
Caca membaringkan tubuhnya dari kasur, lalu memijit-mijit pangkal hidungnya karena merasakan pusing yang amat sangat luar biasa. Tetapi ia mencoba untuk menahannya, karena yang terpenting sekarang bukanlah penyakitnya, tetapi siapa pembunuh kakaknya. Ia tak akan lalai lagi soal ini, ia takut jika ia lalai, ia tidak bisa menyelesaikan kasusnya, tetapi hidupnya yang akan selesai.
Karena terkadang, Caca merasa pesimis jikalau hidupnya tidak akan panjang, setelah dirinya mengetahui dirinya mempunyai penyakit yang tidak bisa dianggap sepele ini.
Ia rela mati setelah kasus kakaknya sudah terselesaikan, tidak untuk sekarang. Caca mengambil handphonenya, lalu mencari nama seseorang untuk dihubungi.
Cakra. Itulah orangnya, orang yang baru mengaku bahwa dia adalah teman kakaknya dan bekerja ditempat kakaknya dibunuh.
“Kak, lo sibuk gak?” Tanya Caca, ketika sambungan teleponnya terhubung.
“Enggak sih untuk sekarang, tapi kalau malem gue kan harus kerja,” jawabnya.
“Bisa ketemu gak kak? Gue mau tanya-tanya soal kakak gue, boleh?”
“Boleh dong, mau dimana?”
“Lo yang nentuin aja kak, gue kan yang butuh lo.”
“Yaudah gue sharelock sekarang. Gue matiin telponnya dulu.”
“Oke kak.”
Setelah mendapat serlockan dari Cakra, Caca cepat-cepat mengambil kunci motor dan jaketnya, menuju tempat yang disuruh Cakra.
Caca celangak-celinguk mencari Cakra ketika sudah sampai ditempat yang disuruh oleh lelaki itu. Ketika Cakra melambaikan tangannya, barulah ia melihat dan menghampiri lelaki itu.
“Hey kak Cak!” Sapa Caca sembari duduk didepan Cakra.
“Hai!” Balasnya ramah sembari tersenyum, membuat Caca ikut tersenyum juga.
“Langsung ke intinya aja kak, lo kan kerja ditempat dimana kakak gue dibunuh. Waktu pembunuhan lo ada disana dan melihat kejadiannya gak?” Tanya Caca, wajahnya mulai menampilkan wajah serius.
Cakra menghela nafas, lalu memejamkan matanya sebentar, beberapa detik kemudian, lelaki itu kembali membukanya.
”Gue liat dengan mata kepala gue sendiri, tapi gue datang pas tusukan terakhir yang beri orang itu sama saka. Gue kejar orang itu, tetapi orang itu malah hajar gue dengan ganasnya, ngebuat gue gak bisa apa-apa dan pasrah atas apa yang dia lakukan,” ucapnya.
“Dan sampai saat ini, itu adalah penyelesaian terbesar gue, karena gue gagal ngebuka identitas pembunuhan Saka kakak lo.”
Sampai sekarang, Cakra memang selalu dihantui rasa bersalah. Ia merasa menjadi teman yang tak bisa diandalkan dan berakhir membuat lelaki yang menjadi sahabatnya tewas dengan mengenaskan.
“Kalau aja gue datang lebih cepat, semuanya pasti gak akan kayak gini,” Cakra menundukkan kepalanya, merasa menyesal.
“Itu bukan salah lo kak,” Caca mengusap-usap bahu Cakra sambil tersenyum.
”Tapi ini yang bikin gue kesel, lo babak belur juga kan disana? Tapi kenapa polisi seakan-akan mutlak, mikir kakak gue bunuh diri, padahal lo babak belur juga disana dan sama sekali gak minta kejelasan lo, apa itu bener?” Tanya Caca tak habis pikir.
“Right, makanya gue kesel banget waktu itu, untung gue ketemu sama lo sekarang dan bisa bicarain semuanya,” kata Cakra.
Caca mengangguk membenarkan, untung mereka bertemu, jadi pembahasan tentang pembunuhan Saka ada kemajuan.
”Lo masih inget ciri-ciri orang yang ngebunuh kakak gue waktu itu?”
“Ciri-cirinya sih tuh orang kurang lebih tingginya sekitar 180 lah, hampir sepantaran sama gue. Tapi, kalau ciri-ciri yang lebih signifikan sih gak ada, soalnya dia pakai topi sama masker gitu, jadi gue sama sekali gak bisa ngenalin. Sorry,” jelas Cakra.
Cakra tampak mengingat-ngingat kejadian yang pernah dialaminya beberapa tahun silam itu, lalu menjentikkan jarinya ketika mengingat sesuatu.
”Gue inget! Waktu itu tuh orang pakai kemeja item, terus gue gak sengaja narik kerahnya, jadinya kancing atasnya kebuka. Sekitar dua kancingan lah, kan otomatis dadanya keliatan tuh, terus di dada kanan atau kirinya gitu, gue ngeliat ada 2 tato kecil, tato pistol gitu.”
Penjelasan Cakra lagi-lagi membuat Menghela nafasnya kasar.
“Anjir, masa iya gue harus cek setiap dada orang, kek orang sinting dong gue?” Gumam Caca membuat Cakra tertawa.
Tetapi meskipun bicara seperti itu, Caca sedang memikirkan tato yang berada di dada orang itu, “Dua pistol? Pistolnya saling hadap-depan gak kak? Disetiap pistolnya ada sayapnya gak? Terus di atas pistol itu ada mahkotanya juga gak?”
Caca memberi pertanyaan beruntun kepada Cakra. Sembari berdoa, semoga pernyataan yang diucapkannya salah. Cakra melotot tak percaya.
”Kok lo tahu sih? Apa lo tahu siapa orang yang punya dada dipistol itu?” Sahut Cakra kaget.
Bagaimana tidak, semua yang diucapkan Caca sangat detail dan sangat sama dengan tato yang Cakra ingat berada di dada si pelaku.
Caca mengusap wajahnya kasar, kenapa sangat sama sekali dengan apa yang diberikan teka-teki itu. Berarti semuanya sudah jelas. Pembunuhan kakaknya, ada sangkut pautnya dengan gengnya sendiri.
Caca menggeleng sembari bernafas kasar, ”Gue gak tahu siapa pemilik tato pistol itu, tapi—
“Caca membuang nafas kasarnya kembali, lalu menelungkup kepalanya dimeja, lalu kembali mendongak, ketika siap mengatakan.
“Tato yang ada di dada cowok itu, lambang Alverage, geng gue,” ucap Caca sembari tersenyum kecut.
Pikiran Caca sekarang, apakah benar? Pembunuh kakaknya ada di anggota Alverage? Tapi siapa?Apa salah satu dari sahabatnya? Berarti ada adik mantan pacar kakaknya juga ada disana.
Wanita itu menggeleng, menghalau pikiran kotor yang masuk ke dalam pikirannya. Tapi Caca tak bisa, teka-teki yang selalu berdatangan padanya pun, seperti mengarah kepada gengnya.
Tato yang dituliskan di surat itu, adalah orang terdekatnya, siapa lagi orang terdekat Caca selain sahabat-sahabatnya. Toh Caca tidak punya siapa-siapa.
Anggota Alverage siapa yang adik dari mantan Kakaknya? Ia sedikit kesal juga, ketika anggota dari gengnya cukup banyak, tidak memungkinkan dirinya untuk mengintrogasi satu-satu.
Cakra memegang bahu Caca membuat lamunan gadis tersebut buyar seketika, ”Udah, positif thinking, gak baik curigai teman sendiri.”
Caca mengangguk lesu, membenarkan ucapan Cakra. Tak baik bukan mencurigai teman sendiri. Namun, jika endingnya yang dicurigai benar pun tak papa. Tapi kembali lagi jikalau kalau salah? Pantaskah disebut teman, ketika kita mencurigai teman sendiri? Itu terlalu menyakitkan.
**
Raga mengumpati Caca sendari tadi, karena apa? Padahal dirinya sudah menchat Caca pada malam itu dan berkata bahwa bundanya kangen pada gadis tengil tersebut, tapi apa? Caca sama sekali tak ada di rumah pada saat ia menjemputnya.
Memang, Raga tak berkata apapun ketika berada sekolah, karena lupa. Tapi, ketika mamahnya bawel menanyakan Caca terus menerus, jadilah ia memutuskan untuk menjemput gadis itu, tetapi sama sekali tak ada dirumah.
Telephone, chat sudah Raga lakukan, tetapi diabaikan oleh gadis itu, membuat Raga sendiri semakin sebal.
“Percuma punya handphone, kalau chat sama gue dianggurin!” Makinya.
Ia melajukan motornya ke arah cafe yang ingin ditujunya. Rasanya, ia ingin meminum kopi hanya untuk sekedar menghilangkan rasa kesalnya pada Caca. Raga mengerutkan keningnya, lalu mengeraskan rahangnya ketika melihat seseorang yang sesekali tertawa dan bercanda.
Ia berjalan memasuki cafe dan tanpa basa-basi, Raga menghampiri orang itu dan mencekal lengannya.
“Pulang!” Ucapnya tegas, sembari menatap dingin orang yang sedang ditariknya itu.