RAGASA

RAGASA
Ep. 51. Perhatiannya Alzam



|•••|


Wanita dengan handset di telinganya Menggeram, ketika sendari tadi handphonenya tak pernah berhenti untuk berdenting. 


Padahal, wanita itu sedang enak-enaknya membaca novel di perpustakaan, surganya sekolah.


Wanita itu melepaskan handset nya, ketika lagunya yang terputar terputus-putus, akibat adanya notifikasi.


"Ishh! Ganggu aja anjir!" Serunya kesal, tetapi tetap membuka handphonenya.


Mata wanita itu tiba-tiba melotot, ketika melihat banyaknya Vidio tentang pengakuan Mona di grup angkatan sekolah. menyimpan buku ke tempat asalnya, lalu berlari keluar untuk menemui Mona.


Baru saja kakinya melangkah beberapa langkah, suara Mona sudah menginterupsi nya untuk tetap diam di tempat.


"Ngapain kesini? Lo tau kan, akibatnya kalau gue ketahuan nyuruh Lo, buat sebar foto Bima sama Bella," Kata Mona.


Sasa mendekat, "Tapi bukan gue akibat dari semuanya terbongkar," Kata Sasa, melakukan pembelaan.


Mona tertawa, sembari mendekat ke arah Sasa, membuat dua perempuan itu saling berhadapan.


"Itu jelas-jelas karena Lo! kalo misalnya tunangan sialan Lo gak bayarin hutang Lo, ini semua gak akan kebongkar!" Ucap Mona, sembari menekan bahu depan Sasa cukup keras.


"Karena hutang Lo udah berhasil di bayar Alzam. jadi kita pakai kesepakatan ke dua, dimana gue gak akan bikin adik Lo sembuh atau tenang," Tambah Mona.


Jadi, Sasa dan Mona pernah membuat kesepakatan sebelum Mona meminjamkan uang sebesar lima puluh juta itu. kesepakatan pertama, Sasa harus membayar hutang sesuai waktu yang di tetapkan, kalo misalnya tidak bisa, Mona akan Melakukan hal yang tidak-tidak terhadapnya, sebagai  pembalasan hutang nya.


"Lo apa-apaan sih?! gak usah bawa-bawa adik gue, gue yang jadi kesepakatan nya, bukan dia!" Sentak Sasa tak suka.


"Terus gue peduli? gue yang punya kesepakatan, gue yang punya duit, jadi terserah gue lah, mau rubah kesepakatannya atau enggak!" Balas Mona.


"Gue yang jadi bahan kesepakatannya! bukan adik gue! lakuin hal sesuka hati Lo, asal sama gue, bukan adik gue!"


"Gue gak mau, mau nya adik Lo." Ucap Mona.


Sasa menghela nafasnya, berusaha menahan emosi, wanita itu paling tidak bisa, ketika ada orang yang membawa-bawa adiknya.


"Kenapa Hela nafas kayak gitu? Kalo kesel, langsung bantai aja kan bisa, gue ada di depan Lo nih," Tantang Mona.


"Bangsat!" Ucap Sasa, sembari menonjok pipi Mona dengan tangan kosongnya.


Mona memegangi pipinya yabg berdenyut, pukulan Sasa memang tidak main-main, Sasa pikir, Mona tidak akan pernah berani memukul dirinya.


"Woi, Sasa sama Mona berantem nih!" Seseorang berseru, membuat Sasa dan Mona di kerumuni banyak orang.


"Berani Lo? gak tahu terimakasih banget, gue yang udah bantuin adik Lo bayar Operasi, kalo gak ada gue, gak mungkin, adik kesayangan Lo itu bisa operasi!" Ucap Mona.


"Oke, makasih atas jasanya. makasih udah bantuin gue, dengan pinjemin uang supaya adik gue bisa operasi. tapi jangan mentang-mentang Lo udah bantuin gue, Lo bisa seenaknya sama gue." Sasa berucap penuh penekan, sembari menekan-nekan bahu Mona.


"Lo pikir gue takut sama Lo? enggak Mona, gue gak akan pernah takut sama Lo. lagian, gue pinjem duit Lo harus ngelakuin dulu sesuatu kan? gak tiba-tiba di pinjemin, anggap aja itu imbalannya. Lo nyuruh gue buat sebar foto Bella sama Bima, dengan imbalan Lo pinjemin duit buat adik gue operasi. kalo di pikir-pikir, kenapa gue harus ajuin kesempatan? toh ini imbalan gue kan?" 


Mona terdiam, sembari tersenyum remeh, ketika melihat orang di depannya ini yang seolah-olah sedang bercerita.


"Buat kesepakatan? oke, gue sanggupi itu, karena gue butuh duitnya. dan gue gak masalah akan hal itu, tapi Ketika gue denger nama adik gue yang jadi sasarannya, jelas gue marah, gue yang ada di kesepakatan itu, bukan adik gue!" Dada Sasa naik turun, hanya karena berbicara seperti itu.


Mona tertawa " Itu yang namanya konsekuensi bodoh! konsekuensi bagi rakyat miskin kaya Lo!" 


"Gue emang miskin, tapi bukan berati Lo berhak semena-mena saja gue!"


Si sisi lain, tetapi tempat yang sama, Alzam sedang melihat pertikaian itu, tanpa sama sekali ada niat untuk memisahkan. biarkan saja seperti itu, selagi Mona tidak keterlaluan terhadap Sasa, ia tidak akan memisahkan mereka Berdua.


"Okey, gue gak akan sama sekali bawa-bawa adik Lo, kalau Lo siap buat di permaluin gue di depan umum," Ucap Mona, membuat riuh semua orang. Murid-murid disini, memang sangat menyukai keributan.


Plak


Satu tamparan terhempas begitu saja dari tangan Mona, membuat murid di sana semakin riuh menyoraki, apa yang di perbuat Mona.


Plak


Bugh


Brak


Mona kembali menampar, menendang perut Sasa, lalu mendorong tubuh wanita itu sampai terjatuh di lantai.


Sorak gembira dari murid-murid, membuat antusias Mona semakin memuncak, wanita itu mendekat lalu menginjak tubuh Sasa yang masih tergeletak di lantai.


Drek-drek


Terdengar suara yang muncul dari tubuh Sasa, karena pijakan keras yang di berikan Mona.


Alzam mengetatkan Rahangnya, harusnya ia senang, ketika Sasa di perlakukan seperti ini oleh Mona. tetapi nyatanya tidak, rasa bencinya karena di jodohkan dulu, kini tergantikan dengan rasa belas kasihan, atau lebih dari rasa itu.


Ia hendak mendekat untuk menolong, tetapi seorang pria lebih dulu menyela, dengan cara melindungi tubuh Sasa di balik tubuhnya.


"Lo apa-apaan Mona!" Teriak Ari. melindungi tubuh Sasa, di belakang tubuhnya.


Sasa berdiri, lalu mengusap-ngusap punggung Ari, "Gue gak apa-apa, biarin dia lakuin apa yang dia mau. gue gak papa kayak gini, daripada Kila yang kayak gini,"


"Gila Lo! ikut gue!" Ucap Ari, sembari menarik tangan Sasa.


"Gue gak mau, gue mau disini," Jawab Sasa.


"Gue gendong kalo Lo gak mau!" 


Alzam yang mendengar kata gendong di antara percakapan mereka, memilih menghampiri, lalu menggendong Sasa ala bridal style. ia tidak mau, Sasa di gendong oleh lelaki lain selain olehnya. Sasa tunangannya, berati ia yang berhak atas itu, lelaki lain tidak boleh merasakannya.


Sasa mematung, wanita itu memegangi dadanya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya.


Alzam, lelaki itulah yang menggendongnya. bila dilihat dari bawah sini, Alzam memanglah sangat tampan, bahkan Sasa baru pertama kali merasakan, dadanya berdebar ketika bersentuhan dengan lelaki lain, selain Alzam. 


"Sok jago Lo!" Ucapan ketus yang keluar dari mulut Lelaki itu, menyadarkan Sasa yang masih terpesona akan ketampanan Alzam.


Sasa celangak-celinguk, ternyata wanita itu sudah sampai di ruang UKS, kenapa Sasa baru menyadarinya.


"Emm..." Sasa menggaruk tekuknya, wanita itu tiba-tiba menjadi gugup.


"Lo yang udah lunasin hutang gue sama Mona?" Tanya Sasa.


Alzam hanya berdehem sebagai jawaban.


"Makasih sebelumnya, gue pasti ganti kok, tenang aja. tapi gak bulan-bulan ini," Ucap Sasa.


"Gue gak butuh duit," Jawab Alzam.


"Terus? apa yang harus gue lakuin? batalin perjodohan kita?" Tanya Sasa.


Alzam menggeleng,"Jangan batalin perjodohan itu, dan tetap perlakuin gue seperti biasanya," 


"Pasti, gue gak akan nyapa Lo lagi, gue bakalan pura-pura gak kenal sama Lo lagi, gue gak akan buat Lo risih lagi, pokonya gue gak akan ganggu Lo. sama persis yang gue lakuin ke Lo akhir-akhir ini,"


"Bukan itu yang gue mau. gue mau Lo jadi Sasa yang pertama kali gue kenal, gak kayak sekarang. gue gak suka Lo kayak gini, gue gak suka liat sifat Lo yang sekarang!"