
Sebelumnya
“Lah, itu fakta. Yang jelek jangan syirik!” Ucap Raga, segitu menusuk sampai ke anus.
|•••|
“Lo semua bisa fokus dulu ke satu topik ga? Gue kayak ikut komplotan TK, dikit-dikit berantem, apa-apa di berantemin!” Maki Alzam, sembari menyenderkan tubuhnya.
Nampaknya Alzam sudah lelah dengan pertemanan ini.
“Dodi sih yang selalu mancing-memancing,” Ucap Caca menyalahkan Dodi.
“Bangs—“
Drtt drtt drtt
Caca menundukkan kepalanya, ketika melihat Raga melepaskan pelukannya untuk mengambil handphone.
“Siapa?” Tanya Caca.
“Sigit,” Balas Raga. Sigit adalah anggota alverage, kalo kalian lupa.
“Loudspeaker,” Raga mengangguk, lalu menyimpan handphonenya ketika sudah di loudspeaker.
“Halo pak bos,” Suara Sigit terdengar di sebrang sana.
“Markas di serang lagi, bukan cuman itu aja, hampir semua anggota di larikan ke rumah sakit,” Tambah Sigit.
“Rumah sakit mana?” Tanya Raga.
“Rumah sakit persahabatan,”
“Gue kesana sekarang,”
Tut.
“Kebetulan banget dah, serumah sakit,” Ucap Bima.
“Lo semua pada mikir gak sih? Kalo tuh orang nyerang markas pas gak ada kita terus, maksudnya.... pas kita semua ada di markas, mana ada tuh markas di rusak-rusak,” Kata Caca, di setujui semuanya.
“Gue gak mau berburuk sangka, tapi kenapa orang itu selalu tau, kalo kita semua itu lagi gak di markas, bener gak sih? Kek ada yang cepuin, mana mungkin, orang misterius itu, stay terus di markas kita, buat liat kondisi enggak kan?” Tambah perempuan itu.
“Permikiran Lo hampir sama gue,” Timpal Bima.
“Udahan dulu berargumennya, kita mendingan ke ruangan anak-anak dulu,” Ucap Raga.
Mereka semua mengangguk menyetujui. Caca bangkit dari duduknya sembari memegang infusan. “Mau kemana Lo?” Seru Raga bertanya.
“Mau ikut lah,” Balas Caca.
“Gak, mendingan Lo disini aja, biar kita berempat aja yang cek keadaan yang lain,”
“Gue gak—“
“Biarin dia ikut aja lah, otaknya batu, susah banget di bilangan,” Saran Dodi.
“Yaudah, Lo boleh ikut,” Raga pasrah, lalu mengambil alih infus di tangan perempuan itu.
Mereka berlima akhirnya keluar dari bangsal. Berhubung ruangan anak-anak yang lain melewati kantin, jadilah mereka semua berjalan ke arah sana.
Baru saja, mereka semua masuk pintu kantin, sudah terlihat jelas, bahwa ada Sasa dan Ari yang tengah asik makan sembari bercanda gurau.
Caca melirik ke arah Alzam, dari Matanya saja, Caca sudah tau, bahwa lelaki itu menyiratkan ketidaksukaan.
“Adiknya Sasa di rawat disini?” Tanya Bima.
Caca mengalihkan pandangannya, lalu mengangguk “ Iya, adiknya Sasa di rawat disini,” Balas Caca.
“Mendingan kita ke ruangan anak-anak dulu, kalo selesai, kita baru jengukin adiknya Sasa, kita belum pernah jenguk sebelumnya kan?” Ucap Raga, di setujui semuanya.
“Zam, panas gak? Kalo gue jadi Lo sih iya, Lo tunangannya, jalannya sama orang lain Mulu,” Dodi mulai menas-manasi keadaan.
“Gue gak perduli, lagian gue gak suka sama dia!” Balas Alzam, lalu meninggalkan empat manusia yang tiba-tiba langsung lirik itu.
|•••|
Mereka berlima berjalan di koridor menuju tempat dimana adik Sasa di rawat. Tentunya, setelah mereka mengunjungi teman-temannya yang terkena imbas akibat si manusia misterius yang merusak markas.
Mereka bilang, tidak ada yang tahu siapa pelaku yang menyerang markas, ataupun ciri-ciri, karena semua pelaku kejahatan itu memakai topeng. Jadi, pantas saja, mereka semua tidak mengenali siapa orang yang berada di balik topeng itu.
“Kita ketuk pintu dulu gak sih? Gue gak pernah jengukin orang lain, selain teman-teman gue, jadinya main nyelonong aja masuk,” Kata Dodi, setelah mereka sudah berada di depan bangsal Kila.
“Kayak gitu aja mesti di pikirin,” Cibir Bima, sembari memutar bola matanya malas. Dodi memang bloon tingkat akut.
“Permisi...” Ucap Caca, sembari membuka pintu bangsal itu secara perlahan.
Setelah pintu bangsal terbuka sepenuhnya, terpampanglah tiga orang yang sedang bersenda gurau, tiba-tiba melirik ke arah pintu dimana tempat mereka berada, dengan tatapan yang berbeda-beda.
“Eh, ngapain kalian semua kesini?” Kaget Sasa, dengan otomatis langsung berdiri.
“Jenguk adik Lo lah, ngapain lagi?” Jawab Dodi.
“Kakak, itu bukannya kak Alzam tunangan kakak ya?” Ucap Kila Sembari terus mengamati wajah alzam, membuat Sasa berbalik menatap adik perempuannya itu.
Sasa hanya mengangguk, sebagai tanda jawaban. Melihat anggukan dari kakaknya, Kila tersenyum, sembari menatap kakak iparnya itu dengan berbinar.
“Hai Kak Alzam! Masih Ingat aku kan? Yang waktu itu ikut di acara peresmian tunangan kalian!” Seru Kila bersemangat, sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Gue Ingat,” Balas Alzam, hanya seperlunya.
“Kak Alzam tipikal laki-laki yang cool, sama irit bicara gitu ya kak? Suk—“
“Berani puji cowok lain?” Bisik Ari di telinga pacarnya, membuat Kila nyengir tanpa dosa, dan tidak melanjutkan ucapannya.
“Adik Lo cantik banget si Sa, bisa kali kenalin sama gue,” Kata Dodi, membuat Ari yang mendengarnya memutar bola matanya.
“Dia pacar gue! Jangan coba-coba buat deketin Kila!” Ucap Ari tajam, memperingati.
Alis Dodi mengerucut “Lah, bukannya Lo pacarnya Sasa ya?” Bingung Dodi.
“Aishh.... Kak Ari itu pacar aku, bukan pacar kak Sasa. Kak Sasa kan udah punya tunangan, masa iya pacaran lagi,” Kila memeluk tangan Ari, menunjukkan pada semuanya, bahwa Ari lah pacarannya.
“Oh gitu... aman Zam, Lo aman, kondisi Lo gak terguncang,” Goda Bima, sembari menepuk bahu Alzam, sedikit kuat.
“Iya Zam, Lo aman. Jadi gak usah takut kalo Sasa di ambil sama orang,” Timpal Caca, ikut menepuk bahu Alzam juga.
“Dih, apaan sih?!” Alzam berucap ketus, sembari menatap Sasa yang nampak biasa-biasa saja, setelah kedatangannya.
Alzam menghela nafas pelan, permintaannya di UKS waktu lalu, ternyata sama sekali tak di dengar oleh. Sasa tetap seperti Sasa yang berbeda di matanya.
“Lo ca, kenapa Lo pake infusan gitu?” Kaget Sasa, sembari mendekat ke arah Caca.
Caca tertawa “Kalo orang kuat, pasti sering bulak-balik rumah sakit,” Kekek perempuan itu.
“Mana ada? Orang kuat, gak mungkin mondar-mandir rumah sakit terus,” Raga kembali merangkul pinggang Caca posesif, lalu menggiring perempuan itu untuk duduk, menyusul Bima dan Dodi yang sudah duduk juga di sana.
Memang tamu yang tak tahu malu, belum di suruh duduk, mereka semua sudah duduk dan asik dengan dunianya masing-masing.
Sasa yang melihat Alzam duduk, ia berdiri lalu menyimpan tempat duduknya di tempat dekat teman-temannya Alzam.
“Tuh duduk, emang gak pegel berdiri terus?”
Alzam mendongak, lalu menggelengkan kepalanya “Gak,” Balasnya.
Sasa mendekat ke arah Alzam, lalu mendorong punggung lelaki itu “Udah, duduk aja,” Ucap Sasa , sembari menekan bahu Alzam, supaya Lelaki itu duduk.
“Cie Alzam, cie...” Goda tiga manusia gesrek, membuat Alzam memutar bola matanya malas.
Sudah lebih dari satu jam, lima sekawan itu menetap di rumah sakit, mereka semua sudah berada di luar ruangan berniat untuk kembali ke ruangan Caca.
“Alzam, Lo mau ikut sama mereka juga? Gak sama gue disini?” Tanya Sasa, dengan tampang memelasnya.
“Ngapain juga disini,” Jawab lelaki itu.
“Kan gue masih kangen sama Lo,” Ucap Sasa, sembari memegang lengan lelaki itu dengan manja.
“Mendingan kita duluan aja, lama kalo nungguin drama percintaan mereka,” Ucap Dodi, mendorong tiga orang lainnya.
Jadilah, hanya Alzam dan Sasa yang tinggal.
“Jangan dulu keruangan Caca, gue kangen,” Sasa semakin mengeratkan pelukannya, tidak lupa menatap Alzam dengan puppy eyes yang di milikinya.
Alzam mengalihkan pandangan, menahan senyum. Melihat Sasa yang tampak menggemaskan, itu tak baik bagi jantungnya.
“Apaansi Lo! Lepas!” Alzam berkata degan intonasi dingin, tetapi berbeda dengan mimik wajah yang di tampilkan.
“Alzam... gue masih kangen Lo,”
“Lepas!”
Sasa melepaskan cekalanya, “Yaudah. Lagian, gue udah ga mood, kangen sama Lo!” Katanya pergi, meninggalkan Alzam sendiri.
“Lah? Ngambek?” Monolog Alzam, lelaki itu hendak mengejar Sasa, tetapi otaknya menyuruh untuk berbalik arah.
“Bodo amat lah, apa peduli gue!”