
“Yam yam yam, ternyata makanan pembangkit mood seperti ini sangat enak Nona,” ucap Alex yang sedang menguyah Seblak.
“Ini sangat pedas, tetapi enak, kenapa saya baru tahu makanan enak seperti ini? Kemana saja saya dari dulu?” tambah Alex, semakin menikmati kenikmatan seblak.
Caca tertawa, Alex yang biasanya makan dengan berwibawanya, kini berganti dengan berantakan hanya karena sebuah seblak.
“Anda tahu Nona? Ini makanan terenak yang pernah saya rasakan,” beritahu Alex.
“Beneran?” tanya Caca.
“Beneran Nona, anda tidak percaya terhadap saya?” Alex berhenti memakan Seblaknya, hanya karena ingin memastikan bahwa dirinya tidak berbohong pada Caca.
“Percaya. lo masih mau? Nih makan punya gue, belum gue makan sama sekali kok, ngeliat Lo makan aja udah bikin perut gue kenyang,” Kata Caca, membuat Alex mengusap ujung bibirnya dengan sapu tangan, yang di ambilnya di saku jas.
“Maaf, anda kenyang hanya karena melihat saya makannya berantakan ya Nona? Maaf, membuat anda tidak nyaman,” Ujar Alex, menunduk menyesal.
Caca semakin tertawa melihat reaksi Alex, “Lo apa-apaan sih Lex? Gue kenyang bukan karena lihat makan Lo berantakan kok, malahan gue senang, ngeliat Lo makan sambil kesenangan gini,” Balas Caca.
Terdengar helaan nafas lega di bibir Alex “Huh, saya kira anda jijik melihat cara makan saya,”
Caca menggeleng “Nih, mau gak seblak gue?” Tawar Caca.
“Em...” Alex tampak berpikir, sebenarnya lelaki itu ingin, tetapi tak enak mengatakan karena Caca belum memakan makanan itu. “Tidak perlu Nona, saya bisa membelinya lagi nanti,”
“Gue tahu Lo mau, tapi gak enak buat ngomong. Ambil, gue masih ada makanan lainnya di kantong kresek yang Lo bawa,”
“Beneran?” Ucap Alex memastikan.
“Iya,”
Alex tersenyum, lalu merebut mika di tangan Caca dengan cepat, “Terima kasih Nona, saya sangat senang hari ini,”
Caca mengangguk dan tersenyum. Tidak lama dari itu, suara deringan handphone berbunyi, membuat Caca merogoh sakunya, untuk mengambil handphone itu.
“Halo Kak Cak?” Sapa Caca, ketika Cakra lah yang menelepon.
“Gimana kabar Lo? Baik gak?” tanya Cakra.
“Baik dong, selalu baik malahan,” balas Caca.
“Malam ini ada waktu luang gak?”
“Lagi luang nih, kenapa kak?”
“Kevin katanya mau ngomong sama Lo, bisa ketemu di bar tempat gue kerja?”
“Bisa, bentar lagi gue otw kesana,”
“Oke, gue tunggu ya,”
|•••|
“Lama gak bertemu,” ujar Kevin, sambil tersenyum miring ke arah Caca.
“Ya, lama tak bertemu Kevin,” balas Caca.
“Gue dengar, Lo udah tahu Raga pembunuhnya lewat Raga sendiri?” Kevin bertanya, ikut menopang dagunya menatap Caca.
“Ya, gue tahu dari mulut dia sendiri,” Balas Caca.
“Terus, apa yang mau Lo lakuin?” Kevin kembali bertanya.
Caca menggeleng “Gak ada,” balasnya, terdengar begitu bodoh.
Kevin berdecih, lalu menyenderkan tubuhnya, “Pingin bunuh Lo rasanya, kalo Lo bukan adiknya Saka,”
“Lo itu terlalu bodoh, udah jelas Lo udah tahu siapa pembunuhnya, bahkan dari di pembunuh itu sendiri, tapi tetap aja, Lo gak akan ngelakuin apa-apa,” ucap Kevin.
“Oke, gue emang bodoh kayak apa yang Lo omongin sekarang, tapi gue gak naif kayak lo Kev,”
Kevin tertawa, “Naif? Gue kayak gini, gara-gara sahabat gue di bunuh, bukan karena kesalahannya! Sahabat yang paling mengerti gue, di bunuh bukan karena kesalahan dia sendiri, gimana gue gak naif, kayak yang Lo omongin itu?”
“Tapi Lo? Kakak Lo di bunuh bukan karena kesalahannya, dan ketika Lo udah temuin pembunuh itu, Lo diam aja? Gila Lo?!” maki Kevin tak habis pikir.
“Bukan mau gue kayak gini Kev, Raga sahabat gue, gue gak bisa celakain dia. Sama halnya kayak Lo, Lo mau balas dendam karena Sabahat Lo di bunuh kan? Sedangkan gue, gue gak bisa lukain sahabat gue, yang emang selalu jagain dan mengerti gue, di saat semua orang pergi ninggalin gue,”
Kevin kembali tertawa “Tapi dia salah satu orang yang nyebabin Lo di tinggalin orang-orang terdekat Lo! Coba lo pikir, Kakak Lo gak mungkin tinggalin Lo, kalo bukan Raga Yang bunuh dia!”
Caca mengangguk membenarkan, omongan Kevin memang sepenuhnya benar, tetapi perempuan itu tak bisa melukai Raga “Tapi gu—“
“Pada dasarnya, Lo emang gak bisa lukain dia, bukan karena dia sahabat baik Lo, Lo udah terjebak permainan dia! Dia deketin Lo awalnya karena dendam kan? Apa Lo gak mikir? Kalo ini adalah sebagian dari rencananya?” Kevin menaikkan alisnya sembari tersenyum miring.
“Terserah, terserah Lo mau gimana, yang pastinya, kalo misalnya gue dan anak-anak libra apa-apain dia, atau bahkan sampai bunuh dia, gue gak mau tahu, gue akan bertindak, karena Lo udah tahu siapa dia,” Kevin berdiri dari duduknya, lalu pergi dari sana.
Selalu saja seperti ini, Kevin jikalau sudah berbicara, lelaki itu langsung pergi, dan meninggalkan perempuan itu dengan Cakra.
“Kak Cak, gimana ini? Gue bingung, gue bingung harus berbuat apa,” keluh Caca, sambil menelusupkan wajahnya.
Cakra mendekat lalu mengusap-usap bahu Caca, “Liat dulu gue,” Kata Cakra.
Caca menurut, wanita itu mendongkak menatap Cakra, “Jangan jadiin kejadian pembunuhan Kakak Lo sebagai dendam, jangan sampai ada yang terbunuh lagi setelah ini, jangan ada pertumpahan darah, karena apa? Dendam gak akan nyelesain semuanya, malah sebaliknya, membuat keadaan sekarang semakin runyam,” Ucap Cakra, menatap lekat mata Caca.
“Gue gak bisa hentiin Kevin, dia di butakan oleh dendam, dan gue juga gak bisa nyalahin dia, dia kayak gitu, karena sahabat yang selalu ada buat dia terbunuh. Dan sedangkan gue gak terima Saka di bunuh gitu aja, tapi gue lebih gak terima, kalo dendam ini berkepanjangan, yang menyebabkan Saka gak tenang disana,”
“Kak Cak udah coba ngomong langsung sama Kevin?” Tanya Caca.
“Udah, tapi dia malah marah dan gak terima,”
Caca menghela nafas, perempuan itu bingung mana yang harus perempuan itu lakukan, dan siapa yang harus Caca dengar? Hatinya, Kevin atau Cakra. Hatinya mengatakan bahwa Caca sendiri tak bisa melukai Raga, sedangkan Raga sendiri sebaliknya, dan Cakra hampir sependapat dengan hatinya.
“Emang sebaik apa sih? Kak Saka sama Kevin, sampai Kevin sebegitu ya banget, padahalkan gue adiknya,”
“Baik, baik banget malahan. Kevin ada di posisi sekarang aja salah satunya gara-gara Kakak Lo, Kevin dulu miskin, gak kayak sekarang yang bergelimang harta. Udah miskin, di buang sama orang tuanya, semenyedihkan itu memang hidup Kevin. Datanglah Kakak Lo, semuanya berubah, mereka berdua jadi teman yang kemana-mana bareng, Kevin selalu cerita apapun masalahnya ke Saka, bahkan, Saka kasih satu usaha distro terbesar yang dia punya, buat makan Kevin sehari-hari, dan sekarang usaha distro kevin udah dimana-mana, yang nyebabin dia kaya sekarang,” Jelas Cakra, membuat caca semakin membuka kembali pendengarnya.
“Bahkan, ketika mereka Berdua suka sama satu orang yang sama, Saka relain cewek itu buat Kevin, Kevin pun sebaliknya. Tapi pas Kevin bilang, bahwa dia udah gak suka sama cewek itu, barulah Saka kejar dia, cewek itu Kakaknya Raga. Intinya, mereka berdua saling mengalah demi kebahagiaan bersama,”
“Itu juga alasan kenapa Kevin benci banget dan pingin balas dendam untuk bunuh Raga, itu karena persahabatan mereka.”
“Dan asal Lo tahu Ca, pas Kevin dengar Kakak Lo udah gak ada, dia hilang arah, udah kayak kehilangan salah satu bagian dari hidupnya. Bahkan, dia sama sekali gak ikut ke pemakaman Raga, karena masih gak terima, Raga di ambil secepat itu saka tuhan,”