
Caca menarik kursi kantin untuk duduk bergabung dengan teman-temanya. Wajahnya tertekuk kesal, bagaimana tidak? Gadis itu sehabis dihukum berdiri ditengah lapangan sembari hormat bendera dengan kaki diangkat satu tentunya dan jangan lupakan satu tangan yang menjewer telinganya.
Ia menyeruput asal es yang ada dimeja itu. Sungguh ia sangat kehausan sekarang, apalagi ia tak sarapan membuat dirinya pusing dan mual-mual.
"Minuman gue anjir!" Kesal Dodi, karena minumannya lah yang menjadi sasaran Caca saat ini.
"Pesen lagi aja susah banget sih? Haus gue, keburu mati kehausan gue kalo pesen dulu!"
"Tapi lo yang bayar ya," tunjuk Dodi, sambil menatap tak rela minuman yang sekarang Caca minum, mana tadi pesennya ngantri.
"Iya-iya, itungan banget si lo!" Damprat Caca.
Dodi tak menghiraukan ucapan Caca yang mengklaim dirinya itungan, toh memang benar dirinya itungan. Bukan karena apa, temannya itu kaya, bahkan sangat kaya, sayang saja kalau tak dimanfaatkan, lagian menyumbangkan sedikit harta pada dirinya tak akan membuat Caca miskin bukan?
"Gue marah sama lo Bim." Caca tiba-tiba marah, membuat semua orang menatapnya kecuali Dodi yang nampak tak peduli, bahkan dia sudah ngacir ke stand minuman untuk kembali memesan minumannya itu.
Dodi otaknya gratisan mulu, "Loh kenapa? Gue ada salah lo sama lo Ca?" Tanya Bima.
Ia sampe memikirkan, apa kesalahan yang dibuatnya sampe Caca marah padanya.
"Ada lah, kenapa lo gak ngundang gue pas lo nikah sih? Padahalkan gue udah nyiapin baju buat datang kesana, tapi kenapa malah lo gak ngundang gue?" Bahkan, Caca sampe menggunakan desainer untuk menentukan baju apa yang cocok untuk dirinya datang ke pernikahan Bima. Eh tapi endingnya malah gak diundang, nyesek memang.
"Sorry Ca. Orang tua gue gak ngizinin ada yang dateng, maafin gue ya," ucap Bima dengan tampang bersalahnya.
Caca mengangguk lesu, harapannya punah ketika memikirkan dirinya yang akan terlihat cantik saat datang kepernikahan temannya itu.
"Istri lo sekolah? Mana dia? Ajak duduk disini lah," ajak Raga disetujui semuanya.
"Dia sekolah, mungkin lagi di perpustakaan. Lagian gue gak mau publis hubungan gue sama dia, gue takut dia dibully terus dibicarain yang enggak-enggak, gue takut dia kenapa-kenapa," kata Bima.
Mereka mengangguk membenarkan, lagian pasti ada saja orang yang berpikiran negatif, meskipun orang itu alim sekalipun. Apalagi istrinya Bima sedang hamil, takut-takut ada saja orang yang menyakitinya. Lagian, tidak sedikit juga orang yang menyukai Bima saat ini, pasti akan ada saja cibiran atau perlakuan tidak baik yang akan terlontar, jika hubungan mereka terungkap.
"MEMORI DAUN PISANG.. NANANANANNA.."
Dodi berlenggak-lenggok sambil bernyanyi nyanyian ka Ros. Tidak lupa ada dua nampan ditangannya, ditambah dua nampan lagi yang dibawa oleh bu kantin.
"Nih makanannya nak Dod." Bu sari selaku ibu kantin menyimpan dua nampan itu dimeja.
"Makasi Bu, dibayar sama Caca kek biasanya ya Bu," seru Dodi sambil menunjuk Caca.
"Oke, kalau gitu ibu pamit undur diri dari sini," ucapnya lalu berlalu dari sana.
"Anjir undur diri, kek lagi ngundurin diri dari peserta Indonesia odol," ucap Caca tak habis pikir, lalu menatap Dodi.
"Lo pesen makan sebanyak ini buat siapa?" Tanya Caca.
"Buat gue lah," jawab dodi
Caca melotot sambil menggelengkan kepalanya.
Satu nampan berisi dua mangkok makanan, sedangkan Dodi membawa empat nampan yang berati, empat kali dua sama dengan delapan, Dodi memakan delapan mangkok dengan berbagai macam makanan itu sendirian.
Bukan pertama kalinya Dodi seperti itu, tapi yang membuat Caca heran adalah perut Dodi terlihat rata meskipun lelaki itu banyak sekali makan. Mungkin setiap saat Dodi selalu menahan nafas, supaya dirinya terlihat langsing, pikir Caca.
"Perasaan, gue minum es teh doang deh, tapi kenapa harus nebus nih semua makanan," dengus Caca, mengambil satu mangkok yang berada dinampan dan mulai memakannya.
Dodi menyorot Caca tajam hendak bersuara, tetapi suara Caca lebih dulu terdengar, membuat dirinya mengurungkan niat.
"Apa? Gak terima lagi makanan lo gue makan? Yaudah, lo bayar sendiri aja makanannya," Caca mengeluarkan jurus andalannya untuk membuat seorang Dodi kicep dan melanjutkan makannya sembari mendengus.
***
Pulang sekolah, di rumah sakit.
"Gimana keadaan saya Dok?" Tanya Caca. Memang, dirinya menyempatkan untuk ke rumah sakit melakukan kemoterapi.
"Selama ini perkembangnya jauh lebih baik, ketika kamu melakukan kemoterapi dan minum obat secara teratur, insyaallah penyakit kamu bisa berangsur sembuh. Jangan terlalu memikirkan hal yang tak penting, itu akan sangat berpengaruh pada kinerja otak kamu," kata Dokter Bagas.
"Tapi Dok. Pusing saya makin hari semakin parah. Bahkan, pas malem, saya sering menangis karena tak kuat menahan sakit. Bukan hanya itu aja Dok, muntah-muntahpun sering terjadi sampe mimisan."
Dokter Bagas mengangguk-ngangguk, "Apa kamu sering melupakan obat yang saya suruh minum?" Tanya dokter bagus.
"Apa susahnya minum obat ketika siang?" Nada bicara pak Bagas mulai serius. Tidak lupa, wajahnya pun ikut menatap Caca serius.
"Tidak ada susahnya, tapi saya tidak mau teman-temannya saya tau saya sakit, itu saja," jawab Caca.
Pak Bagas Menghela nafasnya, "Terserah kamu. Kalau kamu mau sembuh ya minum obat, kalau enggak ya gausah. Saya mah bodoamat toh kamu yang sakitnya."
"Ambekan banget jadi dokter, semangatin pasiennya kek, bukan kayak gitu," ucap Caca tak habis pikir, ia baru pertama kali melihat ada dokter yang bodoamat terhadap pasiennya sendiri.
"Kepada kamu saja saya seperti itu," ucap dokter Bagas.
"Pilih kasih banget jadi Dokter."
"Ngeyel banget jadi pasien," Doker Bagas mengikuti gaya bicara Caca.
"Kok ngikutin bicara saya!" Kesal Caca, sambil bersidekap dada.
"Kok ngikutin bicara saya!" Dokter itu pun mengikuti gaya Caca dan ikut bersidekap dada.
"Dokter rese!” Teriak Caca.
"Pasien rese!”
Caca melotot, lalu memalingkan wajahnya, "Pokonya saya marah, titik!"
"Dih, bodoamat!” Jawab Dokter Bagas.
Caca semakin cemberut, ia memundurkan kursinya menggunakan kaki. Hendak berdiri, tetapi Dokter muda itu menahan tangannya, terpaksa Caca pun kembali duduk.
"Jadi, siapa yang ambekan?" Tanya jahil sembari mengacak-acak puncuk kepala Caca.
Caca berdecak, lalu merapihkan kembali rambutnya, "Jangan diacak-acak ih, udah tahu sekarang rambut saya rontok. Kalau botak gimana coba?"
Dokter muda itu terkekeh gemas, lalu mencubit pipi Caca. "Kamu gemesin sih, jadinya saya mau jailin terus."
Caca mengibas-ngibasakan rambutnya bangga, "Dokter baru nyadar saya gemesin? Kamana wae atuh ti kamari teh?" Tanya balik Caca menggunakan logat bahasa Sunda.
"Ha? Kamana wae, apa coba gak paham," bingung Dokter Bagas.
"Gitu aja gak paham. Dokter baru sadar saya gemesin? Kemana aja dari kemarin, itu artinya," kata Caca sembari menjelaskan.
"Oh gitu," Dokter manggut-manggut, tiba-tiba saja matanya melotot.
"Nyesel saya puji kamu, saya lupa, tingkat kepercayaan diri kamu tinggi," dengusnya lalu kembali bersandar dikursi yang sedang ia duduki.
"Bukan tingkat kepercayaan saya yang tinggi, emang itu kenyataanya, Dokter juga bilang kek gitu kan?"
Dokter Bagas memutar bola matanya malas, "Terserah kamu lah."
'Angkat telponnya, angkat telponnya, angkat telponnya, angkat telponnya!'
Suara nada dering Caca mengalihkan atensi Caca dari Dokter muda ngeselin itu, "Kenapa Ga?” Tanya Caca ketika sambungan telponnya terhubung.
"Ke markas sekarang!"
Caca sempat terdiam, ada apa ini? Kenapa perasaannya semakin tak enak dan berkecambuk?
"Oke, sepuluh menit lagi gue udah disana."
Tut.
Raga memutuskan sambungannya, membuat Caca kembali menatap Dokter didepannya yang juga sedang menatapnya.
"Berhubung sudah selesai, saya pergi dulu ya pak dokter ganteng, bye-bye!" Lambai Caca beranjak dari tempat Dokter itu.
Pada saat sudah ada dipintu keluar, Caca memberikan flying kiss, lalu benar-benar menghilang dari depan pintu.
Dokter itu berdecak sebal, bisa bisanya ada orang aneh seperti gadis itu. Apa jadinya suami gadis itu kelak jika memiliki istri gembel perilaku seperti Caca. Sudah, Dokter sabar.
"Ada-ada saja," keukeh Dokter tersebut sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.