.