
Caca melirik ke arah Raga yang dari tadi diam. Setelah kedatangan Cakra dan Saskia ponakannya, Raga lebih banyak diam. Dan sekarang pun, setelah mereka berdua berada di dalam mobil, Raga masih setia diam.
Lelaki itu seolah sibuk dengan dunianya sendiri, tanpa memedulikan perempuan di sampingnya. Entahlah, mungkin hanya perasaan Caca saja.
“Gue ada salah ya Ga?” Tanya Caca, setelah lama diam.
“Gak ada,” Balas Raga.
“Lo marah?” Tanya Caca.
“Gak juga,”
Caca mengangguk “Bagus deh, kirain ngambek,”
Caca mengerucutkan bibirnya, katanya tidak marah, tetapi kenapa Raga tetap diam dan tidak menjawab pertanyaannya?
“Gue minta maaf Ga,” Ujar Caca.
“Buat?” Tanya Raga
“Supaya Lo gak marah lagi,” Jawab Caca.
“Emang gue tadi bilang gue marah?” Raga menaikkan satu alisnya bertanya.
Caca menggeleng “Enggak, tapi Lo kayak marah,”
“Jadi gue mau minta maaf,” Tambah Caca.
“Lo ngerasa lo salah?”
“Nggak tahu, gue gak tahu kesalahan gue apa. Emang Lo marah ke gue karena apa?”
“Terus ngapain Lo minta maaf, kalo Lo sendiri aja gak tahu kesalahan lo!” Bak terpancing emosi, Raga menaikkan nada oktaf bicaranya.
Caca menundukkan kepalanya, lalu memain-mainkan jarinya “Kesalahan gue apa? Lo bilang, biar gue gak kayak gitu lagi,” Kata Caca pelan.
“Pikir sendiri! Gedek gue lama-lama sama Lo! Lo itu gak pernah peka sama perasaan gue! Gak pernah peka sama keadaan sekitar! Mikir kali-kali, jangan minta maaf tapi sendiri gak tahu kesalahan lo dimana!”
Raga melajukan mobilnya dengan perasaan dongkol. Lelaki itu tadinya tidak marah dan memaklumi, tapi Caca sendiri yang memancing dirinya supaya marah.
Raga kesal jelas, Raga cemburu jelas, Raga merasa di abaikan, itu juga jelas terasa oleh Raga sendiri. Raga tadinya hanya kesal dan tidak akan marah berkelanjutan, Raga lebih banyak diam tadi, supaya Caca berpikir saja, apa yang kurang di sukai Lelaki itu. Tetapi endingnya, Caca yang memancing emosi Raga, dan membuat lelaki itu marah.
Di sisi lain, Caca memejamkan matanya berusaha mengingat, apa yang membuat Raga marah seperti ini, apa kesalahan yang di perbuat tanpa di sengaja nya tadi.
Caca berbicara lewat hati dengan dirinya sendiri, “Raga tiba-tiba diam, pas kedatangan Kak Cak sama ponakannya. Apa mungkin Raga gak suka sama kedatangan mereka, dan membuat Raga marah?”
“Atau mungkin....”
Pletak
Caca tiba-tiba menepuk kepalanya cukup kencang ketika mengingat kejadian tadi, kejadian dimana Raga menjadi Terabaikan, ketika dirinya asik memilih mainan untuk Saskia, sedangkan Caca sendiri tahu, Raga paling tidak suka dirinya di abaikan.
“Raga....” Panggil Caca pelan.
Raga tetap fokus menyetir, tanpa memedulikan Caca.
“Aga,” Panggil Caca lagi.
“Apa sih?! Mau ngomong ya ngomong aja!” Sinis lelaki itu.
“Minta maaf karena tadi gak sengaja cuekin Lo. Gue terlalu excited, ketika milihin mainan buat Saskia sampai lupa sama Lo, gue minta maaf...”
“Hm,” Jawab Raga hanya berdehem.
“Kok hm doang?”
“Ya terus, Lo mau gimana?”
“Enggak,” Caca menggeleng, lalu mengalihkan pandangannya, ke arah kaca.
Ngambek balik, adalah jalan terbaik.
Setelah lama saling mendiamkan, akhirnya mereka berdua sampai di depan apartemen Bima.
Caca cepat-cepat turun dari mobil, untuk menghindari Raga. Tetapi Lelaki itu malah mencekal lengannya.
“Gue maafin, gak usah marah balik. Kebiasaan banget,” Cibir Raga, tetapi lelaki itu tersenyum ketika mengatakannya.
Mood Wanita memang berubah-ubah, cepat marah, tetapi cepat juga untuk kembali seperti biasanya. Memang cukup membingungkan dan merepotkan.
|•••|
Raga dan Caca sudah berada di depan pintu apartemen Bima. Jangan tanyakan dimana Dodi dan Alzam, kedua lelaki itu sudah dari tadi siang di sana. Dengan embel-embel mau numpang makan.
“Woy! Caca dan Suami sudah datang, yuhu!” teriak Caca, sambil menggedor-gedor pintu apartemen Bima.
“Woy buka pintunya!”
Caca menatap Raga yang hanya diam memperhatikan dirinya “Ck, ngomong dong, cape nih teriak-teriak!”
“Suruh siapa teriak-teriak?” Raga bertanya, lalu merogoh sakunya untuk menelepon Tuan Rumah.
“Gue udah di depan sama Caca, bukain pintunya” Ucap Raga, ketika sambungan teleponnya terhubung.
Ceklek
Pintu di buka, menampilkan Bima yang sudah memakai baju santainya.
Sedangkan Caca, perempuan itu hanya mendengus, kalo tahu begitu, Caca pasti akan langsung menelepon Bima saja, tanpa harus berteriak.
“Kenapa cemberut?” Tanya Bima, melihat muka Caca tak enak di pandang.
“Gue udah teriak-teriak dari tadi gak di buka, pas Raga telepon lo langsung di buka tuh pintu. Ngeselin banget!”
“Lo nya aja yang bodoh, ini bukan lagi jaman purba yang harus teriak-teriak. Tinggal telepon, angkat terus gue samperin, sesimpel itu, lah Lo? Malah cari jalan capein diri sendiri” Cibir Bima.
Caca memutar matanya dan melengos pergi tanpa sama sekali mendengarkan penuturan Bima, membuat cowok itu melotot “Eh anjir, kagak sopan Lo! Gue masih ngomong Main tinggal-tinggal aja!”
“Ngerepotin banget Lo jadi manusia! Lo tahu kan, kalo Bella hamil, jadi jangan berantakin nih rumah, kasian Bella beres-beres nya!” Maki Caca, ketika melihat Dodi yang tengah asik memakan makanan tanpa tahu malunya. Terlebih lagi, keadaan ruang tamu Bima sangat berantakan sekarang, ulah siapa lagi kalo bukan ulah Dodi.
“Berisik Lo datang-datang! Gue beresin lagi nanti!” Balas Dodi, malah melanjutkan makannya.
“Anjir! Lo bawa apaan? Sampai lima kresek gede gitu?” Kaget Dodi, ketika Raga membawa tiga kantung kresek besar, dan Caca membawa dua.
“Buat ponakan gue lah, emangnya lo! Ponakan kita mau lahir, Lo gak ngasih apa-apa!”
“Sok tahu banget Lo! Gue bakalan kasih yang spesial nanti, gak sekarang, jadi tenang aja,” Kata Dodi, sembari mengibaskan tangannya angkuh.
“Baru aja ketemu, udah debat aja Lo pada!” Cibir Bima yang baru memasuki apart.
“Istri Lo mana Bim?” Tanya Caca, menyimpan kantung kreseknya di kursi.
“Di dapur, nyiapin makanan,” Jawab Bima santai.
Caca melotot tak percaya “gila Lo? Istri Lo lagi hamil, masa di suruh kerja sih? Awas aja kalo sampai terjadi apa-apa sama ponakan gue! Gue bunuh Lo!” Ancam Caca, dan berlari ke arah dapur.
“Kok Lo masak si bel? Biar gue aja, Lo duduk,” Caca berucap tiba-tiba, membuat Bella kaget. Tetapi setelah itu dia tersenyum, melihat siapa yang datang.
“Baru sampai?“ tanya Bella.
Caca mengangkat “Iya, tapi gue dengar Lo masak. Makanya gue langsung lari ke sini,”
“Parah banget laki Lo, masa istrinya lagi hamil malah di suruh masak,” Tambah Caca.
Bella terkekeh, sahabat suaminya ini sangatlah baik kepadanya, padahal mereka berdua belum lama kenal.
“Gak papa kok, lagian ini cuman masak, gak buat aku capek,” Kata Bella.
“Biarin gue yang masak, Lo diem. Emang lo gak percaya kalo masakan gue enak?” Ujar Caca, sembari menggiring bella untuk duduk di kursi pantry.
Caca mengusap-usap perut Bella lembut “Baby liatin aunty masak ya, jangan bandel-bandel di sana,”
“Lo juga diem bell, tar ponakan gue kenapa-kenapa,” Kata Caca posesif.
Bella mengangguk, membuat Caca langsung pergi ke arah kompor untuk kembali melanjutkan masakan yang belom Bella selesaikan.
“Ca?” Panggil Bella.
“Hm?” Caca hanya bergumam tanpa berbalik, karena perempuan itu sangat fokus sekali kepada masakannya.
“Kamu sakit ya? Kok kamu keliatan kurusan?” Tanya Bella.