
Caca mengutuk dirinya sendiri, yang tiba-tiba menjadi cengeng seperti ini. Wanita itu benci, ketika dirinya terlihat cengeng di mata orang lain.
Mata Caca yang awalnya menatap Raga nyalang, kini teralihkan kepada lelaki yang berada di pinggir Raga. Caca mendekat, lalu memegang Hoodie yang di pakai lelaki itu.
“Hoodie biru bergambar, orang yang ngirimin gue teka-teki. Dan orang yang gue cari-cari, ternyata orang itu selalu berada di dekat gue, sempit banget sih dunia,” Ucap Caca, sembari terkekeh pelan.
“Alzam, orang yang gue kira gak tahu apa-apa, ternyata tahu semuanya. Bahkan, lo orang yang salah satunya ngasih tahu bahwa Raga lah adalah pembunuhnya!”
Alzam sedikit kaget dan gelagapan, ketika Caca tahu, bahwa dirinya lah orang yang selalu mengirimkan teka-teki tentang pembunuhan Kakak Caca, kepada Caca sendiri.
Raga melirik untuk menatap Alzam, “Gue selalu di hantui rasa bersalah Ga tiap malem, gue ngerasa jadi teman yang brengsek, udah nutupin semua kebenaran. Tetapi di sisi lain, gue tahu perasaan Lo, makanannya gue selalu ngirimin dia teka-teki, gimana ciri-ciri orang yang ngebunuh kakak Caca,”
Raga hanya mengangguk memaklumi, bukan hanya Alzam saja yang selalu di liputi rasa bersalah, dirinya juga, atau bahkan lebih daripada yang Alzam rasakan.
Raga memberanikan diri untuk menatap Caca yang sedang menunduk dan menangis, lelaki itu mendekat dan hendak memeluk Caca, tetapi perempuan itu mengangkat tangannya menyuruh nya berhenti.
“Jangan peluk-peluk gue!” ucapnya terdengar begitu dingin.
Raga tersenyum miris, ini yang selalu menjadi ketakutannya selama ini, melihat Caca yang tampak berbeda, hanya karena tahu kebenaran.
Hatinya tiba-tiba terasa sakit, ketika mendengar perempuan itu berbicara dengan nada dingin kepadanya. Biasanya, Caca akan selalu memberikannya senyuman, serta menerima semua pelukan yang dirinya berikan, tetapi keadaannya berbalik sekarang.
Raga kembali menunduk menyesal, “Maafin gue Ca,” Raga ingin menjelaskan semuanya, tetapi nafasnya tiba-tiba tercekat, yang membuat lelaki itu hanya bisa mengatakan tiga kata saja.
“Maaf?” Caca terkekeh, sambil menggelengkan kepalanya, “Lo pikir?dengan kata maaf Lo bisa balikin Kakak gue? Kagak kan?”
Raga hendak menggapai tangan Caca, tetapi perempuan itu segera menjauh “jangan pegang-pegang gue!” sentak perempuan itu.
“Gue harus gimana biar Lo maafin gue? Pukul gue Ca, tampar gue, apapun yang bisa Lo lakuin, yang penting Lo maafin gue,” Ucap Raga, seberusaha apapun untuk menggapai tangan Caca.
“Kenapa Lo gak jujur? Kenapa Lo gak jujur, ketika Lo tahu bukan kakak gue pembunuhnya, kenapa Lo tutupin semuanya?” Caca menaikan satu alisnya bertanya.
“Oh iyah, gue lupa. Lo kan mau bales perbuatan kakak gue, yang gak sama sekali kakak gue lakuin itu,” Caca tersenyum miring, sembari mengucapakan kata itu
“Apa lagi yang mau Lo lakuin, buat balas dendam Lo? Apalagi ga? Bilang sama gue! Gue akan lakuin itu demi lo! Demi Lo, supaya Lo gak benci lagi sama Kakak gue!”
“Enggak gitu Ca. Gue takut kalo gue jujur, Lo bakal jauhin gue, dan gue gak mau itu terjadi. Satu lagi, gak ada yang mau gue lakuin buat bales dendam sama kakak Lo, karena kakak Lo gak salah disini, gue yang salah sasaran,” Raga berkata lirih, sambil mendongakkan kepalanya, berharap air mata yang akan keluar itu kembali masuk.
“Kenapa Lo takut banget gue jauhin? Bukannya Lo deketin gue juga mau bales dendam?” Tanya Caca.
“Niat awal gue deketin Lo emang buat bales dendam Ca, tapi lama-kelamaan, perasaan yang harusnya gak muncul, tiba-tiba muncul. Gue suka sama Lo, gue sayang sama Lo, bahkan gue cinta sama Lo Ca. Jadi setelah gue tahu, bahwa bukan kakak Lo yang pemerkosa Kakak gue, gue takut buat jujur, gue takut Lo tiba-tiba jauhin gue, dan berakhir kita asing, dan gue gak mau itu terjadi,” Jelas Raga, berharap Caca mengerti maksudnya, dirinya tak mau, atau berakhir asing dengan Caca, karena kesalahannya di masa lalu.
Caca berdecih, “Dan Lo pikir? Ketika lo simpan semuanya, dan tiba-tiba gue juga tahu semuanya, kita gak bakal asing? Mikir Raga! Kenapa Lo gak akhirin semuanya dari dulu! Kenapa Lo gak akhirin semuanya? Kenapa Lo gak akhirin semuanya, di saat gue belum sayang sama Lo, mungkin gue gak akan sebenci ini sama Lo! Rasanya sakit Raga, sakit ketika kita di bohongin sama orang yang kita sayang sekaligus kita percaya!”
Raga tak bisa menahan air matanya, dadanya seperti di remas-remas, ketika Caca mengatakan bahwa Caca membenci dirinya.
Dengan gerakan cepat, Raga memeluk Caca, memeluk cewek itu dengan erat. Awalnya Caca memberontak, tetapi pelukannya semakin mengerat, membuat Caca pasrah di peluk seperti itu oleh Raga. Caca sama sekali tak berniat membalas pelukan hangat Raga, yang biasanya wanita itu inginkan.
“Berati Lo egois Ga, Lo selalu pentingin perasaan Lo sendiri, tanpa pentingin perasaan orang di sekitar Lo, ketika orang di sekitar Lo tahu semuanya, termasuk gue! Gue benci Lo! Gue benci Lo Raga!”
“Maaf, maafin gue Ca, Jangan kayak gini, sakit rasanya ketika Lo ngomong kalo Lo benci gue,” Raga tiba-tiba terisak, sembari memeluk perempuan yang entah bisa di peluk lagi atau tidak.
“Maafin gue Ca, jangan bilang Lo benci gue gue...”
“Lepas!”
Raga menggeleng, sambil terus mengeluarkan air matanya.
“Lepasin raga!”
“E-enggak, gak mau!” tolak Raga, masih terus memeluk Caca.
“GUE BILANG LEPAS, YA LEPAS!PAHAM GAK SIH LO!” teriak Caca, membuat Raga melepaskan pelukannya dan menatap Caca tak percaya.
Ini pertama kalinya Caca berteriak kepadanya, dulu Caca berteriak hanya karena jengkel dirinya terus jahili, tetapi sekarang? Caca berteriak karena membenci dirinya.
“Lo teriak sama gue Ca?” ucap Raga masih dengan nada tak percaya.
Caca tak memperdulikan ucapan lelaki itu, perempuan itu berjalan cepat untuk keluar, sambil sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Apa yang harus Caca lakukan? Caca tidak bisa melukai Raga, wanita itu sudah terlanjur sayang terhadap Raga tetapi Caca juga tak bisa, membiarkan orang yang membunuh kakaknya begitu saja.
“Ca tungguin gue Ca,” Raga berusaha menyamakan langkahnya dengan Caca.
“Ca!”
Caca berjalan melalui koridor, berniat ingin keluar sekolah, tetapi suara guru menginterupsi Caca, membuat perempuan itu berhenti.
“Mau kemana kamu? Dan dimana kursi saya?” dia Bu Nita, yang tak sengaja tengah melihat ke arah koridor, dan terdapat caca disana.
“Sial, kenapa gue harus jalan sini sih?!”
“Maaf Bu, saya jadi lupa tujuan awal saya ke gudang, jadinya saya gak bawa bangkunya. Ibu pakai bangku murid yang gak masuk dulu ya,”
Guru itu mengangguk pasrah, membuat Caca mengambilkan bangku Dodi, dan langsung duduk di bangkunya.
Ini juga yang menjadi pertanyaan di benak Caca, apakah Bima dan Dodi juga tau semuanya? Atau Alzam dan Raga saja?