RAGASA

RAGASA
Ep. 97. Sakitnya Raga



Raga terbangun dari tidurnya, tetapi hasilnya tetap sama. keadaannya sama seperti tadi, kamarnya berantakan akibat ulahnya, yang menandakan, kejadian tadi memang benar-benar kenyataan.


"Kalo gue tahu akhirnya bakalan kayak gini. gue nyesel cari tahu semuanya tentang lo, buat bales dendam. kenapa waktu dulu gue gak lanjutin hidup gue tanpa dendam. mungkin sekarang gue gak akan pernah kenal sama lo, dan gue juga gak akan pernah ngalamin rasa sakit karena di tinggalin kayak sekarang,"


Raga tertawa "Jadi gini rasanya, di tinggalin orang yang kita sayang? jadi gini juga, rasanya jadi Caca, ketika kakaknya ninggalin dia. ini mungkin karma bagi gue Ca, karena udah bunuh kakak lo. supaya gue ngerasain juga, gimana rasa sakitnya, ketika kita di tinggalin sama orang yang kita sayang," 


Raga sedikit mengalihkan antensinya, ketika ada suara ketukan di pintunya. itu suara bunda Renita yang menyuruhnya makan. 


Raga menghela nafas panjang, lelaki itu bahkan tidak sama sekali merasakan lapar di perutnya. padahal,  dari pagi sampai sekarang malam, lelaki itu sama sekali tak memasukan apapun ke dalam perutnya.


"Sayang, denger bunda kan? makan dulu, dari pagi kamu belum makan!" teriak bundanya.


"Aku belum laper bunda," jawab Raga, dengan suara lirihnya.


Raga mengambil foto yang berada di atas nakas. terpampang lah foto mereka berdua dengan keadaan tersenyum. Raga yang memeluk bahu Caca, sedangkan Caca, perempuan itu memeluk pinggang Raga.


Raga berbalik, ketika mendapat usapan tiba-tiba di bahunya, "Mau peluk?" tawar bundanya sambil merentangkan tangan.


Raga mengangguk, lalu memeluk tubuh bundanya, "Bunda bilang, Caca gak akan kenapa-kenapa. tetapi kenyataannya, Caca ninggalin aku buat selamanya bunda,"


"Dan juga, Caca sendiri bilang, gak akan ninggalin aku, tapi kenyataannya? dia gak ada di sini sekarang!"


"Kenapa? kenapa di dunia ini harus ada kenyataan? kenapa bunda?"


Renita mengusap-usap punggung anaknya, di tinggalkan orang yang kita sayang memang tak mudah. dirinya pun merasa kehilangan, tetapi mau bagaimana lagi? ini semua takdir, tidak ada manusia yang bisa melawan kata itu. 


Dan kenyataan, sama hal nya dengan takdir. kita tak bisa melawan apa yang kenyataan berikan, meskipun terkadang, kenyataan memang tak sesuai dengan apa yang kita inginkan.


Dua kata itu lahir, teruntuk mengajarkan kita, bahwa seberapa besar keinginan kita nantinya, kita tak bisa berharap lebih akan hal itu. karena kenyataan dan takdir lah yang menentukan semuanya.


Dan bukan berati, karena adanya takdir dan kenyataan, kita tidak bisa menjadi manusia yang kita inginkan. karena mereka berdua juga, yang menyebabkan kita menjadi manusia yang berkali-kali lipat kita inginkan.


Kenapa? karena dua kata itu mengajarkan bahwa, sesuatu yang terjadi di dalam diri kita, itu adalah yang terbaik.


Awalnya, mungkin dari kita banyak yang memang sulit untuk menerima takdir dan kenyataan. tapi lama-kelamaan, kita sendiri pun akan sadar, bahwa yang terjadi sekarang ini memang itulah yang terbaik. 


"Baru aja aku temuin Caca, baru aja kita berdua baikan, tetapi kenapa secepat ini Caca ninggalin aku?"


"Bener kata Dodi, ini salah aku. kenapa aku iyain Caca pas mau ke makam keluarganya coba? kalo misalnya enggak, kan ini gak mungkin kejadian,"


"Kenapa aku gak bilang enggak? kenapa? kalau aja aku punya mesin waktu, aku bakalan puter waktu, puter waktu di mana pas Caca mau ke makam keluarganya aku bilang enggak. atau juga, aku puter waktu, pas dimana gak kenal Caca sama sekali, dan gak akan pernah mau kenal sama dia,"


"Liat bunda," titah bunda Renita, membuat lelaki itu mendongak.


Renita mengusap-usap pipi anaknya "Makan dulu yuk, emang perutnya gak laper apa? dari tadi gak di kasih makan?"


Raga menggeleng, sambil memegang tangan bundanya "Raga gak mau makan bunda, biar Caca datang ke sini dan marahin Raga, jadi Raga gak mau makan,"


"Sayang... jangan kayak gini,"


"Kayak gini gimana bunda? biasanya Caca bakalan marah kalau aku gak makan, jadi aku gak mau makan, biar Caca ke sini,"


Ceklek


Pintu kamar Raga terbuka, menampilkan kepala keluarga di rumah ini, yaitu tuan Wijaya. Wijaya masuk, menghampiri anak dan istrinya.


"Enggak mau pah, gak laper,"


"Mau nunggu laper? kapan? atau mau papah seret ke meja makan?"


"Aku belum mau makan," ucap Raga.


"Mah, bawain Raga makanan ke sini, biar aku aja yang jagain Raga," Renita mengangguk, lalu melepaskan pelukannya dan berjalan keluar.


"Kenapa belum mau makan?" Wijaya bertanya, seraya duduk di pinggir ranjang.


"Belum lapar pah,"


"Papah mau, jawaban selain itu,"


"Biar Caca ke sini," kata Raga, sambil memeluk foto yang tadi di ambilnya.


Wijaya terlihat menghela nafas "Bagaimana bisa Raga? jangan aneh-aneh! kamu tahu kan? kalo perbuatan kamu yang seperti ini, membuat Caca di sana sedih sekarang?"


"Ikhlas, cuman itu yang bisa kita lakukan sebagai umat." 


"Tapi Pa—"


"Tapi kenapa?" sela Wijaya.


"Aku gak bisa, kalo Caca ninggalin aku kayak gini..."


"Gak bisa kenapa? ada dengan gak adanya Caca, kamu harus tetap jalani hidup. kamu pikir, kamu doang yang merasa kehilangan? papah juga, Caca udah papah anggap sebagai anak papah sendiri. tetapi kenapa papah kayak gini? karena papah tahu, ini yang terbaik buat Caca. kasian kalo Caca terus di sini, dia selalu ngerasa kesakitan Raga... entah dari fisik atau batinnya. mungkin karena Allah ambil dia dari kita, karena Allah tahu, ini yang terbaik buat dia."


"Jangan egois, kamu di sini gak mau ngerasa tersakiti, karena gak adanya Caca? apakah dengan Caca di sini, Caca gak ngerasa tersakiti? dia di sini tersiksa Raga. penyakitnya, keluarganya. gak ada yang baik-baik aja, ketika kita di kasih penyakit yang memang bukan hal yang sepele, dengan sebatang kara Raga... gak ada yang baik-baik aja! dan kamu, kamu selalu memikirkan diri kamu, tanpa memikirkan diri Caca. sebenarnya, kamu sayang gak sih sama dia?"


"Sayang Pah... hiks hiks hiks hiks, aku sayang sama dia,"


"Ya terus? kenapa kamu kayak gini?"


"Jangan paksa aku pah, gak mudah buat aku, buat tiba-tiba baik-baik aja ketika Caca gak ada di sini. aku gak mau kehilangan dia, tapi aku juga gak mau dia kesakitan pah,"


Wijaya memeluk tubuh anaknya yang sedang menangis. tidak mudah memang, menjalani hidup dengan di tinggalkan orang yang kita sayang.


"Papah gak paksa kamu, papah cuman mau, kamu tetap jalani hidup kamu meskipun Caca gak ada. papah tahu ini gak mudah. tetapi memangnya kamu akan terus seperti ini? kamu gak kasihan sama Caca? kamu gak makan aja, dia sering marah-marah kan? apalagi kalo liat kamu kayak gini, Caca pasti sedih di sana,"


"Aku gak janji Pah, tapi aku bakalan coba,"


Wijaya mengangguk, seraya mengusap punggung anaknya "Mana liat, itu foto kamu sama Caca kan?"


Raga mengangguk sambil tersenyum, lelaki itu menunjukkan foto dirinya dan Caca kepada papahnya.


"Kalo ada di sini, papah pasti bisa bayangin gimana mimik wajahnya Caca, Caca pasti bilang gini 'Raga lo makan! lo mau sakit?' dia pasti bilang gitu kan Ga?"


Raga tertawa, meskipun berbeda dengan matanya yang terus mengeluarkan air mata "Iya, dia pasti bilang kayak gitu, terus dia pasti bilang gini juga."


"Bagus lo kayak gitu?!" ucap Raga dan papah Wijaya serempak, membuat kedua lelaki itu tertawa.