RAGASA

RAGASA
Ep. 65. Inteligen



Anggota inti alverage tengah berbincang serius di meja bundar mansion Caca. Aura mereka terlihat sangat berbeda jikalau sedang serius seperti ini.


Caca memang memberitahu perihal teka-teki yang di terimanya terhadap mereka, hanya mereka saja, tidak dengan anggota lain. 


"Jadi menurut orang yang kirim teka-teki itu, ada musuh di sama selimut gitu?" Ucap Dodi.


Caca menjentikkan jarinya setuju "Menurut orang itu sih gitu. gue gak tahu ya, orang itu kasih informasi yang  benar atau enggak, makanya gue bilang ke kalian, biar kita selidiki siapa orang yang udah ngirim teka-teki ke rumah gue selama ini."


"Lo udah coba liat CCTV rumah Lo?" Kata Bima.


Caca mengangguk "Udah, tapi percuma. orang itu pakai pakaian full Hitam, dan postur tubuhnya kayak postur tubuh laki-laki proporsional lainnya, jadi susah, hanya untuk sekedar cari orang itu lewat CCTV,"


"Ini gak bakalan gampang di kupas, kita sama sekali gak tahu dan gak punya ciri-ciri orang yang ngirim kotak  misterius itu ke Lo, kecuali kita pergoki orang itu langsung," Kini Alzam yang ikut berbicara.


"Benar kata Alzam, cukup susah cari orang yang emang benar-benar kita gak tahu itu siapa, bahkan untuk ciri-cirinya pun kita gak punya. kecuali kita pergoki orang itu secara langsung." Ucap Raga.


"Apa orang misterius itu kirimi kotak secara terjadwal atau acak? misalnya selalu ngirimin di hari yang sama," Lanjut Raga.


"Gue gak terlalu ngingat-ngingat, yang pasti, setiap pulang sekolah gue selalu nemuin kotak itu, “Jawab Caca.


"Kalo kita cari orang itu tanpa bukti sama sekali, itu percuma. kayak cari satu jarum di tumpukan jerami, gak akan mungkin ketemu," Kata Raga, membuat mereka semua mengangguk setuju.


Bayangkan saja, kita akan mencari seseorang, yang kita gak tahu ciri atau muka orang itu seperti apa, gak lucu kan, kalo asal nuduh gitu aja. 


"Apa kita perlu bantuan orang lain untuk ngupas Semua ini?" Saran Caca.


"Bantuan siapa?" Tanya Dodi.


"Alex, dia pintar soal beginian," 


Raga yang mendengar itu sedikit tidak terima, kalo misalnya Alex disini, Caca pasti akan lebih mementingkan Alex daripada dirinya, tetapi mau bagaimana lagi, dirinya tidak boleh egois, supaya siapa pembunuh kakaknya Caca cepat di temukan.


"Ya udah Lo telepon aja," Ucap Raga, sedikit ketus.


Caca mengangguk, lalu menghubungi Alex, setelah selesai, Caca kembali menyimpan handphonenya di atas meja.


Tak lama kemudian, Alex datang, dan duduk di tengah-tengah Caca dan Raga.


"Perasaan, tempat lain masih kosong deh, kenapa Lo bawa kursi Lo di tengah-tengah gue sama Caca?" Sinis Raga.


Alex sama sekali tak menggubris, pria itu hanya menatap Caca yang menjadi objek di depannya "Ada apa Nona? kenapa anda menyuruh saya kesini?"


"Ada urusan. ke mana aja Lo, akhir-akhir ini batang hidung Lo Sama sekali gak kelihatan," Ucap Caca.


"Saya sedang sibuk di kantor Nona, kenapa Nona berbicara seperti itu? Nona merindukan saya kah?" Kata Alex sembari terkekeh.


Raga yang mendengar itu, memperagakan gaya muntah, seperti jijik mendengar apa yang di katakan Alex. baru saja datang, Alex berani-beraninya menggoda Caca di depan matanya.


"Pindah tempat duduk gih! gue jijik dekat-dekat sama Lo!" Kata Raga.


"Anda saja yang pindah, saya tidak mau," Balas Alex.


"Dih anjir! ngajak berantem Lo tua!" Maki Raga mengambil kerah belakang Alex.


"Saya dan anda hanya berbeda lima tahun saja, saya sudah dewasa bukan tua seperti yang anda pikirkan," Balas Alex, melepaskan tangan Raga di kerahnya secara kasar.


"Udahlah Ga, kita harus selesaikan ini dulu, jangan dulu berantem," Lerai Caca, membuat Raga tetap diam di tempat duduknya dengan wajah ketus.


Caca memang seperti itu, pasti akan lebih membela Alex di bandingkan dirinya.


"Jadi ada apa Nona?" Ucap Alex.


Alex mengangguk mengerti, "Terus? kenapa anda bawa teman-teman anda, bukan kah teman-teman anda anggota alverage juga, bisa jadi, salah satu dari mereka yang membunuh Kakak anda Nona,"


Keempat Lelaki di sana melotot tak terima, kenapa Alex jadi menuduh mereka, "Oh... jadi Lo nuduh kita semua?" Kata Dodi tak terima.


"Tidak, kalo misalkan kalian ngerasa sih bagus," Kata Alex, terdengar menyebalkan.


"Lo bisa pecat nih orang gak sih Ca? Lo bisa sewa intelegent kan? kenapa harus asisten Lo ini," Kesal Dodi.


"Asal anda tahu Dodot, saya lebih jago dari inteligen, itu juga kenapa tuan libertà mengangkat saya sebagai asistennya," Alex tersenyum angkuh, sembari bersedekap dada.


"Serang gak nih Dod?" Kata Bima, yang melihat kobaran amarah di mata Dodi ketika di sebut dengan mana Dodot.


Dodi mengangguk, lalu berancang-ancang "Satu... dua.. tig


—"


"Lo berdua diam!" Intruksi Alzam menyela.


"Buktiin kalo Lo emang lebih jago dari inteligen, gue tunggu siapa orang yang ngirim teka-teki itu ke rumah Caca secepatnya," Tambah Alzam.


Alex mengangguk mengiyakan ucapan Alzam.


"Udah kan? Caca udah selesai bicara sama Lo, kenapa Lo masih disini? sana keluar!" Usir Raga, terang-terangan.


"Kenapa teman anda tidak mempunyai sopan santun semua Nona?" Bukannya menggubris ucapan Raga, Alex malah berbicara seperti itu pada Caca.


"Udah lah gays, meskipun Alex cuman beda lima tahun sama kita, tapi tetap aja Alex masih lebih tua dari kita, jadi gak boleh kayak gitu," Peringat Caca, membuat keempat lelaki temannya mendelik tak suka.


"Bela aja terus!" Serempak keempat lelaki itu, lalu berjalan ke luar ruangan, meninggalkan Caca dan Alex.


"Tuh kan Nona, bukan hanya tidak mempunyai sopan santun, teman anda juga gampang tersulut emosi. anda mendapatkan teman seperti itu di tong sampah mana sih nona?" 


Caca tertawa, Alex memang sangat bisa dan ahli dalam menistakan teman-temannya. Caca bangkit dari duduknya, lalu menepuk-nepuk pelan bahu pria lebih tua di sampingnya.


"Gue ngejar mereka dulu, berabe kalo marah lama-lama. kalo mau makan, makan aja udah siapin sama bibi,"


Alex tersenyum, lalu mengangguk membuat Caca berlari ke arah luar. setelah di luar, dugaan Caca salah, wanita itu kira, teman-temannya langsung pulang karena marah, tetapi ternyata sedang membuat rumahnya kacau dengan makanan yang berserakan di mana-mana. padahal, mereka keluar belum beberapa menit, tetapi makanan yang sudah berantakan sudah sangat banyak, pasti ini ulah Dodi dan Bima, siapa lagi kalo bukan Mereka berdua.


"Ngapain berduaan lama-lama di dalam?" Tanya Raga ketus.


"Lama apanya sih? sepuluh menit aja belum," Balas Caca, lalu duduk di sisi Raga.


Raga menggeser duduknya menjauhi Caca, "Pas sepuluh menit, berati udah terbilang lama!" 


Caca menggulum senyumnya, ia selalu tak kuasa menahan senyumnya, ketika Raga marah seperti ini gara-gara seorang pria, entah kenapa, wanita itu selalu menjadi di istimewakan.


Caca mendekat, lalu merangkul tangan Raga dari belakang "Cemburu?" 


"Ngapain cemburu? orang kita cuman teman," Balas Raga, masih ketus.


"Cuman teman aja? berati gue boleh dong, kalo pacaran sama Alex," 


"Terserah Lo!" Sinis Lelaki itu, berusaha melepaskan Cekalan tangan Caca.


Caca bangkit dari duduknya, membuat Raga otomatis berbalik ke arah perempuan itu "Kemana?"


"Mau ajak Alex pacaran," 


"Diam disini, Lo masih kecil gak boleh yang namanya pacar-pacaran!" Tekan Raga, sembari memaksa Caca untuk tetap duduk.