
“Rivan sama Riza di rumah sakit Ga.” Sahut Dodi yang baru saja datang.
“Ada yang bantai mereka berdua,” lanjut Dodi.
Raga menggeram, akhir-akhir banyak hal-hal yang tak terduga datang begitu tiba-tiba, “Udah gue pastiin, itu geng Libra. Dia mau balas dendam, karena banyak anggotanya yang kalah kemarin,” itu Sigit, anggota Alverage juga.
“Jangan gegabah mengambil kesimpulan, gue gak mau kejadian kemarin terulang lagi,” ucap Alzam.
“Entah apa tujuannya yang pasti, ada orang yang sengaja adu domba geng kita sama geng Libra.”
“Kita harus ke rumah sakit cari bukti,” putus Raga.
Sumpah, bisa-bisanya Bima nikah kagak ngajak gue dan pas gue maksa juga, tetep keukeuh nggak mau ngajak gue, kesel anjir!” Ucap Caca menggebu-gebu.
Sudah hampir sepuluh kali, Caca marah-marah dengan nada tak terima seperti itu, membuat Raga dan yang lainnya memutar bola matanya malas.
“Ck, kan gue udah kasih tahu dia gak rame-ramean, cuman di KUA dan emak bapaknya gak ngebolehin ada yang datang, makanya dia gak ngajak kita,” decak Dodi kesal, pasal nya juga, Dodi sudah sepuluh kali menjawab, tetapi Caca tak paham-paham juga.
“Dan gak lo doang yang kesel, gue juga kesel harus-harusan ngejelasin ini sama lo yang nggak paham-paham!” Lanjutnya.
Dodi menghisap rokok, lalu menghembuskannya didepan wajah Caca. Caca terbatuk, lalu mengibas-ngibaskan tangannya didepan muka, menghilangkan asap rokok yang mengepul di depan wajahnya.
”Eh Dodi, emang gue nyuruh lo buat jelasin semuanya? Enggak kan? Kenapa lo harus repot- repot?” Kesal Caca sambil berkacak pinggang.
“Lo emang gak nyuruh gue jelasin, tapi omongan-omongan lo bikin gue pusing, sudah sepuluh kali lo ngomong kayak gitu yang udah jelas-jelas lo tahu jawabannya, gimana gue gak gatel buat jelasin coba!”
“Dih, lo nya aja yang lebay, Raga sama Alzam diem-diem bae tuh gue terus-terusan ngebacot. Dasar lebay!” Maki Caca.
Dodi menghela nafas panjang, ”Serah lo lah anjir, capek gue!”
Caca tersenyum, berarti dirinya yang menang debat sekarang, karena Dodi sudah tak bisa menjawab pernyataan yang dirinya lontarkan, ia menopang dagu sembari menatap langit-langit dengan wajah berpikir.
”Kenapa Bima gak ngundang ngun—“
“Kalau lo ngomong gitu lagi, gue dorong tuh di ujung rooftop,” Dodi menunjuk ujung rooftop dengan tatapan kesalnya, bisa-bisanya Caca ngomong dengan arti kata yang baru saja didebatkan? Caca merangkul bahu Dodi sembari mengusap-ngusapnya pelan.
”Canda Dod, gue menguji kesabaran lo aja, gue juga tahu kalo Bima nikahnya di KUA, terus bonyoknya nggak ngijinin kita datang, makanya kita gak diundang, bener kan?” Karena sudah lelah, Dodi mengusap wajahnya kasar lalu berdehem.
”Ekhem!”
“Tumben hm, hm, hm mau cosplay jadi si batu lo? Atau mau cosplay jadi Nisa sabyan?”
“Serah lo lah anjir, mau gue cosplay Nissa sableng kek, mau cosplay siapa kek, capek gue. Capek gue ngomong sama lo!” Ujar Dodi dengan nada lelah, bisa-bisanya dia punya teman seperti ini.
Diteka-teki itu terdapat tulisan ‘orang terdekat Lo’ bisa jadi kan? Ada yang pernah bertemu kakaknya, meskipun satu kali saja.
“Lo udah tahu jawabannya,” jawab Alzam, tetapi masih fokus pada layar handphone.
Caca mengusap wajahnya kasar, ”Lagian gue bingung, udah mau keluar sekolah, tapi pembunuh kakak gue belum ditemukan juga. Berati, hampir tiga tahun juga kita menyelidiki kasus kakak gue tapi gak ada hasil, ya kan?” Lesunya, sembari menyandarkan tubuhnya dikursi.
“Gue rasa nih kasus susah banget buat dipecahin. Yang ngebunuh kakak lo ngelakuinnya bersih, jadi kita susah buat cari bukti,” timpal Raga yang dibenarkan semuanya. Karena memang, cctv club bahkan luar club pun tiba-tiba eror pada saat pembunuhan Saka, jadi mereka sangat susah untuk mencari ciri ciri atau bentuk tubuh si pembunuhnya siapa.
Dan pisau yang ditinggalkan orang itu, tidak menampilkan sama sekali sidik jari pembunuhnya, jadi pada saat itu, Saka disebut bunuh diri oleh pihak kantor polisi, karena memang yang ditampilkan dari sidik jari itu hanya sidik jarinya Saka saja. Awalnya Caca percaya kalau Saka itu bunuh diri, tapi lama-kelamaan semuanya nampak janggal. Apalagi, pada saat dirinya ingin mengajukan kasus tentang penyelidikan pembunuhan kakaknya, tapi ditolak mentah-mentah oleh pihak polisi. Itu yang membuat dirinya semakin yakin, bahwa kakaknya bukan bunuh diri, tetapi sengaja dibunuh.
Caca yakin, kalau kakaknya dibunuh oleh adik pacar kakaknya dulu, karena adik pacar kakaknya pikir, bahwa Saka lah yang telah memperkosa kakaknya, tetapi nyatanya salah, Saka lah yang akan bertanggung jawab akan kehamilan pacarannya, meskipun dirinya tak melakukan itu.
Kenapa Caca tahu kakaknya akan bertanggung jawab, karena dirinya membaca di buku diary yang ditulis kakaknya, kegelisahan Saka saat tahu pacarannya itu diperkosa dan memilih untuk bertanggung jawab, meskipun bukan dirinya yang melakukan, terus kenapa Caca yakin bahwa adik kakak pacarannya yang membunuh Saka. Ya karena hasil penyelidikannya selama hampir tiga tahun ini.
Tapi satu yang disayangkan Caca, dirinya sama sekali tak tahu siapa adik pacar kakaknya itu. Bahkan, Caca pikir pacarnya Saka adalah anak tunggal. Dan sialnya, ia pernah mencari rumah pacar kakaknya dulu, tetapi sama sekali tidak pernah ditemukan, padahal sudah meminta bantuan pada anggota geng Alverage.
Bahkan, ia pernah mencoba meretas data diri kakak pacarannya itu, tapi tak bisa, ia meminta bantuan pada Alzam yang lebih jago dalam hal-hal meretas, tetapi jawabannya sama dengan dirinya, tak bisa. Caca sudah lelah, semuanya nampak dipersulit.
**
Sudah minggu ketiga, Caca mendapatkan kembali kotak yang berisi teka-teki. Kali ini, isinya berisi pistol replika, mahkota kecil dan bulu berbentuk sayap. Tanpa harus berpikir pun Caca tahu, jikalau benda itu disatukan akan menjadi berbentuk lambang sebuah geng. Tapi ada yang membuatnya kaget bukan kepalang. Lambang itu, seperti lambang geng nya, yaitu Alverage. Bahkan, semua materialnya pun sama persis dengan gengnya.
Ada apa dengan Alverage? Ada sangkut paut apa, Alverage dengan kasus pembunuhan kakaknya? Caca menerka-nerka. Beruntung saja, ia tidak memberitahu dulu perihal ini kepada anggota Alverage. Kalau saja ia memberitahu, sudah bisa dipastikan, mereka menyuruh Caca untuk tidak mempercayai dan berkata bahwa itu hanyalah adu domba. Caca mengambil kembali, kotak pertama yang pertama kali orang misterius itu kirim kepadanya.
“4h\= alfabet?” Gumamnya, sembari berpikir.
Caca memukul-mukul kepalanya, memaksa otak kecilnya untuk berpikir kerasa sekarang, “Empat kata? Apa maksud empat kata woy!”
“Apa arti dari empat kata itu?” Tanyanya pada diri sendiri.
Caca mengambil handphonenya, ia akan meng searching, apa arti empat huruf itu, bisa jadi kan? Jawabnya ada disana. Caca menghela nafas, ketika tidak menemukan apapun disana. Memejamkan matanya sejenak, lalu mengambil permen karet di laci samping ranjangnya, biasanya permen karet sangat ampuh untuk mengencerkan otak. Mengunyah permen karet itu sembari berpikir, tidak lama kemudian, gadis itu menjentikkan jarinya.
“Gak sia-sia gue makan permen karet,” katanya.
“4h\=alphabet. Maksud dari alfabet adalah huruf, karena terdapat huruf ‘h’ setelah angka empat dan maksud empat disini adalah nama, karena nama biasanya terbentuk dari alfabet, jadi arti dari 4h\=alfabet adalah, seseorang yang memiliki nama empat huruf abjad. Gitu bukan sih?” Caca menepuk-nepuk dadanya bangga, ia seperti menjadi gadis-gadis jenius yang bisa dengan mudah memecahkan teka-teki.
“Jadi kita ambil kesimpulan dari kotak pertama yang dikirim, kotak yang pertama dikirim artinya adalah orang terdekat gue atau kakak gue yang memiliki nama empat huruf.”
“Karena teka-teki yang sekarang menjurus ke arah Alverage, berarti bukan orang terdekat kakak gue, tetapi orang terdekat gue yang bunuh kakak,” finalnya sembari tersenyum bangga.
Bodoh, seharusnya dia shok dan sedih dengan wajah tak percaya sambil berkata, tidak mungkin.